Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Menganggap Al-Qur’an yang Ada Sekarang Tidak Lengkap?

Syiahindonesia.com - Salah satu isu paling krusial dan mendasar yang membedakan antara akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan sekte Syiah adalah pandangan terhadap keotentikan Al-Qur’an. Bagi setiap Muslim, meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita hari ini—dari Surah Al-Fatihah hingga An-Nas—adalah kalam Allah yang sempurna, terjaga, dan tidak mengalami perubahan sedikit pun adalah rukun iman yang tidak bisa ditawar. Namun, dalam berbagai literatur klasik dan fundamental Syiah, terdapat doktrin yang sangat mengkhawatirkan mengenai Tahrif (perubahan atau pengurangan) Al-Qur’an. Mereka mengklaim bahwa Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh para Sahabat Nabi (khususnya pada masa Abu Bakar dan Utsman bin Affan) telah mengalami pembuangan ayat-ayat yang berkaitan dengan hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi.


Akar Doktrin Tahrif dalam Kitab-Kitab Syiah

Keyakinan bahwa Al-Qur’an tidak lengkap bukanlah sekadar tuduhan tanpa dasar, melainkan tercantum dalam kitab-kitab rujukan utama mereka (Kutubul Arba'ah). Salah satu ulama besar mereka, Al-Kulaini, dalam kitab Al-Kafi—yang kedudukannya bagi Syiah setara dengan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah—meriwayatkan sebuah pernyataan yang mengejutkan:

مَا ادَّعَى أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَنَّهُ جَمَعَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَمَا أُنْزِلَ إِلَّا كَذَّابٌ، وَمَا جَمَعَهُ وَحَفِظَهُ كَمَا نَزَّلَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَالْأَئِمَّةُ مِنْ بَعْدِهِ

"Tidak ada seorang pun dari manusia yang mengaku telah mengumpulkan Al-Qur'an seluruhnya sebagaimana yang diturunkan kecuali ia adalah pembohong. Dan tidak ada yang mengumpulkan serta menghafalnya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Ta'ala kecuali Ali bin Abi Thalib dan para Imam setelahnya." (Al-Kafi, juz 1, hal. 227).

Narasi ini membangun opini di kalangan pengikutnya bahwa Mushaf Utsmani yang kita baca hari ini adalah "produk" para Sahabat yang (menurut klaim mereka) telah mengkhianati wasiat Nabi, sehingga orisinalitasnya diragukan.


Alasan Di Balik Tuduhan Ketidaklengkapan Al-Qur'an

Mengapa mereka harus membangun narasi bahwa Al-Qur'an saat ini tidak lengkap? Terdapat motif teologis yang sangat kuat di baliknya:

1. Ketiadaan Nama Imam dalam Al-Qur'an

Sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, Syiah menjadikan Imamah sebagai rukun iman. Namun, kenyataannya nama Ali bin Abi Thalib atau 12 Imam tidak disebutkan secara eksplisit dalam satu ayat pun. Untuk menutupi "lubang" besar ini, muncul klaim bahwa sebenarnya nama-nama tersebut ada dalam Al-Qur'an yang asli, namun telah dihapus oleh para Sahabat.

2. Legitimasi Mushaf Fatimah

Dalam tradisi mereka, dikenal adanya Mushaf Fatimah. Mereka mengklaim bahwa mushaf ini tiga kali lipat lebih besar dari Al-Qur'an yang ada sekarang dan berisi rahasia-rahasia ketuhanan serta nama-nama pemimpin hingga hari kiamat. Dengan menganggap Al-Qur'an saat ini tidak lengkap, mereka memberikan ruang bagi pengkultusan terhadap "mushaf rahasia" yang diklaim hanya dipegang oleh para Imam mereka.

3. Delegitimasi Peran Sahabat Nabi

Dengan menuduh bahwa Al-Qur'an telah diubah, mereka secara tidak langsung meruntuhkan kredibilitas para Sahabat sebagai penyampai wahyu. Jika para Sahabat dituduh berani mengubah kitab suci, maka otomatis seluruh hadits dan ajaran yang diriwayatkan oleh para Sahabat (seperti Abu Hurairah, Aisyah, Umar bin Khattab) menjadi gugur di mata pengikut Syiah.


Bantahan Telak dari Al-Qur'an dan Fakta Sejarah

Tuduhan bahwa Al-Qur'an tidak lengkap adalah bentuk pengingkaran terhadap janji Allah SWT. Allah telah menjamin penjagaan kitab suci ini secara langsung dalam Surah Al-Hijr ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."

Fakta yang harus dipahami umat:

  • Janji Allah Mutlak: Jika ada yang meyakini Al-Qur'an telah dikurangi atau diubah, maka ia secara tidak langsung menganggap Allah gagal menepati janji-Nya dalam ayat di atas. Ini adalah kekufuran yang nyata.

  • Kesepakatan Ali bin Abi Thalib: Jika benar Al-Qur'an yang dikumpulkan Utsman bin Affan itu salah atau tidak lengkap, mengapa Ali bin Abi Thalib—saat beliau menjadi Khalifah ke-4—tidak menggantinya dengan "Al-Qur'an yang asli"? Faktanya, Ali justru menggunakan, mendukung, dan menyebarkan mushaf yang sama dengan yang dikumpulkan oleh Abu Bakar dan Utsman.

  • Mutawatir: Al-Qur'an sampai kepada kita melalui jalur mutawatir (diriwayatkan oleh sangat banyak orang yang mustahil bersepakat untuk bohong). Keraguan terhadap satu huruf saja dalam Al-Qur'an berarti meruntuhkan seluruh fondasi agama Islam.


Sikap Waspada terhadap Strategi "Penyelamatan"

Di Indonesia, tokoh-tokoh mereka seringkali melakukan Taqiyyah dengan menyatakan bahwa mereka juga menggunakan Al-Qur'an yang sama. Namun, di saat yang sama, mereka tetap menjadikan kitab-kitab yang berisi doktrin Tahrif sebagai rujukan utama dalam pengajian tertutup mereka.

Umat Islam harus jeli melihat perbedaan antara "pengakuan lisan" untuk mencari simpati dengan "keyakinan kitabiah" yang menjadi dasar ideologi mereka. Menghargai perbedaan adalah satu hal, namun membiarkan doktrin yang merusak kesucian Al-Qur'an masuk ke tengah-tengah umat adalah hal yang harus dicegah secara tegas.

Kesimpulan

Menganggap Al-Qur’an tidak lengkap bukan hanya sekadar perbedaan pendapat ilmiah, melainkan serangan terhadap jantung keimanan Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan penuh bahwa Al-Qur’an yang kita baca saat ini adalah wahyu Allah yang murni, tanpa tambahan maupun pengurangan. Segala bentuk paham yang meragukan otentisitas Al-Qur'an dengan alasan apa pun—termasuk demi membela kepentingan politik imamah—adalah ajaran yang menyimpang dari jalan yang benar.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: