Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Memanfaatkan Perbedaan Pendapat di Kalangan Sunni untuk Menyesatkan Umat?

Syiahindonesia.com - Perbedaan pendapat di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama‘ah merupakan bagian dari dinamika ilmiah yang telah ada sejak masa para sahabat رضي الله عنهم, dan perbedaan tersebut lahir dari ijtihad yang jujur dalam memahami dalil Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ; namun dalam realitas kontemporer, perbedaan-perbedaan ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menimbulkan kebingungan, memperbesar jurang perselisihan, dan melemahkan persatuan umat, termasuk oleh kelompok Syiah yang menjadikannya sebagai celah strategis untuk menyusupkan ajaran mereka, membangun simpati, serta menampilkan diri seolah-olah sebagai alternatif solusi atas konflik internal yang terjadi di tubuh Sunni.


Perbedaan dalam Sunni: Ijtihad, Bukan Perpecahan Akidah

Sejak generasi sahabat, perbedaan pendapat telah terjadi dalam masalah-masalah fiqih, seperti tata cara ibadah, rincian hukum muamalah, dan persoalan cabang lainnya. Namun, perbedaan ini tidak menyentuh pokok akidah, seperti tauhid, kenabian, keimanan kepada Al-Qur’an, serta penghormatan terhadap seluruh sahabat Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ»
“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia mendapat dua pahala; dan jika ia berijtihad lalu keliru, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa perbedaan ijtihad adalah rahmat dan bagian dari keluasan syariat, bukan tanda kerusakan agama.


Strategi Syiah Membesar-besarkan Ikhtilaf

Salah satu cara yang sering digunakan Syiah adalah membesar-besarkan perbedaan fiqih di kalangan Sunni agar terlihat seperti perpecahan prinsipil. Misalnya, perbedaan tentang qunut Subuh, posisi tangan dalam shalat, atau masalah cabang lainnya ditampilkan seolah-olah sebagai bukti bahwa Sunni tidak memiliki kesatuan manhaj.

Padahal, seluruh mazhab fiqih Ahlus Sunnah tetap sepakat dalam pokok akidah: tauhid yang murni, keabsahan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, keadilan para sahabat, dan finalitas kenabian Muhammad ﷺ.

Dengan membesar-besarkan perbedaan cabang, Syiah mencoba menanamkan kesan bahwa sistem keilmuan Sunni tidak stabil, sehingga membuka ruang untuk menawarkan doktrin imamah sebagai solusi “kepemimpinan ilahi” yang mereka klaim lebih pasti.


Mengadu Domba Antar Kelompok Sunni

Syiah juga memanfaatkan konflik internal di kalangan Sunni, baik yang bersifat teologis maupun politik, untuk memperlemah kepercayaan umat terhadap ulama Ahlus Sunnah. Ketika terjadi perdebatan keras antara dua kelompok Sunni, narasi Syiah sering muncul dengan mengatakan bahwa akar masalahnya adalah ketiadaan imam maksum yang menjadi rujukan tunggal.

Padahal Allah Ta‘ala telah memberikan pedoman penyelesaian perselisihan:

﴿فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’: 59)

Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar bahwa penyelesaian perbedaan cukup dengan Al-Qur’an dan sunnah yang sahih, tanpa membutuhkan figur maksum setelah Rasulullah ﷺ.


Menyusup Melalui Isu Toleransi dan Persatuan

Dalam konteks Indonesia, Syiah sering memanfaatkan isu persatuan umat dan toleransi mazhab untuk masuk ke ruang-ruang dakwah dan pendidikan. Mereka menampilkan diri sebagai korban intoleransi dan mengajak kepada “dialog mazhab”, sementara di sisi lain tetap memegang doktrin yang menganggap mayoritas sahabat telah menyimpang.

Dengan strategi ini, perbedaan kecil di kalangan Sunni dijadikan alat untuk mengatakan bahwa semua mazhab sama saja, sehingga perbedaan akidah mendasar antara Sunni dan Syiah dianggap sepele.


Menggunakan Kutipan Ulama Sunni di Luar Konteks

Strategi lain yang sering digunakan adalah mengutip pernyataan ulama Sunni di luar konteks untuk membenarkan ajaran Syiah. Misalnya, ucapan seorang ulama tentang keutamaan Ahlul Bait dipelintir seolah-olah mendukung doktrin imamah atau kemaksuman imam.

Padahal, kecintaan kepada Ahlul Bait dalam Ahlus Sunnah tidak pernah sampai pada pengkultusan. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:

«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ»
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa bin Maryam.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi prinsip agar umat tidak terjatuh pada ghuluw (berlebihan), termasuk dalam mencintai keluarga Nabi.


Dampak bagi Umat Islam

Ketika perbedaan cabang diperbesar dan konflik internal Sunni dimanfaatkan, yang terjadi adalah kebingungan di kalangan umat awam. Mereka bisa saja menyimpulkan bahwa semua kelompok sama-sama berselisih, sehingga tidak ada lagi standar kebenaran yang jelas. Di titik inilah ajaran Syiah masuk dengan menawarkan struktur ideologi yang tampak rapi dan terpusat pada figur imam.

Jika tidak diantisipasi dengan ilmu dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, strategi ini dapat melemahkan identitas Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dan membuka ruang bagi penyimpangan akidah.


Sikap yang Seharusnya Diambil

Menghadapi upaya seperti ini, umat Islam perlu memahami bahwa perbedaan fiqih bukanlah kelemahan, melainkan kekayaan khazanah keilmuan Islam. Selama perbedaan tersebut berada dalam koridor dalil dan adab, ia tidak merusak persatuan akidah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Tali Allah adalah Al-Qur’an dan sunnah, bukan fanatisme kelompok atau manipulasi perbedaan.


Penutup

Bagaimana Syiah memanfaatkan perbedaan pendapat di kalangan Sunni untuk menyesatkan umat merupakan persoalan yang menuntut kewaspadaan dan kedalaman ilmu. Perbedaan ijtihad dalam Sunni tidak boleh dijadikan alasan untuk meragukan fondasi akidah yang kokoh. Dengan memahami hakikat ikhtilaf secara benar, menjaga adab dalam perbedaan, dan tetap berpegang pada Al-Qur’an serta sunnah yang sahih, umat Islam dapat menutup celah-celah yang sering dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran yang menyimpang dari manhaj generasi terbaik umat ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: