Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Jadi Anggota DPR, Ini Rencana Jalaludin Rahmat

Syiahindonesia.com - Sejatinya, Syi'ah adalah aliran yang berawal dari gerakan politik. Yaitu ketika para sahabat terkena fitnah syubhat dalam peristiwa tahkim, dimana sahabat Rasulullah kala itu terpecah menjadi dua kubu, kubu Ali r.a dan Muawiyyah r.a hingga kedua kubu itu saling menumpahkan darah satu sama lain. Meski demikian, Syiah lah yang sebenarnya menjadi dalang dari semua kejadian itu. Tak lain adalah Abdullah bin Saba’, seorang yahudi yang pertama kali mengusung agama sesat Syiah. Ia menjadi sumber perpecahan yang terjadi antara kedua kubu sahabat Ali r.a dan Muawiyyah r.a, dan sebenarnya gerakan makar yang dilakukan Abdullah bin Saba’ beserta pendukungnya sudah terjadi sejak zaman Khalifah Utsman.

Berlanjut hingga era sekarang, Syiah tidak hanya bergelut dalam doktrin religi saja, namun mereka juga getol dalam memusuhi kaum muslimin lewat sarana politik. Iran misalnya, ia adalah salah satu Negara yang dikuasai oleh orang-orang Syiah Rafidhah.

Indonesia pun menjadi sasaran Syiah selanjutnya, dedengkot syiah di Indonesia juga getol untuk menyusup masuk kedalam ranah politik.

Adalah Jalaludin Rahmat, seorang Syiah sekaligus Dewan Perwakilan Rakyat  ini mulai memberikan pernyataan-pernyataan yang bersifat tendensif dalam pembelaannya terhadap alirah sesat Syiah. Ia mengatakan bahwa saat ini regulasi kurang menolerir kebebasan beragama seperti adanya undang-undang penistaan agama. Legislator dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini berencana melahirkan sebuah undang-undang perlindungan untuk semua agama, sebagaimana dilansir TEMPO.CO.

Sebagai ulama dari kelompok sesat Syiah, kang Jalal -sapaan karib Jalaludin Rakhmat, mengaku akan membawa misi untuk melindungi kaum Syiah. Tidak hanya itu, kang Jalal juga akan membela kaum minoritas di parlemen seperti Ahmadiyah dan pemeluk agama Kristen. "Mereka memerlukan perlindungan dari undang-undang supaya tidak menjadi sasaran (tindakan) intoleransi," katanya saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Rabu, 1 Oktober 2014.

Jalal yang mewakili daerah pemilihan Jawa Barat II Kabupaten Bandung-Kabupaten Bandung Barat ini mengatakan kasus intoleransi kerap terjadi. Seperti penutupan gereja-gereja, ibadah kaum Ahmadiyah yang diganggu dan kriminalisasi kelompok Syiah. Jalal mengaku akan ditugaskan partainya untuk duduk di komisi VII DPR yang mengurusi isu  agama.

Dia mencontohkan penolakan Front Pembela Islam terhadap Basuki Tjahaja Purnama menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah bagaimana rasisme dan agama menjadi alat politik untuk menjatuhkan seorang pejabat. Menurut dia, berdasarkan UUD 1945, konsep NKRI dan pancasila, setiap warga negara berhak memilih dan dipilih menjadi pemimpin. "Menjatuhkan seorang pejabat hanya karena alasam agama atau ras, menurut kami itu kemunduran besar," katanya. (NIsyi/Syiahindonesia.com)

Syiah Hina Jama'ah Haji dengan Sebutan Babi dan Monyet

Syiahindonesia.com - Dalam sebuah video yang di unggah di youtube, Pendeta Syiah Rafidhah berkata pada menit 00:07 – 02:12; Imam al-Baqir pada suatu hari yakni di saat pelaksanaan Haji, beliau melihat ke Ka’bah.
Imam melihat orang-orang sedang melakukan thawaf di Baitullah al-Haram seraya mengucapkan dengan keras “Labbaik....”
Abu Bashir berada di sebelah Imam, Abu Bashir adalah seorang yang buta, sehingga ia hanya bisa mendengar suara.
Ia (Abu Bashir) berkata kepada Imam, “Wahai Sayyidku, keturunan Rasulullah, Masya Allah di tahun ini banyak sekali orang-orang yang melakukan Haji.”
Imam menjawab, “Ada apa?”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Ada banyak Jama’ah Haji di sini dan banyak sekali suaranya.”
Kemudian Imam berkata kepadanya, “Meskipun terdapat banyak suara, namun sedikit Jama’ah Hajinya.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Kenapa? Bukankah orang-orang ini datang ke Ka’bah untuk beribadah?”
Imam berkata, “Wahai Abu Bashir, apakah engkau menginginkan bukti yang nyata?”
Ia (Abu Bashir) menjawab, “Iya.”
Berdasarkan riwayat, bahwasanya Imam memintanya untuk mendekat kepadanya. Setelah itu Imam meletakkan tangannya ke matanya serta mengusapnya, seraya berkata, “Ya Allah, kembalikanlah penglihatannya.”
Sehingga Abu Bashir dapat melihat dan memandang orang-orang yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah. Imam pun bertanya kepada Abu Bashir, “Apa yang engkau lihat dan apa yang engkau pandang?” -Lihatlah riwayat yang ajib ini, yakni keutamaan Ahlul Bayt-
Jadi Imam bertanya kepadanya apa yang dilihatnya.
Ia (Abu Bashir) berkata, “Wahai Sayyidku, aku melihat Kera-Kera dan Babi-Babi, dan di antara mereka terdapat bintang-bintang yang cemerlang yang sedang tawaf di Ka’bah.”
Imam berkata, “Bintang-bintang tersebut adalah Syiah kita.”

Berikut videonya:



عن أبي بصير قال: حججت مع أبي عبد الله عليه السلام فلما كنا في الطواف قلت له: جعلت فداك يا ابن رسول الله، يغفر الله لهذا الخلق؟ فقال: يا أبا بصير إن أكثر من ترى قردة وخنازير, قال: قلت له: أرنيهم قال: فتكلم بكلمات ثم أمر يده على بصري فرأيتهم قردة وخنازير فهالني ذلك,
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٧ - الصفحة ٧٩

Dari Abu Bashir, ia berkata :
Aku pernah melaksanakan Haji bersama Abu ‘Abdillah ‘alaihi Salam, tatkala kami melakukan thawaf aku bertanya kepadanya, “Aku sebagai tebusanmu wahai keturunan Rasulullah, apakah Allah akan mengampuni orang-orang ini?”
Kemudian ia (Abu ‘Abdillah) menjawab, “Wahai Abu Bashir, kebanyakan orang-orang yang engkau lihat adalah Kera-Kera dan Babi-Babi.”
Ia (Abu Bashir) berkata, “Aku berkata kepadanya, perlihatkanlah mereka kepadaku.”
Lalu ia (Abu ‘Abdillah) berkata dengan suatu kalimat, kemudian mengusapkan tangannya ke penglihatanku (Abu Bashir), sehingga aku (Abu Bashir) melihat mereka (dalam bentuk) Kera-Kera dan Babi-Babi, maka aku pun terkejut (melihatnya).
[Bihar al-Anwar 47/79, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah] (Tanyasyiah.com/Syiahindonesia.com)

Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 3

Syiahindonesia.com - Kita kembali ke silsilah Ath Thalibiyin, setelah wafatnya Ali Ar Ridha yang diangkat oleh Al Makmun menjadi waliyul ahdi, muncul puteranya Muhammad Al Jawwad dan meninggal pada tahun 220 H, kemudian muncul puteranya Muhammad Al Hadi yang meninggal pada tahun 254 H, kemudian terakhir muncul puteranya Al Hasan bin Ali yang bergelar Al Askari dan meninggal secara tiba-tiba pada tahun 260 H, dan hanya meninggalkan seorang putera bernama Muhammad yang masih berusia lima tahun.            
 Di tahun-tahun sebelumnya, ternyata gerakan ini terpisah-pisah, yaitu kelompok yang tergabung dari Ahlbait dan kelompok yang tergabung dari As Syu’ubiyun Persi, mereka menyerahkan kepemimpinannya kepada anak tertetua dari kelompok Ath Thalibiyun, dimulai dari Ali Ridha dan berakhir kepada Al Hasan Al Askari. Adapun tokoh sebelum Ali Ridha, seperti ayahnya yaitu Musa Al Kazhim, atau kakeknya Ja’far As Shadiq atau buyutnya yaitu Muhammad Al Baqir, mereka tidak pernah memimpin pemberontakan terhadap daulah Umawiyah maupun Abasiyah.

Akan tetapi setelah wafatnya Al Hasan Al Askari pada tahun 260 H, para pemberontak mengalami kebingungan, pasalnya siapakah yang akan menggantikan kepemimpinannya? Karena Al Hasan Al Askari hanya meninggalkan seorang anak kecil, bahkan mereka semakin bingung manakala anak kecil yang merupakan (imam) terakhir meninggal secara tiba-tiba, sehingga mereka terpecah menjadi beberapa kelompok, sebagian mereka saling berselisih dengan sebagian yang lain, baik dalam masalah prinsip, pemikiran atau bahkan dalam masalah syariat dan keyakinan.

Diantara Sekte Syiah yang paling masyhur adalah Syiah “Itsna Asyariyah” yaitu sekte yang sekarang ini ada di wilayah Iran, Iraq dan Lebanon dan merupakan sekte Syiah paling besar di zaman kita ini.

Maka para pemimpin sekte ini menambah-nambah ajaran yang sesuai dengan prinsip dan kepentingan mereka ke dalam ajaran Islam, serta menambah ajaran yang dapat menjamin keberlangsungan perjalanan sekte ini ditengah ketiadaan Imam.

Sekte ini telah menambah macam-macam bid’ah yang sangat membahayakan dalam agama Islam, seperti anggapan bahwa ajaran mereka termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari agama Islam, selanjutnya bid’ah ini menjadi bagian dari keyakinan mereka. Diantara bid’ah mereka ada yang khusus dalam masalah imamah, karena mereka hendak mencari solusi dari permasalahan ketiadaan imam saat ini. Mereka juga berkata; “Sesungguhnya para imam itu hanya dua belas.” Mereka juga menyatakan; “Sesungguhnya, urutan para imam tersebut adalah sebagai berikut;

1.      Ali bin Abi Thalib
2.      Hasan bin Ali
3.      Husain bin Ali
4.      Ali Zainal Abidin bin Husain
5.      Muhammad Al Baqir bin Zainal Abidin
6.      Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir
7.      Musa Al Kadzim
8.      Ali Ridha
9.      Muhammad Al Jawwad
10.  Ali Al Hadi
11.  Hasan bin Ali Al Asykari
12.  Muhammad bin Hasan Al Asykari

Dari sini, sekte ini kemudian dikenal dengan Syiah Itsna Asyariyah (dua belas imam), supaya mereka dapat menafsirkan berakhirnya imam sampai yang ke dua belas, mereka mengatakan; “Sesungguhnya anak kecil yaitu Muhammad bin Al Hasan Al Askari tidak meninggal, tetapi bersembunyi di salah satu Sirdab (goa) dan masih hidup sampai saat ini (hidup lebih dari seribu tahun, bahkan hingga sekarang). Dan ia akan kembali pada suatu hari nanti untuk memimpin dunia, dialah Al Mahdi Al Muntazhar. Mereka juga menganggap Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan dengan menyebut nama-nama kedua belas imam, namun para sahabat menyembunyikannya, dari itu mereka mengkafirkan mayoritas sahabat, namun sebagian mereka menfasikkan, tidak sampai mengkafirkan, karena para sahabat telah menyembunyikan perkara para imam.

Setelah itu, mereka memasukkan dari ajaran Persia ke dalam system dinasti yang tidak dapat dielakkan, mereka berkata; “Pemimpin itu harus dari anak yang paling tua, di mulai dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan berlanjut hingga semua imam setelahnya.” Sebagaimana yang diketahui, bahwa system ini bukan dari ajaran Islam sama sekali, sampai negara-negara islam sunni yang menggunakan system dinasti pun seperti khilafah bani Umayyah, Abasiyah, Saljuk, Ayyubiyah dan Utsmaniyah tidak pernah sama sekali menyatakan bahwa sistem dinasti merupakan bagian dari ajaran agama, atau harus dari keluarga tertentu.
Mereka juga memasukkan dari ajaran Persia tentang masalah taqdis (suci dari dosa) terhadap keturunan para imam, mereka menyatakan tentang kema’shuman para imam dan terjaganya dari dosa, kemudian pernyataan itu mereka tetapkan dari Al Qur’an dan Al Hadits, bahkan sebagian besar kaidah-kaidah fikih dan syariat sekarang ini mereka sandarkan dari perkataan para imam, sama saja apakah para imam mengatakannya atau menisbatkan kepada mereka secara dusta. Lebih dari itu, dalam kitab “Al Hukumah Al Islamiyah”, Al Khumaini, sang revolusioner Iran mengatakan; “Sesungguhnya diantara prinsip madzhab kita, bahwa imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus.”[1]!!

Dari sini, mereka sangat memusuhi semua para sahabat (kecuali hanya sedikit, tidak lebih dari 13 sahabat), termasuk permusuhan mereka terhadap sebagian ahli bait, seperti paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Abbas dan anaknya Ibnu Abbas, ulama umat ini. Bukan rahasia lagi, bahwa cercaan dan pengkafiran ditujukan kepada mereka berdua dan kepada khilafah bani Abasiyah selain imam yang kedua belas. 

Di antara bid’ah mereka adalah menyatakan bahwa sebagian besar negeri-negeri Islam merupakan daar al kufri, mengkafirkan penduduk Makkah, Madinah dan Syam serta penduduk Mesir, bahkan dalam menyatakan hal itu mereka menisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menganggap bagian dari ajaran agama. Pernyataan-pernyataan ini terdapat dalam kitab-kitab induk yang mereka jadikan rujukan, seperti kitab Al Kaafi, Bihar Al Anwar, Tafsir Al Qumi, Tafsir Al ‘Iyasyi, Al Burhan dan kitab-kitab lainnya.

Selanjutnya mereka tidak akan menerima semua ulama dari kalangan Ahlisunnah dan menolak semua kitab-kitab shahih maupun sunan, baik Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’I, Abu Hanifah, Malik, As Syafi’I, Ibnu Hanbal, begitu juga mereka tidak akan menerima Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Umar bin Abdul Aziz, Musa bin Nushair, Nuruddin Mahmud, Shalahuddin, Qutuz, tidak juga Muhammad Al Fatih, dan seterusnya.

Hasilnya, mereka mengesampingkan para sahabat, tabi’in, kitab-kitab hadits dan tafsir, karena mereka mengadopsi perkataan-perkataan yang dinisbatkan kepada para imam, meskipun dari segi riwayat sangat lemah. Karena itu, muncul berbagai macam bid’ah mungkarah, baik dalam masalah akidah, ibadah, mu’amalat serta dalam masalah lainnya. Disini, kami tidak bertujuan membahas bid’ah-bid’ah tersebut, karena pembahasan ini membutuhkan banyak kitab, tetapi kami akan mengarahkan kepada pokok permasalahan, sehingga kita paham karakternya, jika tidak maka pembahasan kita akan melebar, seperti pembahasan seputar bid’ah taqiyah, raj’ah, pernyataan terhadap pendistorsian Al Qur’an, keyakinan yang rusak terhadap Allah dan bid’ah-bid’ah rusak lainnya yang mereka lakukan, bid’ah tentang peringatan hari terbunuhnya Imam Husain, serta ribuan bid’ah-bid’ah yang menjadi prinsip ajaran sekte Syiah Itsna Asyariyah.

Semua yang telah kami sebutkan adalah bagian dari ajaran Syiah Itsna Asyariyah, selain sekte ini disana juga masih banyak sekte yang masih eksis dalam periode sejarah, khususnya di periode yang dikenal dalam sejarah dengan peeriode “Khirah As Syi’ah” (masa kebingungan Syi’ah), yang dimulai pada pertengahan abad ketiga Hijriyah, setelah wafatnya Al Hasan Al Askari (imam ke sebelas mereka).

Di awal periode ini, mulai bermunculan tulisan-tulisan dan kitab-kitab yang menetapkan keyakinan dan pemikiran-pemikiran mereka. Ajaran ini tersebar luas di negeri Persia (Iran) khususnya, dan di negeri-negeri Islam lainnya, tetapi tanpa mmiliki daulah demi membangun pemikiran mereka secara resmi. Di akhir abad ketiga dan permulaan abad ke empat Hijriyah, terjadi perkembangan yang sangat membahayakan, karena di sebagian wilayah, Syiah sudah merambah ke dalam pemerintahan, inilah yang menimbulkan dampak buruk terhadap umat Islam.

Kita kembali kepada kaidah Ushul bahwa menilai sesuatu adalah bagian dari tashawwur (cara pandang) kita terhadapnya, karena di dalam menetapkan suatu perkara atau permasalahan harus diawali dengan pengetahuan, setelah pengetahuan yang benar di dapat, baru kita dapat menyatakan ini boleh dan ini tidak, atau yang lebih utama ini dan ini, sebab pernyataan yang hanya berdasarkan perasaan akan menimbulkan kerusakan. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga:
1. Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 1
2. Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 2



[1]. Al Khumaini “Al Hukumah Al Islamiyah, halaman; 52.

Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 2

Syiahindonesoa.com - Di akhir masa kekhilafahan bani Umayyah, gerakan bani Abasiyah berupaya sekuat tenaga membangun kekuatan guna mengkudeta kekhalifahan bani Umayah, gerakan ini bekerjasama dengan sekelompok orang yang menyempal dari Zaid bin Ali. Akhirnya kekuasaan bani Umayah tumbang pada tahun 132 H, dan berdirilah kekhilafahan bani Abasiyah dengan kepemimpinan Abu Al Abbas As Safah, kemudian Abu Ja’far Al Manshur. Sementara kelompok Syiah yang membantu dalam kudeta merasa kecewa, karena mereka berharap yang menjadi pemimpin adalah salah satu dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Tidak lama kemudian, mereka berusaha mengkudeta kekhalifahan bani Abasiyah, kelompok ini dikenal dengan At Thalibiyyin (dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib) yang menentang Abasiyin yang dinisbatkan kepada Abbas bin Abdul Mutthalib. 

Sampai saat itu, masih belum ada perbedaan mendasar dalam masalah akidah dan fikih kecuali dalam menghukumi Abu Bakar dan Umar, sebab sekelompok orang yang menyempal dari Zaid bin Ali menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, bahkan mereka melaknat keduanya secara terang-terangan.

Pada tahun 138 H, Ja’far Ash Shadiq wafat dengan meninggalkan seorang putera bernama Musa Al Kadzim, beliau juga seorang yang alim, tetapi tidak sealim ayahnya, beliau wafat pada tahun itu juga, dengan meninggalkan beberapa anak, diantaranya adalah Ali bin Musa Ar Ridha.

Khalifah Abasiyah Al Makmun berkeinginan untuk menyudahi fitnah yang terjadi di kalangan Ath Thalibiyiin yang menuntut supaya salah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai pemimpin, bukan dari keturunan Al Abbas, akhirnya Ali bin Musa Ar Ridha dinobatkan untuk menjabat wilayatul ahdi, hal inilah yang memicu perdebatan dikalangan Abasiyin, namun pada tahun 203 H Ali bin Ridha wafat secara tiba-tiba, sehingga Ath Thalibiyun menuduh Al Makmun yang membunuhnya, mereka pun melakukan revolusi terhadap daulah Abasiyah sebagaimana yang pernah mereka lakukan terhadap daulah Amawiyah. 

Seiring berjalannya tahun, tidak ada lagi konflik yang terjadi. Hingga periode ini, belum ada madzhab agama yang independen sebagaimana madzhab Syiah, yang ada hanyalah gerakan politik untuk mencapai kekuasaan dan menentang pemerintahan karena berbagai macam sebab, bukan karena sebab-sebab prinsip sebagaimana yang terdapat dalam manhaj Syiah sekarang ini.

Perlu diperhatikan, bahwa seruan untuk membelot dari pemerintahan Abasiyah sangat menggema diwilayah Persia (Iran sekarang), ditambah lagi mayoritas penduduk Persia merasa menyesal sepanjang tahun karena lenyapnya kerajaan Persia yang agung dan harus masuk ke dalam kesatuan daulah Islamiyah. Mereka juga menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih mulia keturunannya dan lebih mendalam sejarahnya dibandingkan kaum Muslimin lainnya, karena itu mereka terkenal dengan sebutan “As Su’ubiyah” yang fanatik terhadap suku tertentu, bukan kepada Islam, bahkan sebagian dari mereka menampakkan kecintaan yang mendalam terhadap simbol-simbol Persia, sampai kepada api yang mereka sembah.

Ketika mereka tidak memiliki kekuatan seorang diri untuk memberontak daulah Islamiyah, karena masih tergolong orang-orang Islam yang memiliki ikatan selama beberapa decade, dan tatkala mrreka mendapati revolusi yang dilakukan oleh kelompok Ath Thalibiyin sebagai solusi alternatif, maka mereka tergabung dengan kelompok ini demi menumbangkan khilafah Islamiyah yang dulunya telah menumbangkan daulah Persia. Di waktu yang sama, mereka tidak meninggalkan Islam yang telah mereka peluk selama beberapa tahun, akan tetapi mereka berusaha merubah ajaran Islam dengan warisan-warisan Persia. Mereka akan terus mencoba demi teralisasinya kebelangsungan pergolakan yang ada tubuh umat Islam, meski mereka tidak akan sampai di puncak pyramid, akan tetapi mereka akan menemui Ath Thalibiyin yang bernisbat kepada Ali bin Abi Thalib, termasuk ahli baitnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan memiliki kedudukan di hati manusia, dengan demikian seruan ini akan terus berlangsung.


Demikianlah upaya persatuan yang dilakukan As Syu’ubiyun Persia dengan kelompok Ath Thalibiyun dari ahli bait untuk membentuk satu kesatuan baru dan melebur menjadi kelompok independen yang tidak hanya sekedar dari sisi politik tetapi juga dari sisi agama. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga:

Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 1

Syiahindonesia.com - Sesungguhnya masalah ini bukanlah masalah orang-orang yang hidup di suatu negeri yang memiliki berbagai persoalan dengan negeri tetangga, akan tetapi ini adalah masalah pokok yang berkaitan dengan akidah, fikih dan sejarah yang seharusnya permasalahan itu kembali kepadanya.

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syiah, pendapat yang populer dimasyarakat umum bahwa Syiah adalah orang-orang yang mendukung Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ketika berselisih dengan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, karena itu pendukung Mu’awiyah disebut kaum ahlisunnah, sedangkan pendukung Ali disebut kaum Syiah, tapi sebenarnya pendapat ini tidak benar.

Kaum Ahlisunnah (ketika itu) meyakini bahwa kebenaran -dalam perselisihan yang terjadi diantara dua sahabat mulia- ada pada pihak Ali radhiallahu ‘anhu, sedangkan Mu’awiyah telah berijtihad, tetapi ijtihadnya belum mencapai derajat kebenaran, maka pendapat Ahlisunnah yang berpihak kepada Ali radhiallahu ‘anhu cukup jelas. Sedangkan prinsip, ajaran dan keyakinan yang dipegang oleh Syiah sekarang ini bukan termasuk prinsip dan ajaran Ali bin Abi Thalib, maka tidak benar jika ada pendapat yang mengatakan bahwa Syiah muncul ketika zaman Ali bin Abi Thalib.

Diantara ahli sejarah ada yang berpendapat bahwa Syiah bermula setelah terbunuhnya Al Husain radhiallahu ‘anhu, yaitu setelah Al Husain membelot dari kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, kemudian ia menuju Iraq untuk memenuhi panggilan penduduk Iraq yang berjanji akan menolongnya, tetapi mereka meninggalkan Al Husain yang menyebabkan beliau terbunuh di Karbala. Penduduk Iraq yang meminta beliau pun menyesal dan memutuskan untuk menebus kesalahan-kesalahan mereka dengan keluar dari daulah Umawiyah, hal inilah yang memicu pemberontakan dan menyebabkan terbunuhnya sebagian dari mereka, dari situ mereka dikenal dengan kaum Syiah. Peristiwa ini semakin menjelaskan kita, ternyata ikatan mereka dengan Al Husain bin Ali jauh lebih erat daripada ikatan mereka dengan Ali bin Abi Thalib sendiri, -sebagaimana kita saksikan- mereka mengadakan peringatan atas syahidnya Al Husain, namun tidak mengadakan peringatan atas syahidnya Ali bin Abi Thalib.

Perkembangan Syiah (pada masa ini) hanya sebatas perkembangan kelompok politik yang menentang pemerintahan bani Umayah dan mendukung setiap pemikiran yang keluar dari pemerintahannya, belum ada prinsip-prinsip akidah dan madzhab fikih yang menyelisihi Ahlisunnah, bahkan kita melihat para tokoh dan para imam yang dianggap imam Syiah generasi pertama, mereka tidak lain dari kalangan Ahlisunnnah yang bericara dengan akidah dan prinsip-prinsip Ahlisunnah.

Selama beberapa bulan sepeninggal Imam Husein, kondisi ini masih stabil. Kemudian muncul Ali Zainal Abidin bin Husein, beliau termasuk manusia terbaik dan dari tokoh ulama yang zuhud, dimana keyakinan dan pemikiran beliau tidak ada yang bertentangan dengan keyakinan dan pemikiran para sahabat dan tabi’in.


Beliau memiliki anak yang terkenal dengan derajat wara' serta taqwa, mereka adalah Muhammad Al Baqir dan Zaid. Keduanya memiliki prinsip yang sesuai dengan prinsip para ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, namun Zaid bin Ali sedikit berbeda, karena beliau mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak dengan khilafah daripada Abu Bakar. Meskipun beliau menyelisihi kesepakatan para ulama, dan menyelisihi hadits-hadits yang secara langsung mengangkat kedudukan Abu Bakar, Umar dan Utsman di atas Ali, namun perbedaan ini bukanlah berbedaan prinsip, sebab beliau masih mengakui keutamaan ketiga khalifah tersebut, hanyasanya kedudukan Ali lebih utama daripada mereka. Sebagaimana beliau juga berpendapat bolehnya kepemimpinan orang yang tidak diprioritaskan, meskipun demikian beliau tidak mengingkari kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhum. Selain point ini, maka akidah, prinsip dan fikih mereka banyak yang sesuai dengan akidah, prinsip dan fikih Ahlisunnah. 

Pada masa itu, Zaid bin Ali keluar (membelot) dari kekhalifahan bani Umayyah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kakeknya Al Husain bin Ali, yaitu pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik dan berakhir dengan terbunuhnya Zaid bin Ali pada tahun 122 H. Kemudian, para pengikutnya berupaya mendirikan madzhab baru diatas pemikiran Zaid bin Ali, oleh sejarah madzhab ini dikenal dengan Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Zaid bin Ali. Meskipun demikian, madzhab ini memiliki banyak kesesuaian dengan Ahlisunnah, namun mereka lebih mengutamakan Ali daripada ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman). Penganut madzhab ini tersebar di Yaman, mereka adalah sekte Syiah yang lebih dekat dengan Ahlisunnah, bahkan disebagian besar perkara, hampir tidak ada perbedaan dengan Ahlisunnah.

Perlu diingat bahwa dari pengikut Zaid, ada sekelompok orang yang bertanya mengenai pendapat beliau tentang Abu Bakar dan Umar, maka beliau menyanjung mereka berdua, namun sekelompok orang ini justru menolak sanjungan Zaid atas mereka berdua, kemudian mereka menyempal dari Zaid bin Ali, oleh sejarah mereka dikenal dengan Syiah Rafidhah, karena di satu sisi mereka menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, dan di sisi lain mereka menolak pendapat Zaid bin Ali. Dan kelompok inilah yang nantinya mendirikan mazhab Syiah "Itsna Asyariyah”, yang termasuk madzhab terbesar Syiah.

Muhammad Al Baqir meninggal dunia delapan tahun sebelum saudaranya Zaid bin Ali, (tepatnya pada tahun 114 H), dan meninggalkan seorang putra yang sangat alim, dialah Ja’far Ash Shadiq, seorang ulama yang diberkahi, fakih lagi cerdas, beliau juga berkata sesuai dengan akidahnya para sahabat, tabi’in dan ulama kaum Muslimin.(Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga: