Syiahindonesia.com - Sejarah adalah cermin peradaban yang merekam bagaimana sebuah nilai dan ajaran ditransmisikan dari generasi ke generasi. Dalam Islam, catatan sejarah abad pertama Hijriah bukan sekadar urusan masa lalu, melainkan fondasi penting yang berkaitan erat dengan orisinalitas syariat, pembukuan Al-Qur'an, dan periwayatan hadis. Oleh karena itu, otentisitas rekam jejak generasi awal Islam merupakan benteng pertahanan umat yang harus dijaga dari segala bentuk distorsi. Namun, jika kita meneliti secara objektif melalui metodologi kritik historis, akan tersingkap fakta bahwa kelompok Syiah Rafidhah memiliki agenda sistematis yang tertuang di dalam kitab-kitab induk mereka: sebuah upaya radikal untuk merombak, merekonstruksi, dan menghapus sejarah Islam yang asli untuk digantikan dengan narasi fiktif yang melayani kepentingan teologi sektarian mereka.
Menyatakan bahwa Syiah berusaha menghapus sejarah asli Islam bukanlah tuduhan tanpa bukti. Bagi sekte Syiah, lembaran sejarah yang diakui oleh miliaran umat Islam di seluruh dunia (Ahlussunnah wal Jama'ah) adalah musuh terbesar bagi keabsahan doktrin Imamah (kepemimpinan 12 Imam pilihan langit). Karena realitas sejarah masa lalu tidak mendukung eksistensi ajaran mereka, maka jalan satu-satunya bagi para mullah Syiah adalah menciptakan sejarah alternatif yang dipenuhi dengan dramatisasi, pengafiran, dan pembalikan fakta demi menjaga loyalitas para pengikutnya.
1. Menghapus Prestasi dan Mengafirkan Generasi Sahabat Nabi
Pilar pertama dari upaya penghapusan sejarah yang dilakukan oleh Syiah adalah dekonstruksi total terhadap karakter generasi Sahabat Nabi. Dalam sejarah Islam yang asli dan otentik, generasi Sahabat—terutama Khulafaur Rasyidin yang tiga: Abu Bakar, Umar, dan Utsman—adalah para pahlawan yang membawa Islam keluar dari jazirah Arab, meruntuhkan kezaliman Imperium Persia dan Romawi, serta mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur'an menjadi satu mushaf yang utuh.
Namun, di dalam literatur sejarah dan hadis utama Syiah, seperti kitab Kitab al-Kafi karya Al-Kulaini, seluruh lembaran prestasi emas tersebut dihapus dan digantikan dengan narasi kegelapan. Syiah mengeklaim bahwa segera setelah Rasulullah SAW memejamkan mata wafat, mayoritas Sahabat melakukan pengkhianatan massal dan murtad dari Islam demi merampas kekuasaan dari tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Salah satu riwayat ekstrem yang mereka yakini berbunyi:
“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: (1) Orang yang mengeklaim sebagai Imam dari Allah padahal ia bukan imam, (2) Orang yang mengingkari Imam yang ditunjuk Allah, and (3) Orang yang menyangka bahwa keduanya (Abu Bakar dan Umar) memiliki bagian (saham) di dalam Islam.” (Al-Kafi, Jilid 1, Hal. 373).
Dengan memotong dan menghapus kontribusi besar Abu Bakar, Umar, dan Utsman dari panggung sejarah, Syiah pada hakikatnya sedang mencoba meyakinkan dunia bahwa era awal pasca-wafatnya Nabi bukanlah era kejayaan (Golden Age), melainkan era kemurtadan dan konspirasi politik. Ini adalah upaya pembunuhan karakter sejarah terbesar di dunia.
2. Fabrikasi Dongeng Penganiayaan dan Penghapusan Hubungan Harmonis
Untuk melanggengkan narasi kebencian, sejarah hubungan kekeluargaan yang indah dan harmonis antara Ahlul Bait (keluarga Nabi) dan para Sahabat lainnya sengaja dihapus dari buku-buku sejarah versi Syiah. Sejarah yang asli mencatat bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah penasihat utama Abu Bakar dan Umar, bahkan Ali menikahkan putri kandungnya, Ummu Kultsum, dengan Khalifah Umar bin Khattab. Ali juga menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai wujud cinta yang tulus.
Akan tetapi, semua fakta biologis dan historis ini disembunyikan secara rapat di dalam pengajaran Syiah. Sebagai gantinya, mereka mempabrikasi drama sejarah fiktif yang sangat melankolis, seperti kisah penyerangan rumah Fatimah Az-Zahra oleh Umar bin Khattab, pendobrakan pintu yang menyebabkan rusuk putri Nabi patah, hingga keguguran janin bernama Muhsin.
Melalui dongeng penindasan inilah, Syiah menghapus ingatan kolektif umat tentang indahnya ukhuwah Islamiyah di masa lalu, lalu menggantinya dengan bara dendam sejarah yang terus mereka wariskan kepada anak cucu mereka melalui ritual duka tahunan di hari Asyura.
3. Mengubah Garis Sejarah Melalui Klaim Taqiyyah Kontra-Historis
Ketika para ulama Islam menyudutkan kelompok Syiah dengan menyodorkan bukti-bukti sejarah yang otentik mengenai sikap rida dan baiat setia yang diberikan oleh Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan, dan Sayyidina Husein kepada para khalifah sebelum mereka, Syiah menggunakan instrumen teologis bernama Taqiyyah (legalisasi berbohong atau berpura-pura) untuk menghapus validitas fakta tersebut.
Jika sejarah mencatat Sayyidina Ali membela kekhalifahan Abu Bakar, Syiah akan mengatakan: "Ali melakukan itu karena berpura-pura (Taqiyyah) karena takut." Jika sejarah mencatat Sayyidina Hasan menyerahkan kekuasaan secara damai kepada Mu'awiyah demi persatuan umat (Amul Jama'ah), Syiah akan berdalih bahwa itu adalah strategi taktis penuh keterpaksaan, bukan atas dasar keridaan.
Dengan metode Taqiyyah kontra-historis ini, Syiah memiliki "cek kosong" untuk membatalkan, menghapus, atau memutarbalikkan fakta sejarah apa pun yang bertentangan dengan doktrin mereka. Akibatnya, sejarah di mata Syiah tidak lagi menjadi ilmu ilmiah yang berbasis bukti empiris, melainkan plastisin teologis yang bisa ditekuk dan dibentuk kapan saja demi membenarkan khayalan doktrinal para mullah.
Perbandingan Penulisan Sejarah: Fakta Ilmiah vs Distorsi Syiah
Agar masyarakat awam di Indonesia dapat dengan mudah membedakan antara kebenaran sejarah dan distorsi yang disusupkan, berikut adalah tabel komparasi paradigma sejarah:
Bahaya Penghapusan Sejarah Bagi Muslim Indonesia
Agenda penghapusan dan penulisan ulang sejarah oleh kelompok Syiah ini mulai merambah ke Indonesia melalui infiltrasi literatur populer, buku-buku sejarah Islam di sekolah, hingga konten-konten media sosial. Mereka mengemas distorsi ini dengan gaya bahasa yang akademis seolah-olah sedang membawa "fakta sejarah yang selama ini disembunyikan oleh penguasa Sunni."
Bahaya terbesar dari syubhat sejarah ini adalah runtuhnya kepercayaan generasi muda Muslim terhadap orisinalitas agamanya sendiri. Jika mereka berhasil diracuni untuk memercayai bahwa para Sahabat Nabi adalah para pengkhianat dan pemalsu sejarah, maka secara otomatis mereka akan meragukan keabsahan mushaf Al-Qur'an yang kita baca hari ini dan menolak ribuan hadis yang ada di dalam Shahih Bukhari serta Shahih Muslim. Dari titik inilah, pintu liberalisasi agama dan kehancuran akidah akan terbuka lebar.
Kesimpulan
Upaya kelompok Syiah Rafidhah dalam menghapus dan memutarbalikkan sejarah Islam yang asli adalah sebuah gerakan sistematis yang bertujuan untuk menumbuhkan sentimen perpecahan dan meruntuhkan kredibilitas generasi terbaik Islam. Allah SWT telah memuji para Sahabat dan Ahlul Bait secara bersamaan di dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 100:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100).
Membentengi umat dari pemalsuan sejarah yang dilakukan oleh sekte Syiah adalah bagian dari jihad ilmiah untuk menjaga marwah Rasulullah SAW, para istri beliau, serta para sahabatnya yang mulia. Dengan merawat dan mempelajari sejarah Islam dari jalur periwayatan yang sahih, kita menjaga kemurnian agama ini agar tetap kokoh bersinar di bumi Nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: