Syiahindonesia.com - Fenomena penyebaran ajaran Syiah di Indonesia bukan sekadar persoalan perbedaan fiqih atau cabang pemikiran dalam Islam, tetapi menyangkut fondasi akidah, metodologi beragama, dan arah ideologi umat. Dalam beberapa dekade terakhir, terlihat adanya pola tertentu yang memperlihatkan kedekatan sebagian pemikir Syiah kontemporer dengan gagasan sekularisme, relativisme kebenaran, bahkan pemikiran ateistik. Artikel ini bertujuan mengkaji fenomena tersebut secara ilmiah, mendalam, dan argumentatif agar umat Islam Indonesia lebih waspada terhadap infiltrasi pemikiran yang dapat merusak kemurnian tauhid dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
1. Memahami Syiah: Dari Sejarah hingga Doktrin Inti
Untuk memahami potensi kedekatan Syiah dengan sekularisme dan ateisme, terlebih dahulu kita perlu memahami fondasi ajaran Syiah itu sendiri. Secara historis, Syiah muncul sebagai kelompok politik yang mendukung kepemimpinan Ali bin Abi Thalib pasca wafatnya Muhammad ﷺ. Namun dalam perkembangannya, Syiah berubah menjadi mazhab teologis dengan doktrin yang sangat berbeda dari Ahlus Sunnah.
Beberapa doktrin utama Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam) antara lain:
-
Konsep Imamah sebagai rukun agama.
-
Keyakinan bahwa para imam ma’shum (terjaga dari dosa).
-
Doktrin raj’ah (kembalinya imam ke dunia).
-
Sikap kritis bahkan mencela sebagian sahabat Nabi ﷺ.
Padahal Allah Ta’ala telah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)
Sikap Syiah terhadap sahabat inilah yang menjadi titik krusial, karena membuka pintu relativisme terhadap transmisi wahyu (Al-Qur’an dan Hadits).
2. Konsep Imamah dan Potensi Absolutisme Kekuasaan
Dalam ajaran Syiah, imam memiliki otoritas spiritual dan politik yang absolut. Sebagian literatur Syiah klasik menyebut imam memiliki ilmu laduni dan mengetahui perkara ghaib dengan izin Allah.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan terhadap Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Ketika seorang manusia diberi atribut kemaksuman dan otoritas absolut setelah Nabi ﷺ, maka secara konseptual terjadi pergeseran pusat otoritas agama dari wahyu kepada figur tertentu. Hal ini membuka peluang manipulasi teks dan tafsir sesuai kepentingan politik.
3. Relativisme dan Pendekatan Hermeneutika Modern
Dalam perkembangan intelektual modern, sebagian pemikir Syiah kontemporer di Iran dan Barat mengadopsi pendekatan hermeneutika, relativisme kebenaran, serta gagasan pluralisme agama. Tokoh-tokoh pemikir di lingkungan Iran pasca Revolusi 1979 misalnya, menunjukkan kecenderungan reinterpretasi teks agama dengan pendekatan filsafat Barat modern.
Sekularisme pada dasarnya memisahkan agama dari ruang publik dan politik. Dalam praktiknya, meski Syiah secara teori mengusung konsep Wilayatul Faqih, di beberapa konteks internasional, kelompok Syiah justru mendukung sistem demokrasi liberal sekuler sebagai strategi politik minoritas.
Kedekatan dengan relativisme inilah yang menjadi pintu masuk ke arah pemikiran ateistik. Jika kebenaran menjadi relatif dan tafsir tidak lagi terikat pada pemahaman salaf, maka fondasi absolut tauhid dapat tergerus.
4. Kritik terhadap Sahabat dan Dampaknya terhadap Otoritas Wahyu
Syiah memiliki sikap kritis terhadap sebagian sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Padahal mayoritas riwayat hadits dan transmisi Al-Qur’an bersumber melalui mereka.
Jika kredibilitas sahabat diruntuhkan, maka secara tidak langsung keabsahan hadits dan bahkan mushaf Al-Qur’an ikut dipertanyakan. Inilah celah yang sering dimanfaatkan orientalis dan pemikir ateis untuk menyerang otentisitas Islam.
Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Ahlus Sunnah meyakini penjagaan Allah melalui para sahabat dan generasi terbaik. Sedangkan kritik ekstrem terhadap sahabat membuka ruang bagi skeptisisme ala Barat modern.
5. Syiah, Revolusi, dan Aliansi Politik Global
Dalam dinamika geopolitik, kelompok Syiah sering membangun aliansi strategis dengan kelompok kiri, sosialis, bahkan sekuler demi kepentingan politik. Hal ini terlihat dalam beberapa gerakan revolusioner abad ke-20.
Pendekatan pragmatis ini sering kali membuat batas antara ideologi Islam dan ideologi sekuler menjadi kabur. Padahal Islam adalah sistem hidup yang sempurna dan menyeluruh.
Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian…” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Islam tidak membutuhkan tambahan filsafat Barat untuk menjadi relevan.
6. Pola Infiltrasi Pemikiran di Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim Sunni menjadi target strategis penyebaran Syiah. Metodenya antara lain:
-
Penyusupan melalui lembaga pendidikan.
-
Pendekatan budaya dan tasawuf.
-
Dialog pluralisme antaragama.
-
Penyebaran buku-buku filsafat dan kritik hadits.
Sering kali pendekatan yang digunakan bukan frontal, melainkan intelektual dan kultural. Generasi muda yang tertarik pada filsafat dan kritik sosial menjadi sasaran empuk.
Relativisme yang diperkenalkan secara halus dapat berkembang menjadi skeptisisme terhadap syariat, lalu berujung pada sekularisme, bahkan nihilisme.
7. Perbedaan Prinsipil dengan Ahlus Sunnah
Ahlus Sunnah wal Jamaah berpegang pada:
-
Al-Qur’an
-
Sunnah Nabi ﷺ
-
Pemahaman sahabat
-
Ijma’ dan qiyas yang sahih
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي
“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku.” (HR. Abu Dawud)
Syiah menolak legitimasi Khulafaur Rasyidin selain Ali bin Abi Thalib, sehingga terjadi perbedaan mendasar dalam sumber otoritas agama.
8. Antisipasi Penyebaran Syiah di Indonesia
Untuk menjaga kemurnian akidah umat, diperlukan langkah strategis:
-
Penguatan Pendidikan Akidah sejak dini.
-
Literasi Sejarah Islam yang objektif dan berbasis riwayat sahih.
-
Kritis terhadap Buku dan Media Sosial yang membawa narasi relativistik.
-
Dakwah Digital yang sistematis dan ilmiah.
Umat Islam Indonesia perlu memahami bahwa menjaga akidah bukan berarti membenci individu, tetapi melindungi kemurnian tauhid.
Kesimpulan
Kedekatan sebagian pemikiran Syiah dengan relativisme, sekularisme, dan bahkan potensi ateisme bukanlah tuduhan kosong, melainkan hasil analisis terhadap doktrin, sejarah, dan perkembangan intelektual modern mereka. Dengan melemahkan otoritas sahabat dan membuka pintu tafsir bebas, fondasi absolut Islam dapat tergerus.
Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia harus waspada terhadap infiltrasi pemikiran yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Islam telah sempurna, dan keselamatan umat terletak pada mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik.
Semoga Allah menjaga negeri ini dari segala bentuk penyimpangan akidah dan meneguhkan kita di atas jalan yang lurus.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: