Syiahindonesia.com - Hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an yang berfungsi memperjelas, merinci, dan mengukuhkan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala. Keagungan ajaran Islam dan kemurnian syariatnya sangat bergantung pada otentisitas riwayat yang disampaikan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun, dalam catatan sejarah perkembangan sekte-sekte dalam Islam, ajaran Syiah—khususnya kelompok Al-Rafidhah—dikenal oleh para ulama kritikus hadis (nuqqad al-hadits) sebagai kelompok yang paling banyak melakukan rekayasa dan pemalsuan riwayat (wad'u al-hadits) demi melegitimasi doktrin-doktrin keagamaannya.
Kebiasaan memalsukan hadis di kalangan Syiah bukan sekadar fenomena marginal, melainkan alat utama untuk membangun fondasi ajaran mereka, seperti doktrin Imamah (kepemimpinan mutlak 12 imam yang ma'shum), keutamaan berlebihan terhadap Ahlul Bait, hingga narasi pencelaan terhadap para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum. Oleh karena itu, membongkar metodologi pemalsuan hadis oleh Syiah serta memahami kritikan para ulama klasik merupakan benteng penting untuk menjaga kemurnian akidah umat Islam di Indonesia.
Para imam dan ulama generasi Salafus Shalih telah memberikan peringatan tegas mengenai maraknya kedustaan yang bersumber dari sekte Syiah (Rafidhah). Merekalah yang pertama kali mengidentifikasi bahwa mayoritas riwayat palsu diciptakan oleh kelompok ini:
1. Imam Asy-Syafi'i (rahimahullah)
Imam Asy-Syafi'i menegaskan bahwa sekte Rafidhah adalah kelompok yang paling berani berdusta dalam perkara riwayat. Beliau berkata:
"Aku belum pernah melihat kelompok pengikut hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu (berdusta) daripada kelompok Rafidhah." (Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I'tidal)
2. Imam Malik bin Anas (rahimahullah)
Ketika Imam Malik ditanya tentang kelompok Rafidhah, beliau memberikan nasihat agar tidak mengambil riwayat dari mereka:
"Janganlah engkau berbicara dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan (hadis) dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu selalu berdusta." (Diriwayatkan oleh Ibnu Batah dalam Al-Ibanah al-Kubra)
3. Imam Hammad bin Zaid (rahimahullah)
Ulama kritikus hadis terkemuka ini menguraikan asal-usul timbulnya hadis-hadis palsu dengan bersabda:
"Kaum Rafidhah itu merekayasa dan memalsukan hadis-hadis (tentang keutamaan Ali dan kedustaan atas nama Nabi)."
Motivasi dan Faktor Pendorong Pemalsuan Hadis oleh Syiah
Mengapa pemalsuan hadis begitu masif terjadi di dalam literatur Syiah? Para ulama menganalisis beberapa faktor utama yang mendorong tindakan ini:
Legitimasi Doktrin Imamah: Karena Al-Qur'an tidak pernah menyebutkan satu ayat pun secara eksplisit mengenai kepemimpinan politik dan spiritual 12 Imam Syiah, mereka terpaksa membuat riwayat-riwayat palsu yang seolah-olah bersumber dari Nabi untuk mewajibkan kepatuhan kepada para imam mereka.
Menjatuhkan Kehormatan Para Sahabat: Untuk mendukung tuduhan bahwa para sahabat telah berkhianat, mereka merekayasa riwayat yang mencela Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anhum.
Doktrin Taqiyyah (Menyembunyikan Kebenaran): Ajaran taqiyyah menyatukan kebohongan ke dalam sistem kepercayaan Syiah. Ketika pembohongan dianggap sebagai bagian dari ibadah untuk melindungi ajaran, batas antara kejujuran ilmiah dan rekayasa menjadi kabur.
Fanatisme Kesukuan dan Golongan ( 'Ashabiyah): Keinginan untuk mengangkat derajat kelompok dan imam-imam mereka di atas seluruh kaum muslimin mendorong para pemalsu hadis (wadhdha'un) Syiah menciptakan riwayat ganjil tentang pahala melimpah hanya dengan menziarahi kuburan para imam.
Modus Operandi Pemalsuan Hadis dalam Literatur Syiah
Dalam menyebarkan riwayat palsu, penganut Syiah menggunakan berbagai modus operandi yang licik:
Pencatutan Nama Imam Ahlul Bait: Mereka menyandarkan riwayat-riwayat rekayasa kepada figur-figur agung seperti Ja'far Ash-Shadiq, Muhammad Al-Baqir, atau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum. Padahal, para imam tersebut bersih dari kebohongan tersebut.
Memotong dan Memelintir Matan Hadis Shahih: Mengambil sebagian teks hadis yang shahih lalu menambahkan kalimat-kalimat buatan yang mengubah makna asli secara total.
Menciptakan Sanad-Sanad Fiktif (Inqitha' dan Tadlis): Menguntai nama-nama perawi palsu atau tidak dikenal (majhul) demi mengesankan bahwa riwayat tersebut bersambung sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Perbandingan Metodologi Hadis: Sunni vs Syiah
Tabel berikut menunjukkan perbedaan jurang pemisah antara pengujian keabsahan riwayat dalam metodologi ilmiah Ahlussunnah dengan sistem riwayat Syiah:
Bahaya Pemalsuan Hadis bagi Keutuhan Umat Islam
Maraknya hadis-hadis rekayasa buatan Syiah menimbulkan dampak yang sangat destruktif bagi tatanan keagamaan:
Merusak Sumber Hukum Islam: Pencampuran antara sabda Nabi yang murni dengan rekayasa manusia merusak kaidah pengambilan hukum (istinbath al-ahkam).
Menanamkan Kebencian Sektarian: Riwayat-riwayat palsu Syiah yang berisi celaan (la'nan) terhadap sahabat dan istri-istri Nabi memicu permusuhan abadi di tengah kaum muslimin.
Menciptakan Syariat Baru: Munculnya amalan-amalan bid'ah dan ritual yang tidak pernah diajarkan Nabi, seperti ritual meratapi kematian di hari Asyura dengan melukai diri sendiri, yang dilegitimasi melalui hadis-hadis palsu.
Kesimpulan
Pemalsuan hadis oleh sekte Syiah merupakan kejahatan ilmiah dan agama terbesar dalam sejarah Islam yang bertujuan menggeser fondasi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kedustaan yang mereka bangun di atas nama Nabi dan Ahlul Bait telah dibongkar secara tuntas oleh para ulama ahli hadis sejak abad-abad awal Hijriah. Bagi umat Islam di Indonesia, mempelajari ilmu مصطلح الحديث (musthalah al-hadits) dan berpegang teguh pada kitab-kitab hadis shahih (seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) adalah satu-satunya jalan untuk membentengi diri dari propaganda serta tipu daya hadis-hadis palsu buatan Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: