Syiahindonesia.com - Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu merupakan Khalifah Rasyid keempat, pahlawan Islam, serta sepupu dan menantu Rasulullah SAW yang teramat dicintai oleh seluruh Umat Islam. Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau diposisikan pada tempat yang sangat mulia bersama para Sahabat utama lainnya. Mencintai Sayyidina Ali dan Ahlul Bait adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang Muslim.
Namun, di dalam teologi dan historiografi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), rekam jejak sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA telah mengalami penyelewengan dan rekonstruksi yang sangat drastis. Demi menyelaraskan realitas sejarah dengan doktrin Imamah (kepemimpinan mutlak) dan Ismah (kesucian dari dosa/kesalahan), para historiograf Syiah merekayasa narasi sejarah yang justru merendahkan martabat serta keberanian Sayyidina Ali RA itu sendiri.
Berikut adalah pendedahan komprehensif mengenai bentuk-bentuk penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh kelompok Syiah terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA beserta bantahan ilmiah berlandaskan fakta sejarah yang otentik:
1. Rekayasa Narasi "Penderitaan dan Ketakutan" (Doktrin Taqiyyah)
Penyelewengan sejarah paling fatal yang diciptakan oleh kelompok Syiah adalah penggambaran Sayyidina Ali RA sebagai sosok yang lemah, tertindas, dan terpaksa menyembunyikan kebenaran (Taqiyyah) karena takut kepada para Sahabat lainnya.
Bentuk Penyelewengan Syiah: Syiah mengklaim bahwa pasca-wafatnya Rasulullah SAW, hak kekhalifahan Sayyidina Ali dirampas secara paksa oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum. Dalam narasi Syiah, Sayyidina Ali digambarkan teraniaya, rumahnya didobrak, istrinya (Fatima az-Zahra RA) disiksa, namun beliau hanya bisa berdiam diri, tidak melawan, dan membaiat para Khalifah sebelumnya hanya karena pura-pura (Taqiyyah) demi menyelamatkan diri.
Fakta Sejarah yang Otentik:
Penghinaan Terhadap Keberanian Singa Allah: Menggambarkan Sayyidina Ali RA—pahlawan Perang Badar, Khaibar, dan Khandaq yang dijuluki Asadullah (Singa Allah)—sebagai sosok yang takut dan membiarkan kezaliman terjadi di depan matanya adalah bentuk penghinaan terselubung terhadap karakter beliau.
Keterlibatan Aktif dalam Pemerintahan: Sayyidina Ali RA tidak pernah mengisolasi diri atau bersikap musuh. Beliau menjadi penasihat utama (Qadhi) pada masa Kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Bahkan ketika Umar bin Khattab RA bepergian keluar Madinah, beliau menunjuk Sayyidina Ali RA sebagai wakil Khalifah untuk memimpin Madinah.
Pemberian Nama Anak-Anak Ali: Sebagai bukti cinta dan ikatan persaudaraan yang erat, Sayyidina Ali RA menamai tiga orang putranya dengan nama para Khalifah sebelum beliau, yaitu Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali (yang semuanya gugur sebagai syahid mendampingi Husein di Karbala). Mustahil seorang ayah menamai anak-anak kandungnya dengan nama orang yang dituduh merampas haknya dan menganiaya istrinya.
2. Pemalsuan Hubungan Kekerabatan: Pernikahan Ummu Kultsum dengan Umar bin Khattab RA
Untuk menjaga narasi "permusuhan abadi" antara Sayyidina Ali dan Umar bin Khattab RA, para sejarawan Syiah merekayasa atau mengingkari fakta pernikahan antara putri Sayyidina Ali dengan Umar bin Khattab RA.
Bentuk Penyelewengan Syiah: Sebagian ulama Syiah mengingkari terjadinya pernikahan ini. Sebagian lain yang tidak bisa membantah fakta ini membuat narasi aneh bahwa yang dinikahi Umar bukanlah putri Ali, melainkan "jin yang menyerupai Ummu Kultsum", atau mengklaim pernikahan itu terjadi karena Sayyidina Ali dipaksa di bawah ancaman pedang.
Fakta Sejarah yang Otentik: Pernikahan antara Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib (putri kandung Sayyidah Fatima) dengan Khalifah Umar bin Khattab RA adalah fakta sejarah yang mutawatir dan diakui oleh kitab-kitab rujukan Syiah klasik sendiri (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini dan Tahdzib al-Ahkam karya Al-Tusi). Pernikahan ini menghasilkan dua orang anak, yaitu Zaid bin Umar dan Ruqayyah binti Umar. Pernikahan ini menjadi bukti otentik betapa harmonis dan mulianya hubungan kekeluargaan antara Sayyidina Ali dan Umar bin Khattab RA.
3. Penyelewengan Konteks Peristiwa Ghadir Khum
Syiah menjadikan peristiwa Ghadir Khum sebagai fondasi utama klaim bahwa Rasulullah SAW telah melantik Sayyidina Ali RA sebagai Khalifah politik pertama pengganti beliau.
Bentuk Penyelewengan Syiah: Syiah menafsirkan sabda Nabi SAW di Ghadir Khum: "Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai maula-nya, maka Ali adalah maula-nya" sebagai penetapan kekhalifahan (Imamah) dan kekuasaan politik mutlak.
Fakta Sejarah dan Bahasa yang Otentik:
Makna Kata Maula: Dalam tata bahasa Arab, kata Maula memiliki puluhan arti. Dalam konteks pidato Nabi SAW di Ghadir Khum, kata Maula bermakna Al-Muwalat (kecintaan, penolong, dan kedekatan kekeluargaan), bukan Al-Imarah (kekuasaan politik/pemerintahan).
Konteks Peristiwa (Asbabul Wurud): Peristiwa ini terjadi sekembalinya Nabi SAW dari Haji Wada'. Sebelum peristiwa tersebut, terjadi kesalahpahaman antara sekelompok prajurit dengan Sayyidina Ali RA terkait pembagian rampasan perang di Yaman. Di Ghadir Khum, Rasulullah SAW menegaskan kembali kedudukan mulia Ali RA untuk membersihkan prasangka buruk pasukan tersebut dan memerintahkan Umat untuk mencintai serta memuliakan Ali.
Pemahaman Para Sahabat dan Ali Sendiri: Jika kata Maula berarti pelantikan Khalifah secara terbuka di hadapan puluhan ribu jemaah haji, tidak mungkin seluruh Sahabat (termasuk Anshar dan Muhajirin) sepakat melanggarnya beberapa minggu kemudian di Saqifah Bani Sa'idah tanpa ada satu pun Sahabat yang menagih janji Ghadir Khum tersebut.
4. Pemalsuan Doktrin "Wasiat Rahasia" dan Pengabaian Sikap Musyawarah
Syiah mendistorsi sejarah kepemimpinan Islam dengan mengeklaim bahwa kepemimpinan Sayyidina Ali tidak didasari oleh sistem persetujuan Umat atau musyawarah, melainkan doktrin penunjukan langsung dari langit (Nash).
Bentuk Penyelewengan Syiah: Syiah menolak kenyataan bahwa ketika Sayyidina Ali RA menjadi Khalifah keempat, beliau dibaiat oleh kaum Muslimin melalui proses politik dan kesepakatan jemaah pasca-syahidnya Utsman bin Affan RA.
Fakta Sejarah yang Otentik: Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sendiri secara tegas menolak doktrin kepemimpinan rahasia dan menegaskan bahwa kekhalifahan adalah hak musyawarah kaum Muslimin. Dalam kitab Nahjul Balaghah (kitab yang diagungkan Syiah), Sayyidina Ali RA menyatakan:
"Sesungguhnya baiat kepadaku adalah baiat yang satu (sah). Orang-orang yang membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah membaiatku atas dasar apa yang mereka gunakan untuk membaiat mereka. Maka tidak ada hak bagi yang hadir untuk memilih (yang lain) dan tidak ada hak bagi yang gaib untuk menolak. Sesungguhnya musyawarah itu hanyalah hak Muhajirin dan Anshar..." (Nahjul Balaghah, Surat ke-6).
Pernyataan Sayyidina Ali RA ini membatalkan seluruh konstruksi historiografi Syiah yang menuduh kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai kepemimpinan yang tidak sah (illegitimate).
Kesimpulan
Penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh kelompok Syiah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib RA pada hakikatnya adalah ikhtiar meruntuhkan keutuhan peradaban Islam generasi pertama. Dengan menggambarkan Sayyidina Ali sebagai sosok yang teraniaya, penakut, dan penuh dendam kepada para Sahabat lainnya, Syiah telah merusak gambaran kesucian, keberanian, dan keluhuran akhlak yang sebenarnya dimiliki oleh beliau.
Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menempatkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pada posisinya yang mulia—sebagai pahlawan Islam, Khalifah Rasyid, dan sahabat karib para Khulafaur Rasyidin lainnya—adalah wujud penghormatan yang sejati dan landasan dalam menjaga kemurnian sejarah Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: