Syiahindonesia.com - Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan akses media sosial, penyebaran ajaran menyimpang tidak lagi dilakukan secara terang-terangan. Ia hadir dalam bentuk kajian, diskusi ilmiah, bahkan konten akademik yang tampak rapi dan sistematis. Salah satu bentuk penyimpangan yang perlu diwaspadai adalah penyebaran ajaran Syiah melalui kajian-kajian yang dikemas seolah-olah ilmiah, padahal sarat manipulasi dalil, pemelintiran sejarah, dan penyebaran fitnah terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Artikel ini akan mengupas secara mendalam bagaimana metode tersebut dilakukan serta bagaimana umat Islam di Indonesia dapat mengantisipasinya.
1. Memahami Akar Masalah: Apa Itu Syiah?
Secara historis, Syiah muncul sebagai kelompok politik yang kemudian berkembang menjadi sekte teologis. Mereka memiliki keyakinan pokok tentang imamah, yaitu bahwa kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi ﷺ harus berada di tangan keturunan tertentu.
Kelompok terbesar mereka saat ini adalah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, yang meyakini dua belas imam yang dianggap ma’shum (terjaga dari dosa). Keyakinan ini bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menegaskan bahwa kemaksuman hanya milik para nabi.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul.”
(QS. Ali ‘Imran: 144)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi ﷺ adalah rasul terakhir, bukan pewaris kekuasaan dinasti tertentu sebagaimana klaim Syiah tentang imamah ilahiah.
2. Strategi Penyebaran melalui Kajian Palsu
a. Menggunakan Istilah Akademik untuk Menipu Awam
Syiah sering mengadakan “kajian ilmiah”, “diskusi tafsir tematik”, atau “bedah sejarah Islam” dengan mengutip kitab-kitab klasik. Namun kutipan tersebut dipotong, dipelintir, atau diambil di luar konteks.
Misalnya, mereka mengutip riwayat-riwayat lemah untuk menuduh para sahabat berkhianat terhadap wasiat Nabi ﷺ. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela para sahabatku.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, larangan mencela sahabat sangat tegas. Namun dalam kajian Syiah, sahabat seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman justru sering dijadikan objek tuduhan.
b. Membungkus Propaganda dalam Isu Keadilan dan Ahlul Bait
Syiah sering mengangkat tema kecintaan kepada Ahlul Bait. Padahal mencintai Ahlul Bait adalah bagian dari akidah Sunni. Namun mereka menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyusupkan doktrin imamah dan pengkafiran sahabat.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
(QS. Al-Ahzab: 33)
Ayat ini sering dijadikan dalih bahwa Ahlul Bait memiliki sifat ma’shum. Padahal para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kemuliaan dan perintah menjaga kesucian, bukan penetapan kemaksuman absolut.
c. Menyebarkan Literatur dan Media Sosial
Penyebaran ajaran Syiah di Indonesia juga dilakukan melalui:
-
Buku terjemahan tokoh-tokoh Syiah
-
Channel YouTube bertema “sejarah Islam alternatif”
-
Grup Telegram dan WhatsApp kajian tertutup
-
Seminar dengan tema “persatuan umat”
Seringkali nama Syiah tidak disebutkan secara eksplisit, melainkan menggunakan istilah “mazhab Ahlul Bait” atau “Islam progresif”.
3. Pola Fitnah terhadap Sahabat Nabi ﷺ
Salah satu ciri utama kajian Syiah adalah:
-
Menuduh sahabat merampas kekhalifahan.
-
Mengklaim adanya penghapusan ayat Al-Qur’an.
-
Menyebarkan narasi bahwa mayoritas sahabat murtad setelah wafat Nabi ﷺ.
Padahal Allah ﷻ memuji para sahabat:
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menunjukkan kemuliaan para sahabat Muhajirin dan Anshar secara umum, bukan hanya segelintir orang.
4. Penyusupan ke Dunia Akademik
Beberapa lembaga pendidikan di Indonesia pernah diwarnai oleh dosen atau pemateri yang menyebarkan pemikiran Syiah secara terselubung. Biasanya mereka menggunakan pendekatan filsafat atau kritik sejarah.
Di sinilah pentingnya literasi akidah yang kuat. Umat Islam tidak boleh hanya terpukau oleh istilah ilmiah, tetapi harus memeriksa sumber dan sanad keilmuannya.
5. Bahaya Konsep Imamah dan Taqiyah
a. Imamah
Konsep imamah dalam Syiah bukan sekadar kepemimpinan politik, tetapi rukun agama. Mereka meyakini imam mengetahui hal gaib dan memiliki otoritas mutlak dalam penafsiran agama.
Ini bertentangan dengan firman Allah:
قُل لَّا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
“Katakanlah (Muhammad), aku tidak mengetahui yang gaib.”
(QS. Al-An’am: 50)
Jika Nabi ﷺ saja tidak mengetahui yang gaib kecuali yang diwahyukan, maka klaim bahwa imam mengetahui segala sesuatu jelas menyimpang.
b. Taqiyah
Taqiyah dalam Syiah sering dipraktikkan sebagai strategi menyembunyikan keyakinan demi tujuan tertentu. Dalam konteks dakwah terselubung, ini menjadi alat untuk menyusup tanpa terdeteksi.
Akibatnya, kajian-kajian yang terlihat netral bisa saja berisi doktrin Syiah yang tidak disadari peserta.
6. Dampak Sosial dan Keutuhan Umat
Penyebaran fitnah melalui kajian palsu dapat menyebabkan:
-
Perpecahan di masjid dan kampus
-
Kecurigaan antar sesama Muslim
-
Pelemahan ukhuwah Islamiyah
-
Konflik horizontal
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim harus waspada agar tidak terpecah oleh ajaran yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
7. Langkah Antisipasi dan Solusi
1. Menguatkan Akidah Sejak Dini
Pendidikan tauhid dan manhaj salaf harus diperkuat di sekolah, pesantren, dan keluarga.
2. Selektif Memilih Kajian
Pastikan ustaz atau pemateri memiliki sanad keilmuan jelas dan diakui ulama Ahlus Sunnah.
3. Mengkaji Sejarah dari Sumber Shahih
Gunakan referensi dari kitab-kitab yang diakui validitasnya dalam tradisi Sunni.
4. Menghindari Diskusi Emosional
Lawan penyimpangan dengan ilmu, bukan caci maki. Dakwah harus tetap berakhlak.
Allah ﷻ berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
8. Kesimpulan
Kajian-kajian palsu yang disebarkan Syiah di Indonesia bukan sekadar diskusi ilmiah biasa, melainkan strategi sistematis untuk menyebarkan doktrin imamah, merusak citra sahabat Nabi ﷺ, dan menanamkan narasi kebencian terhadap sejarah Islam yang sahih.
Umat Islam harus waspada, memperkuat pemahaman akidah, serta memastikan setiap kajian yang diikuti bersumber dari ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya. Dengan ilmu yang benar dan sikap yang bijak, fitnah dapat diantisipasi sebelum menyebar luas.
Semoga Allah menjaga negeri ini dari perpecahan dan memberikan hidayah kepada seluruh umat Islam agar tetap istiqamah di atas kebenaran.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: