Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Mengajarkan Doa-doa yang Tidak Sesuai dengan Syariat?

Syiahindonesia.com - Doa adalah inti dari ibadah (mukhkhul ibadah). Dalam Islam, doa merupakan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta, Allah SWT, tanpa perantara. Namun, dalam praktik dan ajaran Syiah, konsep doa telah mengalami pergeseran yang sangat jauh dari tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka menyisipkan unsur-unsur yang melanggar batasan tauhid, seperti pengkultusan manusia, penggunaan perantara (tawasul) yang berlebihan, hingga sisipan caci maki dalam ritual doa mereka. Artikel ini akan membedah bagaimana Syiah mengajarkan doa-doa yang menyimpang dari syariat Islam yang murni.


1. Menjadikan Imam sebagai Perantara (Istighatsah)

Penyimpangan paling fundamental dalam doa versi Syiah adalah praktik memohon secara langsung kepada para imam, bukan kepada Allah SWT. Mereka sering menggunakan seruan seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Shahibuz Zaman" (Wahai pemilik zaman/Imam Mahdi versi mereka).

Bantahan Syariat: Islam mengajarkan bahwa hanya Allah yang mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Allah SWT berfirman:

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Yunus: 106).

Mengalihkan doa—yang merupakan bentuk ibadah—kepada selain Allah, baik itu Nabi, wali, apalagi Imam, adalah perbuatan syirik yang membatalkan tauhid.


2. Menyisipkan Laknat dan Caci Maki dalam Doa

Keunikan sekaligus kesesatan doa dalam ajaran Syiah adalah adanya doa-doa khusus yang isinya bukan memohon kebaikan, melainkan melaknat para Sahabat Nabi dan istri-istri beliau. Salah satu yang paling masyhur adalah Doa Sanamay Quraisy (Dua Berhala Quraisy).

Dalam doa tersebut, mereka melaknat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab dengan sebutan keji. Mengubah ritual doa yang seharusnya suci menjadi ajang penyebaran kebencian adalah bentuk penghinaan terhadap nilai-nasir spiritualitas Islam. Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka bicara kotor, dan suka berkata kasar." (HR. Tirmidzi).


3. Keyakinan bahwa Doa Tidak Sampai Tanpa Menyebut Imam

Syiah mengajarkan doktrin bahwa Allah tidak akan menerima doa seorang hamba kecuali jika hamba tersebut mengakui wilayah (kepemimpinan) para imam mereka. Hal ini menjadikan "Imamah" sebagai syarat sahnya sebuah doa.

Analisis Akidah: Syarat diterimanya doa dalam Islam adalah ikhlas, mengikuti sunnah, dan menjauhi makanan haram. Tidak ada satu pun dalil shahih yang menyatakan bahwa doa seseorang tertolak hanya karena ia tidak mengimani dua belas imam. Doktrin ini bertujuan untuk membelenggu pengikut Syiah agar selalu bergantung pada otoritas tokoh agama mereka.


4. Ritual Doa yang Menyakiti Diri Sendiri

Meskipun sering dibungkus dalam bentuk "dzikir" atau "ratapan", ritual pada hari Asyura yang melibatkan penyiksaan diri (memukul dada, melukai kepala dengan pedang) sering disertai dengan doa-doa permohonan syafaat kepada Imam Husain secara berlebihan.

Islam melarang umatnya menyiksa diri. Rasulullah SAW berlepas diri dari orang yang memukul-mukul pipi dan merobek-robek baju saat tertimpa musibah (meratap). Doa yang lahir dari ritual penuh darah dan emosi kebencian ini jauh dari ketenangan (sakinah) yang diajarkan oleh syariat.


5. Penggunaan Hadits Palsu tentang Keutamaan Doa Tertentu

Untuk menarik minat umat, Syiah menciptakan ribuan riwayat palsu tentang keutamaan doa-doa buatan mereka. Misalnya, klaim bahwa membaca doa tertentu dapat menghapus dosa seumur hidup atau memberikan pahala ribuan kali haji, padahal doa tersebut berisi ajaran yang menyelisihi tauhid.

Kesimpulan

Doa dalam pandangan Syiah telah keluar dari rel tauhid dan berubah menjadi alat pengkultusan individu serta pelestarian dendam sejarah. Dengan menjadikan manusia sebagai perantara dan menyisipkan laknat kepada generasi terbaik Islam, doa-doa tersebut bukan lagi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, melainkan sarana menjauhkan umat dari kemurnian Islam. Sebagai Muslim Ahlus Sunnah, kita harus mencukupkan diri dengan doa-doa yang diajarkan Allah dalam Al-Qur'an dan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits shahih.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: