Syiahindonesia.com - Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga kekuatan, keharmonisan, serta keberlanjutan dakwah Islam di seluruh dunia. Islam mengajarkan bahwa setiap orang yang beriman adalah bersaudara, yang saling menguatkan ibarat satu bangunan yang kokoh. Namun, dalam perjalanan sejarah hingga era modern saat ini, ikatan persaudaraan yang suci ini senantiasa menghadapi berbagai tantangan teologis dan ideologis. Salah satu ancaman nyata yang berpotensi memecah belah dan merusak stabilitas kerukunan umat Islam, khususnya di Indonesia, adalah penyebaran ajaran Syiah yang dilakukan secara terstruktur melalui pelbagai narasi propaganda.
Propaganda yang diusung oleh kelompok Syiah acap kali dikemas dengan sangat rapi, halus, dan memanfaatkan isu-isu sensitif yang mudah menyentuh simpati masyarakat awam. Di permukaan, mereka kerap mengumandangkan jargon persatuan Islam (taqrib), perlawanan terhadap imperialisme, atau kecintaan mendalam kepada keluarga Nabi Muhammad SAW (Ahlul Bait). Namun, apabila ditelaah secara kritis berdasarkan literatur autentik dan realita panggung politik keagamaan, narasi-narasi tersebut menyimpan kontradiksi mendasar yang justru mengikis ikatan persaudaraan serta menanamkan benih permusuhan terhadap mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama'ah).
Modus Operandi Propaganda Syiah dalam Memecah Belah Umat
Dalam menyebarkan pengaruhnya di tengah masyarakat Muslim Indonesia yang mayoritas berakidah Sunnah, ajaran Syiah menggunakan beberapa strategi propaganda yang dirancang untuk mengaburkan perbedaan teologis yang mendasar:
Manipulasi Isu Kecintaan kepada Ahlul Bait
Pintu masuk utama propaganda Syiah adalah mengeksploitasi rasa cinta umat Islam kepada keluarga Rasulullah SAW. Mereka membangun narasi seolah-olah mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah) membenci atau menelantarkan Ahlul Bait, sementara hanya kelompok Syiah yang benar-benar memuliakan mereka. Padahal, memuliakan Ahlul Bait adalah bagian integral dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Pengasihan narasi palsu ini bertujuan memicu ketidakpercayaan umat terhadap para ulama Sunnah.
Penggunaan Strategi Taqiyyah (Penyamaran)
Taqiyyah atau menyembunyikan keyakinan sejati bukan sekadar taktik darurat dalam ajaran Syiah, melainkan doktrin agama yang bernilai pahala. Dalam melancarkan propaganda, para pendakwah Syiah sering kali menyembunyikan doktrin-doktrin ekstrim mereka—seperti celaan terhadap sahabat Nabi dan pencemaran nama baik istri-istri Rasulullah—di hadapan publik. Sikap ganda ini membuat masyarakat sulit mendeteksi hakekat penyimpangan ajaran mereka hingga ideologi tersebut mengakar kuat.
Infiltrasi Melalui Jalur Kebudayaan, Akademis, dan Media Digital
Propaganda Syiah di Indonesia tidak hanya bergerak di mimbar tradisional, tetapi meluas ke lembaga pendidikan, penerbitan buku, majalah, hingga platform media sosial. Mereka mengemas pemikiran teologisnya dalam bentuk tulisan akademis, kajian filsafat, serta karya sastra yang tampak intelek. Penggunaan media digital yang massif bertujuan membentuk persepsi bahwa ajaran Syiah adalah bagian dari variasi mazhab Islam yang sah dan patut diterima tanpa rasa curiga.
Pengkambinghitaman dan Stigmatisasi terhadap Umat Islam Sunnah
Untuk memecah belah ukhuwah, propaganda Syiah kerap menstigma umat Islam yang bersikap kritis terhadap ajaran mereka dengan label-label peyoratif seperti "radikal", "intoleran", atau "nasibi" (pembenci Ahlul Bait). Stigmatisasi ini dirancang untuk menciptakan polarisasi sosial, memicu rasa takut di tengah masyarakat, serta membenturkan kelompok Muslim dengan pemerintah atau aparat keamanan.
Pencederaan terhadap Sahabat Nabi sebagai Akar Keretakan Ukhuwah
Penyebab utama mengapa ajaran Syiah secara inheren merusak Ukhuwah Islamiyah adalah doktrin mereka yang melecehkan, mengkafirkan, dan mencela para sahabat Nabi Muhammad SAW serta para istri beliau, seperti Aisyah RA dan Hafshah RA. Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah, para sahabat adalah generasi terbaik yang dijamin kesuciannya oleh Allah SWT dan perantara sampainya ajaran Al-Qur'an serta As-Sunnah kepada generasi berikutnya.
Bagaimana mungkin persaudaraan yang sejati dapat terwujud jika salah satu pihak secara konsisten menistakan figur-figur sakral yang dicintai oleh pihak lainnya? Perbuatan mencela sahabat adalah bentuk pencederaan berat terhadap kehormatan Islam yang secara langsung membatalkan dalih persatuan yang mereka dengungkan.
Allah SWT secara tegas meredhai para sahabat Nabi dan mengabadikan pujian bagi mereka dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 18:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Artinya: "Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat."
Pelecehan terhadap para sahabat yang telah diridhai oleh Allah SWT juga berbenturan keras dengan petunjuk Rasulullah SAW. Beliau melarang keras tindakan mencela para sahabat dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Artinya: "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, sungguh itu tidak akan menyamai satu mud (takaran tangan) infak salah seorang dari mereka, tidak pula separuhnya."
Ketika propaganda Syiah secara halus maupun terang-terangan menanamkan kebencian kepada sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, maka saat itu pula mereka sedang merobek ikatan Ukhuwah Islamiyah dari akarnya.
Dampak Sosial dan Geopolitik Penyebaran Propaganda Syiah
Dampak dari propaganda dan penyebaran ajaran Syiah tidak berhenti pada ranah perdebatan teologis semata, melainkan membawa implikasi sosial dan geopolitik yang sangat serius. Dalam konteks internasional, kita dapat menyaksikan bagaimana infiltrasi ideologi Syiah di berbagai negara Timur Tengah—seperti Yaman, Irak, Suriah, dan Lebanon—telah memicu konflik sektarian yang berkepanjangan, meruntuhkan stabilitas negara, serta mengorbankan jutaan jiwa umat Islam.
Di Indonesia, penyebaran propaganda Syiah berpotensi menciptakan gesekan horizontal di tengah masyarakat yang selama ini hidup rukun dalam naungan tradisi Islam Sunnah. Keretakan dalam ikatan keluarga, konflik antar-warga di pedesaan, hingga pertentangan di lingkungan akademis merupakan contoh konkrit dari dampak masuknya ideologi yang memecah belah ini.
Ukhuwah Islamiyah yang sejati tidak bisa dibangun di atas fondasi kebohongan, penyembunyian akidah (taqiyyah), atau penistaan terhadap ajaran Islam yang autentik. Persatuan yang hakiki hanya dapat terwujud ketika seluruh elemen umat berdiri di atas landasan tauhid yang murni, penghormatan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta keikutsertaan terhadap manhaj para sahabat Nabi.
Langkah Membentengi Ukhuwah dari Propaganda Penyimpangan
Untuk menjaga keutuhan Ukhuwah Islamiyah dan melindungi masyarakat dari pengaruh propaganda Syiah yang merusak, dibutuhkan ikhtiar yang terencana dan berkesinambungan:
Memperkuat Dakwah dan Edukasi Keagamaan yang Autentik
Majelis taklim, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan Islam harus terus mengintensifkan kajian mengenai keutamaan para sahabat Nabi, pentingnya menjaga kemurnian akidah Sunnah, serta bahaya aliran-aliran sesat yang menyusup ke dalam tubuh umat.
Meningkatkan Kewaspadaan terhadap Media Propaganda
Umat Islam harus bersikap bijak dan selektif dalam mengonsumsi informasi, baik berupa buku, artikel, maupun konten digital. Mengonfirmasi (tabayyun) setiap informasi keagamaan kepada ulama yang kompeten dan terpercaya adalah benteng utama agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi propaganda.
Mengoptimalkan Peran Ormas Islam dan Pemerintah
Organisasi massa Islam seperti MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta ormas Islam lainnya harus terus bersinergi dengan pemerintah dalam mengawasi pergerakan aliran terlarang atau berpotensi memicu konflik sektarian. Sosialisasi Fatwa dan Buku Panduan MUI tentang Syiah perlu diperluas ke seluruh lapisan masyarakat.
Konsolidasi Persaudaraan Sesama Umat Islam
Meningkatkan kepedulian sosial, mempererat silaturahmi, dan menyelesaikan setiap perbedaan internal Ahlus Sunnah secara bijaksana akan menutup rapat celah-celah yang kerap dimanfaatkan oleh pihak luar untuk memecah belah persatuan umat.
Mewaspadai dan mengantisipasi propaganda ajaran Syiah adalah bagian dari ikhtiar syar'i untuk menjaga kesucian agama Islam, melindungi kehormatan para sahabat Nabi, serta mempertahankan keutuhan Ukhuwah Islamiyah di Tanah Air.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: