Breaking News
Loading...

Syiah dan Fitnah terhadap Khalifah Abdul Malik bin Marwan


Syiahindonesia.com -
Dalam panggung sejarah kekhalifahan Islam, Khalifah Abdul Malik bin Marwan rahimahullah menempati posisi yang sangat strategis sebagai pembangun fondasi kejayaan Dinasti Umayyah periode kedua (al-pencetus kekhalifahan Marwani). Di bawah kepemimpinannya, wilayah Islam berhasil dipersatukan kembali setelah era perpecahan (fitnah kedua), sistem administrasi pemerintahan diarahkan penuh menggunakan bahasa Arab (Ta'rib al-Diwan), mata uang dinar emas Islam pertama dicetak, dan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock) di Yerusalem dibangun dengan kemegahan luar biasa. Namun, nama besar dan jasa arsitektural-pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan senantiasa menjadi sasaran fitnah, celaan, dan pembunuhan karakter yang kejam dari kelompok Syiah.

Penyerangan narasi terhadap sosok Abdul Malik bin Marwan dilancarkan oleh para konseptor Syiah guna merusak citra pimpinan-pimpinan Kekhalifahan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dalam propaganda sektarian mereka, Abdul Malik digambarkan secara menyimpang sebagai penguasa haus darah, penindas Ahlul Bait, hingga dituduh berusaha memindahkan tempat ibadah haji dari Makkah ke Yerusalem. Pembongkaran fitnah-fitnah ini sangat krusial untuk menjaga objektivitas sejarah Islam serta melindungi umat dari manipulasi ideologis.

Motif Teologis dan Politik Syiah Menyerang Abdul Malik bin Marwan

Untuk memahami akar kebencian kelompok Syiah terhadap Abdul Malik bin Marwan, perlu ditinjau konstelasi politik pada abad pertama Hijriah. Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah sosok pemimpin yang berhasil menumpas berbagai gerakan separatis yang mengancam keutuhan dan stabilitas negeri Islam, termasuk gerakan Mukhtar al-Thaqafi di Kufah—sebuah gerakan politik radikal yang mengusung narasi pembelaan Ahlul Bait namun disusupi ajaran-ajaran ekstrim (ghulat) dan kebohongan.

Keberhasilan Abdul Malik dalam mengkonsolidasikan kekuasaan tunggal di bawah panji Kekhalifahan Umayyah memupuskan harapan kelompok Syiah untuk mendirikan pemerintahan teokrasi berbasis doktrin Imamah. Kegagalan politik ini membekaskan dendam kesumat yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk fabrikasi riwayat-riwayat sejarah palsu untuk mencoreng nama baik Abdul Malik bin Marwan di mata generasi Muslim berikutnya.

Membongkar Fitnah "Pemindahan Ibadah Haji ke Yerusalem"

Salah satu fitnah paling absurd dan memprihatinkan yang disebarkan oleh Syiah—dan sayangnya sempat dikutip oleh sebagian orientalis Barat yang tidak cermat—adalah klaim bahwa Abdul Malik bin Marwan melarang kaum Muslimin menunaikan ibadah haji ke Makkah dan memerintahkan mereka untuk beralih tawaf mengelilingi Dome of the Rock di Yerusalem.

Narasi fiktif ini diciptakan dengan tuduhan bahwa Abdul Malik khawatir rakyatnya akan dibaiat oleh Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhuma yang kala itu menguasai Makkah.

Bantahan Ilmiah dan Historis:

  1. Bertentangan dengan Akidah dan Karakter Abdul Malik: Abdul Malik bin Marwan adalah seorang yang sangat paham ilmu agama (faqih). Sebelum memegang tampuk kekhalifahan, beliau dikenal sebagai salah satu ulama muda terkemuka di Madinah yang berguru langsung kepada para sahabat Nabi. Mustahil seorang ahli fikih memberanikan diri mengubah rukun Islam yang agung dan mutlak (qath'i).

  2. Ketiadaan Bukti Catatan Praktis: Tidak ada satu pun catatan sejarah otentik yang menyebutkan adanya jutaan umat Islam pada masa itu melakukan ibadah haji ke Yerusalem atau mengganti ritual Wukuf di Arafah. Pembangunan Masjid Kubah Batu (Qubbat as-Sakhrah) di kompleks Al-Aqsa dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada tempat Isra' Mi'raj Nabi serta untuk tandingan arsitektural terhadap gereja-gereja megah Byzantium di Syam, bukan untuk menggantikan Ka'bah.

  3. Penyataan Penilai Sejarah: Sejarah merekam bahwa masyarakat Syam tetap pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah setiap tahunnya, bahkan di tengah kecamuk konflik politik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala secara tegas telah menetapkan kewajiban haji ke Baitullah di Makkah dalam Surah Ali 'Imran ayat 97:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."

Fitnah Syiah yang menuduh Abdul Malik memindahkan tempat haji pada hakikatnya adalah tuduhan bahwa seluruh sahabat dan tabiin yang hidup pada zaman itu telah murtad dan menyetujui pengubahan rukun Islam secara massal—sebuah konsekuensi logika yang sangat rusak.

Tuduhan Keturunan Zalim dan Penindas Ahlul Bait

Fitnah lain yang dilemparkan kepada Abdul Malik adalah labelization bahwa beliau adalah raja yang kejam, tidak memiliki rasa takut kepada Allah, dan membenci keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka sering menunjuk pengangkatan Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi sebagai gubernur sebagai bukti kezaliman Abdul Malik.

Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersikap adil dalam menilai sejarah:

  • Pengakuan Atas Kerasnya Kebijakan Politik: Para ulama Ahlus Sunnah tidak pernah menyangkal bahwa Hajjaj bin Yusuf adalah sosok gubernur yang sangat keras dan berlebihan dalam menumpas lawan politik. Namun, tindakan tegas dan keras tersebut berada dalam ranah stabilisasi politik negara yang bergejolak, bukan didasari oleh kebencian teologis terhadap ajaran Islam atau Ahlul Bait.

  • Hubungan Baik dengan Ali Zainal Abidin: Dalam catatan sejarah yang sahih, Abdul Malik bin Marwan memberikan instruksi khusus kepada para puncaknya agar tidak mengganggu atau menyakiti Ali bin Husein (Zainal Abidin)—sosok pemimpin Ahlul Bait pada masa itu. Abdul Malik sangat menghormati Ali Zainal Abidin karena ketakwaan dan ketenangannya yang tidak terlibat dalam pemberontakan politik praktis.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala' memberikan gambaran berimbang perihal sosok Abdul Malik bin Marwan:

كَانَ مِنْ رِجَالِ الدَّهْرِ حَزْمًا وَعَقْلًا وَرَأْيًا وَشَجَاعَةً وَفِقْهًا وَعِلْمًا

"Beliau (Abdul Malik bin Marwan) termasuk di antara tokoh-tokoh besar zaman dalam hal ketegasan, kecerdasan, ketajaman pikiran, keberanian, pemahaman fikih, serta keluasan ilmu."

Jasa Besar Abdul Malik bagi Peradaban dan Penjagaan Syariat Islam

Di balik hujan fitnah yang ditiupkan oleh kelompok Syiah, sejarah mencatat jasa-jasa emas Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang memberikan manfaat besar bagi seluruh kaum Muslimin hingga hari ini:

  1. Penyeragaman dan Penyempurnaan Teks Al-Qur'an: Pada masa pemerintahannya melalui instruksi kepada Hajjaj bin Yusuf, dilakukan pemberian tanda titik (nuqthah) dan harakat pada mushaf Al-Qur'an oleh para ahli bahasa Arab. Langkah ini menyelamatkan kaum Muslimin non-Arab dari kesalahan membaca Al-Qur'an.

  2. Kedaulatan Ekonomi Islam: Beliau menghapuskan penggunaan mata uang Byzantium dan Persia, lalu mencetak mata uang Dinar dan Dirham Islam pertama yang dihiasi kalimat tauhid (Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah).

  3. Pemberdayaan Bahasa Arab sebagai Bahasa Internasional: Kebijakan mendokumentasikan seluruh catatan administrasi negara ke dalam bahasa Arab memperkokoh posisi bahasa Al-Qur'an sebagai bahasa peradaban dunia.

Sangat ironis ketika sosok yang memfasilitasi penyempurnaan tanda baca Al-Qur'an dan menegakkan kedaulatan tauhid dicitrakan sebagai musuh agama oleh kelompok sektarian.

Mengantisipasi Distorsi Sejarah oleh Propaganda Syiah di Indonesia

Di Indonesia, narasi-narasi sejarah yang telah didistorsi oleh penganjur Syiah sering kali disusupkan dalam artikel-artikel populer, diskusi sejarah akademis yang kurang teliti, serta media sosial. Tujuannya adalah merusak kebanggaan generasi muda Muslim terhadap jejak peradaban Islam dan menanamkan kebencian terhadap para khalifah terdahulu.

Langkah-langkah antisipasi yang perlu diikhtiarkan meliputi:

  • Penguatan Kajian Tarikh Berbasis Sanad Sahih: Mengajarkan sejarah kekhalifahan Islam menggunakan kitab-kitab primer rujukan Ahlus Sunnah seperti Tarikh at-Thabari (dengan pemilahan sanad), Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, serta karya-karya Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi.

  • Kritik Metodologis terhadap Literatur Bias: Mengedukasi para santri dan mahasiswa agar bersikap kritis terhadap narasi sejarah yang bersumber dari kitab-kitab riwayat Syiah (seperti Tarikh al-Ya'qubi atau Muruj adz-Dzahab karya Al-Mas'udi) yang dikenal sarat dengan bias sektarian.

  • Sosialisasi Jasa-Jasa Peradaban Khalifah Islam: Menghadirkan narasi sejarah yang edukatif perihal kontribusi nyata para khalifah Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, administrasi, dan perluasan dakwah.

Membongkar fitnah Syiah terhadap Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah bagian dari upaya menjaga kehormatan para pemimpin dan generasi salaf umat Islam. Dengan memahami sejarah secara jernih dan jujur, umat Islam di Indonesia akan terhindar dari pemutarbalikkan fakta yang dapat merusak akidah dan persatuan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: