Syiahindonesia.com - Peristiwa Ghadir Khum merupakan salah satu rekam jejak sejarah penting dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW dan para Sahabat radhiyallahu 'anhum. Kejadian ini berlangsung pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah di sebuah lembah bernama Khum, yang terletak di antara Makkah dan Madinah, sewaktu rombongan kaum Muslimin kembali dari menunaikan ibadah Haji Wada' (Haji Perpisahan). Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, peristiwa ini adalah momen pemuliaan, pembelaan, serta penegasan kasih sayang Rasulullah SAW terhadap sepupu sekaligus menantunya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
Namun, di dalam teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), peristiwa Ghadir Khum telah direkayasa dan disalahgunakan secara masif. Kelompok Syiah menjadikan peristiwa ini sebagai pondasi utama untuk melegitimasi doktrin Wilayah atau Imamah (kepemimpinan politik dan spiritual mutlak pasca-Nabi). Mereka mengeklaim bahwa di Ghadir Khum, Rasulullah SAW secara eksplisit telah melantik Sayyidina Ali sebagai khalifah pertama pengganti beliau dan menetapkan sistem kepemimpinan turun-temurun bagi 12 Imam.
Penyalahgunaan narasi ini tidak hanya membengkokkan makna bahasa dan sejarah, melainkan juga digunakan oleh propagandis Syiah untuk menuduh mayoritas Sahabat Nabi—termasuk Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan—telah mengkhianati wasiat Nabi SAW.
Berikut adalah bedah tuntas dan komprehensif mengenai bentuk-bentuk penyalahgunaan, penafsiran keliru, serta manipulasi sejarah yang dilakukan oleh kelompok Syiah terkait konsep Ghadir Khum:
1. Pemelintiran Makna Kata Maula dalam Teks Hadits
Argumentasi utama yang dijajakan oleh Syiah bertumpu pada sabda Rasulullah SAW saat berada di Ghadir Khum.
Teks Hadits Sahih: Rasulullah SAW memegang tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA lalu bersabda:
مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ ، اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ
"Barangsiapa yang menjadikanku sebagai maula-nya, maka Ali adalah maula-nya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya." (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Bentuk Penyalahgunaan Syiah: Kelompok Syiah menerjemahkan kata Maula secara sepihak sebagai "Pemimpin Mutlak", "Penguasa Politik", atau "Khalifah Wajib Ditaati". Dari penerjemahan yang dipaksakan ini, mereka menyimpulkan bahwa barangsiapa yang memilih pimpinan selain Ali setelah Nabi wafat, maka ia telah membatalkan keislamannya.
Bantahan Ilmiah:
Analisis Kebahasaan (Lughat al-'Arab): Kata Maula dalam ilmu bahasa Arab tergolong sebagai Isim Musytarak (satu kata yang memiliki banyak arti tergantung konteks kalimat). Kata Maula bisa berarti kekasih, penolong, sahabat dekat, kerabat, atau mantan budak yang dimerdekakan. Kata Maula berbeda dengan kata Waliyyul Amri atau Al-Amir yang bermakna penguasa politik. Jika Rasulullah SAW bermaksud melantik Ali sebagai raja atau khalifah politik, beliau pasti akan menggunakan kata yang eksplisit (sharih) seperti: "Ali adalah khalifahku setelahku" atau "Ali adalah amir kalian", bukan kata Maula yang bersifat umum dan bermakna kasih sayang.
Kesesuaian Kalimat Lanjutan: Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW melanjutkan dengan doa: "Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya (walaahu) dan musuhilah orang yang memusuhinya ( 'aadaahu)". Kata Waala di sini adalah lawan kata dari 'Aada (memusuhi). Ini membuktikan secara mutlak bahwa konteks Maula di sini adalah Muwalat (rasa cinta, persahabatan, dan pembelaan), bukan kekuasaan politik.
2. Pengabaian Konteks Historis (Asbabul Wurud) Peristiwa Ghadir Khum
Kesalahan fatal Syiah dalam memahami Ghadir Khum adalah mencabut peristiwa tersebut dari akar sejarahnya, lalu menyajikannya secara parsial demi kepentingan teologi mereka.
Konteks Sejarah yang Disembunyikan Syiah: Sebelum peristiwa Haji Wada', Rasulullah SAW mengutus Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA untuk memimpin ekspedisi ke Yaman. Dalam menjalankan tugasnya, Sayyidina Ali bersikap sangat tegas, adil, dan tidak kompromi terkait pembagian harta rampasan perang (ghanimah). Beberapa prajurit Muslim yang ikut dalam rombongan Yaman merasa tidak puas dan tersinggung atas ketegasan Ali.
Sekembalinya dari Yaman untuk bergabung melaksanakan ibadah Haji di Makkah, orang-orang ini menyampaikan keluhan dan nada nada ketidaksenangan terhadap Ali di hadapan orang banyak. Rasulullah SAW yang mendengar desas-desus kritik ini merasa perlu untuk membersihkan nama baik Sayyidina Ali dari celaan.
Maka, sewaktu tiba di Ghadir Khum (tempat pemberhentian di mana rombongan jamaah haji akan berpisah menuju daerah masing-masing), Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat untuk menegaskan kedudukan mulia Sayyidina Ali. Beliau ingin menyampaikan pesan tegas: Siapa saja yang mencintai Rasulullah SAW, maka ia wajib mencintai dan membela Ali, serta tidak boleh memusuhi atau mencelanya.
3. Manipulasi Lokasi dan Kejanggalan Logika Pelantikan
Syiah menggambarkan Ghadir Khum sebagai lokasi "pelantikan raksasa" di mana ratusan ribu jamaah haji berkumpul untuk menyaksikan penunjukan Ali sebagai khalifah. Narasi ini mengandung kejanggalan logika yang amat besar jika ditinjau dari geografi dan strategi dakwah:
Kenapa Tidak Di Arafah atau Mina? Jika penetapan Ali sebagai khalifah adalah rukun iman paling mendasar dan perintah Allah yang paling krusial bagi masa depan umat, mengapa Rasulullah SAW tidak mengumumkannya saat Khutbah Wada' di Padang Arafah atau di Mina? Di Arafah, seluruh puluhan ribu jamaah haji dari Makkah, Madinah, Thaif, dan berbagai pelosok jazirah Arab berkumpul secara utuh.
Karakteristik Ghadir Khum: Ghadir Khum adalah lokasi persinggahan setelah jamaah haji terpecah. Penduduk Makkah, Thaif, dan sekitarnya sudah tidak ikut dalam rombongan ini karena mereka telah kembali ke rumah masing-masing dari Makkah. Rombongan yang tersisa di Ghadir Khum mayoritas adalah jamaah yang menuju arah Madinah dan utara. Menyampaikan "rukun iman paling penting" di persinggahan kecil yang jamaahnya sudah berkurang tentu bertentangan dengan hikmah dan strategi dakwah Nabi SAW.
4. Sikap Sayyidina Ali dan Ahlul Bait Terhadap Peristiwa Ghadir Khum
Salah satu bukti paling tak terbantahkan bahwa Ghadir Khum bukanlah pelantikan kekhalifahan adalah fakta sikap politik Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sendiri setelah Rasulullah SAW wafat.
Sikap Nyata Sayyidina Ali RA:
Musyawarah di Saqifah: Ketika para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk menentukan pemimipim pasca-Nabi, Sayyidina Ali RA tidak pernah menggunakan hadits Ghadir Khum sebagai "kartu truf" hukum untuk menggugat kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Pemberian Baiat: Sayyidina Ali RA pada akhirnya membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum. Beliau bahkan menjadi penasihat utama Khulafaur Rasyidin dan ridha menjadi bagian dari majelis musyawarah. Jika Peristiwa Ghadir Khum adalah perintah pelantikan mutlak dari Allah, maka tuduhan bahwa para Sahabat mengabaikannya sama saja dengan menuduh Sayyidina Ali ikut melakukan penakut (taqiyyah) dan membiarkan pembatalan perintah Allah—hal yang sangat mustahil dilakukan oleh sosok pemberani seperti Ali bin Abi Thalib.
Penyataan Cucu Sayyidina Ali: Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib (cucu Sayyidina Ali) pernah ditanya tentang hadits "Man kuntu maulahu fa 'Aliyyun maulahu", apakah Nabi bermaksud menunjuk Ali sebagai pemimpin? Beliau menjawab: "Demi Allah, seandainya Rasulullah SAW bermaksud menunjuk Ali sebagai pemimpin untuk mengurusi masalah ini (kekhalifahan) setelah beliau, tentulah beliau akan menyampaikannya secara jelas dan tegas... Demi Allah, sekiranya Allah dan Rasul-Nya memilih Ali untuk urusan ini, lalu Ali meninggalkannya, maka Ali adalah orang yang paling bersalah." (Diriwayatkan oleh Ibn Sa'ad dalam Thabaqat al-Kubra).
5. Bahaya Propaganda Ghadir Khum bagi Akidah dan Persatuan Umat
Penyalahgunaan konsep Ghadir Khum oleh kelompok Syiah bukan sekadar wacana sejarah, melainkan alat propaganda beracun yang terus ditiupkan hingga hari ini melalui perayaan tahunan yang mereka sebut "Eid al-Ghadir".
Propaganda ini membawa implikasi teologis yang sangat berbahaya:
Tuduhan Murtad Kepada Sahabat: Mengklaim Ghadir Khum sebagai pelantikan resmi konsekuensinya adalah menjatuhkan vonis murtad dan khianat kepada puluhan ribu Sahabat Nabi yang memba'iat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Membelah Umat Islam: Mengganti konsep Syura (musyawarah) dalam kepemimpinan Islam menjadi doktrin Imamah teokratis berbasis garis keturunan darah, yang menciptakan sektarianisme tiada henti.
Merusak Citra Keagungan Nabi: Menolak pemaknaan Maula sebagai ikatan persahabatan dan kasih sayang berarti menuduh Rasulullah SAW gagal dalam menyampaikan syariat yang jelas kepada umatnya.
Kesimpulan
Penyalahgunaan Peristiwa Ghadir Khum oleh kelompok Syiah merupakan bentuk manipulasi sejarah dan bahasa demi memaksakan doktrin Wilayah yang tidak memiliki pijakan otentik dalam syariat. Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Peristiwa Ghadir Khum adalah warisan sejarah mulia yang menegaskan kewajiban setiap Muslim untuk mencintai, memuliakan, dan membela Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sebagai salah satu sahabat terbaik dan Ahlul Bait Nabi, tanpa harus mengkafirkan sahabat-sahabat lainnya.
Sikap terbaik seorang Muslim terhadap para Sahabat dan Ahlul Bait adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'." (QS. Al-Hasyr: 10).
Mewaspadai distorsi sejarah dan membentengi umat dari propaganda Syiah terkait Ghadir Khum adalah langkah penting demi menjaga kemurnian akidah dan persatuan Umat Islam di Nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: