Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangannya dalam Ibadah Haji


Syiahindonesia.com
— Ibadah haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, memiliki nilai spiritual yang tinggi serta menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Namun, ajaran Syiah menunjukkan penyimpangan serius terhadap pelaksanaan ibadah suci ini, baik dari sisi niat, pelaksanaan, hingga tujuan politik yang disusupkan dalam ritual ibadah.

1. Niat Haji yang Tercemar Akidah

Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, niat berhaji adalah untuk memenuhi perintah Allah dan meneladani Nabi Muhammad ﷺ. Namun, dalam ajaran Syiah, niat berhaji sering kali disertai dengan keyakinan bahwa ibadah tersebut juga sebagai bentuk loyalitas kepada para imam Syiah. Bahkan sebagian dari mereka meyakini bahwa haji tidak sah kecuali disertai keyakinan kepada Imamah Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai wasiat ilahi, padahal ini tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih.

2. Talbiyah yang Dimodifikasi

Umat Islam mengucapkan talbiyah dengan lafaz:
"Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik..."

Namun, sebagian pengikut Syiah mengubahnya dengan menambahkan:
"Labbaika ya Husain, labbaika ya Ali..."

Ini jelas merupakan bentuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap ritual keagamaan yang tidak berasal dari tuntunan Rasulullah ﷺ. Penambahan unsur syirik dalam ibadah tauhid seperti haji adalah penyimpangan serius dalam Islam.

3. Menjadikan Haji sebagai Panggung Politik

Iran yang menjadi pusat kekuatan Syiah menjadikan momen haji sebagai ajang demonstrasi politik, seperti "Hari al-Quds Internasional" yang disusupkan ke dalam rangkaian ibadah haji. Mereka memprovokasi jamaah dengan seruan-seruan politik yang sering berujung pada kerusuhan. Ini pernah menimbulkan korban jiwa di Tanah Suci pada tahun-tahun sebelumnya, yang tentu bertentangan dengan semangat damai dan khusyuk dalam ibadah haji.

4. Melecehkan Sahabat di Tempat Suci

Syiah dikenal dengan doktrin kebencian terhadap para sahabat Nabi ﷺ, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Sebagian jamaah Syiah diketahui melontarkan kutukan terhadap mereka bahkan di sekitar Ka'bah dan Masjid Nabawi, tempat-tempat yang justru dimuliakan oleh seluruh umat Islam. Tindakan ini menodai kesucian tempat dan momen yang seharusnya dijaga dari konflik sektarian.

5. Ziarah Kubur Dilebih-lebihkan Melebihi Rukun Haji

Bagi Syiah, ziarah ke makam imam-imam mereka seperti di Karbala dan Najaf terkadang dianggap lebih utama daripada haji ke Mekkah. Bahkan ada yang menyebut bahwa ziarah ke makam Husain lebih afdal dari haji. Ini bertentangan dengan ijma’ (konsensus) ulama Islam bahwa haji ke Baitullah adalah kewajiban dan salah satu rukun Islam, sementara ziarah kubur adalah ibadah sunah, bukan kewajiban, apalagi dijadikan tandingan haji.


Kesimpulan

Penyimpangan Syiah dalam pelaksanaan ibadah haji bukanlah perkara kecil. Ia menunjukkan bahwa Syiah tidak hanya berbeda dalam fiqih, tetapi juga dalam akidah dan prinsip dasar agama. Umat Islam perlu waspada agar tidak terjebak dalam upaya penyusupan ajaran Syiah yang berpotensi menodai kemurnian ibadah serta mengganggu persatuan umat.

"Haji adalah ibadah tauhid, bukan ajang loyalitas politik atau ideologi tertentu."


(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: