Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesesatan dalam Memahami Takdir dan Kehendak Allah

Syiahindonesia.com - Keimanan kepada takdir, baik yang manis maupun yang pahit (al-qadha’ wal qadar), merupakan salah satu pilar terpenting dalam sistem akidah Islam. Bagi umat Islam yang menetapi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meyakini takdir berarti mengimani secara utuh bahwa segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini—mulai dari penciptaan alam, rezeki, jodoh, hingga detak jantung manusia—berada di bawah pengetahuan (ilmu), pencatatan (kitabah), kehendak (masyiah), dan penciptaan (khalq) Allah SWT yang mutlak sejak azali.

Namun, di dalam bangunan teologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep keimanan terhadap takdir dan kehendak Allah ini telah mengalami distorsi filosofis yang sangat fatal. Demi menyelaraskan akidah mereka dengan kepentingan doktrin kepemimpinan politik (Imamah), mereka mengadopsi pemikiran-pemikiran sekte Muktazilah dan melahirkan konsep-konsep baru yang merusak kesucian sifat-sifat Allah. Kesalahan teologis ini tidak hanya menjatuhkan mereka ke dalam jurang pembatasan terhadap kekuasaan Allah, tetapi juga menuduh Allah memiliki kekurangan yang mustahil ada pada Zat Yang Maha Sempurna.

1. Mengadopsi Paham Qadariyah (Menolak Takdir Utuh Allah)

Dalam masalah perbuatan manusia dan hubungannya dengan takdir Allah, teologi Syiah kontemporer secara praktis menganut paham Qadariyah (atau yang dalam sejarah teologi Islam juga dilekatkan pada kelompok Muktazilah). Mereka meyakini bahwa manusia adalah pencipta mutlak dari perbuatannya sendiri secara mandiri, tanpa ada campur tangan kehendak (masyiah) dan penciptaan (khalq) dari Allah SWT.

Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, manusia memang diberikan pilihan dan kehendak bebas untuk bertindak (kasb), namun kehendak manusia tersebut tetap berada di bawah naungan kehendak absolut Allah SWT. Allah SWT secara tegas mematahkan paham paham mandiri ini di dalam Al-Qur'an melalui Surat At-Takwir ayat 29:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam."

Ketika sekte Syiah mengeklaim bahwa perbuatan manusia lepas sepenuhnya dari penciptaan Allah, mereka secara tidak sadar telah membatasi kekuasaan Allah. Di dalam Islam yang murni, Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk menciptakan manusia dan segala daya serta perbuatannya.

2. Doktrin Bada’: Menuduh Allah Mengalami Perubahan Pikiran

Penyimpangan paling keji dan fatal dari sekte Syiah dalam memahami kehendak dan takdir Allah tercermin dalam doktrin Bada’ (البداء). Secara istilah, Bada’ berarti munculnya suatu pengetahuan atau gagasan baru bagi Allah setelah sebelumnya hal tersebut tersembunyi dari-Nya, sehingga Allah mengubah keputusan, takdir, atau perintah-Nya yang terdahulu.

Doktrin ini diproduksi oleh para rabi klasik Syiah ketika ramalan-ramalan masa depan atau penunjukan Imam yang diklaim "maksum" meleset total dari realita sejarah. Sebagai contoh, ketika Imam Ja'far al-Shadiq menunjuk anaknya, Ismail, sebagai Imam berikutnya atas perintah yang diklaim dari Allah, ternyata Ismail justru wafat lebih dulu saat sang ayah masih hidup. Demi menyelamatkan muka lembaga Imamah dari tuduhan berdusta, mereka menciptakan dalih teologis dengan mengeklaim: "Allah telah mengubah pikiran-Nya (Bada’) terkait takdir kepemimpinan Ismail."

Bagi umat Islam Sunni, doktrin Bada’ ini adalah bentuk kekufuran dan penghinaan nyata kepada Allah Azza wa Jalla. Menuduh Allah baru mengetahui sesuatu setelah peristiwa itu terjadi berarti menyematkan sifat bodoh (al-jahl) kepada-Nya. Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu secara sempurna sejak azali, tidak membutuhkan revisi takdir, dan tidak mengalami pembaruan ilmu seperti makhluk yang lemah.

3. Menyerahkan Kunci Takdir dan Distribusi Rezeki kepada Para Imam

Kontradiksi terbesar dari teologi Syiah adalah: di satu sisi mereka menganut paham Qadariyah yang membatasi takdir Allah pada perbuatan manusia, namun di sisi lain mereka terjebak dalam kultus individu ekstrem (ghuluw) dengan menyerahkan otoritas pembagian takdir alam semesta kepada para Imam mereka.

Di dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat riwayat-riwayat palsu yang menyatakan bahwa segala urusan makhluk, ajal, rezeki, dan pembagian surga serta neraka diserahkan kuncinya secara mutlak kepada 12 Imam. Mereka meyakini bahwa para Imam mengontrol atom-atom alam semesta.

Tindakan mentransfer hak prerogatif Allah dalam mengatur takdir dan memberikan rezeki kepada manusia—meskipun mereka adalah keturunan Nabi—adalah bentuk pergeseran dalam Tauhid Rububiyah yang sangat menyesatkan umat dari bersandar hanya kepada Allah semata.

4. Tabel Perbandingan Akidah: Kehendak Allah dan Takdir

KonseptualisasiManhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ahPenyimpangan Teologi Syiah
Sifat Ilmu AllahSempurna, meliputi segala sesuatu sejak azali, tidak berubah, dan mustahil mengalami salah atau lupa.Dapat mengalami konsep Bada’, di mana Allah dituduh baru mengetahui hal baru lalu merevisi takdir-Nya.
Penciptaan PerbuatanAllah adalah Pencipta zat manusia sekaligus pencipta setiap perbuatan dan pilihan yang diambil manusia.Manusia adalah pencipta tunggal perbuatannya sendiri secara mandiri, lepas dari intervensi takdir fisik Allah.
Pengatur Urusan GaibHanya Allah SWT yang memegang kendali atas takdir, rezeki, hidup, dan mati seluruh makhluk-Nya.Diklaim didelegasikan secara gaib mutlak kepada 12 Imam mereka yang dianggap memiliki sifat ketuhanan.

5. Antisipasi Penyusupan Filsafat Takdir Sesat Syiah di Indonesia

Di Indonesia, para mubalig Syiah dilatih untuk menyembunyikan doktrin Bada’ atau pengingatan takdir ini dari mimbar-mimbar umum melalui strategi Taqiyyah (berpura-pura). Mereka tahu bahwa jika masyarakat Muslim Indonesia yang kuat memegang akidah Asy'ariyah/Maturidiyah mendengar doktrin ini, mereka akan langsung menolaknya.

Umat Islam di Nusantara wajib mewaspadai pola-pola gerakan pengelabuan mereka:

  • Pengaburan Lewat Tema Motivasi: Mereka membungkus paham Qadariyah (menolak takdir) menggunakan bahasa-bahasa filsafat modern atau motivasi hidup, yang secara halus mengajarkan pemuda Muslim untuk tidak memercayai ketetapan lauhul mahfuzh dan menganggap manusia adalah penentu mutlak nasibnya sendiri tanpa takdir Allah.

  • Penyelundupan Doa-Doa Khusus: Menyebarkan buku-buku doa yang di dalamnya terselip permohonan agar Allah mengubah takdir-Nya berdasarkan konsep Bada’, yang secara perlahan merusak kemurnian tauhid asma' wa shifat di hati umat Islam awam.

Kesimpulan

Kesesatan sekte Syiah dalam memahami konsep takdir dan kehendak Allah bersumber dari ketidakjujuran ilmiah dalam berakidah. Demi mempertahankan doktrin kepemimpinan politik para Imam, mereka tega meminjam pemikiran Muktazilah dan menciptakan konsep Bada’ yang menuduh Allah SWT mengalami ketidaktahuan.

Sebagai benteng pertahanan umat di Indonesia, kita wajib memperdalam kembali rukun iman yang enam berdasarkan pemahaman ulama salaf yang lurus. Mengimani bahwa takdir Allah itu sempurna, mutlak, dan bersih dari segala kekurangan adalah fondasi utama yang akan menyelamatkan jiwa dan akidah kita dari segala bentuk infiltrasi ideologi sektarian yang merusak kesucian tauhidullah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: