Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Idlib – Organisasi Hak Pengungsi Internasional menyatakan bahwa jutaan anak-anak di Suriah terus kehilangan hak-hak mereka yang paling mendasar.

Dalam hal ini, wakil ketua organisasi tersebut Abdullah Resul Demir mengungkapkan bahwa anak-anak Suriah telah kehilangan hak mereka seperti pendidikan, kesehatan dan perlindungan dari kekerasan.

“Perang ini telah mempengaruhi nasib anak-anak, oleh karena itu mereka saat ini sangat membutuhkan pertolongan,” katanya pada Ahad (19/11/2017).

Selain itu, Demir juga membeberkan bahwa semua badan hukum dan kemanusiaan internasional gagal untuk memenuhi hak-hak anak-anak Suriah selama bertahun-tahun.

“Hak-hak anak ditentukan oleh hukum internasional. Namun dalam enam tahun terakhir, kita telah melihat bahwa nasib anak-anak Suriah perlu dipertanyakan, semua hukum dan kemanusiaan internasional gagal,” ungkapnya.

Terkait permasalahan ini, Mohammad Omar Selum yang tinggal di sebuah kamp pengungsi di Idlib mengaku “menginginkan kehidupan normal seperti anak-anak lain”.

Selanjutnya, Amal al-Ghafir yang kehilangan kaki kirinya dalam serangan udara rezim Assad berharap tidak ada anak Suriah yang menangis.

“Untuk Hari Anak Sedunia, saya hanya berharap agar tidak ada anak yang menangis atau merasa sedih,” paparnya.

Di akhir, Demir mencatat bahwa laporan UNICEF pada bulan September 2017 telah menunjukkan bahwa total 8,5 juta anak di Suriah dan 2,5 juta di luar negeri terpengaruh oleh konflik tersebut.

Dia menambahkan bahwa 8 dari 10 anak-anak Suriah adalah “anak-anak perang” dan 1,7 juta orang tinggal di wilayah konflik yang paling intens, sementara 2 juta orang tidak dapat pergi ke sekolah. Kiblat.net

0 komentar: