Syiahindonesia.com - Dalam diskursus mengenai perpecahan umat Islam, salah satu titik paling krusial dan menyakitkan adalah sikap sekte Syiah terhadap dua sahabat terbaik Rasulullah ﷺ, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma. Bagi mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), kedua sosok ini adalah pilar utama kejayaan Islam setelah wafatnya Nabi. Namun, dalam kacamata ideologi Syiah, kedudukan keduanya justru diputarbalikkan secara ekstrem. Jawaban atas pertanyaan apakah Syiah menganggap mereka sebagai pengkhianat adalah: Ya, bahkan lebih dari sekadar pengkhianat. Dalam literatur-literatur rujukan utama mereka, Abu Bakar dan Umar diposisikan sebagai musuh besar, perampas hak ilahi, dan penyebab penderitaan Ahlul Bait.
1. Tuduhan Perampasan Kepemimpinan (Ghashab)
Akar dari tuduhan pengkhianatan ini bermula dari peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah segera setelah Rasulullah ﷺ wafat. Syiah meyakini bahwa Nabi ﷺ telah memberikan wasiat eksplisit agar Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti beliau (khalifah). Oleh karena itu, terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama—yang kemudian dilanjutkan oleh Umar—dianggap oleh Syiah sebagai tindakan pengkhianatan terhadap wasiat Nabi.
Mereka menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Ghashib (perampas). Dalam keyakinan Syiah, tindakan mengambil alih kepemimpinan ini bukan sekadar ijtihad politik, melainkan pelanggaran terhadap perintah Allah SWT. Pandangan ini sangat bertentangan dengan fakta sejarah bahwa Ali bin Abi Thalib sendiri pada akhirnya membaiat para khalifah tersebut demi menjaga ukhuwah dan persatuan umat.
2. Doktrin Dua Berhala Quraisy
Kesesatan Syiah mencapai puncaknya dalam sebuah doa atau mantra yang sangat masyhur di kalangan mereka, yaitu doa Sanamay Quraish (Dua Berhala Quraisy). Dalam ritual ini, mereka menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai dua berhala yang harus dilaknat. Mereka menuduh kedua sahabat agung ini sebagai penyebab segala kerusakan yang terjadi dalam Islam hingga hari kiamat.
Penghinaan ini adalah luka mendalam bagi umat Islam, karena Allah SWT telah menjamin keridhaan-Nya kepada orang-orang yang berhijrah dan berbaiat, di mana Abu Bakar dan Umar adalah barisan terdepan. Allah Ta'ala berfirman:
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka menjanjikan setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18).
Bagaimana mungkin seseorang yang telah diridhai oleh Allah dan diketahui isi hatinya oleh Sang Pencipta bisa dianggap sebagai pengkhianat dan berhala?
3. Fitnah Terhadap Tragedi Pintu Fatimah
Untuk memperkuat narasi pengkhianatan, Syiah menciptakan dongeng sejarah yang sangat keji. Mereka mengeklaim bahwa Umar bin Khattab melakukan penyerangan ke rumah Fatimah Az-Zahra (putri Nabi) untuk memaksa Ali membaiat Abu Bakar. Dalam dongeng ini, Umar dituduh mendobrak pintu rumah hingga menjepit Fatimah yang sedang hamil, mengakibatkan beliau keguguran dan akhirnya wafat.
Ulama Sunni secara tegas menyatakan bahwa cerita ini adalah fiksi dan kebohongan yang sengaja diciptakan untuk memicu kebencian emosional pengikut Syiah terhadap Umar. Secara logika, tidak mungkin Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai "Singa Allah" (Asadullah) akan diam saja jika istrinya dizalimi secara fisik. Narasi ini hanyalah alat propaganda untuk memposisikan Umar sebagai penjahat kemanusiaan.
4. Tuduhan Mengubah Syariat
Syiah juga menuduh Umar bin Khattab sebagai orang yang melakukan pengkhianatan intelektual dengan mengubah hukum-hukum Allah. Mereka menuduh Umar mengharamkan Nikah Mut'ah yang menurut mereka halal, dan menambahkan kalimat dalam adzan subuh (Ash-shalatu khairum minan naum).
Padahal, dalam pandangan Sunni, ijtihad-ijtihad Umar selalu didasari oleh prinsip-prinsip syariat yang kuat dan sering kali selaras dengan wahyu yang turun. Rasulullah ﷺ bersabda mengenai keistimewaan Umar:
إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ
"Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran itu melalui lisan Umar dan hatinya." (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
5. Pengkafiran dalam Kitab-Kitab Rujukan Syiah
Dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini, yang merupakan otoritas tertinggi hadits Syiah, terdapat riwayat-riwayat yang secara eksplisit menyatakan bahwa siapa pun yang mendahulukan Abu Bakar dan Umar di atas Ali, maka ia telah murtad. Tokoh-tokoh Syiah modern mungkin mencoba menutup-nutupi hal ini dengan dalih "persatuan Islam" (Taqiyyah), namun kitab-kitab rujukan mereka tetap mengajarkan bahwa kedua sahabat ini adalah simbol kejahatan.
Majlisi, seorang ulama besar Syiah dalam kitab Biharul Anwar, bahkan menyatakan bahwa iman seseorang tidak akan diterima kecuali ia berlepas diri (Bara') dari Abu Bakar dan Umar. Ini menunjukkan bahwa kebencian kepada dua sahabat ini adalah bagian dari rukun beragama dalam Syiah.
6. Dampak Ideologi Ini Bagi Indonesia
Penyebaran paham yang menganggap Abu Bakar dan Umar sebagai pengkhianat sangat berbahaya bagi stabilitas Indonesia karena:
Menghancurkan Ukhuwah: Bagaimana bisa berdialog secara jujur jika satu pihak menganggap tokoh yang paling dihormati oleh pihak lain sebagai kafir dan pengkhianat?
Radikalisasi Pemikiran: Doktrin kebencian ini mencetak individu-individu yang penuh dendam sejarah dan mudah diprovokasi untuk melakukan konflik horisontal.
Penistaan Agama: Menghina sahabat Nabi yang dijamin masuk surga adalah bentuk penistaan terhadap esensi ajaran Islam itu sendiri.
Kesimpulan
Sangat jelas bahwa dalam ajaran Syiah, Abu Bakar dan Umar tidak hanya dianggap sebagai pengkhianat, tetapi juga sebagai sumber segala malapetaka dalam sejarah Islam. Tuduhan ini dibangun di atas pondasi kebohongan sejarah, penafsiran ayat yang diselewengkan, dan pengkultusan terhadap individu. Sebagai umat Islam yang mencintai Nabi dan para sahabatnya, kita harus tegas menolak narasi ini. Mencintai Ali bin Abi Thalib tidak mengharuskan kita membenci Abu Bakar dan Umar. Justru, Islam yang kaffah adalah yang mencintai seluruh keluarga Nabi dan seluruh sahabat beliau tanpa kecuali, sebagaimana yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: