Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Korban tewas akibat serangan udara di sebuah kota “zona de-eskalasi” di Suriah telah meningkat menjadi 61, kata sebuah lembaga monitor perang pada hari Selasa (14/11/2017), menunjukkan keadaan rapuh yang dibangun untuk mengurangi kekerasan tersebut.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan tiga serangan udara menyerang pasar di Atareb, sebelah barat Aleppo, dan menewaskan sedikitnya 61 orang.

Atareb berada di dalam zona de-eskalasi berdasarkan kesepakatan antara Turki, Rusia dan Iran untuk mengurangi pertumpahan darah. Namun meski ada usaha diplomatik, pertempuran masih berlanjut di banyak daerah, termasuk Aleppo, Idlib, Raqqa, Deir al-Zor dan Hama.

“Pertempuran masih terjadi di zona-zona tersebut,” penasihat kemanusiaan PBB Jan Egeland mengatakan kepada Reuters. “Tapi akhir-akhir ini pertempuran semakin meningkat.”

Zona tersebut didirikan di bawah serangkaian pembicaraan di ibukota Kazakhstan, Astana, antara pendukung Assad yaitu Rusia dan Iran, dan pendukung oposisi, Turki.

Mereka sepakat pada bulan September untuk menempatkan pengamat di tepi zona de-eskalasi di provinsi Idlib di Suriah, yang sebagian besar berada di bawah kendali faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata.

Setelah serangan udara, aliansi faksi jihad Hayat Tahrir al-Sham mencela hasil perundingan gencatan senjata di Astana dan berjanji untuk terus memerangi pasukan rezim Syiah Assad dan sekutu Rusia dan Iran mereka.

“Agresi dan kejahatan kemanusiaan ini menegaskan bagi kita bahwa tidak ada solusi dengan para penjajah selain berjihad dan bertempur,” katanya.

Hayat Tahrir al-Sham mencakup kelompok faksi faksi jihad Suriah yang dipimpim oleh Jabhat Fath al Sham sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah. Jurnalislam.com

0 komentar: