Breaking News
Loading...

Situasi Demo Iran Terkini: Jumlah Korban Tewas 2.500 Orang


 Jumlah korban tewas dalam protes nasional di Iran telah melampaui 2.500 orang, menurut kelompok aktivis HAM yang berbasis di luar negeri.

Angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade, bahkan melampaui jumlah korban protes Mahsa Amini pada 2022.

Perhatian dunia masih tertuju pada gelombang protes di Iran. Berdasarkan laporan dari AP News, saat ini jumlah korban tewas telah lebih dari 2.500 orang.

Mayoritas korban tewas adalah masyarakat sipil, termasuk anak-anak, sedangkan sebagian kecil lainnya berasal dari pihak pemerintah.

Selain 2.500 orang yang dinyatakan menjadi korban tewas, terdapat lebih dari 18.000 orang ditahan oleh Pemerintah Iran.

Otoritas Iran juga memutus akses komunikasi warganya, termasuk internet dan jaringan pesan, selama beberapa hari untuk membatasi koordinasi demonstran dan aliran informasi ke luar negeri. Langkah ini yang menyulitkan verifikasi terkait jumlah korban.

Meskipun banyak media telah memberitakan jumlah korban demo yang mencapai ribuan, hingga kini pemerintah Iran tetap tidak merilis angka resminya.

Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025 akibat kondisi ekonomi yang memburuk dan diperkirakan masih terus berlanjut hingga sekarang.

Baca juga:
AS Peringatkan Warganya Segera Tinggalkan Iran, Apa Alasannya?
Krisis di Iran, Mata Uang Anjlok ke Titik Terendah dalam Sejarah
Pernyataan Trump Buat Ketegangan Politik dengan Iran Bertambah?
Pada Selasa (13/1/2026), Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump membuat pernyataan di akun Truth Social @realDonaldTrump meminta masyarakat Iran untuk terus menyuarakan protes menuntut demokrasi.

“Para Patriot Iran, TERUS BERPROTES - KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal,” tulis Trump.

“Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan Pejabat Iran sampai pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN. MIGA!!! PRESIDEN DONALD J. TRUMP,” tambahnya.

Pernyataan Trump tersebut dinilai secara terbuka mendorong demonstran untuk terus memprotes dan “mengambil alih institusi” menambah dimensi geopolitik pada krisis ini.

Meski Trump kemudian bersikap lebih hati-hati dengan menunggu verifikasi data, hal itu dipandang Pemerintah Iran sebagai bentuk campur tangan asing.

Pejabat Iran bahkan menuduh Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “pembunuh utama rakyat Iran,” memperkeras konflik diplomatik.

“Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1- Trump 2 - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” ujar Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dikutip AP News.


Trump Ancam Naikkan Tarif Impor Hingga 25% untuk Negara yang Berbisnis dengan Iran

Presiden Donald Trump sebelumnya juga mengancam negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran akan dikenai tambahan tarif impor ke AS hingga 25 persen. Hal ini dilakukan Trump dengan tujuan mengisolasi Iran secara ekonomi.

China yang merupakan mitra dagang terbesar Iran, terutama dalam sektor energi, secara resmi menolak kebijakan ini. Pihaknya menyebut hal itu sebagai sanksi sepihak ilegal dan bentuk “long-arm jurisdiction” AS.

Beijing menegaskan siap mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingannya.

Sebagai importir minyak terbesar dunia, China memiliki kepentingan strategis untuk membeli minyak murah dari negara-negara yang terkena sanksi, termasuk Iran. Impor minyak Iran ke China lebih dari dua kali lipat antara 2017–2024, mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari.

Banyak ahli, dilansir CNBC, menyebut jika langkah Trump untuk memberlakukan tambahan tarif impor hingga 25% pada negara yang masih berbisnis dengan Iran ini memperburuk gencatan senjata dagang antara Washington dan Beijing yang disepakati pada Oktober lalu.

“(Tarif impor 25%) Itu adalah peningkatan besar dari tingkat tarif saat ini,” kata Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di Yayasan Hinrich.




************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: