Syiahindonesia.com - Keyakinan akan datangnya Al-Mahdi (juru selamat) di akhir zaman merupakan bagian dari eskatologi Islam yang diakui oleh mayoritas ulama. Rasulullah SAW telah memberikan kabar gembira mengenai kemunculan seorang lelaki dari keturunan beliau yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman. Dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al-Mahdi adalah sosok manusia biasa, pemimpin yang saleh, yang akan lahir secara normal pada waktunya, memimpin umat Islam, dan berjuang menegakkan syariat Allah.
Namun, di dalam tubuh teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), konsep Al-Mahdi telah digeser menjadi sebuah dogma mistis yang penuh dengan spekulasi, kepalsuan, dan ketidakkonsistenan yang nyata. Demi menyelamatkan doktrin Imamah yang runtuh akibat ketiadaan penerus, para ideolog Syiah menciptakan konsep "Imam Kedua Belas yang Gaib". Konsep ini tidak hanya menabrak hukum alam, tetapi juga melahirkan kontradiksi teologis dan logis yang sangat fatal di dalam internal ajaran Syiah sendiri.
1. Kematian Imam Kesebelas dan Krisis Pewaris (Kegaiban yang Dipaksakan)
Akar dari ketidakkonsistenan konsep Mahdi dalam Syiah bermula dari peristiwa sejarah pada tahun 260 Hijriah. Ketika Imam kesebelas mereka, Hasan al-Askari, wafat di Samarra, terjadi kepanikan luar biasa di kalangan elit Syiah. Fakta sejarah dan kesaksian dari keluarga dekat menunjukkan bahwa Hasan al-Askari wafat tanpa meninggalkan keturunan seorang pun.
Kondisi ini menjadi ancaman eksistensial bagi teologi Syiah, karena dogma mereka menetapkan bahwa bumi tidak boleh kosong dari seorang Imam yang hidup dari keturunan langsung Imam sebelumnya. Jika Imam wafat tanpa anak, maka runtuhlah seluruh bangunan agama Syiah.
Untuk mengatasi krisis ini, muncullah klaim sepihak dari segelintir lingkaran dekat yang menyatakan bahwa Hasan al-Askari sebenarnya memiliki seorang putra rahasia bernama Muhammad (yang diklaim lahir pada tahun 255 H). Mereka menyebarkan narasi bahwa anak ini langsung bersembunyi di dalam sebuah ruang bawah tanah (Sardab) di Samarra sesaat setelah ayahnya wafat untuk menghindari kejaran penguasa Abbasiyah. Sosok fiktif inilah yang kemudian mereka daulat sebagai Imam Kedua Belas sekaligus Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu.
2. Kontradiksi Logis Doktrin "Kegaiban" (Ghaybah)
Penganut Syiah membagi masa kegaiban Imam mereka menjadi dua fase: Ghaybah Shughra (Kegaiban Kecil) di mana Imam diklaim masih berkomunikasi melalui empat wakil khusus, dan Ghaybah Kubra (Kegaiban Besar) yang berlangsung sejak tahun 329 H hingga hari ini, di mana tidak ada lagi komunikasi langsung.
Doktrin kegaiban yang telah berlangsung lebih dari 1100 tahun ini melahirkan ketidakkonsistenan logis yang sangat mendasar:
Membatalkan Fungsi Utama Imamah: Dalam teologi Syiah, alasan utama mengapa keberadaan seorang Imam itu wajib secara rasional (Luthf) adalah untuk memimpin umat, menjelaskan hukum agama, memutuskan perkara, dan menjadi kompas moral yang tampak. Jika sang Imam bersembunyi selama belasan abad dan tidak bisa diakses oleh satu pun pengikutnya, maka fungsi teologis Imamah tersebut secara otomatis batal. Keberadaan Imam yang gaib sama saja dengan ketiadaannya dalam hal kemanfaatan praktis bagi umat.
Paradoks Perlindungan Ilahi: Ulama Syiah berargumen bahwa Imam harus gaib karena nyawanya terancam oleh para penguasa yang zalim. Argumen ini sangat rapuh. Jika Allah SWT mampu memanjangkan umur manusia hingga ribuan tahun di dalam persembunyian, mengapa Allah tidak melindungi saja sang Imam secara terang-terangan di tengah umat untuk memimpin mereka, sebagaimana Allah melindungi Nabi Muhammad SAW dari kepungan kaum kafir Quraisy? Ketakutan akan kematian adalah sifat yang bertolak belakang dengan kemaksuman dan keberanian seorang pemimpin ilahi.
3. Ketidakkonsistenan Fikih Pasca-Kegaiban: Lahirnya Wilayatul Faqih
Ketidakkonsistenan yang paling mencolok dan berdampak pada geopolitik modern adalah perubahan haluan doktrin Syiah akibat durasi kegaiban yang terlalu lama. Selama berabad-abad, ulama klasik Syiah menegaskan bahwa sebelum Al-Mahdi keluar dari persembunyiannya, umat Syiah dilarang mendirikan negara Islam, dilarang menegakkan hukum hudud, bahkan sebagian mengharamkan salat Jumat karena ibadah-ibadah tersebut hanya sah dipimpin oleh Imam yang maksum.
Namun, pada abad ke-20, Ayatullah Khomeini meruntuhkan dogma klasik tersebut dengan melahirkan konsep baru bernama Wilayatul Faqih (Kepemimpinan Mutlak Ulama Fikih). Khomeini berargumen bahwa umat Syiah tidak bisa terus menunggu tanpa pemerintahan. Oleh karena itu, otoritas mutlak milik Imam Mahdi yang gaib diambil alih dan diserahkan kepada seorang ulama tertinggi (Faqih).
Perubahan ini adalah bukti nyata inkonsistensi radikal:
Jika ulama biasa (yang tidak maksum) bisa memimpin umat dan mendirikan negara dengan sukses, maka argumen awal Syiah yang menyatakan bahwa "dunia akan hancur tanpa pemimpin maksum" terbukti keliru secara praktis.
Konsep Wilayatul Faqih secara tidak langsung memetieskan peran Al-Mahdi versi Syiah, karena fungsi kekuasaan dan fatwa politiknya telah didelegasikan sepenuhnya kepada penguasa di Teheran.
Kesimpulan: Konsep Mahdi Syiah sebagai Pelarian dari Realitas
Konsep Al-Mahdi dalam versi Syiah Itsna Asyariyyah pada hakikatnya bukanlah sebuah kebenaran teologis yang bersumber dari wahyu yang lurus, melainkan sebuah rekayasa politik masa lalu untuk menutupi kepunahan garis keturunan Imam mereka. Ketidakkonsistenan konsep ini—mulai dari ketiadaan bukti historis kelahiran, pembatalan fungsi kepemimpinan akibat kegaiban, hingga amandemen doktrin melalui Wilayatul Faqih—menunjukkan bahwa ajaran ini dibangun di atas fondasi khayalan.
Umat Islam di Indonesia wajib memahami kepalsuan konsep Mahdi versi Syiah ini. Jangan sampai masyarakat terbuai oleh narasi mistis dan melankolis tentang Imam Mahdi yang keluar dari Sardab, karena Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah agama yang rasional, transparan, dan berpijak pada fakta syariat yang nyata, bukan pada dongeng kegaiban yang penuh kontradiksi.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: