Syiahindonesia.com - Tragedi Karbala yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah adalah salah satu lembaran paling memilukan dalam catatan sejarah umat Islam. Gugurnya cucu tercinta Rasulullah ﷺ, Sayyidina Al-Husein bin Ali r.a., bersama keluarga besarnya di padang Karbala merupakan musibah besar yang ditangisi oleh setiap mukmin yang lurus akidahnya. Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), peristiwa ini dihadapi dengan kesabaran, doa, serta pengambilan iktibar atas keteguhan prinsip sang cucu Nabi dalam mempertahankan kebenaran.
Namun, di tangan para teolog dan rabi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), peristiwa Karbala tidak lagi disikapi sebagai fakta sejarah yang objektif. Tragedi ini telah dieksploitasi secara radikal menjadi sebuah komoditas teologis. Demi menyuburkan doktrin dendam sektarian dan menjaga emosi massa pengikutnya agar tetap militan, sekte Syiah mengonstruksi begitu banyak kedustaan, hiperbola, dan fabrikasi riwayat di seputar peristiwa Karbala.
Berikut adalah beberapa kedustaan fundamental dan distorsi historis yang dipelihara oleh sekte Syiah terkait Tragedi Karbala:
1. Kedustaan Mengenai Pelaku Utama Pembantaian
Ini adalah pemutarbalikan fakta terbesar yang dipropagandakan Syiah selama berabad-abad. Dalam setiap majelis duka (matam), para rabi Syiah menuding bahwa kaum Sunni (Ahlus Sunnah) adalah ahli waris spritual dari para pembunuh Al-Husein r.a., guna menanamkan kebencian mendalam kepada mayoritas umat Islam.
Fakta Sejarah yang Benar: Dokumen sejarah orisinal—bahkan yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah internal Syiah sendiri (seperti karya Al-Ya'qubi, Al-Mas'udi, dan Baqir Syarif Al-Qurasyi)—membongkar fakta yang sebaliknya. Pelaku asli yang mengkhianati dan membantai Al-Husein adalah para pendukung Syiah di Kufah sendiri.
Kronologinya sangat klir: Penduduk Kufah-lah yang mengeklaim sebagai pengikut setia (Syiah) Ali dan Husein. Mereka mengirimkan lebih dari 10.000 surat baiat yang memohon agar Al-Husein datang ke Irak untuk memimpin mereka. Namun, begitu Al-Husein tiba di Karbala dan dikepung oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad, penduduk Kufah yang tadinya berjanji setia justru berkhianat, membelot karena takut dan tergiur harta, lalu ikut menghunuskan pedang memojokkan Al-Husein r.a.
Fakta kepedihan atas pengkhianatan ini diabadikan sendiri oleh putri Sayyidina Ali r.a. (saudara perempuan Al-Husein), yaitu Sayyidah Zainab binti Ali r.a., saat beliau berkhotbah mengecam kemunafikan penduduk Kufah yang menangisi jasad para syuhada:
"Wahai penduduk Kufah! Wahai orang-orang yang penuh tipu daya dan pengkhianatan! Apakah kalian menangisi kami? Padahal air mata kami belum kering karena ulah belati dan belas kasihan palsu kalian! Kalian bagaikan wanita yang mengurai benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai-berai kembali..." (Lihat: Al-Jahiz, Al-Bayan wa Al-Tabyin).
2. Fabrikasi Kisah-Kisah Supranatural dan Dongeng Khurafat
Untuk mengultuskan figur para Imam melebihi batasan kemanusiaan, sekte Syiah membumbui tragedi Karbala dengan ratusan riwayat palsu yang tidak masuk akal secara ilmiah dan menabrak logika syariat. Di antara dongeng yang sering digemakan dalam ritual Asyura adalah:
Langit Menangis Darah: Syiah mengeklaim bahwa saat Al-Husein terbunuh, langit di seluruh dunia berubah menjadi merah pekat dan menurunkan hujan darah kental selama berhari-hari, serta setiap batu yang diangkat di baitul maqdis memancarkan darah segar.
Hewan dan Singa Berdialog: Terdapat dongeng populer di kalangan Syiah bahwa ada seekor singa ajaib bernama Safinah yang datang ke padang Karbala untuk menjaga jasad Al-Husein dan mengusir pasukan musuh, serta burung-burung yang melumuri sayapnya dengan darah Al-Husein untuk dikirimkan sebagai pesan ke Madinah.
Penyusupan kisah-kisah mistis fiktif ini sengaja diproduksi lewat kitab-kitab akhir zaman mereka seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi untuk mengalihkan esensi perjuangan Al-Husein dari keteladanan syariat menjadi sebuah teater mistisisme yang ekstrem.
3. Matriks Komparasi Makna Karbala: Sunni vs Syiah
4. Legitimasi Ritual Penyiksaan Diri (Tathbir) yang Menodai Citra Islam
Salah satu dampak paling merusak dari kedustaan sejarah Karbala adalah lahirnya ritual Tathbir—aksi melukai diri sendiri menggunakan rantai besi, pisau, dan pedang hingga bersimbah darah pada hari Asyura.
Para rabi Syiah mendoktrinkan bahwa penyiksaan diri ini adalah bentuk penebusan dosa atas pengkhianatan nenek moyang mereka (penduduk Kufah) yang membiarkan Al-Husein sendirian di Karbala. Kebiasaan ini tidak hanya menodai kesucian syariat Islam yang dengan tegas mengharamkan perbuatan merusak tubuh (Niyahah), tetapi juga memutarbalikkan wasiat terakhir dari Al-Husein sendiri.
Sebelum gugur, Al-Husein r.a. secara eksplisit telah berwasiat kepada saudarinya, Sayyidah Zainab r.a.: "Wahai saudaraku, aku bersumpah demi hakku atasmu, janganlah engkau merobek pakaianmu, jangan engkau mencakar wajahmu, dan jangan engkau berteriak histeris meratapi kehancuran jika aku telah gugur." (Lihat: Al-Tabari, Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk). Dengan demikian, ritual berdarah yang dipamerkan Syiah setiap tahunnya justru merupakan bentuk pembangkangan langsung terhadap wasiat agung Al-Husein r.a.
Kesimpulan
Kedustaan sekte Syiah di seputar peristiwa Karbala membuktikan bahwa mereka membutuhkan narasi kepedihan yang didramatisasi demi menjaga eksistensi ideologi mereka. Dengan memelihara mitos, menyembunyikan fakta pengkhianatan orang-orang Kufah, dan memelintir Tragedi Karbala menjadi ajang pelampiasan dendam kepada kaum Sunni, Syiah telah mengubah sejarah menjadi alat pemecah belah persaudaraan umat Islam.
Sebagai umat Islam di Indonesia, kita wajib menolak segala bentuk komodifikasi sejarah yang bernuansa syirik, khurafat, dan kebencian sektarian. Mengingat keluhuran martabat Sayyidina Al-Husein r.a. harus dilakukan dengan cara meneladani ketakwaan dan keteguhan beliau di atas sunnah Rasulullah ﷺ, bukan dengan memelihara kedustaan dan ritual menyiksa diri yang menjauhkan umat dari kemurnian akidah Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: