Breaking News
Loading...

Saudara kami sesama Muslim, sesungguhnya orang-orang Syi’ah mewajibkan untuk berpegang teguh pada taqiyah sampai munculnya Al-Mahdi yang mereka klaim.

Diriwayatkan oleh seorang ulama ahli tafsir Syi’ah, Al-Iyasyi dalam kitabnya Tafsir Al-Iyasyi (II/351), Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah Al-Islamiyah – Teheran, Oleh Al-Hurr Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/467), dan oleh Abdullah Syibr dalam Al-Ushul Al-Ashliyat, hal. 321, siaran berita Maktabah Al-Mufiq – Qumm, dari Ja’far Ash-Shadiq tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla surat Al-Kahfi ayat: 88, “Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh.” Kata Ja’far Ash-Shadiq, “Taqiyah dihilangkan ketika kasyaf – muncul imam mereka yang mereka klaim –, lalu membalas musuh-musuh Allah.” Yang dimaksud dengan musuh-musuh Allah ialah orang-orang Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena kaum Syi’ah bermu’amalah dengan Ahlus Sunnah dengan cara taqiyah. Dan yang dimaksud dengan kasyaf ialah munculnya imam mereka yang mereka klaim.

Diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kafi, (II/217) dan oleh Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi, (III/122), dari ayahku Abdullah ‘Alaihis salam, ia berkata,

“Wahai habib (putraku tersayang), sesungguhnya barangsiapa yang setia pada taqiyah niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Wahai habib, barangsiapa yang tidak setia pada taqiyah niscaya Allah akan merendahkan derajatnya. Dan wahai habib, sesungguhnya manusia itu dalam kondisi menahan diri. Jika ia sudah muncul, hal itu akan terjadi.”

Sayid Ali Akbar Al-Ghifari dalam catatan pinggirnya atas kitab Al-Kafi, (II/217), mengatakan,

“Yang dimaksud dengan kalimat “ia sudah muncul” ialah munculnya Al-Qa’im. Dan yang dimaksud dengan kalimat “hal itu akan terjadi” ialah taqiyah pun mulia ditinggalkan.”

Diriwayatkan oleh seorang ulama ahli hadits sekaligus muhaqiq Syi’ah, Muhammad bin Al-Harrifi dalam Wasa’il Asy-Syi’ah, (XI/57), dari Al-Hasan bin Harun, ia berkata,

“Aku sedang duduk di samping Abdullah ‘Alaihis salam. Lalu Ma’la bin Khunais bertanya kepada beliau, “Apakah imam Al-Qa’im akan berjalan tidak seperti berjalannya Ali ‘Alaihis salam?” Beliau menjawab, “Ya”. Hal itu disebabkan Ali ‘Alaihis salam berjalan dengan member dan menahan, karena ia tahu bahwa golongannya akan diberikan kemenangan. Sementara Al-Qa’im akan berjalan di tengah-tengah mereka dengan membawa pedang dan tawanan, karena ia tahu bahwa sepeninggalannya golongannya tidak akan diberikan kemenangan untuk selama-lamanya.”

Seorang ulama terkemuka Syi’ah, Ayatullah Al-Hajj Mirza Muhammad Taqi Al-Ashfahani dalam kitabnya Mikyal Al-Makarim fi Fawa’id Ad-Di’a Lil Qa’im, (1/246), Mansyurat Al-Imam Al-Mahdi – Qumm, mengutip penafsiran Ali bin Ibrahim Al-Qummi tentang firman Allah Ta’ala surat Ath-Thariq ayat: 17, “Karena itu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.” Yaitu sampai pada waktu bangkitnya Al-Qa’im. ia lalu membalas untukku dari para dictator dan para thaghut dari kaum Quraiys, Bani Umayyah dan manusia lainnya.”

Ayatollah Al-Ashfahani dalam kitabnya Mikyal Al-Makarim Fi Fawa’id Al-Di’a Lil Qur’an, (I/148), mengutip riwayat dari Ali bin Al-Husain ‘Alaihis salam, ia berkata,

“Ketika Al-Qa’im kami sudah bangkit, Allah ‘Azza wa Jalla akan melenyapkan Ahlus Sunnah dari golongan kami, menjadikan hati mereka seperti bubur besi, dan memberikan kepada salah seorang mereka kekuatan empat puluh orang. Mereka semua akan menjadi para hakim dan pemimpin bumi.”

Diriwayatkan oleh guru kaum Syi’ah, Muhammad bin Muhammad bin Shadiq Sadr Al-Musawi dalam kitabnya Tarikh Ma Ba’da Zhuhur, hal. 762, cetakan kedua, Daar At-Ta’aruf – Libanon, dari Abu Ja’far ‘Alaihis salam, ia berkata,

“Sesungguhnya manusia itu dalam penantian. Kita akan menikahi mereka, mewarisi mereka, memberlakukan hukuman-hukuman atas mereka, dan menyampaikan amanat mereka. Dan ketika telah muncul Al-Qa’im, maka timbullah perpecahan.” Ia mengartikan makna perpecahan ialah perpecahan dan perselisihan antara para pembela kebenaran dan para pembela kebathilan.

Al-Hajj Ayatullah As-Sayid Ibrahim Az-Zanjani dalam kitabnya Hada’iq Al-Ansi, hal. 104, Daar Az-Zahra’ – Libanon, mengutip riwayat dari Amirul Mukminin ‘Alaihis salam, sesungguhnya ia berkata,

“Para ulama ahli fiqih mereka memberikan fatwa berdasarkan apa yang mereka inginkan. Para qadhi mereka sama mengatakan sesuatu yang tidak mereka pahami. Kebanyakan mereka memberikan kesaksian dusta. Dan begitu Al-Qa’im muncul, ia akan menghukum para ulama yang member fatwa.”

Mengomentari riwayat ini, Ayatullah Az-Zanjani mengatakan,

“Yang dimaksud dengan fuqaha ialah para ulama ahli fiqih dari kalangan kaum Ahlus Sunnah, karena mereka memberikan fatwa dengan selain apa yang telah diturunkan oleh Allah. Bukti yang menunjukkan hal itu ialah ucapan Imam Al-Baqir ‘Alaihis salam, ‘Ketika nanti Imam Al-Mahdi ini muncul – semoga Allah mempercepat kemunculannya – maka musuhnya yang nyata hanyalah para ulama ahli fiqih saja. Ia dan pedang adalah pasangan. Seandainya ia tidak memegang pedang di tangannya (maksudnya ialah kekuasaan dan kekuatan), niscaya para ulama ahli fiqih tersebut akan memberikan fatwa untuk membunuhnya. Tetapi Allah memberinya kekuatan dengan pedang.’”

Demikian yang dikatakan oleh Az-Zanjani.

Seorang ulama Syi’ah terkemuka Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam kitab Haqqul Yaqin berbahasa Persia mengemukakan apa yang pernah dikutip oleh seorang ulama terkemuka berkebangsaan India, Maulana Muhammad Manzhur Nu’mani dalam kitab Al-Tsaurah Al-Iraniyah fi Mizan Al-Islam, hal. 148, bahwasanya mereka sama menikahi kami dan mewarisi kami sampai muncul Al-Mahdi yang kemudian akan memulai membunuh para ulama Ahlus Sunnah lalu orang-orang awam mereka.

Diriwayatkan oleh guru Syi’ah, Abu Zainab alias Muhammad bin Ibrahim An-Nu’mani, murid dari guru Syi’ah Al-Kulaini dalam kitab Al-Ghaibah, hal. 233, Maktabah Ash-Shaduq – Teheran, dari Muhammad bin Muslim, ia berkata,

“Aku pernah mendengar Abu Ja’far ‘Alaihis salam mengatakan, ‘Seandainya manusia tahu apa yang akan dilakukan oleh Al-Qa’im ketika ia telah muncul nanti, niscaya kebanyakan mereka akan merasa senang melihat ia membunuh sebagian manusia. Ia akan memulainya dengan membunuh orang-orang Quraisy. Yang ia ambil dan yang ia berikan hanya pedang, sehingga banyak manusia yang mengatakan, ‘Orang ini bukan termasuk keluarga Muhammad. Seandainya termasuk keluarga Muhammad, ia pasti punya rasa kasihan.’”

Riwayat ini dikemukakan oleh Muhammad Ash-Shadiq Sadr dalam Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 567, Maktabah Ash-Shaduq – Teheran. Riwayat ini juga dikemukakan oleh ulama ahli fiqih sekaligus ahli hadits terkemuka Syi’ah, Al-Hajj Syaikh Ali Al-Yazdi Al-Hairi dalam kitab Ilzam An-Nashib fi Itsbat Al-Hujjati Al-Ghaib, (II/283), cetakan keempat, tahun 1977 Masehi, Mansyurat Muassasah Al-A’lami lil Mathbu’at – Bairut.

Disebutkan dalam kitab Al-Ghaibah, hal. 231 oleh An-Nu’mani, dan kitab Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 566, sebuah riwayat dari Zurarah, dari Abu Ja’far ‘Alaihis salam, ia berkata,

“Tolong sebutkan padaku nama salah seorang shalih alias Al-Qa’im.” Ia berkata, “Namanya sama dengan namaku.” Aku bertanya, “Apakah ia berperilaku seperti perilaku Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya?” Ia menjawab, “Tidak mungkin, wahai Zurarah. Ia tidak berperilaku seperti perilaku beliau dan keluarganya.” Aku bertanya, “Aku menjadi tebusan anda. Kenapa begitu?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya berjalan di tengah-tengah umatnya dengan pemberian yang menyatukan manusia. Sementara Al-Qa’im berjalan dengan membunuh. Dalam kitab yang dibawanya ia disuruh untuk membunuh. Ia tidak meminta bertaubat kepada siapa pun. Bahkan sungguh celaka orang yang berani menentangnya.”

Syaikh Muhammad Shadiq Sadr dalam kitab Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 570-571, mengutip dari Rufaid budak Ibnu Hubairah, ia berkata,

“Aku bertanya kepada Abu Abdullah ‘Alaihis salam, ‘Aku menjadi tebusan anda, wahai cucu Rasulullah. Apakah Al-Qa’im akan berperilaku seperti perilaku Ali bin Abi Thalib di tengah-tengah publik kaum Muslimin?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Ruafaid. Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib berjalan di tengah-tengah publik kaum Muslimin dengan apa yang ada pada sumur hitam. Sedangkan Al-Qa’im berjalan di tengah orang-orang Arab dengan apa yang ada dalam sumur merah.’ Aku bertanya, ‘Aku menjadi tebusan anda, apa itu sumur merah?’ Sambil menempelkan jari pada leher ia berkata, ‘Penyembelihan.’”

Disebutkan dalam kitab Al-Ghaibah, hal. 234 oleh An-Nu’mani dan kitab Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 115 oleh Sadr, sebuah riwayat dari Abu Abdullah ‘Alaihis salam, ia berkata,

“Ketika nanti Al-Qa’im muncul, tidak ada di antaranya, dan diantara orang-orang Arab dan suku Quraisy kecuali pedang.”

Disebutkan dalam kitab Al-Ghaibah, hal. 236 oleh An-Nu’mani, sebuah riwayat dari ayahku, Abdullah ‘Alaihis salam, ia berkata, “Yang ada antara kami dan orang-orang Arab hanyalah penyembelihan.” Ia lalu member isyarat yang menunjuk ke lehernya.

Mereka mengutip ucapan imam mereka yang ma’shum dan tidak berbicara dari nafsu,

“Seandainya kami tidak mengkhawatirkan salah seorang kalian akan membunuh salah seorang mereka, sementara satu orang di antara kalian itu lebih baik dari pada seribu orang dari mereka, niscaya kami perintahkan kalian untuk membunuh mereka. Tetapi hal itu akan kita serahkan kepada Al-Imam ‘Alaihis salam.”

Riwayat yang buruk ini diketengahkan oleh guru kaum Syi’ah, Al-Hurr Al-Amili dalam kitab Wasa’il Asy-Syi’ah, (XI/60), oleh Al-Bahrani dalam kitab Al-Hada’iq An-Nadhirah, (XVIII/155), dan Syaikh Husain Alu Ushfur dalam kitab Al-Mahasin An-Nafsaniyah, hal. 166. Riwayat ini juga dikemukakan oleh guru kaum Syi’ah, Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi, (X/59), dengan redaksi,

“Seandainya kami tidak mengkhawatirkan salah seorang dari kalian akan membunuh salah seorang dari mereka, padahal satu orang di antara kalian itu lebih baik dari pada seribu bahkan seratus ribu orang dari mereka, niscaya kami perintahkan kalian untuk membunuh mereka. Tetapi hal ini terserah pada Al-Imam.”

[Mengungkap Hakikat Syi’ah, Agar Kita Tidak Terpedaya, Abdullah Al-Mushili].

0 comments: