Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebiasaan Mencaci Sahabat Nabi

Syiahindonesia.com - Dalam ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah, para Sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum memiliki kedudukan yang sangat mulia. Mereka adalah generasi terbaik (Khairul Qurun) yang dipilih langsung oleh Allah SWT untuk mendampingi Rasulullah SAW, memperjuangkan agama Islam, serta meriwayatkan wahyu dan hukum-hukum-Nya kepada generasi berikutnya. Allah SWT secara tegas telah menyatakan keridhaan-Nya kepada mereka dalam Al-Qur'an: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah..." (QS. At-Taubah: 100).

Namun, dalam tradisi teologi dan penceramahan kelompok Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), memusuhi, mencaci, melaknat, dan mengkafirkan para Sahabat Nabi justru dijadikan sebagai salah satu bagian penting dari ajaran agama mereka.

Berikut adalah beberapa bentuk dan doktrin di balik kebiasaan kelompok Syiah dalam mencaci serta memfitnah para Sahabat Nabi SAW:

1. Doktrin Pengkafiran Mayoritas Sahabat Nabi

Doktrin paling mendasar yang menjadi pemicu kebencian Syiah terhadap para Sahabat adalah pandangan teologis mereka mengenai hak kepemimpinan (Imamah).

Sisi Penyimpangannya: Syiah meyakini bahwa siapa saja yang tidak mengakui Imamah Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah Rasulullah SAW wafat telah murtad dari Islam. Dalam kitab induk Syiah Al-Kafi karya Al-Kulaini, disebutkan riwayat yang menyatakan bahwa seluruh Sahabat Nabi telah murtad sepeninggal Rasulullah SAW kecuali hanya beberapa orang saja (seperti Salman Al-Farisi, Abu Dharr Al-Ghifari, dan Miqdad bin Amr).

Tuduhan murtad secara masal ini secara otomatis menggugurkan legitimasi para Sahabat utama—seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, serta ribuan Sahabat lainnya—dan membuka pintu caci maki serta pelaknatan terhadap mereka.

2. Praktik Tabarra' (Berlepas Diri dan Melaknat Musuh Imam)

Dalam teologi Syiah, keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hanya dengan mencintai para Imam (Tawalla), melainkan harus dilengkapi dengan Tabarra'.

Sisi Penyimpangannya: Tabarra' diartikan sebagai kewajiban membenci, memusuhi, melaknat, dan berlepas diri dari semua pihak yang dianggap mengambil hak kekhalifahan Sayyidina Ali atau memusuhi Ahlul Bait. Dalam praktiknya, ritual Tabarra' ini diwujudkan dengan melontarkan doa-doa kutukan dan ungkapan celaan keji kepada para Khulafaur Rasyidin dan Istri-Istri Nabi (Ummahātul Mu'minīn) dalam majelis-majelis maupun doa harian mereka (seperti membaca Doa Shanamai Quraysh).

3. Penghinaan Terhadap Istri-Istri Rasulullah SAW (Ummahātul Mu'minīn)

Al-Qur'an secara gamblang menetapkan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah ibu bagi seluruh orang-orang beriman: "Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka" (QS. Al-Ahzab: 6).

Sisi Penyimpangannya: Kelompok Syiah menaruh kebencian yang mendalam kepada dua istri utama Rasulullah SAW, yaitu Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar dan Sayyidah Hafshah binti Umar radhiyallahu 'anhuma. Mereka menuduh Sayyidah Aisyah dengan tuduhan-tuduhan keji, fitnah pengkhianatan, bahkan merayakan hari wafatnya sebagai bentuk rasa syukur. Mencela istri Nabi pada hakikatnya adalah bentuk penyakitan mendalam terhadap kehormatan Pribadi Agung Rasulullah SAW sendiri.

4. Bahaya Mencela Sahabat bagi Keutuhan Agama Islam

Mencaci dan meragukan integritas para Sahabat bukan sekadar masalah perbedaan pandangan politik masa lalu, melainkan ancaman langsung terhadap keutuhan syariat Islam.

Dampak Kerusakannya:

  1. Merubuhkan Sumber Hukum Islam: Al-Qur'an dan Hadis sampai kepada kita melalui jalur hafalan dan tulisan para Sahabat. Jika para pembawa berita (Sahabat) dituduh fasik, pembohong, atau murtad, maka kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah yang mereka bawa secara otomatis akan dipertanyakan.

  2. Menuduh Kegagalan Pendidikan Rasulullah SAW: Mengklaim bahwa mayoritas Sahabat murtad pasca-wafatnya Nabi sama saja dengan menuduh bahwa dakwah dan pembinaan Rasulullah SAW selama 23 tahun telah gagal total dalam mencetak generasi pengikut yang setia.

Kesimpulan

Kebiasaan mencaci dan melaknat para Sahabat Nabi merupakan penyimpangan teologis yang sangat nyata dalam ajaran Syiah. Perbuatan ini bertentangan secara frontal dengan petunjuk Al-Qur'an, perintah Rasulullah SAW, serta sikap Ahlul Bait yang asli—seperti Sayyidina Ali dan anak-cucu beliau—yang justru sangat memuliakan dan menghormati para Sahabat Nabi.

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras dalam sabdanya: "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (infak) salah seorang dari mereka dan tidak pula separuhnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, memuliakan seluruh Sahabat dan Istri Nabi SAW adalah bagian tak terpisahkan dari akidah Islam. Menjaga lisan dari mencela para Sahabat serta membentengi masyarakat dari propaganda kebencian sektarian adalah kewajiban bersama demi memelihara kemurnian agama Allah SWT.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: