Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Menggunakan Doktrin Mahdi untuk Mengendalikan Umatnya?

Syiahindonesia.com – Doktrin Imam Mahdi dalam ajaran Syiah bukan sekadar keyakinan eskatologis tentang akhir zaman, melainkan telah dijadikan alat ideologis untuk mengendalikan pemikiran, loyalitas, dan arah gerak umatnya. Berbeda dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menempatkan keimanan kepada Imam Mahdi secara proporsional sesuai dalil Al-Qur’an dan Sunnah, Syiah membangun konsep Mahdi yang sarat dengan kepentingan politik, kultus individu, serta legitimasi kekuasaan. Inilah yang oleh para ulama Sunni dinilai sebagai penyimpangan serius yang berbahaya bagi akidah dan persatuan umat Islam.

Konsep Imam Mahdi dalam Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini kemunculan Imam Mahdi sebagai salah satu tanda akhir zaman berdasarkan hadis-hadis sahih. Namun keyakinan ini tidak dijadikan pusat agama, tidak dikaitkan dengan otoritas mutlak, dan tidak digunakan untuk membenarkan struktur kekuasaan tertentu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ خَلِيفَةٌ يَحْثُو الْمَالَ حَثْيًا وَلَا يَعُدُّهُ عَدًّا
“Akan ada pada akhir zaman seorang khalifah yang membagi harta dengan melimpah dan tidak menghitungnya.”
(HR. Muslim)

Hadis-hadis tentang Mahdi dalam Sunni bersifat informatif, bukan ideologis, dan tidak melahirkan konsep kepemimpinan ghaib yang mengikat umat.

Doktrin Mahdi dalam Syiah Itsna ‘Asyariyah

Syiah Dua Belas Imam meyakini bahwa Mahdi adalah imam ke-12 yang telah lahir, kemudian menghilang (ghaib), dan akan muncul kembali di akhir zaman. Keyakinan ini dikenal dengan konsep al-Ghaibah. Dalam ajaran Syiah, Mahdi bukan hanya pemimpin akhir zaman, tetapi imam ma’shum yang menjadi poros agama, meskipun tidak hadir secara fisik.

Konsep ini membuka ruang manipulasi, karena umat diarahkan untuk taat kepada wakil-wakil Mahdi, meskipun Mahdi itu sendiri tidak pernah dapat diverifikasi keberadaannya.

Ghaibah sebagai Alat Kontrol Ideologis

Konsep ghaibah digunakan Syiah untuk menciptakan ketaatan buta. Karena imam dianggap hidup namun tidak tampak, maka segala kebijakan agama dan politik diklaim sebagai representasi kehendak Mahdi. Umat diajarkan bahwa menentang otoritas Syiah sama dengan menentang Imam Mahdi.

Padahal Islam menegaskan bahwa ketaatan hanya dalam perkara yang ma’ruf. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”
(HR. Ahmad)

Wilayatul Faqih dan Klaim Wakil Mahdi

Dalam praktik modern, doktrin Mahdi digunakan untuk melahirkan konsep Wilayatul Faqih, yaitu kekuasaan ulama yang diklaim sebagai wakil Imam Mahdi. Dengan konsep ini, seorang faqih dapat memiliki otoritas absolut atas agama dan negara, karena dianggap menjalankan kehendak imam yang ghaib.

Ulama Sunni menilai konsep ini tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertentangan dengan prinsip syura dalam Islam. Kekuasaan yang dibungkus dengan klaim ilahiah sangat rentan disalahgunakan.

Menunda Kebenaran dengan Janji Mahdi

Doktrin Mahdi juga digunakan untuk menenangkan umat agar menerima kezaliman, kegagalan, dan penyimpangan dengan alasan “akan diperbaiki oleh Mahdi kelak”. Akibatnya, umat tidak didorong untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara nyata, melainkan menunggu figur ghaib yang dijanjikan.

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)

Islam menuntut tanggung jawab nyata, bukan penantian pasif.

Eksploitasi Emosi dan Loyalitas Umat

Doktrin Mahdi dalam Syiah dibungkus dengan narasi penderitaan, penindasan, dan janji kemenangan akhir. Narasi ini efektif mengikat emosi umat, menciptakan loyalitas ekstrem, dan mematikan nalar kritis. Setiap kritik terhadap ajaran atau tokoh Syiah sering dilabeli sebagai permusuhan terhadap Mahdi.

Inilah bentuk kontrol ideologis yang sangat berbahaya, karena agama tidak lagi dipahami melalui dalil, tetapi melalui emosi dan kultus.

Dampak di Tengah Umat Islam Indonesia

Di Indonesia, penyebaran doktrin Mahdi versi Syiah berpotensi menimbulkan kebingungan akidah dan konflik internal umat. Jika konsep ini diterima tanpa ilmu, umat akan mudah diarahkan untuk tunduk kepada otoritas yang mengklaim wakil imam ghaib, sekaligus menjauh dari Al-Qur’an dan Sunnah yang nyata dan terjaga.

Penutup

Syiah menggunakan doktrin Mahdi bukan sekadar sebagai keyakinan akhir zaman, tetapi sebagai alat untuk mengendalikan umat melalui konsep ghaibah, wakil imam, dan otoritas absolut. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa keimanan kepada Mahdi harus ditempatkan secara proporsional, tanpa ghuluw dan tanpa manipulasi. Keselamatan umat hanya terwujud dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ sesuai pemahaman generasi salaf, bukan dengan mengikuti klaim-klaim ghaib yang sarat kepentingan ideologis.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: