Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Berusaha Menghancurkan Persatuan Umat Islam?

 


Syiahindonesia.com -
Persatuan umat Islam merupakan perintah langsung dari Allah ﷻ dan menjadi fondasi kekuatan kaum Muslimin sejak masa Rasulullah ﷺ. Namun dalam sejarah panjang Islam, muncul berbagai aliran yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menyebabkan perpecahan. Salah satu yang paling kontroversial adalah Syiah. Di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyebaran ajaran ini menjadi penting karena dampaknya bukan hanya teologis, tetapi juga sosial dan politik. Artikel ini akan mengulas secara rinci, historis, dan argumentatif mengapa ajaran Syiah dinilai berpotensi merusak persatuan umat Islam serta bagaimana umat dapat mengantisipasinya.


1. Perintah Al-Qur’an tentang Persatuan Umat

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini menjadi dasar utama bahwa perpecahan adalah sesuatu yang dilarang. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا... وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian tiga perkara... agar kalian berpegang pada tali Allah dan tidak berpecah belah.”
(HR. Muslim)

Dalam perspektif Ahlus Sunnah, setiap ajaran yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman sahabat berpotensi memicu perpecahan.


2. Akar Historis Munculnya Syiah

Secara sejarah, Syiah muncul pasca wafatnya Rasulullah ﷺ terkait persoalan kepemimpinan (imamah). Kelompok ini menganggap bahwa kepemimpinan umat harus berada di tangan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan keturunannya.

Beberapa sejarawan menyebut nama Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh awal yang menanamkan ide ekstrem tentang pengkultusan Ali. Dalam perkembangannya, Syiah mengalami transformasi menjadi berbagai sekte, seperti:

  • Syiah Itsna ‘Asyariyah (Imam Dua Belas)

  • Syiah Ismailiyah

  • Syiah Zaidiyah

Namun mayoritas Syiah di dunia saat ini mengikuti aliran Itsna ‘Asyariyah yang berpusat di Iran.


3. Doktrin Imamah dan Dampaknya terhadap Persatuan

Dalam ajaran Syiah Itsna ‘Asyariyah, imamah bukan sekadar kepemimpinan politik, melainkan bagian dari rukun agama. Mereka meyakini imam-imam mereka maksum (terjaga dari dosa dan kesalahan).

Konsep ini bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah yang meyakini bahwa kemaksuman hanya milik para nabi.

Implikasinya sangat besar:

  1. Menganggap mayoritas sahabat telah menyimpang setelah wafat Nabi ﷺ.

  2. Mengkafirkan atau menyesatkan tokoh-tokoh utama Islam.

  3. Menjadikan sejarah Islam awal sebagai konflik ideologis permanen.

Hal ini jelas menggerus fondasi persatuan umat.


4. Sikap terhadap Sahabat Nabi ﷺ

Ahlus Sunnah meyakini bahwa para sahabat adalah generasi terbaik sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Syiah ekstrem justru memiliki doktrin yang mencela sebagian besar sahabat, kecuali beberapa orang tertentu.

Padahal Allah ﷻ berfirman:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Jika generasi sahabat diragukan, maka transmisi Al-Qur’an dan Sunnah juga otomatis dipertanyakan. Inilah yang menjadi sumber kekhawatiran utama dalam konteks persatuan.


5. Konsep Taqiyah dan Ketidakjujuran Teologis

Syiah memiliki konsep taqiyah, yaitu menyembunyikan keyakinan demi keselamatan atau strategi. Dalam beberapa literatur mereka, taqiyah bahkan disebut sebagai bagian dari agama.

Secara syariat, menyembunyikan iman memang dibolehkan dalam kondisi terancam jiwa, sebagaimana firman Allah:

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
“Kecuali orang yang dipaksa sementara hatinya tetap tenang dalam iman.”
(QS. An-Nahl: 106)

Namun menjadikan taqiyah sebagai strategi permanen dalam dakwah jelas menciptakan ketidakpercayaan dan potensi konflik sosial.


6. Strategi Penyebaran di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas Muslim Sunni. Namun beberapa tahun terakhir muncul indikasi penyebaran paham Syiah melalui:

  • Lembaga pendidikan

  • Beasiswa luar negeri

  • Penerbitan buku-buku ideologis

  • Media digital dan media sosial

Metode penyebaran biasanya tidak frontal, tetapi bertahap melalui pendekatan intelektual dan emosional, khususnya kepada generasi muda.


7. Dampak Sosial dan Politik

Di beberapa negara Timur Tengah, konflik Sunni-Syiah telah memicu perang saudara berkepanjangan. Meskipun Indonesia memiliki karakter berbeda, potensi konflik tetap ada jika penyebaran ideologi sektarian tidak diantisipasi.

Persatuan umat Islam bukan sekadar isu teologis, tetapi juga menyangkut stabilitas nasional.


8. Cara Mengantisipasi Penyebaran Ajaran Syiah

1. Penguatan Akidah Ahlus Sunnah

Pendidikan akidah yang benar sejak dini sangat penting. Umat harus memahami manhaj sahabat dan tabi’in.

2. Literasi Keislaman yang Kuat

Masyarakat perlu mengenal perbedaan mendasar antara Sunni dan Syiah secara ilmiah, bukan emosional.

3. Peran Ulama dan Ormas Islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam perlu aktif memberikan edukasi dan klarifikasi terhadap ajaran menyimpang.

4. Dakwah yang Bijak dan Argumentatif

Penyampaian kritik terhadap Syiah harus berbasis dalil dan adab ilmiah, bukan provokasi.


9. Pentingnya Persatuan di Atas Manhaj yang Benar

Persatuan yang sejati bukan persatuan semu tanpa prinsip. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya: 92)

Persatuan harus dibangun di atas tauhid dan Sunnah, bukan kompromi akidah.


Kesimpulan

Ajaran Syiah dinilai berpotensi menghancurkan persatuan umat Islam karena:

  1. Doktrin imamah yang eksklusif dan bertentangan dengan ijma’ sahabat.

  2. Sikap terhadap sahabat yang merusak fondasi transmisi agama.

  3. Konsep taqiyah yang membuka ruang ketidakjujuran ideologis.

  4. Strategi penyebaran bertahap yang menyasar generasi muda.

Mengantisipasi penyebaran ajaran ini bukan berarti membenci individu penganutnya, tetapi menjaga kemurnian akidah dan stabilitas umat. Pendekatan yang ilmiah, dalil yang kuat, dan dakwah yang hikmah menjadi kunci utama.

Semoga Allah ﷻ menjaga Indonesia dan umat Islam dari perpecahan serta memberikan kita pemahaman agama yang lurus sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: