Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahan dalam Mengartikan Loyalitas kepada Ahlul Bait

Syiahindonesia.com - Mengasihi, memuliakan, dan menjaga hak-hak keluarga Rasulullah SAW (Ahlul Bait) merupakan kewajiban syar'i yang disepakati oleh seluruh umat Islam. Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai bagian tak terpisahkan dari keimanan, sesuai dengan wasiat Rasulullah SAW dalam berbagai riwayat shahih, seperti sabda beliau di Ghadir Khum: "Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku." (HR. Muslim).

Namun, dalam tradisi teologi dan doktrin sektarian Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), konsep loyalitas (Wala') kepada Ahlul Bait mengalami pergeseran makna (inhiraf) yang mendasar. Kecintaan yang seharusnya berlandaskan syariat dan kesederhanaan ikhlas berubah menjadi pengkultusan ekstrim (Ghuluw), doktrin eksklusivisme sektarian, serta instrumen untuk memusuhi mayoritas Sahabat Nabi SAW.

1. Ghuluw (Pengkultusan Ekstrim) yang Melampaui Batas Syariat

Penyimpangan paling mencolok dalam pemahaman Syiah tentang loyalitas kepada Ahlul Bait adalah pengangkatan derajat para Imam hingga menyentuh batas-batas otoritas ketuhanan (Rububiyyah dan Uluhiyyah).

Dalam kitab-kitab induk Syiah (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini):

  • Klaim Kemaksuman Mutlak (Ismah): Para Imam diyakini terpelihara dari segala bentuk dosa, kesalahan kecil, lupa, dan kekhilafan sejak lahir hingga wafat.

  • Pengetahuan Ghaib Mutlak: Dinyatakan dalam riwayat-riwayat Syiah bahwa para Imam mengetahui segala hal yang telah dan akan terjadi, serta mengetahui waktu kematian mereka sendiri.

  • Penyetaraan Kedudukan: Dalam buku Al-Hukumat Al-Islamiyyah karya Ruhullah Khomeini, disebutkan bahwa "Di antara keharusan mazhab kita adalah bahwa para Imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat muqarrabin maupun nabi yang diutus."

Pengkultusan ini bertentangan dengan prinsip tauhid. Para Imam Ahlul Bait—seperti Sayyidina Ali, Hasan, Husain, dan keturunannya—adalah hamba-hamba Allah yang saleh dan ulama-ulama mulia, namun tetaplah manusia biasa yang tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan.

2. Membenturkan Loyalitas Ahlul Bait dengan Kebencian terhadap Sahabat

Dalam doktrin Syiah, loyalitas (Wala') kepada Ahlul Bait tidak dianggap sempurna tanpa adanya Tabarra'—yakni berlepas diri, membenci, dan mencela para Sahabat Nabi SAW yang dianggap memusuhi atau merampas hak kepemimpinan (Imamah).

  • Penyempitan Makna Kecintaan: Syiah mengonstruksi narasinya seolah-olah seseorang tidak bisa mencintai Sayyidina Ali kecuali jika ia membenci Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anhum.

  • Memutus Hubungan Kekeluargaan yang Harmonis: Doktrin ini mengabaikan fakta sejarah shahih yang mencatat betapa eratnya hubungan kekeluargaan, saling menghormati, dan kerja sama antara Ahlul Bait dan para Sahabat. Sayyidina Ali sendiri menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai bentuk rasa cinta dan penghormatan.

3. Redefinisi Eksklusif tentang Siapa Ahlul Bait

Syiah melakukan pembatasan dan seleksi eksklusif terhadap kriteria Ahlul Bait demi mencocokkan doktrin Imamah mereka:

  1. Mengecualikan Para Istri Nabi: Al-Qur'an secara tegas memasukkan istri-istri Nabi ke dalam lingkup Ahlul Bait (sebagaimana konteks Surah Al-Ahzab ayat 30–34). Namun Syiah mengeluarkan para istri Nabi—khususnya Sayyidatuna Aisyah dan Hafshah—dari kriteria Ahlul Bait, bahkan menuding mereka dengan tuduhan buruk.

  2. Membatasi Keturunan: Syiah membatasi kepemimpinan dan kemaksuman hanya pada jalur keturunan Sayyidina Husain bin Ali saja (melalui 9 Imam), seraya mengabaikan keturunan Sayyidina Hasan bin Ali dan kerabat Bani Hasyim lainnya.

4. Menjadikan Wala' sebagai Penentu Sahnya Keimanan

Dalam syariat Islam, rukun iman dan Islam telah ditetapkan secara sempurna melalui wahyu. Namun dalam teologi Syiah, loyalitas dan pengakuan terhadap Imamah para Imam dijadikan syarat utama keterterimaan seluruh amal ibadah.

Dalam literatur Syiah, ditegaskan bahwa seseorang yang beribadah seumur hidup di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim, namun tidak meyakini Wilayah/Imamah para Imam Syiah, maka seluruh amalnya gugur dan ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Redefinisi syarat iman ini merupakan bentuk penambahan hukum agama (taklif) yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan

Loyalitas dan kecintaan kepada Ahlul Bait menurut petunjuk Islam yang lurus (Ahlus Sunnah wal Jamaah) adalah mencintai mereka karena Allah dan Rasul-Nya, meneladani ketakwaan dan keilmuan mereka, serta menjaga hak-hak kehormatan mereka tanpa melampaui batas (Ghuluw).

Memaknai loyalitas dengan cara mengkultuskan manusia, memusuhi para Sahabat Nabi, dan merusak rukun iman adalah bentuk penyimpangan yang justru ditolak secara tegas oleh para Imam Ahlul Bait itu sendiri.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: