Syiahindonesia.com - Memahami posisi hukum suatu ajaran dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari pandangan para mujtahid mutlak, yakni para Imam Mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali). Beliau-beliau adalah penjaga benteng akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang hidup di masa yang lebih dekat dengan masa salaf. Pandangan mereka terhadap Syiah—terutama kelompok Rafidhah—sangatlah tegas. Mereka melihat adanya bahaya besar dalam ajaran ini, bukan karena kebencian pribadi, melainkan karena penyimpangan Syiah yang menyerang pilar-pilar agama, seperti penghinaan terhadap Sahabat Nabi dan pengingkaran terhadap otoritas Al-Quran serta Sunnah.
1. Imam Abu Hanifah (Wafat 150 H)
Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi, dikenal sangat ketat dalam menjaga kehormatan para Sahabat. Beliau memandang bahwa mencela Sahabat Nabi, terutama Abu Bakar dan Umar, adalah ciri utama kesesatan.
Dalam kitab Al-Fiqh al-Akbar, yang dinisbatkan kepada beliau, ditegaskan kewajiban mencintai seluruh Sahabat Nabi dan tidak membicarakan mereka kecuali dengan kebaikan. Beliau pernah memperingatkan tentang kelompok yang mengaku mencintai Ahlul Bait namun dengan cara membenci para Sahabat, karena hal itu akan merusak struktur periwayatan agama yang dibawa oleh para Sahabat tersebut.
2. Imam Malik bin Anas (Wafat 179 H)
Imam Malik, Imam Darul Hijrah, memiliki pandangan yang sangat keras terhadap kelompok Rafidhah (Syiah). Beliau secara eksplisit menyatakan bahwa mereka yang membenci Sahabat Nabi tidak memiliki hak dalam harta rampasan perang (fai') umat Islam, merujuk pada Surat Al-Hasyr.
Beliau juga pernah berkata tentang orang-orang yang mencela Sahabat Nabi:
"Sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang sebenarnya ingin mencela Nabi SAW, namun mereka tidak mampu melakukannya. Maka mereka mencela para Sahabat beliau agar orang-orang berkata: 'Dia adalah laki-laki yang buruk karena memiliki sahabat-sahabat yang buruk'."
Pandangan Imam Malik ini membongkar motif tersembunyi di balik ajaran Syiah, yaitu upaya meruntuhkan wibawa Rasulullah SAW secara tidak langsung melalui penghinaan terhadap murid-murid terdekat beliau.
3. Imam Asy-Syafi'i (Wafat 204 H)
Sebagai Imam yang mazhabnya paling banyak diikuti di Indonesia, pandangan Imam Asy-Syafi'i sangat krusial untuk dipahami. Beliau dikenal sebagai ahli dalam mendeteksi kejujuran periwayat hadits. Terkait Syiah, beliau memberikan peringatan keras tentang budaya dusta (Taqiyyah) yang mendarah daging dalam kelompok tersebut.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata:
"Aku belum pernah melihat di antara pengikut hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu (berdusta) melebihi kelompok Rafidhah." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi).
Bagi Imam Syafi'i, bahaya utama Syiah terletak pada ketidakjujuran ilmiah mereka. Ketika dusta dijadikan bagian dari agama, maka seluruh bangunan syariat yang mereka sampaikan menjadi tidak dapat dipercaya dan menyesatkan umat.
4. Imam Ahmad bin Hambal (Wafat 241 H)
Imam Ahmad bin Hambal adalah sosok yang paling gigih dalam mempertahankan sunnah dari berbagai fitnah ideologi. Beliau ditanya tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka beliau menjawab bahwa ia tidak melihat orang tersebut sebagai orang yang berada di atas Islam.
Beliau memandang bahwa Syiah Rafidhah telah keluar dari garis jamaah karena mereka tidak hanya berbeda dalam masalah politik, tetapi telah menyentuh ranah pengkafiran terhadap para Sahabat yang telah dijamin surga oleh Nabi SAW. Beliau melarang umat Islam untuk duduk bersama mereka, belajar dari mereka, atau mengambil riwayat dari mereka karena rusaknya akidah mereka.
Benang Merah Pandangan Para Imam
Jika kita merangkum pandangan keempat Imam Mazhab di atas, terdapat beberapa titik bahaya yang mereka sepakati terkait ajaran Syiah:
Penghancuran Fondasi Agama: Dengan mencela Sahabat, Syiah secara otomatis memutus mata rantai penyampaian Al-Quran dan Hadits.
Legalitas Kebohongan: Doktrin Taqiyyah menjadikan pengikutnya sulit dipercaya dalam urusan agama maupun dunia.
Memecah Belah Umat: Ajaran ini menanamkan kebencian terhadap generasi awal Islam, yang memicu disintegrasi di tengah masyarakat Muslim.
Kesesatan Akidah: Menempatkan Imam pada derajat yang melampaui manusia biasa (maksum) dianggap sebagai bentuk penyimpangan dari konsep tauhid dan kesempurnaan risalah Nabi.
Kesimpulan: Mengikuti Jejak Para Imam
Umat Islam di Indonesia, yang mayoritas mengikuti Mazhab Syafi'i, seharusnya mengikuti ketegasan Imam Asy-Syafi'i dalam mewaspadai ajaran ini. Pandangan para Imam Mazhab bukan sekadar fatwa sejarah, melainkan panduan akidah yang relevan sepanjang zaman. Menjauhkan diri dari pengaruh Syiah berarti menjaga kehormatan Rasulullah SAW, para Sahabat beliau, dan kemurnian syariat yang telah diwariskan secara turun-temurun kepada kita.
Sebagaimana pesan para Imam, cinta kepada Ahlul Bait adalah kewajiban, namun menjadikannya alasan untuk membenci Sahabat dan memutarbalikkan agama adalah kesesatan yang nyata.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: