Syiahindonesia.com - Salah satu penyimpangan paling mendasar dan berbahaya dalam ajaran Syiah Rafidhah adalah keyakinan bahwa para imam mereka bersifat ma’shum, yaitu terbebas dari dosa, kesalahan, kelalaian, bahkan dalam sebagian riwayat mereka, imam dianggap mengetahui hal gaib dan memiliki kekuatan spiritual melebihi manusia biasa. Keyakinan ini tidak hanya bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga menghancurkan konsep tauhid, kenabian, serta struktur syariat Islam secara keseluruhan.
Artikel ini membongkar penyimpangan konsep “imam ma’shum” dalam Syiah, berdasarkan dalil, sejarah, dan pandangan ulama Ahlus Sunnah.
1. Konsep Ma’shum Hanya untuk Para Nabi – Bukan untuk Imam
Dalam Islam, kemaksuman hanya diberikan kepada para nabi dan rasul dalam menyampaikan wahyu. Mereka terjaga dari dosa besar dan kesalahan yang menggugurkan misi kenabian.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Ia (Muhammad) tidak berbicara menurut hawa nafsu. Ucapannya adalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS. An-Najm: 3–4)
Tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan bahwa:
-
sahabat,
-
tabi’in,
-
ulama,
-
apalagi imam tertentu
mendapatkan kemaksuman seperti para nabi.
Namun Syiah mengklaim imam-imam mereka lebih ma’shum daripada nabi, bahkan lebih tinggi derajatnya.
2. Doktrin Kemaksuman Imam dalam Kitab Syiah
Kitab-kitab Syiah secara jelas menyatakan bahwa imam:
-
tidak pernah salah,
-
tidak lupa,
-
tidak berdosa,
-
ilmunya langsung dari Allah,
-
tahu hal gaib,
-
tidak butuh wahyu untuk mengetahui kebenaran.
Dalam Bihar al-Anwar, dinyatakan:
“Imam mengetahui apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi.”
Dalam Al-Kafi:
“Bumi tidak akan bisa tegak tanpa imam yang ma’shum.”
Ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak ada manusia setelah Nabi Muhammad ﷺ yang diberi kemampuan seperti itu.
3. Mengangkat Imam Melebihi Nabi, Ini Kemusyrikan
Syiah mengklaim:
-
imam lebih tinggi dari para nabi non-ulil azmi,
-
imam memiliki otoritas spiritual,
-
imam menjadi perantara antara manusia dan Allah,
-
imam lebih utama dari para malaikat.
Ini adalah konsep yang sangat dekat dengan ghuluw, yaitu pengagungan berlebihan hingga membawa kepada syirik.
Padahal Allah ﷻ melarang pengkultusan manusia:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
“Katakanlah (Muhammad): Aku hanyalah manusia seperti kalian.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Jika Nabi saja mengaku manusia biasa, bagaimana mungkin imam Syiah—yang bukan nabi—diangkat menjadi makhluk ma’shum yang mendekati derajat ketuhanan?
4. Para Sahabat Ahlul Bait Sendiri Tidak Mengklaim Kemaksuman
Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husain tidak pernah mengatakan diri mereka:
-
ma’shum,
-
punya ilmu gaib,
-
tidak mungkin salah,
-
wajib ditaati secara mutlak.
Justru Ali berkata:
أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ
“Aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku bisa benar dan bisa salah.”
Jika Ali saja mengakui dirinya tidak ma’shum, bagaimana mungkin Syiah memaksakan konsep bahwa semua imam suci dan bebas dari kesalahan?
5. Konsep “Imam Ma’shum” Menghapus Peran Ulama dan Mengacaukan Syariat
Karena menganggap imam ma’shum, Syiah menjadikan perkataan imam sebagai:
-
sumber hukum,
-
penentu halal haram,
-
penjelas syariat tanpa batas,
-
pembuat keputusan absolut.
Ini sama seperti:
-
membatalkan fungsi Al-Qur’an,
-
menghapus Sunnah,
-
menghilangkan ijtihad para ulama sejati.
Dalam Islam, hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak menentukan syariat:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ
“Apa yang diberikan Rasul, ambillah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Syiah menggantikan Rasul dengan imam. Ini adalah penyimpangan fatal.
6. Akibat Keyakinan Ini: Semua Doktrin Syiah Menjadi Sah
Karena imam dianggap ma’shum, maka:
-
mut’ah dianggap ibadah,
-
mencaci sahabat dianggap pahala,
-
khumus 20% dianggap wajib syar’i,
-
ritual Asyura dianggap kebaikan,
-
doktrin al-ghaibah dianggap benar,
-
sumpah palsu demi taqiyyah dianggap halal.
Semua penyimpangan itu berdiri di atas pilar imam ma’shum.
Jika pilar ini runtuh, seluruh Syiah runtuh.
7. Para Ulama Menegaskan: Ini Ajaran Batil dan Menyimpang
Imam Syafi’i pernah berkata tentang kelompok yang ghuluw terhadap Ali:
“Jika aku melihat kaum Rafidhah, aku ingin memukul mereka dengan sandal.”
Ibn Taimiyyah berkata:
“Orang-orang Rafidhah adalah kelompok yang paling jauh dari Sunnah dan paling banyak membuat dusta.”
Mengangkat manusia biasa menjadi makhluk ma’shum bukan hanya kesesatan, tetapi juga merusak aqidah secara menyeluruh.
KESIMPULAN: Konsep Imam Ma’shum adalah Salah Satu Kesyirikan Syiah yang Paling Besar
Ringkasnya, konsep kemaksuman imam dalam Syiah adalah:
-
bertentangan dengan Al-Qur’an,
-
bertentangan dengan Sunnah,
-
bertentangan dengan akal,
-
bertentangan dengan sejarah,
-
bertentangan dengan ajaran para sahabat dan Ahlul Bait sendiri.
Konsep ini menghancurkan tauhid, merusak syariat, dan membuka pintu kesesatan yang sangat luas.
Umat Islam wajib waspada, karena propaganda Syiah selalu dimulai dengan pengkultusan imam, sebelum akhirnya masuk ke doktrin-doktrin sesat lainnya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: