Breaking News
Loading...

Syiah dan Penggunaan Hadis Palsu dalam Ajarannya

Syiahindonesia.com - Keaslian ajaran Islam yang terjaga hingga hari ini tidak lepas dari ketatnya metodologi kritik hadis yang dirumuskan oleh para ulama terdahulu. Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebuah riwayat tidak dapat dijadikan sandaran hukum atau akidah kecuali jika telah lolos seleksi ketat melalui pemeriksaan kesambungan sanad (jalur periwayatan) dan keandalan para perawi dari cacat moral maupun intelektual. Tradisi ilmiah yang agung ini terbukti berhasil menyaring sabda asli Rasulullah SAW dari klaim-klaim dusta yang disusupkan oleh kelompok-kelompok kepentingan.

Namun, pemandangan yang kontras akan kita temukan jika membedah bangunan teologi dan fikih kelompok Syiah, khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah). Demi melegitimasi doktrin-doktrin sekte mereka yang tidak memiliki dasar di dalam Al-Qur'an—seperti ketuhanan terselubung para imam, kemaksuman mutlak manusia selain nabi, hingga konsep kegaiban yang mistis—para teolog Syiah memproduksi dan mengandalkan ribuan hadis palsu (maudhu'). Mereka menciptakan pabrik pemalsuan riwayat yang diatribusikan secara dusta kepada Rasulullah SAW dan para Imam Ahlul Bait demi mengelabui umat awam.

Berikut adalah pembongkaran ilmiah mengenai modus dan bentuk penggunaan hadis palsu dalam ajaran Syiah:

1. Modus Operandi Pemalsuan Hadis oleh Kaum Syiah

Sejak abad-abad awal hijriah, para pakar kritikus hadis dari kalangan Sunni telah mengidentifikasi bahwa kelompok Syiah (yang dahulu sering disebut sebagai Rafidhah) adalah kelompok yang paling berani dan paling banyak memalsukan hadis.

Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H) pernah memberikan kesaksiannya yang sangat populer dalam kitab Al-Kifayah fi 'Ilmir Riwayah:

“Aku belum pernah melihat di antara kelompok pengikut hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu (berbohong) melebihi kelompok Rafidhah (Syiah).”

Modus operandi mereka dalam memalsukan riwayat umumnya terbagi menjadi dua cara:

  • Fabrikasi Total (Membuat Hadis Baru): Merancang untaian kalimat yang tampak puitis atau berwibawa, lalu mencantumkan silsilah perawi fiktif yang bersambung ke para Imam seperti Imam Ja'far ash-Sadiq atau Imam Muhammad al-Baqir.

  • Distorsi Teks (Tahrif al-Matn): Mengambil potongan hadis yang sahih di kalangan Sunni, kemudian menyisipkan kata atau kalimat tambahan di tengah atau di akhirnya untuk mengubah arah makna demi mendukung kepentingan politik dan mazhab mereka.

2. Contoh Hadis Palsu Syiah tentang Keutamaan Ali dan Ahlul Bait

Untuk mengangkat kedudukan para pemimpin mereka ke derajat yang setara—atau bahkan lebih tinggi—dari para nabi, para pemalsu hadis Syiah memproduksi riwayat-riwayat hiperbolis yang menabrak logika tauhid. Salah satu contoh hadis palsu yang sangat masyhur dalam kitab-kitab mereka seperti Biharul Anwar adalah:

“Wahai Ali, sekiranya bukan karena engkau, niscaya Allah tidak akan menciptakan alam semesta.”

Bantahan Ilmiah: Hadis ini dideklarasikan oleh seluruh ulama ahli hadis sebagai kebohongan yang nyata (hadis palsu). Matan hadis ini bertentangan secara diametral dengan firman Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengenai tujuan mutlak penciptaan makhluk:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56).

Allah menciptakan alam semesta agar manusia mentauhidkan dan menyembah Allah SWT, bukan demi satu atau dua figur manusia tertentu. Hadis-hadis palsu bernada ekstrem (ghuluw) seperti ini sengaja dipelihara oleh Syiah untuk membangun kultus individu yang berlebihan terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, padahal beliau sendiri berlepas diri dari sikap ekstrem tersebut semasa hidupnya.

3. Penyusupan Hadis Palsu untuk Menghancurkan Reputasi Sahabat

Selain menciptakan hadis untuk memuji kelompoknya sendiri, pabrik hadis Syiah juga aktif memproduksi riwayat palsu yang berisi caci maki, laknat, dan pembunuhan karakter terhadap para Sahabat Nabi dan istri-istri beliau, terutama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Aisyah RA.

Dalam kitab Ushul al-Kafi—kitab paling otoritatif dalam sekte Syiah—terdapat riwayat palsu yang mengeklaim bahwa setelah Rasulullah SAW wafat, hampir seluruh Sahabat berkhianat dan murtad dari Islam kecuali segelintir orang saja.

Bantahan Ilmiah: Hadis palsu tersebut diciptakan dengan tujuan ideologis yang sangat berbahaya: meruntuhkan pilar penyampaian syariat Islam. Konsekuensi logis dari hadis palsu ini adalah rusaknya kredibilitas Al-Qur'an dan Sunnah itu sendiri. Jika para Sahabat Nabi yang berjumlah puluhan ribu divonis murtad dan pembohong, maka jalur transmisi Al-Qur'an dan hadis ke tangan umat hari ini otomatis terputus dan tidak valid, karena merekalah mata rantai tunggal yang mengumpulkan dan menghafal wahyu setelah wafatnya Nabi. Hal inilah yang sesungguhnya diincar oleh para pencetus ajaran Syiah di masa lalu untuk merusak Islam dari dalam.

4. Kelemahan Fatal Sistem Rijal (Kritik Perawi) dalam internal Syiah

Mengapa hadis palsu begitu mudah merembes dan menjadi fondasi akidah dalam ajaran Syiah? Jawabannya terletak pada rapuh dan tidak objektifnya sistem kritik perawi (Ilmu Rijal) yang mereka miliki.

Di dalam metodologi hadis Sunni, seorang narator hadis akan dinilai cacat (dhaif atau kadzdzab) jika ia terbukti pernah melakukan kebohongan dalam urusan dunia atau agama, tanpa memandang apa mazhab politiknya. Namun di dalam internal Syiah, parameter kebenaran diukur dari loyalitas sang perawi terhadap doktrin Imamah Syiah.

Meskipun seorang perawi dikenal sebagai pembohong besar, peminum khamar, atau orang yang rusak moralnya, ia akan tetap dicap sebagai perawi yang tepercaya (tsiqah) oleh ulama Syiah asalkan ia membenci para Sahabat dan setia menyetorkan dana Khumus kepada institusi keimaman mereka. Sebaliknya, perawi yang jujur, saleh, dan ahli ibadah dari kalangan Sunni akan langsung dicap sebagai ahli neraka dan ditolak seluruh riwayatnya hanya karena mereka menghormati Abu Bakar dan Umar. Ketiadaan standar moral yang objektif inilah yang membuat kitab-kitab suci Syiah dipenuhi oleh dongeng fiktif dan riwayat palsu.

Kesimpulan

Penggunaan hadis-hadis palsu dalam ajaran Syiah bukanlah sebuah ketidaksengajaan, melainkan sebuah metode yang dirawat secara sadar demi menjaga agar doktrin teologi mereka tidak runtuh. Tanpa adanya pasokan hadis-hadis palsu tersebut, konsep Imamah, Kegaiban Imam, Mut'ah (nikah kontrak), dan ritual-ritual ekstrem lainnya tidak akan pernah memiliki sandaran hujah sama sekali.

Bagi umat Islam di Indonesia, kewaspadaan terhadap peredaran hadis-hadis palsu ini harus terus ditingkatkan. Kaum misionaris Syiah hari ini sering kali mengutip riwayat-riwayat aneh dan palsu di mimbar-mimbar umum dengan kemasan "hadis Nabi" untuk menarik simpati masyarakat awam yang minim literasi. Membentengi umat dengan pemahaman ilmu hadis yang sahih berdasarkan bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah benteng pertahanan terbaik untuk menjaga kemurnian akidah dan menangkal infiltrasi kesesatan Syiah di bumi Nusantara.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: