Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Dalam sejarahnya, Hasyasyin merupakan satu kelompok sempalan dari sekte Syiah Ismailiyyah. Dalam bukunya, Philip K. Hitti tidak menyebutkan kata Assassins, tetapi Hasyasyin. Gerakan ini merupakan gerakan sempalan dari ajaran Ismailiyyah yang berkembang pada dinasti Fathimiyyah, Mesir. Hassan Sabbah (w. 1124) adalah pendirinya dan para anggota Hasyasyin menyebut gerakan mereka sebagai da’wah jadidah (ajaran baru).

Menurut Hitti, Hassan Sabbah mengaku sebagai keturunan raja-raja Himyar di Arab Selatan. Menurutnya motif gerakan ini murni memuaskan ambisi pribadi, dan dari sisi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam. Hassan Sabbah dilahirkan di kota Qumm, salah satu pusat perkampungan Arab di Persia dan benteng orang-orang Syi’ah Itsna Asyariyah. Ayahnya, seorang pengikut Syiah Itsna Asyariyah, datang dari Kufah, Iraq, dan dikatakan sebagai orang asli Yaman.

Ketika dia masih kecil, ayahnya pindah ke Rayy –kota modern di dekat Tehran, di sana Hasan mendapatkan pendidikan agamanya. Rayy merupakan pusat aktivitas para dai semenjak abad IX dan tak lama kemudian Hasan mulai terpengaruh oleh mereka.

Hasyasyin memiliki basis pertahanan di Alamut. Sebuah benteng yang dibangun di atas punggung bukit di puncak sebuah gunung batu yang tinggi pada jantung pegunungan Elburz. Istana tersebut dikatakan telah dibangun oleh salah seorang raja Daylam. Dia memberi nama istana tersebut Aluh Amut yang dalam bahasa orang-orang Daylam berarti ajaran burung Elang.

Alamut, sebagai benteng pertahanan yang dimiliki oleh Hasyasyin dipandang mempunyai peranan penting dalam melakukan serangan-serangan mendadak ke berbagai arah yang mengejutkan benteng-benteng pertahanan lawan. Organisasi rahasia mereka, yang didasarkan atas ajaran Ismailiyyah, mengembangkan agnostisisme yang bertujuan untuk mengantisipasi anggota baru dari kekangan ajaran, mengajari mereka konsep keberlebihan para nabi dan menganjurkan mereka agar tidak mempercayai apa pun serta bersikap berani untuk menghadapi apa pun.

Di bawah mahaguru ada tingkatan guru senior yang masing-masing bertanggung jawab atas setiap daerahnya. Di bawahnya, ada dai-dai biasa, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah para fida’i yang selalu siap sedia melaksanakan setiap perintah sang Mahaguru (syekh, the elder, orang tua).

Para penulis Ismailiyah melihat sekte ini sebagai penjaga misteri yang suci yang hanya bisa dicapai setelah melalui rangkaian panjang persiapan serta proses.  Istilah yang umum dipergunakan untuk organisasi sekte ini adalah da’wa  (dalam bahasa Persianya Da’vat), yang berarti missi atau ajaran; agen-agennya adalah para dai atau missionaris (secara literal berarti penyeru atau pengajak) yang merupakan suatu jabatan kependetaan melalui pengangkatan.

Dalam laporan-laporan Ismailiyah belakangan mereka dibagi keberbagai macam tingkatan  dai, guru, murid  (tingkatan  rendah atau tinggi), sedangkan di bawah mereka adalah mustajib (secara literal berarti simpatisan atau responden, yang merupakan murid yang paling rendah) tingkatan yang paling tinggi adalah hujjah (dalam bahasa Persianya Hujjat),  dai senior. Peradabandansejarah.blogspot.co.id

0 komentar: