Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Pasukan pro pemerintah Suriah dibawah pimpinan Bashar Assad berusaha menguasai Aleppo Timur yang selama ini dikuasai oleh mujahidin pembebas Suriah. Penaklukan besar tersebut menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan warga sipil yang kemungkinan akan diabaikan oleh tentara pro Assad.

"Ada bom yang sedang dijatuhkan sekarang, ketika saya berbicara ini," ujar Zouhir Al Shimale, seorang jurnalis yang berdomisi di Aleppo timur kepada Al-azeera pada Rabu (14/12).

"Tak ada bentrokan. Kelompok-kelompok mujahidin tidak melawan saat ini. Ada yang terluka, tapi kami tidak tahu berapa banyak jumlahnya. Kita tidak bisa keluar karena penembakan di wilayah ini membabi buta," tambahnya.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris juga mengatakan bahwa suara penembakan bisa didengar, namun asalnya tidak jelas. Saat berbicara kepada kantor berita Reuters, komandan mujahidin mengatakan bahwa pasukan pemerintah telah melanggar gencatan senjata yang disetujui sehari sebelumnya.

Sumber-sumber medis mengatakan bahwa pihak pesawat tempur Assad menggunakan bom Cluster, yang dilarang penggunaannya oleh dunia internasional, di wilayah al-Zubdiyeh dan di tempat lain di wilayah yang dikuasai oleh para mujahidin.

Pada Selasa malam (13/12), diumumkan gencatan senjata antara pemerintah dan kelompok mujahidin Suriah dengan tujuan untuk mengevakuasi puluhan ribu warga di wilayah terakhir yang dikuasai oleh mujahidin di Aleppo timur ke daerah Idlib atau menuju ke perbatasan Turki.

Kesepakatan tersebut ditengahi oleh pemerintah Turki dan Rusia.

Kesepakatan tersebut ditunda pada Rabu pagi (14/12), meskipun kelompok mujahidin mengklaim bahwa milisi Syiah pro Assad di kota-kota mayoritas Syiah yaitu Kafraya dan Fua telah menuntut pengepungan mujahidin Suriah.

"Iran menolak kesepakatan itu dan tidak mengizinkan untuk mengevakuasi kota. Kami akan berjuang sampai mencapai kemenangan atau kematian" ujar Abdul-Mumin Zeineddin, koordinator mujahidin di Aleppo kepada kantor berita Anadolu.

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan 6.000 warga sipil dan 366 pejuang telah meninggalkan kabupaten yang dikuasai mujahidin di Aleppo selama 24 jam terakhir.

"Sudah jelas Iran memiliki pendapat yang berbeda di sini. Saya pikir mereka sudah yakin bahwa mereka sudah menang dan lebih memilih untuk menghabisi para mujahidin daripada membiarkan mereka meninggalkan kota itu hidup-hidup. Rezim Suriah tampaknya lebih dekat kepada Iran," ujarnya menggambarkan bahwa kejatuhan Aleppo Timur sebagai sebuah pukulan besar bagi para mujahidin.

Konflik Suriah dimulai dengan pemberontakan sebagian rakyat yang tidak bersenjata terhadap rezim otoriter Presiden Bashar al-Assad pada Maret 2011. Assad bergeming dan sejak itu Suriah berubah menjadi perang pembantaian oleh pemerintah Assad dan telah menewaskan ratusan ribu warga serta membuat setengah dari total warga Suriah mengungsi ke luar negeri.

Seperti diketahui, Aleppo adalah pusat keramaian dan pusat ekonomi Suriah. Kota tersebut telah dibagi menjadi dua bagian besar, bagian barat yang dikuasai oleh pemerintah dan bagian timur yang dikuasai oleh pasukan mujahidin sejak tahun 2012. Namun kini pasukan Assad mulai menguasai hampir seluruh kota setelah pertempuran sengit dan serangan udara tanpa henti selama seminggu. (bersamaislam)

0 komentar: