Syiahindonesia.com - Dalam diskursus ilmiah Islam, kejujuran akademik (amanah ilmiyyah) merupakan mahkota tertinggi yang menjaga kemurnian syariat. Ketika para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyusun metodologi periwayatan, mereka menetapkan standar moral yang sangat tinggi: seorang perawi yang kedapatan berbohong satu kali saja dalam urusan dunia, maka seluruh riwayat hadisnya mengenai agama akan ditolak selamanya. Prinsip ketat ini diberlakukan demi memastikan bahwa setiap dalil yang sampai ke tangan umat benar-benar murni dari rekayasa manusia.
Sangat disayangkan, potret yang sebaliknya akan kita temukan ketika membedah cara kelompok Syiah—khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah)—dalam membangun argumentasi mereka. Demi menegakkan dogma politik-keagamaan yang tidak memiliki dasar kuat di dalam Al-Qur'an dan Sunnah, para propagandis Syiah kerap kali menghalalkan segala cara. Mereka mempraktikkan ketidakjujuran ilmiah yang sistematis, mulai dari pemotongan teks (batar al-nushush), pemelintiran makna bahasa, hingga manipulasi referensi dari kitab-kitab ulama Sunni sendiri untuk mengelabui masyarakat awam.
Berikut adalah beberapa bentuk modus ketidakjujuran ilmiah yang sering digunakan oleh kaum Syiah dalam menyalahgunakan dalil-dalil Islam:
1. Modus Batar al-Nushush (Memotong Ayat dan Hadis di Tengah Jalan)
Salah satu trik ketidakjujuran yang paling sering diandalkan oleh para misionaris Syiah untuk mengelabui umat Islam awam adalah memotong ayat Al-Qur'an atau hadis Nabi tepat di bagian yang menguntungkan mazhab mereka, lalu menyembunyikan kelanjutan teks yang sebenarnya membatalkan klaim mereka sendiri.
Contoh Kasus: Ayat Tathhir (QS. Al-Ahzab: 33) Kaum Syiah sering kali mengutip potongan ayat ini untuk mengeklaim bahwa istri-istri Nabi tidak termasuk dalam Ahlul Bait dan tidak maksum:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا ÙŠُرِيدُ اللَّÙ‡ُ Ù„ِÙŠُذْÙ‡ِبَ عَÙ†ْÙƒُÙ…ُ الرِّجْسَ Ø£َÙ‡ْÙ„َ الْبَÙŠْتِ ÙˆَÙŠُØ·َÙ‡ِّرَÙƒُÙ…ْ تَØ·ْÙ‡ِيرًا
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Fakta Ketidakjujuran: Mereka sengaja memotong frasa ini dari kesatuan ayat 33 Surah Al-Ahzab. Jika kita membaca ayat tersebut secara utuh dari awal, serta mengaitkannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya (ayat 30-34), khitab (objek pembicaraan) dalam ayat tersebut secara eksplisit ditujukan kepada istri-istri Rasulullah SAW (Ya Nisa'an-Nabi). Allah memerintahkan mereka untuk tinggal di rumah, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak berhias seperti orang-orang jahiliyah. Mencomot sepotong kalimat di akhir ayat lalu membuang konteks kalimat utuhnya adalah bentuk nyata dari ketidakjujuran ilmiah demi memaksakan doktrin kemaksuman imam versi mereka.
2. Manipulasi Kitab-Kitab Rujukan Ulama Sunni
Dalam berbagai forum dialog, buku, maupun konten media sosial, para teolog Syiah gemar menggunakan argumen defensif seperti: "Kami tidak memakai kitab kami, kami membuktikannya lewat kitab-kitab sahih milik Sunni sendiri!" Strategi ini dirancang untuk memberikan kesan bahwa ulama Sunni pun sebenarnya mengakui kebenaran doktrin Syiah.
Fakta Ketidakjujuran: Praktik ini dilakukan dengan cara yang sangat manipulatif, di antaranya:
Mengutip Riwayat yang Lemah/Palsu: Mereka membuka kitab tafsir atau sejarah Sunni yang besar (seperti Tafsir al-Thabari atau Tarikh al-Khulafa), lalu mengambil riwayat yang sanadnya cacat, lemah, atau bahkan palsu. Mereka menyembunyikan fakta bahwa penulis kitab tersebut sengaja memasukkan riwayat itu hanya sebagai kumpulan data sejarah, bukan sebagai dalil hukum atau akidah yang sahih.
Menyembunyikan Komentar Penulis Kitab: Sering kali, seorang ulama Sunni menyebutkan sebuah riwayat yang beredar, lalu langsung memberikan catatan kritis di bawahnya bahwa riwayat tersebut dhaif (lemah) atau batil. Misionaris Syiah akan mengutip riwayatnya dan dengan sengaja membuang komentar kritis sang ulama agar pembaca awam mengira hadis tersebut berstatus sahih.
3. Pemelintiran Makna Istilah secara Bahasa (Semantik)
Bentuk ketidakjujuran lainnya adalah memaksakan makna istilah teologis Syiah modern ke dalam istilah-istilah bahasa Arab klasik yang ada pada zaman Rasulullah SAW.
Contoh Kasus: Istilah Mawla pada Hadis Ghadir Khum Syiah menggunakan hadis "Man kuntu mawlahu fa 'Aliyyun mawlahu" (Siapa yang menjadikanku sebagai penolong/kekasihnya, maka Ali adalah penolong/kekasihnya) sebagai dalil mutlak bahwa Ali ditunjuk menjadi Khalifah (pemimpin politik) pertama setelah Nabi.
Fakta Ketidakjujuran: Secara linguistik Arab, kata Mawla memiliki lebih dari dua puluh makna, tergantung pada konteks kalimatnya. Makna utama kata mawla dalam konteks Ghadir Khum adalah nasir (penolong), muhibb (kekasih), atau sepupu. Rasulullah SAW menggunakan kalimat tersebut untuk membela Sayyidina Ali yang kala itu sedang dikritik oleh beberapa sahabat terkait pembagian rampasan perang di Yaman, guna menegaskan bahwa mencintai Ali adalah bagian dari mencintai Nabi. Jika Rasulullah SAW memang ingin menunjuk Ali sebagai pemimpin politik atau pengganti resmi kekhalifahan, beliau pasti akan menggunakan kata yang lugas dan tidak ambigu seperti Amir, Hakim, atau Khalifah min ba'di.
4. Doktrin Taqiyah sebagai Legitimasi Kebohongan
Akar dari segala bentuk ketidakjujuran ini bermuara pada satu doktrin sentral dalam ajaran Syiah, yaitu Taqiyah (menyembunyikan keyakinan asli demi keselamatan atau kepentingan mazhab). Dalam teologi Itsna Asyariyyah, Taqiyah bukan sekadar dispensasi darurat saat nyawa terancam, melainkan bagian dari sembilan persepuluh bagian dari agama itu sendiri.
Ketika seorang misionaris Syiah merasa dipojokkan dengan dalil-dalil yang sahih, atau ketika mereka sedang berada di tengah mayoritas masyarakat Sunni di Indonesia, mereka akan menggunakan Taqiyah untuk berpura-pura sepaham. Mereka tidak akan segan untuk memuji para Sahabat di depan publik, menyembunyikan ritual-ritual aneh mereka, dan mengeklaim bahwa perbedaan Sunni-Syiah hanyalah sebatas masalah fiqih biasa. Legitimasi teologis terhadap perilaku tidak jujur inilah yang membuat ruang dialog ilmiah yang jujur dengan tokoh-tokoh Syiah menjadi sangat sulit dicapai.
Kesimpulan
Ketidakjujuran dalam menggunakan dalil-dalil Islam merupakan cacat bawaan yang terus dipelihara dalam tradisi intelektual Syiah demi menjaga agar konstruksi teologis mereka tidak roboh di hadapan umat. Ketika dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah dibaca secara jujur, objektif, dan utuh berdasarkan metodologi ilmiah yang diwariskan para Sahabat dan ulama salaf, maka seluruh klaim eksklusif mengenai Imamah dan kemaksuman para imam akan gugur dengan sendirinya.
Bagi kaum Muslimin di Indonesia, sangat penting untuk meningkatkan kecerdasan literasi agama. Jangan mudah terpukau oleh kutipan-kutipan manis para propagandis Syiah yang seolah-olah merujuk pada ayat Al-Qur'an atau kitab Sunni, sebelum memeriksa kembali keutuhan teks, keabsahan sanad, dan pemahaman para ulama otoritatif Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: