Syiahindonesia.com - Salah satu pilar terpenting dalam akidah Islam adalah keyakinan bahwa agama ini telah sempurna dengan wafatnya Rasulullah SAW. Kesempurnaan ini mencakup seluruh aspek hukum, akidah, dan tuntunan hidup yang telah tertuang dalam Al-Quran dan dijelaskan melalui Sunnah Nabi. Namun, doktrin Syiah justru meruntuhkan fondasi kesempurnaan ini melalui konsep Imamah dan keberadaan para Imam yang dianggap memiliki otoritas tasyri' (penetapan hukum). Dengan meyakini adanya wahyu atau "ilmu langit" yang terus berlanjut melalui para Imam, Syiah secara implisit menuduh bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW belum benar-benar tuntas.
1. Menafikan Ayat Kesempurnaan Al-Quran
Allah SWT secara tegas menyatakan kesempurnaan Islam dalam surat Al-Ma'idah ayat 3 yang turun saat Haji Wada':
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3).
Kesalahan Fatal Syiah: Syiah menyelewengkan ayat ini dengan mengklaim bahwa agama baru sempurna jika Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Imam. Mereka beranggapan bahwa tanpa kepemimpinan para Imam, syariat Islam masih "cacat" atau belum lengkap. Keyakinan ini sangat berbahaya karena memposisikan otoritas manusia (Imam) sebagai syarat sahnya sebuah agama yang diturunkan Tuhan, seolah-olah Allah membutuhkan persetujuan politik manusia untuk menyempurnakan firman-Nya.
2. Konsep Imamah sebagai "Wahyu Berkelanjutan"
Dalam teologi Syiah, para Imam tidak hanya sekadar pemimpin, tetapi juga pemegang otoritas penjelas agama yang setara dengan Nabi. Mereka meyakini adanya "Ilmu Laduni" atau ilham yang terus mengalir kepada para Imam.
Hal ini menimbulkan kejanggalan teologis yang fatal:
Agama yang "Belum Final": Jika Imam memiliki hak untuk menghapus, menambah, atau memberikan hukum baru yang tidak ada di zaman Nabi, maka Islam menjadi agama yang tidak pernah selesai.
Dualisme Otoritas: Terjadi tumpang tindih antara otoritas Rasulullah SAW dengan otoritas para Imam. Jika agama sudah sempurna di tangan Nabi, maka peran Imam seharusnya hanya menjaga, bukan menambah-nambah ajaran baru yang justru sering kali bertentangan dengan Sunnah yang shahih.
3. Merusak Integritas Risalah Kenabian
Meyakini adanya sosok maksum setelah Rasulullah SAW yang wajib ditaati sebagaimana mentaati Nabi adalah bentuk pelecehan terhadap status Khatamun Nabiyyin (Penutup para Nabi). Rasulullah SAW bersabda:
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya." (HR. Malik).
Syiah mengganti wasiat ini dengan mewajibkan ketaatan pada "perkataan Imam" yang sering kali tidak memiliki dasar dalam Al-Quran maupun Hadits Nabi yang shahih. Dengan menganggap perkataan Imam sebagai sumber hukum mutlak, mereka telah menjadikan para Imam sebagai perantara yang menutupi akses langsung umat terhadap ajaran murni Rasulullah SAW.
4. Inkonsistensi Ajaran melalui Doktrin Bada'
Salah satu bukti bahwa konsep agama dalam Syiah tidaklah sempurna adalah adanya doktrin Bada' (keyakinan bahwa Allah bisa berubah pikiran). Syiah menggunakan doktrin ini untuk membenarkan jika ada ramalan atau perkataan Imam yang terbukti salah atau tidak terjadi.
Paham ini menghancurkan konsep kesempurnaan agama karena:
Menisbatkan Ketidakpastian pada Allah: Jika Tuhan bisa "berubah pikiran" terhadap hukum atau takdir-Nya, maka tidak ada jaminan kebenaran dalam agama tersebut.
Menghalalkan Revisi Agama: Agama menjadi produk yang bisa direvisi sesuai keadaan, yang sangat mirip dengan pola perubahan kitab suci pada kaum-kaum sebelum Islam yang telah disesatkan.
5. Bahaya bagi Akidah Umat di Indonesia
Penyebaran paham ini di Indonesia sering kali disamarkan dengan diskusi-diskusi intelektual tentang "dinamika hukum Islam". Namun, umat harus waspada karena:
Meragukan Otoritas Ulama Sunni: Dengan menganggap hanya Imam yang maksum yang benar, mereka mengajak umat meninggalkan warisan ijtihad para sahabat dan ulama empat madzhab.
Membangun Kepatuhan Buta: Pengikut Syiah dididik untuk patuh total pada tokoh mereka (Marja' Taqlid) yang diklaim sebagai wakil Imam, yang secara sistematis menjauhkan umat dari bimbingan Al-Quran secara mandiri.
Kesimpulan: Islam Telah Sempurna Tanpa Imamah Syiah
Agama Islam adalah nikmat yang telah sempurna dan final. Keindahan Islam terletak pada kemandirian syariatnya yang tidak bergantung pada keberadaan sosok manusia "suci" setelah Nabi. Kesalahan fatal Syiah dalam memahami kesempurnaan agama berakar pada pengkultusan manusia yang berlebihan, sehingga mereka tidak lagi melihat Islam sebagai petunjuk yang sudah tuntas, melainkan proyek ideologis yang harus terus dikembangkan melalui lisan para Imam mereka.
Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaah, menjaga keyakinan akan kesempurnaan Islam berarti menutup pintu bagi setiap ideologi yang mencoba menambahkan atau mengurangi ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Islam sudah sempurna, dan tugas kita adalah mempelajarinya, menjalankannya, dan menjaganya dari noda-noda syirik serta bid'ah yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: