Syiahindonesia.com - Dalam bangunan teologi Islam yang lurus, kedudukan dan otoritas mutlak atas alam semesta hanyalah milik Allah SWT semata. Segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini—mulai dari perputaran planet, turunnya hujan, penciptaan makhluk, hingga ajal dan rezeki—berada di bawah kendali tunggal tauhid rububiyah Allah. Tidak ada satu pun makhluk, baik malaikat yang paling dekat maupun nabi yang paling mulia, yang bersekutu dengan Allah dalam mengatur jalannya alam semesta.
Namun, batasan tauhid yang suci ini ditabrak secara frontal oleh kelompok Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas) melalui doktrin Wilayah Imam atau yang lebih spesifik dikenal sebagai Wilayah Takwiniyyah. Ajaran ini menempatkan para Imam mereka pada kedudukan kosmis yang sangat ekstrem, melampaui batas kewajaran seorang makhluk, dan secara nyata menyelisihi fondasi dasar akidah Islam yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Berikut adalah pembedahan ilmiah mengenai hakikat doktrin Wilayah Imam dalam Syiah dan mengapa ajaran tersebut dinilai batil serta bertentangan dengan Islam:
1. Hakikat Doktrin Wilayah Takwiniyyah (Kendali Atas Alam Semesta)
Bagi masyarakat Muslim awam, istilah "Wilayah" mungkin hanya dipahami sebatas kepemimpinan politik atau keagamaan. Namun, di dalam kitab-kitab induk teologi Syiah, konsep ini memiliki dimensi magis-metafisik yang sangat jauh. Tokoh besar Syiah modern sekaligus pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini, secara terang-terangan menulis di dalam kitabnya yang sangat monumental, Al-Hukumah Al-Islamiyyah:
"Sesungguhnya para Imam kita memiliki kedudukan yang terpuji, derajat yang tinggi, dan kekuasaan kosmis (Wilayah Takwiniyyah) di mana seluruh atom di alam semesta ini tunduk di bawah perintah dan kepemimpinan mereka."
Berdasarkan doktrin ini, kelompok Syiah meyakini bahwa para Imam memiliki kendali mutlak atas hukum-hukum alam. Mereka dipercaya mampu menghidupkan orang mati kapan saja mereka mau, mengetahui kapan mereka akan mati atas kehendak sendiri, serta membagi-bagikan rezeki dan mengampuni dosa manusia. Pemberian otoritas ketuhanan kepada figur manusia ini adalah bentuk pengkultusan ekstrem (ghuluw) yang merusak kemurnian tauhid.
2. Bertentangan dengan Al-Qur'an yang Menegaskan Kelemahan Makhluk
Al-Qur'an diturunkan justru untuk mengikis keyakinan-keyakinan syirik masa lalu yang menganggap ada manusia-manusia suci yang bisa mengendalikan nasib atau alam semesta. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri—manusia paling mulia di muka bumi—diperintahkan oleh Allah SWT untuk menegaskan bahwa beliau tidak memiliki otoritas atas hal-hal gaib maupun kendali manfaat dan mudarat di luar apa yang Allah kehendaki.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A'raf ayat 188:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ
“Katakanlah (Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan...”
Jika Rasulullah SAW saja selaku penutup para nabi tidak memiliki hak Wilayah Takwiniyyah, bagaimana mungkin kelompok Syiah bisa menyematkan kemampuan mengendalikan atom semesta itu kepada para Imam yang kedudukannya berada di bawah nabi? Ini adalah bentuk kontradiksi nyata yang tidak memiliki landasan dalil sama sekali.
3. Mengklaim Ilmu Gaib Mutlak Bagi Para Imam
Turunan dari doktrin Wilayah Imam ini adalah keyakinan bahwa para Imam mengetahui segala hal yang gaib, baik yang telah lalu, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi hingga hari kiamat. Di dalam kitab rujukan paling utama Syiah, Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab khusus yang berjudul: "Bab bahwa para Imam mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari mereka."
Ajaran ini secara terang-terangan mengambil sifat khusus Allah (Khushushiyyat Al-Bari') lalu dipindahkan kepada makhluk. Di dalam Islam, ilmu gaib yang mutlak adalah hak prerogatif Allah semata. Allah berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65).
Memang benar Allah memberikan sebagian kecil informasi gaib kepada para Rasul-Nya lewat jalur wahyu untuk kepentingan mukjizat, namun itu bersifat terbatas dan temporal, bukan ilmu gaib mutlak yang melekat secara permanen sepanjang waktu seperti yang diklaim Syiah untuk para Imam mereka.
4. Pengkhianatan Terhadap Ajaran Asli Sayyidina Ali dan Ahlul Bait
Fakta sejarah yang paling ironis adalah bahwa sosok Ahlul Bait yang sejati—seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib—adalah orang yang paling keras dalam memerangi dan memberantas pemikiran pengkultusan ini. Dalam catatan sejarah yang valid, ketika muncul kelompok ekstremis (Ghulat) yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba' yang mulai mendewa-dewakan Ali dan menyebutnya memiliki kekuatan ilahi, Sayyidina Ali tidak tinggal diam. Beliau memungut tindakan tegas dengan menghukum dan membakar mereka yang menolak bertobat demi menjaga kemurnian akidah Islam.
Ahlul Bait yang asli adalah hamba-hamba Allah yang saleh, yang menangis karena takut akan azab Allah, yang ruku' dan sujud memohon ampunan seperti Muslim lainnya. Mereka tidak pernah mengklaim diri sebagai penguasa alam semesta ataupun pemilik kunci takdir makhluk.
Kesimpulan: Memurnikan Tauhid dari Dongeng Teologis
Doktrin Wilayah Imam (Wilayah Takwiniyyah) dalam ajaran Syiah adalah sebuah konsep fiktif yang sengaja diciptakan oleh para ideolog mereka untuk membangun sebuah dinasti spiritual yang absolut. Ajaran ini memindahkan hak-hak ketuhanan kepada figur manusia, yang pada akhirnya menjerumuskan penganutnya ke dalam kubangan syirik akbar dalam hal rububiyah.
Bagi umat Islam di Indonesia, pemahaman akan batilnya doktrin ini harus terus disosialisasikan. Kita harus menyadari bahwa mencintai Ahlul Bait bukan berarti harus mengangkat mereka ke derajat ketuhanan atau menyamakan mereka dengan pencipta alam semesta. Cinta yang sejati adalah dengan meneladani ketauhidan mereka, menjaga syariat yang mereka bawa, dan tetap meyakini dengan sekokoh-kokohnya bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Mengatur, Maha Mengetahui yang gaib, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: