Syiahindonesia.com - Perkembangan industri film dan serial televisi dalam dua dekade terakhir telah menjadikan media visual sebagai salah satu sarana paling efektif dalam membentuk opini publik, termasuk dalam isu-isu keagamaan. Narasi sejarah, tokoh-tokoh Islam, dan peristiwa sensitif sering kali diangkat ke layar lebar maupun platform digital dengan pendekatan dramatik yang kuat. Dalam konteks ini, muncul kekhawatiran di kalangan sebagian umat Islam bahwa ada produksi film dan serial yang memuat perspektif teologis Syiah dan berpotensi memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan akidah Islam.
Pembahasan ini penting dilakukan secara ilmiah dan objektif, bukan untuk menyebarkan kebencian, melainkan untuk meningkatkan literasi umat terhadap bagaimana media dapat membentuk persepsi keagamaan.
Media sebagai Instrumen Pembentuk Persepsi
Film dan serial memiliki kekuatan besar dalam membangun emosi, simpati, dan identifikasi terhadap tokoh tertentu. Berbeda dengan buku ilmiah yang menuntut pembacaan kritis, media visual bekerja melalui dramatisasi, dialog emosional, dan simbolisme yang kuat. Ketika suatu produksi mengangkat tema sejarah Islam, terutama peristiwa sensitif seperti konflik politik awal Islam, tragedi Karbala, atau figur-figur sahabat Nabi, maka framing yang digunakan akan sangat memengaruhi cara penonton memahami peristiwa tersebut.
Masalah muncul ketika narasi yang disajikan bukan sekadar dramatisasi sejarah, melainkan mengandung interpretasi teologis tertentu yang tidak dijelaskan secara terbuka kepada penonton.
Penggambaran Sejarah yang Selektif
Beberapa produksi film dan serial yang berasal dari lingkungan teologis Syiah cenderung menampilkan peristiwa sejarah dari sudut pandang internal mazhab tersebut. Dalam beberapa kasus, tokoh-tokoh tertentu digambarkan secara sangat heroik dan suci, sementara tokoh lain yang dihormati dalam tradisi Ahlus Sunnah digambarkan secara negatif atau ambigu.
Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap berlebihan terhadap sejarah yang dapat menimbulkan perpecahan:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ
“Itu adalah umat yang telah berlalu; bagi mereka apa yang telah mereka usahakan dan bagi kalian apa yang kalian usahakan.”
(QS. Al-Baqarah: 134)
Ayat ini mengajarkan agar sejarah tidak dijadikan alat untuk memupuk kebencian antargolongan.
Dramatisasi yang Menguatkan Sentimen Sektarian
Film dan serial sering menggunakan teknik dramatisasi untuk membangkitkan simpati penonton. Tangisan, penderitaan, pengkhianatan, dan ketidakadilan ditampilkan secara intens sehingga membentuk emosi kolektif. Dalam konteks narasi Syiah, tragedi Karbala misalnya, sering diangkat dengan pendekatan emosional yang sangat kuat.
Masalahnya bukan pada pengisahan tragedi itu sendiri, tetapi ketika tragedi tersebut dikemas dengan framing teologis yang mengarah pada generalisasi kesalahan kelompok tertentu dalam Islam secara menyeluruh. Penonton awam yang tidak memiliki dasar ilmu sejarah atau ilmu hadis bisa dengan mudah menerima gambaran tersebut sebagai kebenaran mutlak.
Personalisasi dan Pengkultusan Tokoh
Media visual juga memiliki kecenderungan untuk membangun figur sentral yang sangat diagungkan. Dalam sejumlah produksi bernuansa Syiah, tokoh-tokoh tertentu ditampilkan dengan aura kesucian, pengetahuan luar biasa, dan sifat hampir tanpa cela. Sementara dalam akidah Ahlus Sunnah, penghormatan kepada Ahlul Bait tetap dalam koridor kemanusiaan dan tidak sampai pada pengkultusan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam melarang sikap berlebihan terhadap tokoh, sekalipun terhadap Nabi ﷺ sendiri. Maka sikap kritis terhadap penggambaran tokoh dalam film menjadi penting agar tidak melampaui batas syariat.
Minimnya Penjelasan Konteks Teologis
Banyak penonton tidak menyadari bahwa sebagian film sejarah Islam dibuat dengan latar belakang mazhab tertentu. Tanpa penjelasan konteks teologis, penonton bisa menyerap narasi tersebut sebagai representasi resmi sejarah Islam. Di sinilah letak potensi misinformasi.
Media jarang menjelaskan bahwa ada perbedaan pandangan antara mazhab dalam memahami peristiwa sejarah. Akibatnya, interpretasi Syiah dapat diterima secara luas oleh penonton yang tidak memiliki kemampuan membandingkan sumber.
Strategi Soft Power dan Budaya
Dalam studi komunikasi modern, dikenal istilah soft power, yaitu kemampuan memengaruhi melalui budaya, seni, dan media. Film dan serial menjadi bagian dari strategi ini karena lebih mudah diterima dibandingkan ceramah atau buku teologis.
Pengaruh budaya melalui media visual bisa berjalan perlahan namun efektif, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak mengonsumsi konten digital dibandingkan literatur klasik. Tanpa penguatan literasi akidah, umat Islam bisa saja mengadopsi pemahaman sejarah dan teologi yang tidak sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah.
Pentingnya Literasi Media bagi Umat
Solusi terhadap persoalan ini bukanlah pelarangan semata, melainkan peningkatan literasi media dan akidah. Umat perlu memahami bahwa tidak semua film sejarah Islam bersifat netral. Setiap produksi memiliki sudut pandang dan latar ideologis tertentu.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam menyaring informasi, termasuk informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan.
Peran Ulama dan Akademisi
Ulama, akademisi, dan pendidik memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan perbedaan mazhab secara objektif serta membekali umat dengan metodologi memahami sejarah Islam. Diskusi ilmiah yang sehat lebih efektif daripada reaksi emosional.
Dengan penguatan pemahaman Al-Qur’an, Sunnah, dan manhaj salaf, umat tidak akan mudah terpengaruh oleh narasi yang dibungkus secara dramatis dalam film dan serial.
Media adalah alat. Ia bisa digunakan untuk menyebarkan kebaikan maupun untuk menyampaikan perspektif tertentu yang memerlukan klarifikasi. Oleh karena itu, kesadaran kritis dan penguatan ilmu menjadi benteng utama agar umat Islam tetap kokoh dalam akidahnya di tengah arus industri hiburan global.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: