Syiahindonesia.com - Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi sumber utama ajaran agama. Seluruh hukum, akidah, dan petunjuk kehidupan dalam Islam bersumber dari wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui malaikat Jibril. Sepanjang sejarah Islam, umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini adalah Al-Qur’an yang sama sebagaimana yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ tanpa perubahan, pengurangan, maupun penambahan. Namun dalam kajian kritis terhadap literatur dan pemikiran Syiah, ditemukan sejumlah pandangan yang menimbulkan kontroversi terkait sikap mereka terhadap Al-Qur’an.
Kedudukan Al-Qur’an dalam Islam
Dalam Islam, Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Allah sendiri menjamin penjagaan tersebut dalam firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa Al-Qur’an tidak akan mengalami perubahan sedikit pun. Para sahabat Rasulullah ﷺ telah menghafal, menulis, dan menyebarkan Al-Qur’an secara mutawatir sehingga mustahil terjadi perubahan dalam kitab suci tersebut.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya berpegang kepada Al-Qur’an:
تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitab Allah dan Sunnahku.”
(HR. Malik)
Pandangan Syiah tentang Al-Qur’an dalam Literatur Mereka
Dalam kajian terhadap kitab-kitab klasik Syiah, beberapa ulama mereka pernah mengemukakan pandangan yang menyatakan bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan atau pengurangan. Pandangan ini dikenal dengan istilah tahrif Al-Qur’an.
Sebagian literatur Syiah bahkan menyebut adanya ayat-ayat yang menurut mereka berkaitan dengan keutamaan para imam Ahlul Bait namun tidak terdapat dalam mushaf yang beredar di kalangan umat Islam.
Pandangan semacam ini tentu bertentangan dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini bahwa Al-Qur’an terjaga secara sempurna sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an.
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa keyakinan adanya perubahan dalam Al-Qur’an adalah keyakinan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Posisi Para Sahabat dalam Penjagaan Al-Qur’an
Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap Syiah terhadap Al-Qur’an adalah pandangan mereka terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, para sahabat memiliki kedudukan yang sangat mulia karena merekalah generasi yang menerima langsung ajaran Islam dari Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir namun berkasih sayang sesama mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)
Para sahabatlah yang menghafal dan menuliskan Al-Qur’an. Pada masa khalifah Abu Bakar dan kemudian pada masa khalifah Utsman bin Affan, Al-Qur’an dikumpulkan dan disalin menjadi mushaf yang kemudian disebarkan ke berbagai wilayah Islam.
Namun dalam sebagian pandangan Syiah, beberapa sahabat dipandang negatif. Pandangan ini kemudian menimbulkan keraguan terhadap proses kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan oleh para sahabat.
Mushaf Utsmani dan Konsensus Umat Islam
Mushaf Al-Qur’an yang digunakan oleh umat Islam saat ini dikenal sebagai Mushaf Utsmani, yaitu mushaf yang disusun pada masa khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه.
Proses penyusunan mushaf ini dilakukan dengan sangat hati-hati oleh para sahabat yang ahli dalam Al-Qur’an, di antaranya:
-
Zaid bin Tsabit
-
Abdullah bin Zubair
-
Sa’id bin Al-Ash
-
Abdurrahman bin Al-Harits
Mereka mengumpulkan Al-Qur’an berdasarkan hafalan para sahabat dan catatan yang ditulis pada masa Rasulullah ﷺ. Hasilnya kemudian disepakati oleh seluruh sahabat tanpa adanya perbedaan.
Ijma’ para sahabat ini menjadi bukti kuat bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini adalah Al-Qur’an yang autentik.
Al-Qur’an dan Konsep Imamah dalam Syiah
Dalam ajaran Syiah, konsep imamah memiliki kedudukan yang sangat penting. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah ﷺ harus berada pada garis keturunan tertentu dari Ahlul Bait.
Sebagian penafsiran Syiah terhadap Al-Qur’an sering kali diarahkan untuk mendukung konsep imamah tersebut.
Sebagai contoh, beberapa ayat Al-Qur’an ditafsirkan secara khusus untuk menunjukkan bahwa ayat tersebut merujuk kepada para imam dalam ajaran Syiah.
Namun dalam tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ayat-ayat tersebut memiliki makna yang lebih luas dan tidak terbatas pada satu kelompok tertentu.
Bahaya Penafsiran yang Dipaksakan
Salah satu masalah serius dalam sebagian tafsir Syiah adalah kecenderungan untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan doktrin imamah.
Padahal dalam Islam, penafsiran Al-Qur’an harus mengikuti kaidah yang benar, yaitu:
-
Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an
-
Menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Rasulullah ﷺ
-
Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman para sahabat
-
Menafsirkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang benar
Tanpa mengikuti metode ini, penafsiran Al-Qur’an dapat menyimpang dari makna yang sebenarnya.
Allah berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An’am: 153)
Pentingnya Menjaga Kemurnian Al-Qur’an
Bagi umat Islam, menjaga kemurnian Al-Qur’an adalah kewajiban besar. Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, tetapi juga pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Karena itu, setiap upaya yang meragukan keaslian Al-Qur’an atau menafsirkannya secara menyimpang harus diwaspadai.
Sejak masa Rasulullah ﷺ hingga saat ini, jutaan umat Islam telah menghafal Al-Qur’an. Tradisi hafalan ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya.
Tidak ada kitab lain di dunia yang dijaga dengan cara seperti Al-Qur’an.
Kesimpulan
Kajian kritis terhadap sikap Syiah terhadap Al-Qur’an menunjukkan adanya sejumlah pandangan yang menimbulkan kontroversi dalam dunia Islam. Beberapa literatur Syiah mengandung pandangan yang mempertanyakan kesempurnaan mushaf Al-Qur’an atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara khusus untuk mendukung doktrin imamah.
Pandangan semacam ini tentu bertentangan dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini bahwa Al-Qur’an terjaga keasliannya sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an.
Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang Al-Qur’an dan metode tafsir yang benar agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni.
Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta mengikuti pemahaman para sahabat, umat Islam dapat menjaga kemurnian agama dari berbagai penyimpangan pemikiran yang muncul sepanjang sejarah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: