Breaking News
Loading...

Mengapa Sunni Tidak Bisa Berdamai dengan Syiah?


Syiahindonesia.com –
Konflik antara Sunni dan Syiah bukanlah semata-mata masalah politik, tetapi memiliki akar yang sangat dalam dalam hal aqidah, prinsip-prinsip agama, dan pemahaman terhadap Islam yang murni. Bagi kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ajaran Syiah bukan hanya menyimpang, tetapi juga menodai kesucian Islam dengan memasukkan unsur-unsur bid’ah, ghuluw (berlebihan), dan kebencian terhadap para sahabat Nabi shallallฤhu ‘alayhi wa sallam. Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan mengapa perdamaian sejati antara Sunni dan Syiah sangat sulit terwujud, serta menjadi peringatan terhadap penyebaran ajaran sesat Syiah di Indonesia.


1. Perbedaan Aqidah yang Mendasar

Perbedaan antara Sunni dan Syiah bukan sekadar dalam hal cabang ibadah, melainkan menyangkut perkara pokok dalam agama (usuluddin). Bagi Sunni, dasar agama setelah Al-Qur’an adalah Sunnah Rasulullah yang diriwayatkan secara shahih oleh para sahabat. Sementara bagi Syiah, dasar agama terletak pada konsep imamah, yaitu keyakinan bahwa para imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib adalah maksum dan wajib ditaati, bahkan lebih tinggi dari nabi dalam beberapa aspek.

๐Ÿ”บ “ู…ู† ู…ุงุช ูˆู„ูŠุณ ููŠ ุนู†ู‚ู‡ ุจูŠุนุฉ ู„ุฅู…ุงู…، ู…ุงุช ู…ูŠุชุฉ ุฌุงู‡ู„ูŠุฉ”
(Barang siapa mati dan tidak berbaiat kepada seorang imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.) – Hadis ini kerap dipelintir Syiah untuk membenarkan imamah, padahal pemahamannya bertentangan dengan tafsir para ulama Sunni.


2. Penghinaan terhadap Para Sahabat

Syiah secara terang-terangan mencaci maki para sahabat Nabi, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallฤhu ‘anhum. Mereka menuduh ketiga khalifah tersebut sebagai perampas kekhalifahan yang semestinya diberikan kepada Ali. Padahal, kaum Sunni memuliakan semua sahabat dan berpegang pada sabda Nabi:

“ู„ุง ุชุณุจูˆุง ุฃุตุญุงุจูŠ، ููˆุงู„ุฐูŠ ู†ูุณูŠ ุจูŠุฏู‡ ู„ูˆ ุฃู†ูู‚ ุฃุญุฏูƒู… ู…ุซู„ ุฃุญุฏ ุฐู‡ุจًุง ู…ุง ุจู„ุบ ู…ุฏ ุฃุญุฏู‡ู… ูˆู„ุง ู†ุตูŠูู‡”
"Jangan kalian mencaci para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud dari mereka atau separuhnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Taqiyah: Kebohongan sebagai Strategi Syiah

Salah satu ajaran pokok dalam Syiah adalah taqiyah, yaitu berpura-pura menyembunyikan kepercayaan demi keselamatan diri. Dalam praktiknya, taqiyah digunakan Syiah untuk menipu umat, menyusup ke lembaga-lembaga pendidikan, masjid, dan media sosial dengan wajah moderat, padahal mereka menyimpan dendam ideologis terhadap Sunni.

“ุงู„ุชู‚ูŠุฉ ุฏูŠู†ูŠ ูˆุฏูŠู† ุขุจุงุฆูŠ، ูˆู„ุง ุฅูŠู…ุงู† ู„ู…ู† ู„ุง ุชู‚ูŠุฉ ู„ู‡”
"Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman bagi siapa yang tidak melakukan taqiyah." – Al-Kulaini, Al-Kafi, Jilid 2


4. Penyimpangan dalam Ibadah dan Syariat

Syiah memiliki perbedaan mencolok dalam tata cara shalat, adzan, wudhu, dan hukum-hukum fikih lainnya. Mereka menambahkan kalimat "Aliyyun waliyyullah" dalam adzan, menyatukan shalat lima waktu menjadi tiga, dan melakukan sujud di atas tanah Karbala. Ini adalah bentuk penyimpangan dari Sunnah Rasulullah yang telah diajarkan secara mutawatir.


5. Syiah dan Sejarah Pengkhianatan

Dalam sejarah Islam, Syiah dikenal sebagai kelompok yang beberapa kali melakukan pengkhianatan besar. Mulai dari pengkhianatan terhadap Imam Husain di Karbala (mereka yang awalnya mengundangnya tapi kemudian berkhianat), hingga dukungan terhadap tentara Mongol dalam penghancuran Baghdad pada 1258 M, di mana ulama Sunni dibantai dan perpustakaan Islam dihancurkan.


6. Dakwah Syiah di Indonesia: Ancaman Nyata

Dalam dua dekade terakhir, ajaran Syiah perlahan menyusup ke berbagai lini masyarakat Indonesia melalui media sosial, penerbitan buku, hingga lembaga pendidikan. Dengan wajah toleransi dan slogan "ukhuwah", mereka berusaha mengaburkan perbedaan mendasar antara Syiah dan Sunni.

Namun umat Islam perlu waspada. Karena ketika Syiah telah menguasai suatu wilayah, sejarah menunjukkan bahwa mereka akan memberangus ajaran Sunni sebagaimana yang terjadi di Iran pasca-revolusi.


Kesimpulan: Akankah Ada Perdamaian?

Perdamaian antara Sunni dan Syiah tampaknya sulit terwujud karena akar perbedaan adalah pada prinsip-prinsip utama agama. Umat Islam Indonesia harus menyadari bahwa toleransi tidak berarti menerima kebatilan. Ajaran Syiah bukanlah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan tidak boleh diberi ruang untuk menyebarkan kesesatan di negeri mayoritas Sunni ini.

“Akan selalu ada segolongan dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka atau menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)


(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: