Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebiasaannya Mempalsukan Sejarah

Syiahindonesia.com – Sejarah merupakan salah satu pilar penting dalam memahami perjalanan sebuah peradaban, termasuk dalam menjaga keotentikan ajaran agama. Namun, dalam tradisi dan strategi penyebaran doktrin sekte Syi'ah Rafidhah, historiografi atau penulisan sejarah tidak lagi diposisikan sebagai ruang ilmiah yang terikat pada objektivitas Sanad dan Fakta. Sebaliknya, sejarah acapkali direkayasa, diputarbalikkan, dan dipalsukan demi melayani dogma politik-teologis mereka.

Ketiadaan dalil eksplisit dalam Al-Qur'an dan Hadis shahih mengenai doktrin Imamah (kepemimpinan mutlak 12 imam maksum) memaksa para teolog dan sejarawan Syiah untuk menciptakan narasi sejarah tandingan. Melalui rekayasa ini, mereka berusaha membangun kesan bahwa perjalanan awal umat Islam penuh dengan konspirasi, pengkhianatan, dan perampasan hak Ahlul Bait.

1. Modus Operandi Pemalsuan Sejarah oleh Sekte Syiah

Untuk menanamkan narasi sejarah rekaan ke tengah-tengah masyarakat, misionaris dan literatur Syiah menggunakan beberapa metode pemalsuan yang terstruktur:

  • Penyusupan Riwayat Palsu (Wadh'u al-Hadith/al-Khabar): Penciptaan kisah-kisah fiktif yang sengaja disisipkan ke dalam kitab-kitab sejarah klasik. Cerita-cerita ini biasanya dirancang dengan bahasa yang sentimentil dan dramatis untuk mengaduk-aduk emosi pembaca.

  • Mutilasi Teks dan Konteks (Tadlis): Mengambil potongan peristiwa sejarah secara parsial, lalu membuang latar belakang dan penjelasan utuh dari peristiwa tersebut. Peristiwa sengketa biasa atau perbedaan pendapat di antara para sahabat diputarbalikkan seolah-olah menjadi permusuhan abadi yang mengkafirkan satu sama lain.

  • Eksploitasi Kitab-Kitab Khusus Kumpulan Riwayat: Menyebarkan narasi dari kitab-kitab sejarah yang pada dasarnya menghimpun segala jenis riwayat tanpa seleksi ketat (seperti Tarikh at-Thabari), lalu mengeklaim bahwa seluruh isi kitab tersebut adalah fakta mutlak yang diakui oleh Ahlussunnah. Padahal, Imam At-Thabari sendiri dalam mukadimah kitabnya menegaskan bahwa beliau hanya mencatat apa yang sampai kepadanya lengkap dengan sanadnya, agar para ulama generasi berikutnya menyeleksi keabsahan riwayat tersebut.

2. Contoh Kasus Distorsi dan Pemalsuan Sejarah Utama

Beberapa peristiwa sejarah agung dalam Islam telah direkayasa secara masif oleh sekte Syiah untuk mendiskreditkan generasi sahabat Nabi:

A. Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah

  • Narasi Rekaan Syiah: Menggambarkan musyawarah Saqifah sebagai konspirasi jahat dan kudeta berdarah yang dirancang oleh Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidilah bin Al-Jarrah RA untuk merampas hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA sewaktu beliau sedang mengurus jenazah Rasulullah SAW.

  • Fakta Sejarah Otentik: Saqifah adalah musyawarah darurat yang diinisiasi oleh kaum Anshar untuk menentukan kepemimpinan guna menghindari kekosongan kekuasaan dan potensi perpecahan umat. Abu Bakar RA terpilih secara sah melalui musyawarah dan kesepakatan (ijma') sahabat Muhajirin dan Anshar. Ali bin Abi Thalib RA kelak secara sukarela membaiat Abu Bakar RA dan menjadi penasihat agung di masa pemerintahannya.

B. Tragedi Penyerangan Rumah Fatimah RA (Janin Muhsin)

  • Narasi Rekaan Syiah: Menyebarkan dongeng bahwa Umar bin Al-Khattab RA mendobrak dan membakar rumah Fatimah Az-Zahra RA, meremukkan tubuhnya di balik pintu hingga menggugurkan janin yang dikandungnya bernama Muhsin.

  • Fakta Sejarah Otentik: Kisah ini adalah rekayasa fiktif tanpa sanad sahih yang diciptakan untuk memicu kebencian mendalam kepada Umar RA. Narasi ini secara langsung melecehkan martabat dan keberanian Ali bin Abi Thalib RA, seolah-olah beliau sosok penakut yang membiarkan kezaliman fisik terjadi pada istrinya sendiri di depan matanya.

C. Pemutarbalikan Hubungan Antara Sahabat dan Ahlul Bait

  • Narasi Rekaan Syiah: Membingkai hubungan antara para sahabat utama (seperti Khulafaur Rasyidin) dengan Ahlul Bait sebagai hubungan yang dipenuhi permusuhan, rasa benci, dan pengkhianatan.

  • Fakta Sejarah Otentik: Hubungan antara keluarga Ahlul Bait dan para sahabat dipenuhi oleh rasa saling menghormati, kasih sayang, dan tali kekerabatan yang erat. Hal ini dibuktikan dengan fakta sejarah berupa pernikahan silang (seperti Umar RA yang menikahi Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib) serta pemberian nama anak-anak Ali bin Abi Thalib RA yang dinamai Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

3. Dampak Bahaya dari Pemalsuan Sejarah

Rekayasa dan pemalsuan sejarah yang dilestarikan oleh sekte Syiah mendatangkan bahaya besar bagi keutuhan Islam:

  1. Merusak Kepercayaan terhadap Generasi Pertama Islam: Dengan memfitnah para sahabat sebagai pengkhianat, Syiah secara tidak langsung meruntuhkan kredibilitas Al-Qur'an dan Sunnah, karena kedua sumber utama agama tersebut diriwayatkan dan ditransmisikan oleh para sahabat Nabi.

  2. Memelihara Dendam Sektarian Lintas Zaman: Narasi duka, penindasan, dan perampasan hak yang direkayasa terus diulang-ulang setiap tahun (seperti pada ritual Asyura) untuk memelihara kebencian penganut Syiah terhadap mayoritas kaum muslimin.

  3. Mengaburkan Teladan Persatuan: Tindakan berjiwa besar Ahlul Bait—seperti perdamaian Imam Hasan RA dengan Mu'awiyah RA—dikerdilkan dan diputarbalikkan, sehingga umat kehilangan teladan nyata tentang pentingnya persatuan dan ukhuwah Islamiyah.

Kesimpulan

Kebiasaan sekte Syiah dalam mempalsukan sejarah merupakan konsekuensi logis dari upaya mempertahankan doktrin teologi yang tidak memiliki pijakan valid dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan memutarbalikkan fakta dan mengeksploitasi perasaan umat, mereka membangun benteng ideologis di atas fondasi kebohongan.

Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, menyikapi sejarah wajib menggunakan kaidah ilmiah dan kehati-hatian sanad. Para sahabat Nabi dan Ahlul Bait adalah manusia-manusia mulia yang disatukan oleh keimanan, dan ikatan kasih sayang di antara mereka adalah fakta sejarah otentik yang tidak akan pernah bisa dihapuskan oleh rekayasa narasi sekte mana pun.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: