Syiahindonesia.com - Kejujuran adalah mahkota moral tertinggi dalam Islam. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya) jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi, menunjukkan bahwa integritas moral dan kejujuran adalah fondasi mutlak dari risalah Islam. Namun, di dalam konstelasi teologi Syiah (khususnya Syiah Dua Belas Imam atau Rafidhah), prinsip moral yang luhur ini mengalami pergeseran yang sangat radikal melalui pemaksaan doktrin bernama Taqiyyah. Di bawah bungkus teologis ini, tindakan menyembunyikan keyakinan asli, menipu pihak luar, dan menampilkan wajah palsu di hadapan kaum Muslimin tidak lagi dipandang sebagai aib moral, melainkan diangkat derajatnya menjadi salah satu ritual ibadah yang paling agung.
Artikel ini akan menguliti secara tajam bagaimana doktrin Taqiyyah dalam kitab-kitab induk Syiah bertransformasi menjadi pelegalisasian dusta yang sistematis. Konsep inilah yang merusak tatanan sosial, meruntuhkan jalinan ukhuwah, dan menjadi duri dalam daging bagi persatuan umat Islam di Indonesia.
1. Menempatkan "Dusta" di Singgasana Sembilan Persepuluh Agama
Dalam syariat Islam yang murni (Ahlussunnah wal Jama'ah), Taqiyyah adalah rukhshah (keringanan) yang bersifat darurat dan temporal. Seseorang hanya boleh menyembunyikan imannya atau mengucapkan kalimat kufur di bawah ancaman pembunuhan atau siksaan fisik yang nyata, sebagaimana yang terjadi pada sahabat Ammar bin Yasir RA. Ketika ancaman itu hilang, kewajiban untuk jujur kembali tegak secara mutlak.
Realitas Tekstual Kitab Syiah:
Sangat kontras dengan Islam, sekte Syiah menjadikan Taqiyyah sebagai gaya hidup (lifestyle) teologis yang wajib dipraktikkan setiap saat, baik dalam kondisi aman maupun takut. Dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat riwayat yang menempatkan kedudukan Taqiyyah di posisi yang sangat ekstrem:
Dari Ja'far Ash-Shadiq (dinisbatkan secara dusta oleh Syiah), ia berkata: "Wahai Sulaiman, sesungguhnya kalian berada di atas sebuah agama yang barangsiapa menyembunyikannya maka Allah akan memuliakannya, dan barangsiapa menyebarkannya (terang-terangan) maka Allah akan menghinakannya. Wahai Sulaiman, sesungguhnya Taqiyyah itu adalah sembilan persepuluh (90%) dari agama, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki Taqiyyah." (Al-Kafi, Jilid 2, Hal. 217).
Logika sehat mana pun akan terguncang membaca diktum ini. Jika sembilan persepuluh dari agama Syiah adalah Taqiyyah (menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebalikan), maka esensi dari ajaran ini dibangun di atas fondasi kepura-puraan. Doktrin ini secara tidak langsung mengikis rasa bersalah pengikut Syiah saat berbohong, karena mereka meyakini bahwa setiap bualan dan kepalsuan yang mereka lontarkan di hadapan kaum Muslimin dinilai sebagai pahala ibadah yang besar.
2. Paradoks Fiqih: Beribadah di Atas Kepura-puraan
Imbas dari doktrin Taqiyyah ini merembes hingga ke urusan ibadah harian yang sakral, seperti salat berjamaah. Para mullah Syiah sering kali menganjurkan pengikutnya untuk ikut salat berjamaah di masjid-masjid Ahlussunnah (Sunni) demi membangun opini bahwa mereka adalah bagian dari persatuan umat.
Kontradiksi Internalnya:
Di depan publik, mereka bersujud bersama kaum Muslimin. Namun, di balik pintu-pintu rahasia mereka, kitab-kitab fiqih Syiah membongkar bahwa salat tersebut hanyalah sandiwara lahiriah. Al-Kulaini dalam Al-Kafi meriwayatkan bahwa salat di belakang imam Sunni itu dilakukan bukan karena pengakuan atas keabsahan ibadahnya, melainkan murni sebagai bentuk taktik Taqiyyah. Bahkan sebagian ulama kontemporer mereka menegaskan bahwa setelah salat selesai, pengikut Syiah wajib mengulangi salatnya secara sembunyi-sembunyi (i'adah) karena salat di belakang orang Sunni dianggap batal.
Praktik ini menunjukkan betapa rusaknya konsep ketulusan dalam teologi Syiah. Ibadah yang seharusnya menjadi sarana penghambaan yang jujur kepada Allah SWT, justru dijadikan alat kamuflase politik dan penipuan sosial.
3. Meruntuhkan Kepercayaan Terhadap Hadis dan Hukum
Dampak paling destruktif dari pelegalisasian Taqiyyah ini menimpa silsilah keilmuan mereka sendiri. Karena para Imam Syiah diklaim selalu menggunakan Taqiyyah saat berbicara dengan orang luar atau dalam kondisi tertekan, para ulama Syiah sendiri akhirnya kebingungan menentukan mana ucapan Imam yang merupakan "hukum syariat yang asli" dan mana yang sekadar "dusta teologis (Taqiyyah)".
Jika ada dua hadis dari Imam yang sama saling bertentangan secara total—misalnya, hadis A mengharamkan sesuatu dan hadis B menghalalkannya—maka ulama Syiah akan dengan mudah menggunakan dalih: "Oh, hadis B diucapkan oleh Imam dalam rangka Taqiyyah untuk menyenangkan orang Sunni."
Metodologi yang rapuh ini meruntuhkan validitas seluruh ajaran Syiah. Jika dusta telah diinstitusikan ke dalam agama, maka tidak ada lagi tolok ukur kebenaran yang objektif. Pengikut Syiah tidak akan pernah tahu apakah fatwa yang disampaikan oleh mullah mereka hari ini adalah sebuah kebenaran mutlak atau sekadar sandiwara Taqiyyah berikutnya.
Komparasi Konseptual: Jujur ala Islam vs Kosmetika ala Syiah
Untuk memberikan pemahaman yang scannable dan tegas mengenai bahaya konsep ini, berikut tabel perbandingan penerapan kejujuran dan penyembunyian fakta:
Bahaya Nyata Bagi Kehidupan Berbangsa di Indonesia
Di bumi Nusantara, doktrin Taqiyyah inilah yang menjadi senjata paling licin dari pergerakan Syiah. Saat mereka mendirikan yayasan, mendekati ormas Islam besar, atau berbicara di seminar-seminar nasional, mereka akan tampil dengan wajah yang sangat santun, mengaku cinta NKRI, dan mengeklaim bahwa perbedaan Sunni-Syiah hanyalah sebatas perbedaan madzhab fiqih seperti hubungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Namun, wajah kosmetik ini akan meluap seketika ketika mereka berada di komunitas internal mereka. Di sanalah ritual melaknat sahabat, mengafirkan mayoritas umat Islam, dan indoktrinasi kebencian sejarah ditiupkan secara masif kepada para pengikutnya.
Bahaya laten dari Taqiyyah ini adalah hancurnya modal sosial terbesar bangsa Indonesia, yaitu saling percaya (trust). Bagaimana kita bisa membangun ukhuwah Islamiyah yang kokoh dengan sebuah kelompok yang teks sucinya sendiri mewajibkan mereka untuk bermuka dua di hadapan kita?
Kesimpulan
Al-Qur'an al-Karim telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai bahaya orang-orang yang memiliki dualisme kepribadian, yang menampilkan kebaikan namun menyembunyikan agenda lain di dalam hatinya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 14:
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami telah beriman." Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14).
Konsep Taqiyyah yang diadopsi oleh Syiah melampaui batas-batas rukhshah darurat dan telah bergeser menjadi pelegalisasian dusta atas nama agama. Membentengi umat Islam di Indonesia dari syubhat Taqiyyah adalah tugas suci agar masyarakat tidak terjebak oleh kosmetika ukhuwah yang palsu. Persatuan umat yang sejati hanya bisa dirajut di atas hamparan kejujuran, keterbukaan, dan kesetiaan pada sunnah Rasulullah SAW, bukan di atas kepura-puraan yang memelihara bara dendam sejarah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: