Syiahindonesia.com - Salah satu klaim yang paling berbahaya dan menyesatkan dalam ajaran Syiah adalah pandangan bahwa para imam mereka memiliki kedudukan yang bahkan melebihi Nabi ﷺ dalam hal kemuliaan, ilmu, dan otoritas. Pandangan ini jelas bertentangan dengan prinsip akidah Islam yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah sebaik-baik makhluk, penutup para nabi, serta pembawa petunjuk paling sempurna bagi seluruh umat manusia. Klaim semacam ini bukan sekadar perbedaan interpretasi, tetapi upaya sistematis untuk menggeser fokus pengabdian dan penghormatan umat dari Rasulullah ﷺ ke figur-figur tertentu yang dikultuskan secara sektarian.
Posisi Nabi Muhammad ﷺ dalam Islam
Islam menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi dan utusan terakhir Allah yang menyampaikan wahyu dengan sempurna. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ﴾
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi penuh kasih sayang di antara mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)
Selain itu, Nabi ﷺ adalah teladan sempurna bagi seluruh umat:
« كَانَ قَدْوَةً صَالِحَةً لِكُلِّ مَنْ تَبِعَهُ »
“Beliau adalah teladan yang paling baik bagi siapa pun yang mengikuti beliau.”
(HR. Muslim)
Kedudukan ini tidak dapat digeser atau disejajarkan dengan siapa pun.
Doktrin Imamah dalam Syiah
Syiah mengajarkan bahwa imam mereka adalah maksum, artinya bebas dari dosa, salah, dan khilaf dalam seluruh aspek kehidupan dan keputusan hukum. Lebih jauh, beberapa narasi dalam literatur Syiah menegaskan bahwa pengetahuan dan kemuliaan imam melebihi Nabi ﷺ, sehingga umat disarankan untuk taat mutlak kepada imam dan menomorsatukan perintah mereka bahkan di atas sunnah Rasulullah ﷺ.
Pendekatan ini menciptakan tumpang tindih otoritas, di mana wahyu Allah dan sunnah Nabi bisa dikompromikan demi loyalitas kepada figur imamah.
Bahaya Klaim Imam Lebih Mulia daripada Nabi
Klaim semacam ini memiliki dampak serius terhadap aqidah umat Islam. Pertama, menempatkan makhluk ciptaan di atas Nabi ﷺ merupakan bentuk syirik kecil, karena menyamakan makhluk dengan utusan Allah yang diberi amanah wahyu. Kedua, klaim ini menimbulkan perpecahan di antara umat karena menggeser fokus penghormatan dari Nabi ﷺ ke figur tertentu yang memiliki kepentingan ideologis dan politis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« لَا تَزِيدُوا عَلَيَّ وَلَا تَنْقُصُوا مِنْ حَقِّي »
“Jangan kalian menambahkan atau mengurangi dari hakku.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa penghormatan dan ketaatan kepada Nabi ﷺ tidak boleh digeser oleh siapa pun, termasuk imam-imam yang dikultuskan.
Strategi Ideologis di Balik Doktrin Ini
Doktrin bahwa imam lebih mulia dari Nabi sering digunakan sebagai alat ideologis untuk menegakkan loyalitas buta kepada pimpinan Syiah. Dengan menekankan kemuliaan imam, generasi umat diarahkan untuk menerima ajaran, keputusan, dan interpretasi agama yang bersifat sektarian tanpa mengkritisi. Hal ini juga berpotensi memutus keterikatan umat kepada sunnah Nabi ﷺ, sehingga identitas Islam asli perlahan tergerus.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ﴾
“Dan tidak Kami utus seorang rasul pun melainkan agar ia ditaati dengan izin Allah.”
(QS. An-Nisa: 64)
Ketika ketaatan dialihkan dari Nabi kepada imam, maka prinsip ini dilanggar secara ideologis.
Reaksi Ulama Ahlus Sunnah
Ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa pengkultusan imam hingga disejajarkan atau melebihi Nabi ﷺ adalah kesalahan fatal dalam aqidah. Imam al-Ghazali rahimahullah menegaskan bahwa penghormatan umat harus tertuju secara mutlak kepada Nabi ﷺ sebagai utusan Allah dan pembawa syariat, sedangkan manusia lainnya—termasuk imam—tidak boleh menempati posisi tersebut.
Kesalahan ini juga memunculkan potensi syirik, karena menempatkan manusia di atas makhluk terbaik ciptaan Allah.
Konsekuensi Akidah dan Sosial
Selain merusak aqidah individu, klaim ini juga berdampak pada persatuan umat. Ketika sebagian kelompok menomorsatukan figur imamah, maka kesepakatan dalam memahami sunnah dan sejarah Islam menjadi terdistorsi. Hal ini memperlebar jurang sektarian, menimbulkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah, dan memunculkan ketegangan sosial yang berkepanjangan.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ﴾
“Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa fokus penghormatan dan ketaatan hanya boleh berada di jalur wahyu Allah, bukan pada klaim manusia.
Kesimpulan
Pandangan Syiah yang mengklaim imam mereka lebih mulia daripada Nabi ﷺ adalah doktrin sesat yang jelas bertentangan dengan akidah Islam. Upaya ini bukan sekadar perbedaan tafsir, melainkan bentuk pemalsuan penghormatan dan pergeseran identitas Islam. Umat Islam wajib memahami bahaya klaim ini, menjaga penghormatan mutlak kepada Nabi ﷺ, dan menolak ideologi yang menggeser posisi beliau demi kepentingan kelompok atau figur tertentu.
Menguatkan pemahaman ini adalah bentuk perlindungan aqidah dan persatuan umat yang menjadi amanah setiap Muslim yang mengikuti manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: