Breaking News
Loading...

Khomaini Bukan Keturunan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم ), Tapi Ayahnya British, Ibunya Kashmir India (2)

Zulkarnain Elmaduri 

Selama lebih dari dua dekade setelah revolusi, berbagai konflik yang melibatkan Iran—termasuk perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun—menyebabkan korban jiwa yang sangat besar di kedua belah pihak.

Salah satu momen yang sering dikutip dalam berbagai tulisan terjadi ketika Khomeini kembali ke Iran dari Prancis pada awal tahun 1979 dengan pesawat Iran Air. Dalam penerbangan tersebut seorang wartawan bertanya kepadanya mengenai perasaannya setelah kembali ke Iran.

Khomeini menjawab singkat:

“Tidak ada apa-apa.”

Pertanyaan itu kemudian diulang, dan jawabannya tetap sama:

“Tidak ada apa-apa.”

Ringkasan Latar Belakang Khomeini

Pada tahun 1964, Ayatollah Shariatmadari dan Ayatollah Golpayegani memberikan gelar Ayatollah kepada Ruhollah Khomeini. Pemberian gelar tersebut dilaporkan dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya, karena saat itu Khomeini sedang menghadapi tuduhan pengkhianatan terhadap Shah Iran. Dalam sejumlah laporan disebutkan bahwa Duta Besar Inggris di Iran juga mendorong agar hukuman mati terhadap Khomeini tidak dilaksanakan.

Ayatollah Shariatmadari memiliki kedudukan lebih tinggi dalam hierarki ulama Syiah dibandingkan Khomeini. Namun setelah Revolusi Iran tahun 1979, ketika Khomeini mengambil alih kekuasaan, Shariatmadari ditempatkan dalam tahanan rumah dan dibatasi aktivitas keagamaannya.

Beberapa tulisan menyebutkan bahwa Khomeini bukan berasal dari keturunan Persia. Disebutkan bahwa ia tidak lahir di Iran dan tidak memiliki darah Persia, baik dari garis ayah maupun ibu. Ibunya disebut berasal dari Kashmir, India. Dalam narasi tersebut juga disebutkan bahwa kemudian muncul kisah yang mengaitkan ayahnya sebagai seorang dari Kashmir yang memiliki keturunan Iran. Senator Iran Moussavi disebut mengetahui identitas ayah Khomeini yang sebenarnya, dan menurut beberapa laporan ia kemudian dieksekusi.

Disebutkan pula bahwa ayah Khomeini adalah William Richard Williamson, yang lahir di Bristol, Inggris, pada tahun 1872 dari keluarga Inggris. Kesaksian mengenai hal ini dikaitkan dengan seorang mantan pegawai Iran di Anglo-Iranian Oil Company (yang kemudian menjadi British Petroleum – BP) yang disebut mengenal keluarga Khomeini. Pada tahun 1979, ketika Kolonel Archie Chisholm, pejabat politik BP dan mantan editor The Financial Times, ditanya mengenai hal tersebut, ia tidak memberikan konfirmasi maupun penyangkalan secara tegas.

 Biografi William Richard Williamson sendiri pernah ditulis pada awal 1950-an oleh jurnalis Inggris Stanton Hope dalam buku berjudul Arabian Adventurer: The Story of Haji Williamson. Penulis tersebut disebut pernah bertemu Williamson di rumahnya di dekat Basra pada akhir 1940-an.

Menurut sejumlah kisah, pada usia sekitar 20 tahun Richard Williamson bekerja di Yaman Selatan dalam kepolisian setempat. Penampilannya yang menarik disebut membuat Sultan Fazl bin-Ali, penguasa Lahej, membujuknya meninggalkan kepolisian untuk tinggal bersamanya. Setelah itu ia kemudian berpindah kepada seorang syekh lain, Yousef Ibrahim, yang memiliki hubungan keluarga dengan dinasti Al-Sabah, penguasa Kuwait.

Pada masa itu Inggris sedang mengeksploitasi ladang minyak di Iran. Williamson yang telah memeluk Islam kemudian bekerja bersama British Petroleum sebagai pejabat politik dan menggunakan nama Haji Abdullah Fazl Zobeiri.

Williamson disebut sering berlibur ke Kashmir dan menikah beberapa kali dengan perempuan Arab maupun India. Anak-anaknya kemudian menempuh pendidikan agama. Salah satu putranya disebut pergi ke kota suci Qom di Iran dan menggunakan nama Khomeini.

Pada awal 1960-an, Khomeini mulai melakukan gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Pada tahun 1964 ia dijatuhi hukuman mati, namun setelah memperoleh gelar Ayatollah, hukuman tersebut tidak dilaksanakan.

Dalam sejumlah laporan disebutkan bahwa pada tahun 1979 Khomeini diterbangkan dari Prancis ke Iran, dan kemudian mengambil alih kekuasaan setelah jatuhnya monarki.

Pada tahun yang sama, Imam Musa Sadr, pemimpin Syiah Lebanon yang lahir di Iran dan sangat dihormati di dunia Syiah, menghilang secara misterius di Libya ketika melakukan kunjungan ke negara tersebut.

Media arus utama sering menggambarkan bahwa kejatuhan Shah Iran terjadi karena kekuatan rakyat dan bahwa badan intelijen Barat seperti CIA dan MI6 tidak memperkirakan peristiwa tersebut. Namun sejumlah laporan lain menyebutkan adanya dugaan bahwa badan intelijen Barat memiliki peran dalam perubahan rezim tersebut.

Dalam narasi tersebut disebutkan bahwa Shah dianggap terlalu nasionalis, mirip dengan kebijakan yang pernah ditempuh Presiden Mesir Jamal Abdul-Naser, terutama dalam masalah minyak dan kebijakan ekonomi.

Sebagian laporan menyatakan bahwa CIA tidak menginginkan kelompok demokrat kiri mengambil alih kekuasaan setelah jatuhnya Shah karena mereka dianggap sulit dikendalikan. Dalam konteks itu, para ulama Syiah disebut sebagai kekuatan alternatif yang kemudian muncul dalam perubahan politik Iran.

Siaran Radio Free Iran pernah menyatakan bahwa ketika berada di Qom, Ayatollah Khomeini menerima tunjangan bulanan dari pihak Inggris dan memiliki hubungan komunikasi dengan pihak tersebut.

Pada 19 Januari 1980, International Herald Tribune melaporkan bahwa Shah pernah mengatakan dua tahun sebelum ia digulingkan bahwa ia memperoleh informasi dari dua sumber yang berkaitan dengan perusahaan minyak bahwa akan terjadi perubahan rezim di Iran.

Shah juga menyatakan:

“Kami percaya ada rencana untuk mengurangi jumlah minyak yang ditawarkan ke pasar dunia agar harga minyak turun. Satu negara harus dipilih sebagai pengorbanan… dan tampaknya negara yang dipilih untuk menurunkan produksinya adalah negara saya.”

Laporan lain yang dikutip oleh The Guardian menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak internasional juga memiliki peran dalam perubahan politik tersebut.

Beberapa kebijakan nasional Shah yang disebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan kekuatan asing antara lain:

Reformasi agraria, yaitu pembelian tanah dari kelas bangsawan untuk kemudian dijual kembali dengan harga murah kepada para petani. Lebih dari 1,5 juta orang menjadi pemilik tanah dan sistem feodal lama berakhir.

Pemberian hak pilih kepada perempuan serta kebijakan sosial yang mengurangi kewajiban penggunaan cadar di ruang publik.

Rencana pembangunan program tenaga nuklir senilai sekitar 90 miliar dolar.

Penandatanganan perjanjian minyak dengan perusahaan Italia ENI, yang membuka kerja sama baru di luar dominasi perusahaan Barat lainnya.

Upaya untuk menutup industri opium, yang menurut sejumlah laporan berkembang pada masa pengaruh Inggris di kawasan tersebut.

 Pandangan Dr. John Coleman tentang Faktor Opium dalam Kejatuhan Shah

Mantan perwira intelijen Dr. John Coleman berpendapat bahwa faktor perdagangan opium memainkan peran penting dalam kejatuhan Shah Iran. Pandangan tersebut ia tuliskan dalam bukunya Conspirators’ Hierarchy: The Story of the Committee of 300. Namun, Coleman sering pula digambarkan oleh sebagian kalangan sebagai penulis teori konspirasi.

Menurut Coleman, pemerintah Amerika Serikat turut berperan dalam menjatuhkan Shah Iran. Ia menulis bahwa penyebab utama penggulingan Shah berkaitan dengan perdagangan narkotika.

Dalam tulisannya ia menyatakan:

“Mengapa Shah digulingkan?

 Jawabannya sederhana: karena narkoba.

 Shah telah menindak keras dan hampir menghentikan perdagangan opium yang sangat menguntungkan yang beroperasi dari Iran oleh pihak Inggris.”

Coleman menambahkan bahwa ketika Shah mulai memegang kekuasaan di Iran, jumlah pecandu opium dan heroin di negara tersebut diperkirakan telah mencapai satu juta orang.

Ia berpendapat bahwa kebijakan Shah yang berusaha menekan perdagangan opium tidak dapat diterima oleh pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari perdagangan tersebut. Dalam kerangka hubungan khusus antara Inggris dan Amerika Serikat, Coleman menyatakan bahwa Inggris kemudian mendorong Amerika Serikat untuk mengambil langkah yang berujung pada jatuhnya Shah.

Setelah Ayatollah Khomeini mengambil alih kekuasaan dan krisis penyanderaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran terjadi, menurut Coleman hubungan perdagangan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak sepenuhnya terhenti. Penjualan senjata yang sebelumnya telah dimulai pada masa pemerintahan Shah disebut masih berlanjut dalam berbagai bentuk.

Coleman juga menyatakan bahwa setelah tahun 1984, sikap pemerintahan Iran terhadap opium menjadi lebih longgar sehingga jumlah pecandu meningkat hingga sekitar dua juta orang, berdasarkan data yang ia kaitkan dengan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ia menambahkan bahwa baik Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter maupun penerusnya Ronald Reagan tetap melanjutkan pengiriman senjata ke Iran meskipun krisis penyanderaan warga Amerika masih berlangsung.

Dalam tulisannya, Coleman menyebutkan bahwa kesepakatan mengenai perdagangan senjata tersebut dibahas dalam pertemuan antara Cyrus Vance, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dengan Dr. Hashemi dari pihak Iran. Setelah pertemuan tersebut, menurut Coleman, Angkatan Udara Amerika Serikat mulai melakukan pengangkutan senjata ke Iran.

Pengiriman tersebut disebut berasal dari persediaan militer Amerika Serikat di Jerman dan sebagian lainnya diterbangkan langsung dari Amerika Serikat dengan pemberhentian pengisian bahan bakar di Azores.

Narasi ini dipandang oleh para pendukungnya sebagai gambaran mengenai sisi lain dari dinamika politik yang mengiringi Revolusi Iran dan kejatuhan Shah. Namun, berbagai pandangan mengenai peristiwa tersebut tetap menjadi bahan perdebatan di kalangan peneliti dan sejarawan hingga saat ini.



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: