Syiahindonesia.com - Tauhid merupakan fondasi paling inti dan fundamental dalam agama Islam. Setiap nabi dan rasul diutus oleh Allah SWT membawa misi utama yang sama: mengajak manusia mengesakan Allah dalam ibadah, kekuasaan, dan sifat-sifat-Nya, serta membebaskan diri dari segala bentuk penyekutuan (syirik). Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kemurnian tauhid dijaga secara ketat mencakup Tauhid Rububiyah (mengesakan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam), Tauhid Uluhiyah (mengesakan Allah dalam ibadah), dan Tauhid Asma wa Sifat (mengesakan Allah dalam nama dan sifat-sifat-Nya).
Namun, jika membedah literatur teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), pemahaman tentang Tauhid ini telah mengalami pergeseran dan penyelewengan yang sangat mendasar. Demi menempatkan kedudukan para imam di atas derajat manusia biasa, kelompok Syiah tanpa sadar menyisipkan sifat-sifat khusus ketuhanan (khashaiqur rububiyyah wal uluhiyyah) kepada figur dua belas imam mereka.
Berikut adalah beberapa kesalahan fatal kelompok Syiah dalam memahami dan menerapkan makna Tauhid:
1. Penyimpangan dalam Tauhid Uluhiyah: Berdoa dan Meminta Kepada Selain Allah
Puncak dari Tauhid Uluhiyah adalah menyerahkan seluruh bentuk peribadatan dan doa (ad-du'a) hanya kepada Allah SWT semata. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu menyembah/berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu" (QS. Yunus: 106).
Sisi Kesalahannya: Dalam praktik ibadah dan literatur doa resmi Syiah, penganutnya diajarkan untuk menyeru, memanggil, dan memohon pertolongan (istighatsah) secara langsung kepada para imam yang telah meninggal dunia. Bacaan seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali tolonglah aku) atau "Ya Sahibaz Zaman Adrikni" (Wahai Pemilik Zaman [Imam Mahdi] selamatkanlah aku) diposisikan sebagai bentuk tawasul dan ibadah yang sangat dianjurkan.
Memohon pertolongan dalam hal-hal gaib—seperti pengampunan dosa, penyembuhan penyakit, dan keselamatan dari bahaya—kepada manusia yang telah berada di alam kubur merupakan bentuk perbuatan syirik akbar (syirik besar) yang mencederai inti dari kalimat Laa Ilaha Illallah.
2. Merusak Tauhid Rububiyah melalui Doktrin Wilayah Takwiniyyah
Tauhid Rububiyah menuntut keyakinan bulat bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Pengendali seluruh atom serta peristiwa di alam semesta ini.
Sisi Kesalahannya: Para teolog dan ulama besar Syiah (seperti Ruhollah Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumatul Islamiyyah) menetapkan doktrin Wilayah Takwiniyyah. Doktrin ini mengajarkan bahwa para imam memiliki kekuasaan dan otoritas mutlak atas alam semesta. Mereka meyakini bahwa seluruh atom di alam semesta tunduk kepada perintah para imam, para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan segala sesuatu di bumi bergerak atas izin para imam.
Menisbatkan kekuasaan mengendalikan alam semesta kepada makhluk—sekalipun ia adalah seorang Ahlul Bait yang saleh—adalah bentuk pembagian hak Rububiyah Allah kepada manusia, yang secara langsung meruntuhkan kemurnian Tauhid.
3. Menisbatkan Pengetahuan Ilmu Gaib Mutlak kepada Para Imam
Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT berkali-kali menegaskan bahwa ilmu gaib adalah hak prerogatif-Nya yang mutlak: "Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah'" (QS. An-Naml: 65).
Sisi Kesalahannya: Di dalam kitab induk Syiah Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab-bab khusus yang menyatakan sebaliknya. Mereka mencantumkan bab berbunyi: "Bahwasanya para Imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari mereka."
Meyakini ada manusia yang memiliki pengetahuan ilmu gaib secara mandiri dan melingkupi seluruh peristiwa masa lalu dan masa depan adalah bentuk penyamaan sifat makhluk dengan sifat Al-'Alim (Maha Mengetahui) milik Allah SWT.
4. Pencampuran Konsep Bada' yang Menodai Kesempurnaan Sifat Allah
Sebagaimana telah dibahas dalam penyesatan pemahaman takdir, Syiah mengadopsi doktrin Bada' demi menyelamatkan ramalan-ramalan palsu para imam mereka yang tidak terbukti.
Sisi Kesalahannya: Doktrin Bada' menyatakan bahwa Allah bisa "mengubah keputusan-Nya" karena baru mengetahui sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dari-Nya. Meyakini bahwa Allah mengalami perubahan keputusan akibat "baru tahu" situasi lapangan adalah penghinaan berat terhadap sifat Kamal (Kesempurnaan) Allah SWT. Ini menisbatkan sifat bodoh, pelupa, dan tidak tahu masa depan kepada Pencipta Alam Semesta, yang secara otomatis merusak keagungan Tauhid Asma wa Sifat.
Kesimpulan
Kesalahan kelompok Syiah dalam memahami makna Tauhid merupakan dampak dari penganugerahan sifat-sifat kenabian dan ketuhanan yang berlebihan (ghuluw) kepada para imam mereka. Ketika hak-hak khusus Allah (seperti diajak berdoa, diyakini mengatur alam, dan mengetahui hal gaib) diserahkan kepada manusia, maka asas paling utama dalam Islam telah dirusak dari dalam.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, memelihara kemurnian Tauhid adalah kewajiban yang paling utama. Mencintai keluarga Nabi (Ahlul Bait) harus dilakukan sesuai porsi syariat yang lurus, tanpa harus terjerumus ke dalam pengkultusan individu yang mencederai keagungan Tauhid kepada Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: