Breaking News
Loading...

Syiah dan Tuduhan Kejam terhadap Sahabat Nabi

Syiahindonesia.com - Generasi Sahabat adalah pilar utama dalam transmisi ajaran Islam. Di tangan merekalah, Al-Qur'an dikodifikasi dan Sunnah Rasulullah SAW dirawat hingga memancar ke seluruh penjuru dunia. Bagi umat Islam yang bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menghormati, mencintai, dan bersikap adil ('adalah) terhadap para Sahabat Nabi RA merupakan bagian integral dari pemeliharaan akidah. Allah SWT sendiri telah stempel keridaan-Nya kepada mereka melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an.

Namun, di dalam literatur induk dan mimbar-mimbar dakwah kelompok Syiah—khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah)—generasi terbaik ini justru diposisikan sebagai objek caci maki. Demi memuluskan doktrin politik Imamah (kepemimpinan teokratis), para teolog Syiah memproduksi berbagai tuduhan kejam terhadap para Sahabat senior. Berikut adalah beberapa bentuk tuduhan keji tersebut yang dibongkar dari kitab-kitab rujukan utama mereka:

1. Tuduhan Murtad Massal Pasca-Wafatnya Rasulullah SAW

Tuduhan paling ekstrem dan kejam dalam teologi Syiah adalah klaim bahwa mayoritas mutlak Sahabat Nabi telah keluar dari Islam (murtad) sesaat setelah Rasulullah SAW wafat. Mereka dituduh berkhianat secara kolektif karena memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah, alih-alih membaiat Ali bin Abi Thalib.

Dokma tragis ini ditulis secara eksplisit oleh ulama nomor satu mereka, Al-Kulaini, dalam kitab paling muktabar di kalangan Syiah, Al-Kafi. Di dalamnya termaktub riwayat fiktif yang menuduh:

كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِلَّا ثَلَاثَةً

“Manusia (para Sahabat) telah murtad setelah wafatnya Nabi SAW, kecuali tiga orang saja; Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (Ushul al-Kafi, Juz 8, Hal. 245).

Tuduhan keji ini secara otomatis berupaya meruntuhkan kredibilitas seluruh syariat Islam. Sebab, jika para pembawa risalah (Sahabat) dituduh murtad, maka keaslian Al-Qur'an dan Hadis yang sampai kepada umat hari ini akan ikut gugur dalam logika berpikir mereka.

2. Fitnah Keji Penyerangan dan Pembunuhan Janin Fatimah

Untuk memelihara bara kebencian di hati pengikutnya, orator Syiah terus-menerus memproduksi dongeng kelam mengenai Umar bin Khattab RA. Mereka menuduh tanpa bukti otentik bahwa Umar telah memimpin pasukan untuk mendobrak dan membakar pintu rumah Fatimah Az-Zahra (putri Nabi) demi memaksa Ali melakukan baiat.

Dalam narasi palsu tersebut, Umar dituduh menggencet tubuh Fatimah di balik pintu hingga tulang rusuknya patah dan menyebabkan janin di dalam kandungannya yang bernama Muhsin gugur hingga berujung pada kematian Fatimah.

Para pakar sejarah Islam menegaskan bahwa kisah ini adalah fabrikasi total yang menabrak logika. Ali bin Abi Thalib RA dikenal sebagai singa Allah yang gagah berani; sangat tidak masuk akal jika beliau hanya diam melihat istrinya dianiaya di depan mata. Fakta sejarah yang valid justru merekam hubungan yang sangat harmonis, di mana Ali secara sukarela menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab RA—sebuah pernikahan yang mustahil terjadi jika Umar adalah pembunuh ibunya.

3. Menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai "Berhala Quraisy"

Penghinaan terhadap dua menteri utama Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, tidak hanya berhenti pada narasi sejarah, melainkan diangkat menjadi bagian dari ritual ibadah harian Syiah melalui doktrin Tabarra' (berlepas diri dan melaknat musuh Ahlul Bait).

Dalam kitab-kitab doa standar mereka, seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi, terdapat sebuah doa populer bernama "Doa Dua Berhala Quraisy" (Doa Sanamay Quraisy). Di dalam teks doa tersebut, umat Syiah diajarkan untuk memohon kepada Allah agar melaknat Abu Bakar dan Umar, dengan menjuluki keduanya sebagai dua berhala, dua thaghut, serta dalang dari setiap kezaliman dan darah yang tumpah di muka bumi semenjak dunia diciptakan.

4. Tuduhan النفاق (Kemunafikan) kepada Para Istri Nabi

Tuduhan kejam Syiah juga menembus dinding kesucian rumah tangga Nabi SAW. Dua istri tercinta Rasulullah, Sayyidah Aisyah RA (putri Abu Bakar) dan Sayyidah Hafshah RA (putri Umar), tidak luput dari pembunuhan karakter.

Aisyah RA, yang kesuciannya dibersihkan langsung oleh Allah SWT melalui wahyu Surah An-Nur dari fitnah Haditsul Ifki, justru dituduh oleh sebagian ulama klasik dan modern Syiah sebagai wanita yang munafik, mengkhianati Nabi, bahkan dicap sebagai ahli neraka karena ijtihad politiknya dalam Perang Jamal. Tuduhan keji terhadap Ummul Mukminin (Ibu Orang-Orang Beriman) ini merupakan bentuk pelecehan langsung terhadap kehormatan Rasulullah SAW yang memilih mereka sebagai pendamping hidup dunia dan akhirat.

Kesimpulan: Kedok "Taqiyah" di Ruang Publik

Ketika berinteraksi dengan mayoritas umat Islam (Sunni) di Indonesia, para propagandis Syiah sering kali menggunakan jurus Taqiyah (menampilkan kemasan palsu demi strategi dakwah). Mereka akan berkata, "Kami menghormati Sahabat," atau "Itu hanya oknum." Namun, ketika kita membuka kitab-kitab kurikulum wajib yang diajarkan di pusat keagamaan mereka seperti di Qom (Iran), tuduhan murtad, munafik, dan ritual melaknat Sahabat tetap menjadi menu teologi yang tidak bisa dipisahkan.

Umat Islam harus menyadari bahwa membenci sosok-sosok yang telah dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur'an adalah bentuk penyimpangan akidah yang nyata. Menjaga penghormatan kepada para Sahabat Nabi adalah benteng utama dalam menjaga kemurnian pemahaman agama Islam dari racun-racun dendam sejarah yang ditebarkan oleh sekte Syiah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: