Breaking News
Loading...

 Peringatan Karbala Syiah

“Pada hari itu mereka saling menerima ta'ziyah (ucapan bela sungkawa) dalam rangka mengenang terbunuhnya Husain di padang Karbala, mereka memakai pakaian serba hitam, mengiringi dengan isak tangis dan ratapan, meyobek serta menarik-narik baju dan menampari pipi. Mereka turun kejalan-jalan dalam sebuah pawai yang disebut Manakib Husainiyah, seraya meyakini arak-arakan tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian berteriak histeris dengan suara melengking:"Ya Husain...Ya Husain.." sambil menggotong Kubah Husain yang terbuat dari kayu.




“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah.” (HR. Bukhari Muslim).
Ketika kita melihat apa yang dilakukan oleh Rafidhah di hari ‘Asyura, Tentu kita akan mendapati bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah ajaran Islam. Nabi SAW begitu juga para shahabat tidak pernah mengajarkan meratap dan menyiksa diri ketika ada yang meninggal dunia, Padahal wafatnya Nabi SAW lebih utama daripada kematian Husain RA.

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain RA karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para shahabat dan anak dari putri Rasulullah SAW yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi, kesedihan yang ada janganlah dipertontokan seperti yang dilakukan oleh Syiah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas).

Padahal ‘Ali bin Abi Tholib RA lebih utama dari Husain RA. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. Lebih daripada itu Rasulullah SAW, beliau adalah sayyid (penghulu) cucu Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mencabut nyawa beliau sebagaimana para nabi sebelumnya juga mati.

Namun tidak ada pun yang menjadikan hari kematian beliau sebagaimana ma’tam (hari kesedihan). Kematian beliau tidaklah pernah dirayakan sebagaimana yang dirayakan pada kematian Husain seperti yang dilakukan oleh kaum Syiah yang jahil”. Sedangkan menurut Ahlussunah hal terbaik yang hendaknya diucapkan ketika terjadi musibah semacam ini adalah sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali bin Al Husain, dari kakeknya Rasulullah SAW, beliau bersabda,


“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Demikian menurut Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah.

Demikian kesesatan Syiah pada hari ‘Asyura. Kematian seseorang tidaklah diperingati dengan perayaan sesat seperti yang dilakukan oleh orang Syiah. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan Syiah.

Penulis: Ulin Nuha








************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: