Salah satu sebab utama mengapa Syiah menganggap Al-Qur’an tidak lengkap adalah keterikatan mereka pada doktrin imamah. Dalam keyakinan Syiah, kepemimpinan umat Islam harus berada di tangan para imam yang mereka anggap maksum. Ketika realitas sejarah tidak sesuai dengan doktrin ini, maka Al-Qur’an pun dituduh tidak mencantumkan ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut imamah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan keturunannya. Dari sinilah muncul klaim bahwa ayat-ayat tersebut telah dihilangkan atau disembunyikan oleh para sahabat Nabi ﷺ.
Dalam sejumlah kitab rujukan Syiah klasik, ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan adanya tahrif (perubahan) Al-Qur’an. Riwayat-riwayat ini menuduh bahwa sebagian ayat telah dihapus karena dianggap tidak menguntungkan pihak tertentu. Tuduhan semacam ini secara langsung merusak kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan para sahabat yang menjadi perantara penyampaian wahyu kepada umat.
Padahal Allah ﷻ secara tegas menjamin keutuhan Al-Qur’an. Allah berfirman:
﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)
Ayat ini merupakan jaminan langsung dari Allah ﷻ bahwa Al-Qur’an akan tetap terjaga sepanjang zaman. Mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak lengkap berarti meragukan janji Allah sendiri, sebuah sikap yang sangat berbahaya dalam akidah Islam.
Selain itu, Syiah juga memandang bahwa para sahabat Nabi ﷺ tidak dapat dipercaya dalam menjaga wahyu. Mereka menuduh mayoritas sahabat telah berkhianat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Akibatnya, proses pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan oleh para sahabat dipandang sebagai proses yang cacat dan sarat manipulasi. Pandangan ini bertentangan secara total dengan Al-Qur’an yang justru memuji para sahabat dan menegaskan keimanan mereka.
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ … رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar … Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Jika Allah ﷻ telah meridhai para sahabat, maka menuduh mereka mengkhianati Al-Qur’an adalah tuduhan yang bertentangan dengan nash Al-Qur’an itu sendiri.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa Al-Qur’an telah disampaikan secara sempurna kepada umatnya. Dalam hadis sahih, beliau bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي
“Aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat setelahku.”
(HR. Malik dan Al-Hakim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah telah cukup dan sempurna sebagai pedoman hidup, tanpa memerlukan tambahan tersembunyi atau ayat rahasia sebagaimana diklaim oleh Syiah.
Sebagian tokoh Syiah modern memang berusaha menutupi atau melunakkan isu tahrif Al-Qur’an dengan mengatakan bahwa keyakinan tersebut hanya milik ulama Syiah terdahulu. Namun faktanya, kitab-kitab klasik mereka masih diajarkan dan dijadikan rujukan, sehingga benih keraguan terhadap Al-Qur’an tetap hidup di kalangan pengikut Syiah.
Bahaya dari keyakinan bahwa Al-Qur’an tidak lengkap sangat besar. Jika Al-Qur’an diragukan keasliannya, maka seluruh bangunan syariat Islam akan runtuh. Hukum-hukum Islam, akidah, dan akhlak tidak lagi memiliki landasan yang kokoh. Inilah sebab mengapa para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan tegas menolak ajaran Syiah dan memperingatkan umat dari penyimpangan ini.
Umat Islam di Indonesia harus memahami bahwa menjaga kemurnian Al-Qur’an adalah bagian dari menjaga iman. Setiap ajaran yang menuduh Al-Qur’an telah berubah, dikurangi, atau tidak lengkap, pada hakikatnya adalah ajaran yang merusak Islam dari dalam. Jalan yang selamat adalah mengikuti keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci yang sempurna, terjaga, dan cukup sebagai petunjuk hidup hingga akhir zaman.
(albert/syiahindonesia.com)
0 komentar: