Syiahindonesia.com - Dunia akademik Islam memiliki posisi strategis dalam membentuk cara berpikir umat, karena dari kampus, lembaga riset, jurnal ilmiah, dan forum kajianlah lahir narasi keagamaan yang kemudian dianggap “ilmiah” dan “objektif”. Dalam konteks inilah ajaran Syiah kerap menggunakan jalur akademik sebagai pintu masuk untuk menyebarkan ideologi mereka secara halus, sistematis, dan sulit terdeteksi oleh masyarakat awam. Penyusupan ini tidak selalu dilakukan secara frontal melalui dakwah terbuka, melainkan lewat pendekatan intelektual, wacana toleransi, dan klaim pluralisme pemikiran Islam.
1. Strategi Intelektual sebagai Pintu Masuk Ideologi
Salah satu cara utama Syiah menyusup ke dunia akademik Islam adalah dengan mengemas ajarannya sebagai “mazhab alternatif” yang setara dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam forum akademik, Syiah jarang diperkenalkan sebagai sekte menyimpang, melainkan sebagai “varian pemikiran Islam” yang diklaim memiliki legitimasi historis dan teologis. Pendekatan ini membuat mahasiswa dan akademisi pemula menganggap perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah persoalan furu’ (cabang), bukan perbedaan mendasar dalam akidah.
Padahal, banyak doktrin Syiah menyentuh pokok-pokok akidah, seperti konsep imamah, kemaksuman imam, tahrif Al-Qur’an, dan sikap terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Namun semua ini sering disamarkan dengan bahasa akademik yang terdengar netral dan rasional.
2. Penguasaan Literatur dan Produksi Karya Ilmiah
Syiah sangat aktif memproduksi buku, jurnal, disertasi, dan artikel ilmiah yang membahas sejarah Islam dari sudut pandang mereka. Karya-karya ini sering masuk ke perpustakaan kampus, menjadi referensi skripsi dan tesis, bahkan dijadikan rujukan resmi dalam mata kuliah tertentu. Dengan cara ini, narasi Syiah perlahan dianggap sebagai “pendapat ilmiah” yang sah.
Masalahnya, banyak karya tersebut ditulis dengan metode selektif, mengutip sumber-sumber Syiah sendiri, dan mengabaikan ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sejarah Islam dipelintir, para sahabat Nabi ﷺ digambarkan negatif, dan konflik politik awal Islam disajikan sebagai bukti keabsahan doktrin imamah.
3. Penggunaan Isu Toleransi dan Moderasi
Isu toleransi beragama dan moderasi Islam sering dijadikan tameng untuk melindungi penyebaran ideologi Syiah di lingkungan akademik. Setiap kritik terhadap ajaran Syiah kerap dilabeli sebagai “intoleran”, “anti-keberagaman”, atau “tidak ilmiah”. Akibatnya, diskusi kritis terhadap Syiah menjadi tabu, sementara promosi pemikiran Syiah justru dianggap sebagai bagian dari kebebasan akademik.
Padahal Islam mengajarkan toleransi tanpa mengorbankan akidah. Allah ﷻ berfirman:
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa persatuan harus dibangun di atas kebenaran, bukan di atas kompromi terhadap penyimpangan akidah.
4. Penetrasi melalui Dosen, Peneliti, dan Forum Ilmiah
Penyusupan Syiah juga terjadi melalui individu-individu yang memiliki posisi strategis di dunia akademik, seperti dosen, peneliti, atau pembicara seminar. Dengan otoritas ilmiah yang mereka miliki, pandangan Syiah disampaikan seolah-olah sebagai hasil kajian objektif, bukan sebagai propaganda mazhab.
Dalam seminar atau konferensi, topik-topik seperti “Sejarah Awal Islam”, “Ahlul Bait”, atau “Kepemimpinan dalam Islam” sering dijadikan pintu masuk untuk menyelipkan doktrin imamah dan kritik terhadap sahabat Nabi ﷺ, namun dengan bahasa akademik yang tersamar.
5. Pengaburan Batas antara Kajian Akademik dan Dakwah Ideologis
Kajian akademik sejatinya menuntut objektivitas dan keterbukaan metodologi. Namun dalam banyak kasus, kajian Syiah di dunia akademik justru berubah menjadi dakwah ideologis yang terselubung. Mahasiswa tidak dibekali kemampuan kritis untuk membedakan antara fakta sejarah, tafsir ideologis, dan keyakinan mazhab.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya tentang bahaya penyimpangan ilmu. Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ketika ilmu tidak lagi dibimbing oleh ulama yang lurus akidahnya, penyimpangan akan mudah menyebar.
6. Dampak terhadap Generasi Muslim Terpelajar
Penyusupan Syiah ke dunia akademik Islam berpotensi melahirkan generasi Muslim terpelajar yang bingung akidahnya. Mereka mungkin cerdas secara intelektual, namun rapuh dalam keyakinan. Keraguan terhadap sahabat Nabi ﷺ, Sunnah, bahkan keutuhan Al-Qur’an dapat tumbuh dari ruang kelas dan bahan bacaan akademik yang bias.
Inilah bahaya terbesar dari jalur akademik: penyimpangan tidak datang dengan wajah kasar, melainkan dengan bahasa ilmiah yang meyakinkan.
7. Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menolak kajian akademik, tetapi menegaskan bahwa kajian Islam harus berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih. Dunia akademik harus menjadi sarana pencarian kebenaran, bukan alat legitimasi ideologi sesat. Kritik ilmiah terhadap Syiah bukanlah intoleransi, melainkan bentuk penjagaan akidah umat.
Penutup
Umat Islam di Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyusupan Syiah melalui dunia akademik Islam. Jalur intelektual yang tampak netral dan ilmiah justru sering menjadi sarana paling efektif untuk menyebarkan penyimpangan akidah. Oleh karena itu, penguatan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, literasi keislaman yang benar, dan keberanian bersikap kritis adalah kunci untuk menjaga kemurnian Islam dan persatuan umat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: