Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Menafsirkan Konsep Al-Bada’

Syiahindonesia.com - Di antara konsep teologis yang paling kontroversial dalam ajaran Syiah Imamiyah adalah doktrin Al-Bada’. Konsep ini berkaitan dengan takdir dan ilmu Allah ﷻ, serta menjadi titik perbedaan mendasar antara Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Syiah. Artikel ini akan membahas secara ilmiah dan sistematis apa itu Al-Bada’, bagaimana ia dipahami dalam literatur Syiah, serta di mana letak kekeliruannya menurut perspektif akidah Islam yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.


1. Apa Itu Al-Bada’ dalam Literatur Syiah?

Secara bahasa, al-bada’ (البداء) berarti “munculnya sesuatu setelah sebelumnya tersembunyi” atau “tampaknya suatu pendapat setelah sebelumnya tidak diketahui.”

Dalam sebagian literatur Syiah klasik, Al-Bada’ dipahami sebagai tampaknya suatu ketetapan baru dari Allah yang sebelumnya tidak diketahui atau berbeda dari ketetapan awal. Dalam sejumlah riwayat yang dinisbatkan kepada imam-imam Syiah disebutkan bahwa “tidak ada sesuatu yang diagungkan seperti Al-Bada’.”

Di sinilah letak persoalan besar: jika dipahami secara literal, maka Al-Bada’ dapat memberi kesan bahwa Allah ﷻ menetapkan sesuatu, lalu mengubahnya karena muncul pengetahuan baru. Pemahaman semacam ini bertentangan dengan akidah Islam yang menegaskan kesempurnaan ilmu Allah sejak azali.


2. Akidah Ahlus Sunnah tentang Ilmu dan Takdir Allah

Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Ilmu Allah bersifat azali dan sempurna, tidak bertambah dan tidak berkurang.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Dan sungguh Allah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.”
(QS. Ath-Thalaq: 12)

Dalam ayat lain:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya.”
(QS. Al-Hadid: 22)

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”
(HR. Muslim)

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa ilmu dan ketetapan Allah tidak mengalami perubahan karena ketidaktahuan sebelumnya.


3. Di Mana Letak Kesalahan dalam Konsep Al-Bada’?

Kesalahan mendasar dalam konsep Al-Bada’ versi ekstrem terletak pada implikasinya terhadap sifat Allah.

Jika Al-Bada’ dipahami sebagai “Allah baru mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak tahu,” maka ini mengandung tuduhan kekurangan terhadap ilmu Allah. Padahal Allah Maha Sempurna dan Maha Mengetahui.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah: 282)

Menetapkan bahwa Allah menetapkan sesuatu lalu mengubahnya karena pertimbangan baru berarti menyamakan Allah dengan makhluk yang terbatas ilmunya.


4. Klarifikasi: Apakah Perubahan Takdir Ada dalam Islam?

Ahlus Sunnah memang meyakini adanya takdir yang tampak berubah di sisi makhluk, seperti karena doa, sedekah, atau silaturahmi. Namun perubahan ini bukan berarti Allah baru mengetahui sesuatu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ
“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.”
(HR. Tirmidzi)

Para ulama menjelaskan bahwa yang berubah adalah takdir yang tertulis dalam catatan malaikat (takdir mu’allaq), bukan ilmu Allah di Lauh Mahfuzh yang bersifat mutlak.

Allah juga berfirman:

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.”
(QS. Ar-Ra’d: 39)

Ayat ini dipahami oleh Ahlus Sunnah bahwa penghapusan dan penetapan terjadi sesuai ilmu Allah yang telah sempurna, bukan karena muncul pengetahuan baru.


5. Implikasi Teologis yang Berbahaya

Jika konsep Al-Bada’ tidak diluruskan, maka ia berpotensi:

  1. Merusak keyakinan tentang kesempurnaan sifat Allah.

  2. Membuka pintu relativisme dalam akidah.

  3. Mengaburkan konsep takdir yang telah mapan dalam Islam.

Akidah Islam menegaskan bahwa Allah tidak pernah lupa, tidak pernah keliru, dan tidak pernah belajar dari pengalaman.

Allah ﷻ berfirman:

لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى
“Tuhanku tidak pernah salah dan tidak (pula) lupa.”
(QS. Thaha: 52)


6. Upaya Reinterpretasi Modern

Sebagian tokoh Syiah kontemporer mencoba menafsirkan Al-Bada’ sebagai “perubahan dalam manifestasi kehendak Allah kepada manusia,” bukan perubahan dalam ilmu Allah.

Namun, problemnya terletak pada literatur klasik mereka sendiri yang secara eksplisit menyebut Al-Bada’ dalam konteks yang problematik.

Dalam kajian ilmiah, konsistensi sumber menjadi penting. Jika sebuah doktrin dalam sumber utama mengandung makna yang bertentangan dengan tauhid, maka perlu koreksi mendasar.


7. Sikap yang Seharusnya Diambil Umat Islam

Menghadapi perbedaan teologis seperti ini, umat Islam perlu:

  • Memperkuat pemahaman akidah Ahlus Sunnah.

  • Mengkaji perbedaan secara ilmiah, bukan emosional.

  • Tidak mudah terpengaruh istilah teologis yang tampak indah tetapi bermasalah secara substansi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara; kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.”
(HR. Malik)


8. Kesimpulan

Konsep Al-Bada’ dalam teologi Syiah, jika dipahami sebagai perubahan dalam ilmu Allah, jelas bertentangan dengan prinsip tauhid dan kesempurnaan sifat Allah ﷻ. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan bahwa ilmu Allah bersifat azali, sempurna, dan tidak mengalami perubahan.

Perbedaan ini bukan sekadar masalah istilah, tetapi menyangkut fondasi akidah Islam. Oleh karena itu, edukasi akidah yang kuat dan berbasis dalil menjadi kunci dalam menjaga kemurnian iman umat Islam, khususnya di Indonesia.

Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari pemahaman yang menyimpang dan meneguhkan hati kita di atas kebenaran.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: