Syiahindonesia.com - Salah satu perbedaan paling mendasar antara Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Syiah adalah sikap terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Dalam akidah Ahlus Sunnah, para sahabat memiliki kedudukan yang sangat mulia karena mereka adalah generasi pertama yang menerima, menjaga, dan menyebarkan ajaran Islam. Namun dalam sebagian literatur Syiah, terdapat pandangan yang sangat kritis bahkan sampai pada tingkat pengkafiran terhadap mayoritas sahabat Nabi ﷺ. Pandangan ini bukan sekadar perbedaan sejarah, tetapi menyentuh fondasi kepercayaan terhadap transmisi agama. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam memahami mengapa pandangan tersebut muncul dan bagaimana implikasinya terhadap akidah Islam secara keseluruhan.
Kedudukan Sahabat dalam Islam
Para sahabat Nabi ﷺ adalah generasi yang hidup bersama Rasulullah, menyaksikan turunnya wahyu, serta berjuang bersama beliau dalam menegakkan agama Islam. Karena itu, kedudukan mereka sangat tinggi dalam ajaran Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah meridhai para sahabat yang pertama kali memeluk Islam dan berjuang bersama Nabi ﷺ.
Di antara sahabat yang sangat dikenal dalam sejarah Islam adalah:
-
Abu Bakar
-
Umar bin Khattab
-
Utsman bin Affan
-
Ali bin Abi Thalib
Keempat tokoh ini dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin yang memimpin umat Islam setelah wafatnya Muhammad ﷺ.
Pandangan Syiah terhadap Sahabat
Dalam sebagian ajaran Syiah, terdapat keyakinan bahwa sebagian besar sahabat telah menyimpang setelah wafatnya Nabi ﷺ karena tidak memberikan kepemimpinan kepada Ali bin Abi Thalib.
Menurut pandangan tersebut, kepemimpinan umat seharusnya secara langsung berada di tangan Ali sebagai penerus yang ditunjuk oleh Nabi ﷺ. Karena kepemimpinan akhirnya berada di tangan Abu Bakar, maka sebagian tokoh sahabat dianggap telah melanggar wasiat Nabi menurut narasi tersebut.
Dari sinilah muncul kritik keras terhadap sebagian sahabat dalam literatur Syiah.
Doktrin Imamah sebagai Akar Permasalahan
Akar utama dari pandangan ini terletak pada doktrin Imamah dalam teologi Syiah. Imamah bukan sekadar kepemimpinan politik, tetapi dianggap sebagai bagian dari rukun agama.
Dalam doktrin ini, imam dipandang sebagai pemimpin spiritual yang ditunjuk secara ilahi dan memiliki otoritas khusus dalam menafsirkan agama.
Karena itu, jika seseorang menolak kepemimpinan imam yang dianggap telah ditetapkan oleh Allah, maka ia dianggap telah melakukan penyimpangan besar.
Pandangan inilah yang kemudian membuat sebagian literatur Syiah memandang sebagian sahabat sebagai pihak yang “menyimpang”.
Konflik Politik dalam Sejarah Islam
Sebagian pandangan Syiah juga dipengaruhi oleh konflik politik yang terjadi dalam sejarah awal Islam.
Beberapa peristiwa penting antara lain:
-
perdebatan tentang kepemimpinan setelah wafatnya Nabi ﷺ
-
konflik politik pada masa kekhalifahan
-
tragedi Karbala yang menewaskan Husain bin Ali
Peristiwa-peristiwa sejarah ini kemudian ditafsirkan dalam kerangka teologi Syiah sehingga melahirkan narasi bahwa keluarga Nabi ﷺ dizalimi oleh sebagian sahabat.
Padahal para ulama sejarah menegaskan bahwa banyak konflik tersebut bersifat politik dan tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai akidah para sahabat secara keseluruhan.
Sikap Ahlus Sunnah terhadap Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki prinsip yang jelas dalam menyikapi para sahabat Nabi ﷺ.
Prinsip tersebut antara lain:
-
Mengakui keutamaan seluruh sahabat.
-
Tidak mencela mereka.
-
Menahan diri dari perdebatan tentang konflik yang terjadi di antara mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela para sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa mencela sahabat merupakan perbuatan yang sangat dilarang.
Para sahabatlah yang membawa Al-Qur’an dan Sunnah kepada generasi setelah mereka.
Dampak Teologis Mengkafirkan Sahabat
Menganggap sebagian besar sahabat telah menyimpang memiliki dampak teologis yang sangat besar.
Beberapa implikasinya antara lain:
1. Meragukan Transmisi Hadits
Mayoritas hadits Nabi ﷺ diriwayatkan melalui para sahabat. Jika mereka dianggap tidak terpercaya, maka seluruh sistem periwayatan hadits menjadi dipertanyakan.
2. Meragukan Penjagaan Al-Qur’an
Al-Qur’an juga sampai kepada umat Islam melalui para sahabat. Jika mereka dianggap tidak amanah, maka muncul keraguan terhadap proses penjagaan Al-Qur’an.
Padahal Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)
3. Membuka Pintu Perpecahan Umat
Sikap memusuhi para sahabat dapat menimbulkan perpecahan besar dalam tubuh umat Islam.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan persatuan dan persaudaraan sesama Muslim.
Pandangan Ulama tentang Sikap terhadap Sahabat
Banyak ulama besar dalam sejarah Islam menegaskan pentingnya menjaga kehormatan para sahabat.
Di antara mereka adalah:
-
Ahmad ibn Hanbal
-
Ibn Taymiyyah
-
Al-Ghazali
Para ulama tersebut sepakat bahwa mencela sahabat bertentangan dengan prinsip dasar Ahlus Sunnah.
Mereka menekankan bahwa para sahabat adalah generasi terbaik dalam sejarah Islam.
Kesimpulan
Perbedaan sikap terhadap sahabat merupakan salah satu perbedaan paling mendasar antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Dalam pandangan Syiah, doktrin Imamah menjadi dasar untuk mengkritik bahkan mengkafirkan sebagian sahabat yang dianggap tidak mendukung kepemimpinan tertentu setelah wafatnya Nabi ﷺ.
Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa seluruh sahabat memiliki kedudukan yang mulia dan telah dipilih oleh Allah untuk mendampingi Rasulullah ﷺ dalam menyebarkan Islam.
Menjaga kehormatan para sahabat berarti menjaga keaslian sejarah dan transmisi ajaran Islam itu sendiri. Karena melalui merekalah Al-Qur’an dan Sunnah sampai kepada umat hingga hari ini.
Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami sejarah Islam secara adil dan objektif, serta menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama dalam memahami akidah dan sejarah umat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: