Breaking News
Loading...

Perbedaan Mendasar antara Ahlus Sunnah dan Syiah dalam Akidah

Syiahindonesia.com - Dalam sejarah perkembangan Islam, umat Muslim secara umum terbagi dalam beberapa kelompok pemikiran. Di antara yang paling dikenal adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syiah. Perbedaan antara keduanya bukan hanya sekadar masalah fiqih atau cabang ibadah, tetapi menyentuh aspek paling fundamental dalam agama, yaitu akidah. Karena itu, banyak ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa memahami perbedaan ini sangat penting agar umat Islam tidak keliru dalam memahami ajaran agama. Terlebih di Indonesia, penyebaran ajaran Syiah sering dilakukan secara masif dan terkadang tidak disampaikan secara terbuka sejak awal, sehingga masyarakat awam perlu memiliki pemahaman yang jelas tentang perbedaan mendasar antara Ahlus Sunnah dan Syiah dalam akidah.


Pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kelompok umat Islam yang berpegang teguh kepada:

  1. Al-Qur’an

  2. Sunnah Rasulullah ﷺ

  3. Pemahaman para sahabat Nabi

Istilah ini merujuk kepada umat Islam yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dalam akidah, ibadah, serta manhaj beragama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي

“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin setelahku.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadits ini menjadi dasar bahwa Ahlus Sunnah mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ serta pemahaman para sahabat dalam menjalankan agama.


Pengertian Syiah

Secara bahasa, kata Syiah berarti “kelompok” atau “pengikut”. Dalam sejarah Islam, istilah ini merujuk kepada kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Namun dalam perkembangannya, Syiah membentuk sistem akidah dan teologi yang berbeda dari mayoritas umat Islam. Banyak ajaran dalam tradisi Syiah yang tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun sunnah Nabi secara sahih.

Karena itu, perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah tidak hanya bersifat politik, tetapi berkembang menjadi perbedaan akidah yang sangat mendasar.


Perbedaan dalam Sumber Ajaran Agama

Perbedaan pertama dan paling fundamental terletak pada sumber ajaran agama.

Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah menetapkan sumber agama sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an

  2. Sunnah Nabi yang sahih

  3. Ijma’ para sahabat

  4. Qiyas dalam fiqih

Semua ajaran agama harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan hadits yang sahih.

Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)


Syiah

Dalam tradisi Syiah, selain Al-Qur’an dan hadits, terdapat otoritas besar yang diberikan kepada para imam. Riwayat yang dinisbatkan kepada imam sering dijadikan sumber hukum dan akidah.

Hal ini membuat sebagian ajaran Syiah tidak bersumber langsung dari sunnah Rasulullah ﷺ, melainkan dari perkataan imam-imam mereka.


Perbedaan Konsep Kepemimpinan (Imamah)

Salah satu perbedaan terbesar antara Ahlus Sunnah dan Syiah adalah konsep kepemimpinan umat Islam.

Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah meyakini bahwa pemimpin umat dipilih melalui musyawarah (syura).

Allah berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Karena itu, para sahabat memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama melalui musyawarah.


Syiah

Syiah meyakini bahwa kepemimpinan umat telah ditentukan secara ilahi kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Konsep ini dikenal sebagai imamah, yang dianggap sebagai bagian penting dari akidah dalam Syiah.

Sebagian ulama Syiah bahkan menyatakan bahwa iman seseorang belum sempurna tanpa meyakini imamah para imam.

Namun konsep ini tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an sebagai rukun iman.


Perbedaan Sikap terhadap Para Sahabat

Perbedaan lain yang sangat penting adalah sikap terhadap para sahabat Nabi.

Sikap Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah mencintai dan memuliakan seluruh sahabat Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini menunjukkan bahwa para sahabat mendapatkan keridhaan Allah.


Sikap dalam Literatur Syiah

Dalam sebagian literatur Syiah, terdapat pandangan yang sangat kritis bahkan mencela sebagian sahabat Nabi.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, Ahlus Sunnah memandang bahwa menghormati sahabat adalah bagian dari menjaga kemurnian ajaran Islam.


Perbedaan Konsep Kemaksuman

Dalam akidah Ahlus Sunnah, sifat maksum (terjaga dari dosa) hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul.

Namun dalam ajaran Syiah, para imam diyakini memiliki sifat ismah atau kemaksuman.

Sebagian literatur Syiah bahkan menyatakan bahwa para imam memiliki pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Padahal Al-Qur’an menegaskan:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah: tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu gaib hanya milik Allah.


Perbedaan dalam Praktik Ibadah

Selain dalam akidah, terdapat pula beberapa perbedaan dalam praktik ibadah.

Beberapa praktik yang berbeda antara lain:

  • Cara shalat

  • Penggabungan waktu shalat tanpa uzur

  • Praktik sujud di atas turbah (tanah tertentu)

  • Ritual berkabung pada peristiwa Karbala

Sebagian praktik tersebut tidak dikenal dalam sunnah Nabi yang sahih menurut pemahaman Ahlus Sunnah.


Pentingnya Pemahaman Akidah yang Benar

Akidah adalah fondasi utama dalam Islam. Jika akidah seseorang menyimpang, maka seluruh praktik ibadahnya juga dapat terpengaruh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan…”

Dalam hadits tersebut Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa umat Islam juga akan mengalami perpecahan, dan golongan yang selamat adalah yang mengikuti jalan beliau dan para sahabatnya.

Karena itu, memahami akidah yang benar menjadi kewajiban setiap Muslim.


Kesimpulan

Perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syiah bukan sekadar perbedaan kecil dalam fiqih, tetapi menyangkut prinsip dasar dalam akidah Islam. Perbedaan tersebut meliputi sumber ajaran agama, konsep kepemimpinan umat, sikap terhadap para sahabat, hingga keyakinan tentang kemaksuman imam.

Ahlus Sunnah berpegang teguh kepada Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, serta pemahaman para sahabat sebagai generasi terbaik umat Islam. Sementara itu, dalam tradisi Syiah terdapat sejumlah konsep teologis yang berkembang di luar kerangka tersebut.

Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia perlu memahami perbedaan ini secara jelas agar dapat menjaga kemurnian akidah dan tetap berpegang pada ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: