Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Fakta, Syiah Qaramithah Bantai Jama’ah Haji & Curi Hajar Aswad

Ilustrasi
Syiahindonesia.com - Berikut akan kami paparkan fakta kelam Syiah yang kami kutip dari Tanyasyiah.com. Dimana tinta sejarah mengungkap bahwa sejatinya mereka adalah musuh Islam, bahkan musuh yang sangat berbahaya. Mereka berpakaian layaknya seorang muslim, mengaku muslim, dan bersahabat dengan muslim, namun sebenarnya mereka hendak menusuk kaum muslimin dari belakang sebagaimana perjalanan kelam mereka beberapa tahun silam.

Syiah al-Qaramithah salah satunya, Ia merupakan salah satu sekte sempalan dari sebuah agama Syiah yang berusaha untuk menjadi Abrahah di umat ini dengan membantai kaum Muslimin yang hendak menunaikan ibadah Haji di Mekkah, dan mereka (Syiah al-Qaramithah) juga memecah serta mencongkel Hajar Aswad dari Ka’bah Mekkah dan membawanya ke daerah kekuasaannya pada tahun 317 Hijriyah.
Mereka melakukan kekejian tersebut dikarenakan terdapat sebuah perintah dari agamanya yakni Syiah, untuk memasangkan/meletakkan Hajar Aswad di Masjid Kufah agar menjadi Kiblat kaum Syiah dalam menghadapkan wajahnya dalam shalat.



Nouri al-Maliki Perdana Menteri Syiah Rafidhah Irak

Dengan izin dari Allah, kami akan meningkatkan (pelayanan) Karbala. Karena Karbala seharusnya menjadi kiblat bagi dunia Islam, dikarenakan al-Husain berada di dalamnya. Dan Insya Allah keinginan saya adalah pejabat daerah yang terkait segera mempercepat dalam meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada para penziarah Imam al-Husain dalam setiap acara. Dan pelayanan terhadap penziarah Imam al-Husain tidak hanya diberikan untuk acara 10 Muharram atau Arba’in saja. Namun juga (pelayanan diberikan) pada setiap hari Jumat dan bahkan (seharusnya) setiap hari, karena ia (Karbala) merupakan Kiblat dan Kiblat dalam menghadap kepadanya lima kali sehari dan juga al-Husain adalah putra Kiblat ini yang Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan untuk menghadap kepadanya.

Pada suatu hari kami berada di sekitar Amirul Mukminin (‘alaihi Salam) di Masjid Kufah, ia berkata, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mencintai kalian dengan sesuatu yang Ia tidak pernah mencintai seorang pun (sebelum kalian), yakni keutamaan dalam tempat shalat (Masjid Kufah) kalian.
Dan tidaklah berlalu hari-hari hingga dipasangkan/diletakkan Hajar Aswad di dalam (Masjid Kufah) ini, dan sungguh akan datang atasnya (Masjid Kufah) pada suatu zaman di mana (Masjid Kufah) ini akan menjadi tempat shalat al-Mahdi yang berasal dari keturunanku, serta tempat shalat bagi setiap Mukmin. Tidak tersisa di atas bumi seorang Mukmin pun, kecuali ia menjadikan (Masjid Kufah tempat shalat) atau hatinya sangat mengharapkannya (shalat di Masjid Kufah).[Al-Amaliy 298, Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah]

Hal ini telah mereka (Syiah al-Qaramithah) akui ketika Hajar Aswad dikembalikan ke tempatnya semula yakni Ka’bah di Mekkah pada tahun 339 Hijriyyah.

Mereka (Syiah al-Qaramithah) berkata, “Kami mengambilnya dengan sebuah perintah dan kami tidak akan mengembalikannya kecuali dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya.”

Namun pada tahun ini (339 Hijriyah), mereka membawanya ke Kufah dan menggantungkannya di atas tiang yang ketujuh dari Jami’ (Masjid)-nya agar manusia dapat melihatnya. Kemudian saudara-saudara Abu Thahir menuliskan sebuah tulisan padanya, “Sesungguhnya kami mengambil batu ini dengan sebuah perintah dan kami telah mengembalikannya dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya, agar menyempurnakan Haji manusia dan manasik kalian.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/252, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Sejarah kelam Syiah al-Qaramithah

Tahun 278 Hijriyah
 (Ibnu al-Jauziy) berkata, “Pada tahun ini (278 Hijriyah) al-Qaramithah (Syiah) melakukan pergerakkan, mereka (Syiah al-Qaramithah) berasal dari kaum Zanadiqah (Zindiq-Munafiq) yang atheis, pengikut filsafat Persia yang meyakini kenabian Zaradista (Zoroaster) dan Mazdak, yang di mana keduanya menghalalkan apa-apa yang diharamkan.
Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) selain itu juga menjadi pengikut setiap penyeru kepada kebatilan. Kebanyakan mereka (Syiah al-Qaramithah) adalah orang-orang rusak yang berasal dari Rafidhah (Syiah) dan mereka (Syiah al-Qaramithah) masuk ke dalam kebatilan dari arah mereka (Syiah Rafidhah), dikarenakan mereka adalah manusia yang paling kecil otaknya. Mereka juga dinamai dengan al-Isma’iliyyah (Syiah), bukan nisbat ke Isma’il al-A’raj bin Ja’far ash-Shadiq.
Mereka dinamakan juga dengan al-Qaramithah (Syiah), yakni nisbat kepada Qirmith bin al-Asy’ats al-Baqqar. Dikatakan bahwasanya pimpinan mereka pada awal dakwahnya memerintahkan para pengikutnya untuk mengerjakan shalat 50 (raka’at) dalam sehari semalam untuk menyibukkan mereka dengannya agar dapat merencanakan tipu muslihatnya.
Kemudian ia memilih 12 (dua belas) panglima dan memberikan asas (peraturan) bagi para pengikutnya baik dalam seruan serta tingkah laku sehingga mereka mengikutinya (asas tersebut), serta ia (juga) menyeru kepada Imam Ahlul Bait.
Mereka juga disebut sebagai al-Bathiniyyah (Syiah), karena secara lahiriyah menolak dan menyembunyikan kekafiran yang murni. (Selain itu) mereka disebut sebagai al-Khurramiyyah dan al-Babakiyyah, nisbat kepada Babak al-Khurramiy yang melakukan pemberontakan pada masa pemerintahan al-Mu’tashim.
Mereka juga disebut sebagai at-Ta’limiyyah, dikarenakan mengambil ilmu dari Imam al-Ma’shum, serta meninggalkan pendapat dan tuntunan akal.
Mereka juga disebut sebagai as-Sab’iyyah berdasarkan perkataan mereka yakni terdapat 7 (tujuh) bintang berbeda yang beredar yang mengendalikan alam ini dan mereka menyerukan (keyakinan ini), semoga laknat Alllah bagi mereka.
Telah disebutkan oleh Ibnul Jauziy secara rinci mengenai perkataan (keyakinan) mereka dan membongkarnya. Sebelumnya Abu Bakar al-Baqilaniy yang terkenal di dalam kitabnya “Hatku al-Astar wa Kasyfu al-Asrar” telah membantah al-Bathiniyyah (Syiah). Dan (juga) membantah atas kitab mereka yang dikarang oleh seorang qadhi mereka di negeri Mesir pada masa pemerintahan al-Fathimiyyun yang dinamakan “al-Balagh al-A’zhim wa an-Namus al-Akbar”. Kitab tersebut memiliki 16 (enam belas) tingkatan. Tingkatan pertama, ia menyeru orang yang membacanya jika ia berasal dari kalangan Ahlus Sunnah untuk mengutamakan Aliy di atas ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian ia akan mengajaknya jika telah sepakat, untuk mengutamakan ‘Aliy atas 2 (orang) Syaikh, yakni Abu Bakar dan ‘Umar. Kemudian meningkat kepada mencaci-maki mereka, dikarenakan mereka berdua telah mendzalimi ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Kemudian meningkat lagi bahwasanya umat ini bodoh dan keliru karena mayoritasnya menyepakati (Abu Bakar dan Umar). Kemudian mulailah mencemari agama Islam dari sumbernya (Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).
Selanjutnya, mereka memiliki masing-masing tingkatan dalam hal kekafiran, kezindiqan (munafiq), kemustahilan yang seharusnya (tidak didengar) oleh orang yang lemah akal dan agama atau lemah persepsinya. Melalui mereka inilah iblis membuka berbagai pintu kekafiran dan kebodohan.
Maksudnya adalah kelompok ini (Syiah al-Qaramithah) melakukan pergerakkan pada tahun ini, kemudian perkara mereka menjadi gawat dan menimbulkan situasi yang genting, sebagaimana yang akan dijelaskan nantinya. Sedemikian gentingnya hingga mereka (Syiah al-Qaramithah) memasuki Masjidil Haram untuk menumpahkan darah jama’ah Haji di tengah Masjid yakni sekitar Ka’bah, mereka (Syiah al-Qaramithah) memecah Hajar Aswad dan mencongkelnya dari tempatnya. Mereka membawanya ke negeri mereka pada tahun 317 Hijriyah, kemudian tetap berada di sisi mereka (Syiah al-Qaramithah) hingga tahun 339 Hijriyah. Sehingga (Hajar Aswad) pernah hilang dari tempatnya yakni Baitul (Ka’bah) selama 22 tahun –Inna lillahi wa inna lillahi raji’un-.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/71-72, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 286 Hijriyah
Pemberontakan Abu Sa’id al-Janabiy, pemimpin al-Qaramithah (Syiah). Mereka lebih keji daripada Zanji dan paling rusak. Pemberontakannya muncul pada bulan Jumadil Akhir di tahun ini di tepi kota Bashrah. Datangnya dukungan dari kalangan Arab Badui dan selainnya dengan jumlah yang banyak, pasukannya sangat kuat. Ia membantai di daerah sekitarnya dari penduduknya, kemudian pergi ke Qathif dekat Bashrah, berhasrat untuk memasukinya. Maka Khalifah al-Mu’tadhid menulis surat kepada wakilnya dan memerintahkannya untuk membentengi dindingnya. Maka merekapun merenovasi bangunan (menara)-nya dengan biaya sekitar 4.000 (empat ribu) dinar, sehingga selamatlah dari al-Qaramithah (Syiah) disebabkan (renovasi benteng).
Abu Sa’id al-Jannabiy beserta pasukannya dari al-Qaramithah (Syiah) dapat menguasai kota Hajar dan sekitar negerinya, serta banyak melakukan kerusakan di atas muka bumi.
Asal-usul Abu Sa’id al-Jannabiy adalah seorang makelar makanan yaitu menjualnya dan menghitung harganya kepada masyarakat. Hingga datang seorang laki-laki kepadanya, ia adalah Yahya bin al-Mahdi pada tahun 281 Hijriyah. Lalu ia mengajak penduduk Qathif untuk membaiat al-Mahdi, maka seorang laki-laki menerimanya, ia adalah ‘Aliy bin al-‘Ala bin Hamdan az-Ziyadiy. Ia membantunya dalam menyeru kepada al-Mahdi, ia mengumpulkan Syiah yang berada di Qathif, sehingga mereka (Syiah) pun menerimanya. Di antara yang menerimanya adalah Abu Sa’id al-Jannabiy –semoga Allah memburukannya-. Kemudian ia (Abu Sa’id al-Jannabiy) menguasai urusan mereka dan kemudian muncullah di antara mereka kaum al-Qaramithah (Syiah), lalu mereka (Syiah al-Qaramithah) menerimanya dan mendukungnya. Lalu ia memimpin mereka dan menjadi penasihat dalam urusan mereka.
Asalnya dari negeri kecil yang disebut Jannabah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/92-93, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 287 Hijriyah
Pada bulan Rabi’ul Awal di tahun ini, semakin merajalela perkara al-Qaramithah (Syiah) pengikut Abu Sa’id al-Jannabiy. Mereka (Syiah al-Qaramithah) membantai, menawan dan membuat kerusakan di negeri Hajar.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/95, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 288 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) mendekati kota Bashrah, sehingga penduduknya sangat ketakutan terhadap mereka (Syiah al-Qaramithah). Mereka (penduduk Bashrah) berniat mengungsi darinya, namun gubernurnya melarang mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/97, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 289 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) datang untuk mengelamkan Kufah.
Pada tahun ini al-Qaramithah (Syiah) menuju ke Damaskus dengan pasukan yang besar. Situasinya semakin genting, peristiwa ini didalangi oleh Yahya bin Zakrawaih bin Bahrawaih yang mengakui di hadapan al-Qaramithah (Syiah) sebagai Muhammad bin Abdullah bin Isma’il bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy bin al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thalib, Dalam hal ini (pengakuan nasab)-nya adalah kedustaan. Ia juga mengklaim bahwasanya perintahnya diikuti oleh 100.000 (seratus ribu) orang, dan untanya mendapatkan perintah (wahyu) yaitu kemana saja ia mengarah maka akan diberikan kemenangan atas penduduk yang ditujunya.
Klaimnya tersebut tersebar luas di kalangan mereka (Syiah al-Qaramithah), sehingga mereka (Syiah al-Qaramithah) menggelarinya sebagai Syaikh. Ia juga diikuti oleh kelompok yang berasal dari bani al-Ashbagh yang dinamakan al-Fathimiyyun (Syiah).
Al-Khalifah mengirimkan kepada mereka (Syiah al-Qaramithah) sebuah pasukan besar, Namun mereka (Syiah al-Qaramithah) berhasil mengalahkannya. Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) melewati Rushafah dan membakar Jami’ (Masjid)-nya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/98, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 290 Hijriyah
Pada tahun ini Yahya bin Zakrawaih bin Mahrawaih Abu Qasim al-Qirmithiy yang dikenal sebagai Syaikh datang dengan pasukannya. Ia mendatangi pinggiran kota Raqqah dengan membuat kerusakan.
Pada tahun ini terbunuhnya Yahya bin Zakrawaih di gerbang Damaskus oleh seseorang yang berasal dari Magribiyyah dengan lemparan Mizraq yang berapi, sehingga membunuhnya.
Pimpinan al-Qaramithah (Syiah) setelahnya diambil-alih oleh saudaranya yakni al-Husain, ia menamai (diri)-nya dengan Ahmad alias Abu al-‘Abbas yang bergelar Amirul Mukminin. Al-Qaramithah (Syiah) mentaatinya, lalu ia mengepung Damaskus, kemudian penduduknya berdamai kepadanya dengan membayarkan upeti. Setelah itu ia bergerak menuju Homs dan menaklukkannya, lantas (namanya) disebut di atas mimbar-mimbarnya.
Kemudian ia bergerak menuju Hamah dan Ma’arah an-Nu’man, lalu ia dapat mengalahkan penduduknya, merampas harta dan menculik wanita-wanita mereka, dan mereka juga membantai ternak dan anak-anak. Ia mengizinkan pasukannya untuk memperkosa para wanitanya, ada kalanya seorang wanita diperkosa oleh sejumlah laki-laki yang banyak. Apabila wanita tersebut melahirkan seorang anak, maka masing-masing dari mereka mengucapkan selamat kepada temannya yang lain.
Orang Qirmith tersebut menulis surat kepada sahabat-sahabatnya dengan berisi :
“Dari Abdullah al-Mahdi Ahmad bin Abdullah yang diberi petunjuk, ditolong, membela agama Allah, menjalankan perintah Allah, menghukumi dengan hukum Allah, yang menyeru kepada Kitabullah, membela kehormatan Allah, yang terpilih dari keturunan Rasulullah.”
Pengakuannya bahwasanya ia adalah seorang keturunan ‘Aliy bin Abi Thalib dari (jalur) Fathimah. Padahal ia adalah seorang pendusta dan pembohong –semoga Allah memburukannya-. Sesungguhnya ia adalah seorang yang paling benci terhadap Quraisy, kemudian Bani Hasyim.
Selanjutnya, ia memasuiki Sulamyah dan tidak menyisakan seorang pun dari Bani Hasyim, hingga membantai mereka dan membunuh anak-anak mereka serta menculik wanita-wanita mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/108-109, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 291 Hijriyah
Pada tahun ini terjadi perang besar antara al-Qaramithah (Syiah) dengan pasukan Khalifah. Mereka berhasil mengalahkan al-Qaramithah (Syiah) dan menawan pimpinannya yakni al-Husain bin Zakrawaih Dzu Syamah. Tatkala ditawan, ia dibawa kepada Khalifah bersama sejumlah besar panglima pasukannya, lalu dibawa masuk ke Baghdad dengan dinaikkan ke gajah yang telah terkenal. Kemudian Khalifah memerintahkan untuk mendirikan panggung yang tinggi, lantas ia diduduki di atasnya dan pasukannya digiring serta dipenggal leher mereka di hadapannya dan ia pun melihatnya, dan mulutnya disumpal dengan kayu panjang yang diikat pada tengkuknya. Kemudian ia diturunkan untuk didera sebanyak 200 cambukan, setelah itu dipotong tangan dan kakinya, disetrika, setelah itu dibakar dan kepalanya diletakkan di atas kayu seraya diarak keliling Baghdad. Kejadian tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Awal di tahun ini.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/110, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 293 Hijriyah
Pada tahun ini, saudaranya al-Husain al-Qirmithiy yang dikenal dengan Dzu Syamah yang terbunuh sebelumnya mendapatkan banyak dukungan dari al-Qaramithah (Syiah) yang berada di jalanan al-Furat. Mereka membalas dendam dengan membuat kerusakan di atas muka bumi.
Kemudian berangkat menuju Thabariyah, (penduduknya) menghalanginya. Sehingga ia memasuki (Thabariyah) dengan paksa, maka terbunuhlah penduduknya dengan sangat banyak dari kalangan laki-laki. Dan merampas hartanya dengan sangat banyak, kemudian istirahat pergi kembali ke padang pasir.
Kelompok lainnya yang berasal dari mereka memasuki kota Hit, lalu mereka membantai penduduknya kecuali sedikit (yang dibiarkan hidup). Mereka merampas harta yang banyak, sehingga mereka membawanya dengan 3.000 (tiga ribu) unta.
Telah muncul seorang laki-laki yang berasal dari al-Qaramithah (Syiah) yang disebut sebagai ad-Daiyah di Yaman. Lalu ia mengepung Shan’a dan memasukinya dengan paksa, serta membantai dengan sangat banyak penduduknya. Kemudian berangkat menuju kota-kota Yaman lainnya yang tersisa, lantas membuat kerusakan yang amat banyak serta membantai banyak penduduknya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/113, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 294 Hijriyah
Pada bulan Muharram di tahun ini, Zakrawaih dan pasukannya merampok jama’ah Haji yang berasal dari penduduk Khurasan yang sedang melakukan perjalanan dari Makkah. Mereka membantai mereka semua serta merampas hartanya dan menawan wanita-wanitanya. Nilai harta yang mereka ambil adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, sedangkan jumlah yang dibantai sebanyak 20.000 (dua puluh ribu) jiwa. Para wanita al-Qaramithah berjalan di antara orang-orang yang terbunuh dari kalangan jama’ah Haji sambil memegang tempat minuman air dalam rangka berpura-pura memberikan air minum bagi orang yang terluka dalam kehausan. Namun jika ada yang berbicara kepada mereka dari orang yang terluka, maka mereka akan membunuhnya dan mengakhiri hidupnya –semoga laknat Allah atas wanita (Syiah al-Qaramithah) dan laknat atas suami-suaminya.
Kisah terbunuhnya Zakrawaih –semoga Allah melaknatnya-
Tatkala telah sampai beritanya kepada Khalifah mengenai jama’ah Haji yang dibantai oleh orang yang keji. Maka (Khalifah) menyiapkan sebuah pasukan yang besar untuk menghadapi mereka (Syiah al-Qaramithah), sehingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Lalu terbunuhlah al-Qaramithah (Syiah) dengan sangat banyak tanpa tersisa darinya kecuali sedikit. Peristiwa tersebut terjadi pada awal bulan Rabi’ul Awal di tahun ini.
Seorang laki-laki menebas Zakrawaih dengan pedang di kepalanya hingga mencapai otaknya. Setelah itu ia ditawan dan mati 5 (lima) hari kemudian.
(Khalifah) juga membebaskan orang-orang yang ditangkap oleh al-Qaramithah (Syiah) dari kalangan wanita dan anak-anak yang ditawan oleh mereka (Syiah al-Qaramithah).
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/114-115, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 302 Hijriyah
Arab badui dan kelompok dari al-Qaramithah (Syiah), mereka merampok para jama’ah Haji yang baru pulang dari Haji. Mereka merampas darinya harta yang sangat banyak dan membantai mereka dengan sangat banyak juga, serta menawan lebih dari 200 wanita merdeka. [Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/139, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 307 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) memasuki Bashrah dan melakukan kerusakan.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/149, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 311 Hijriyah
Pada tahun ini, Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy pemimpin al-Qaramithah (Syiah) bersama 1.700 (seribu tujuh ratus) pasukan berkuda memasuki Bashrah pada malam hari. Mereka (Syiah al-Qaramithah) memasang tangga yang terbuat dari rambut/bulu pada dinding-dinding Bashrah, lalu memasukinya secara paksa dan membuka pintu-pintunya. Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) membantai orang-orang yang ditemui dari penduduknya. Kebanyakan penduduknya melarikan diri dan menceburkan dirinya ke dalam sungai, sehingga banyak yang tenggelam dari mereka. Dia menetap di sana selama 17 (tujuh belas) hari, membunuh dan menawan kaum wanita maupun anak-anaknya, serta merampas dari harta yang dipilihnya.
Kemudian kembali ke negerinya yakni Hajar. Ketika sang Khalifah mengirim kepadanya sebuah pasukan dari pihaknya (Khalifah), maka ia pun melarikan diri kabur dan meninggalkan negeri (Bashrah) dalam keadaan kosong. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/168, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 312 Hijriyah
Pada bulan Muharram di tahun ini, al-Qirmithiy (Syiah) yakni Abu Thahir al-Husain bin Abu Sa’id al-Jannabiy –semoga Allah melaknatnya & melaknat ayahnya- merampok jama’ah Haji yang baru kembali dari Baitullah al-Haram setelah melaksanakan kewajiban Allah atas mereka. Ia (Abu Thahir) memblokade rute perjalanan mereka, maka mereka (jama’ah Haji) melawannya dalam rangka membela harta, diri dan wanita mereka. Ia (Abu Thahir) membantai mereka dengan sangat banyak yang (jumlah) tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Dia (Abu Thahir) menawan kaum wanita dan anak-anak mereka yang dipilihnya, serta memilih harta mereka yang dikehendakinya. jumlah yang dirampasnya dari harta (jama’ah Haji) adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, serta barang-barang dan dagangan yang (jumlahnya) sebesar sekitar itu juga. Lalu ia (Abu Thahir) meninggalkan orang-orang yang tersisa setelah merampas unta, bekal, harta dan para wanita serta anak-anaknya di negeri padang pasir yang liar tanpa adanya air dan bekal serta sekedup.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/170, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 313 Hijriyah
Pada bulan Shafar di tahun ini, berlepas dirinya dari Khalifah oleh sekelompok orang dari Rafidhah (Syiah). Mereka berkumpul di masjid Baratsa, mereka (Syiah Rafidhah) melecehkan para Shahabat dan tidak melaksanakan shalat Jum’at. Mereka (Syiah Rafidhah) mengirimkan surat kepada al-Qaramithah (Syiah) dan mengajak mereka kepada (kepemimpinan) Muhammad bin Isma’il yang muncul di antara Kufah dan Baghdad, seraya mengklaim bahwasanya ia adalah al-Mahdi.
Orang-orang berangkat pergi Haji pada bulan Dzulqa’dah, maka Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy al-Qirmithiy merampok mereka, sehingga banyak orang-orang yang kembali ke negerinya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/173, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 316 Hijriyah
Pada tahun ini Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy membalas dendam dengan membuat kerusakan di atas permukaan bumi. Ia mengepung Rahbah dan memasukinya dengan paksa serta membantai penduduknya dengan sangat banyak.
Ia juga membalas dendam di tepian Moshul dengan membuat kerusakan dan di Sinjar serta di wilayah-wilayah sekitarnya. Ia menghancurkan negerinya dan membantai, merampok serta merampas.
Dan ia juga mengajak al-Mahdi (Syiah al-Fathimiyyah) yang berada di negeri Maghrib di kota al-Mahdiyah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/179, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 317 Hijriyah
Kisah perampasan al-Qaramithah (Syiah) terhadap Hajar Aswad ke negerinya (Syiah al-Qaramithah).
Pada tahun ini rombongan ‘Iraq keluar dan pimpinan (rombongan) mereka adalah Manshur ad-Dailamiy, hingga mereka tiba di Makkah dengan selamat. Lalu rombongan-rombongan lain pun tiba dari segala penjuru. Mereka tidak mengetahui kecuali al-Qirmithiy (Syiah) telah keluar menuju mereka bersama kelompoknya pada hari Tarwiyah, kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) merampas harta mereka dan membolehkan atas pembunuhan mereka. Maka dibantailah di dataran tinggi Makkah dan celah-celah bukitnya, bahkan di dalam Masjidil Haran serta di dalam Ka’bah dari jama’ah Haji yang sangat banyak. Pimpinan mereka (Syiah al-Qaramithah) Abu Thahir –semoga Allah melaknatnya- duduk di atas pintu ka’bah, sedangkan orang-orang (mati) bergelimpangan di sekitarnya. Pedang-pedang menebas orang-orang di Masjidil Haram pada bulan Haram di hari Tarwiyah.
Orang-orang pun melarikan diri dari mereka (Syiah al-Qaramithah) sambil memegang tirai Ka’bah, namun tidak berguna bagi mereka, bahkan mereka (Syiah al-Qaramithah) membunuh mereka (jama’ah Haji) dalam keadaan demikian. Mereka (Syiah al-Qaramithah) pun melakukan thawaf sambil membunuh mereka (jama’ah Haji) yang sedang melakukan thawaf.
Kemudian al-Qirmithiy (Syiah) –semoga Allah melaknatnya- memerintahkan untuk melakukan perlakuan terhadap jama’ah Haji dengan perlakuan yang buruk, yakni memerintahkan agar menguburkan (jama’ah Haji) yang terbunuh di sumur zamzam dan banyak dari mereka yang dikuburkan di tempat (terbunuhnya) di dalam (Masjidil) Haram.
Ia juga menghancurkan kubah zamzam dan memerintahkan untuk menanggalkan pintu Ka’bah serta mencopot kiswahnya darinya, lalu ia membagi-bagikannya kepada sahabat-sahabatnya. Kemudian ia memerintahkan seseorang agar naik ke talang Ka’bah untuk mencopotnya, lalu ia terjatuh dengan kepala terlebih dahulu, sehingga tewas menuju Neraka.
Kemudian ia memerintahkan untuk mencopot Hajar Aswad, maka datanglah seorang laki-laki yang memukulnya (Hajar Aswad) dengan benda berat yang ditangannya seraya berkata, “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari tanah yang terbakar?” Kemudian ia melepas Hajar Aswad dan membawanya ketika mereka mulai kembali ke negerinya. (Hajar Aswad) tetap berada di (negeri) mereka selama 22 (dua puluh dua) tahun hingga mereka mengembalikannya sebagaimana yang akan disebutkan (kisahnya) pada tahun 339 Hijriyah. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/182, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 339 Hijriyah
Pada tahun yang diberkahi ini yakni bulan Dzulqa’dah di tahun ini, Hajar Aswad al-Makkiy dikembalikan ke tempatnya di Baitul (Haram), di mana al-Qaramithah (Syiah) mengambilnya pada tahun 317 Hijriyah sebagaimana yang telah (dikisahkan) sebelumnya. Pemimpin mereka (Syiah al-Qaramithah) saat itu adalah Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Husain al-Jannabiy.
Namun pada tahun ini, mereka membawanya ke Kufah dan menggantungkannya di atas tiang yang ketujuh dari Jami’ (Masjid)-nya agar manusia dapat melihatnya. Kemudian saudara-saudara Abu Thahir menuliskan sebuah tulisan padanya, “Sesungguhnya kami mengambil batu ini dengan sebuah perintah dan kami telah mengembalikannya dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya, agar menyempurnakan Haji manusia dan manasik kalian.”
Kemudian mengirimkannya ke Makkah tanpa ikatan apapun, lalu tiba pada bulan Dzulqa’dah di tahun ini.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/252, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Syiah Mengganti Talbiyah Haji “Labbaika Allahumma Labbaik” Menjadi “Labbaika Ya Husein”

Syiahindonesia.com - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan setiap muslim yang mendapat karunia melaksanakan haji untuk melantunkan talbiah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah dengan tauhid, yaitu:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ. رواه مسلم

“Labbaika Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik, Innal Hamda wan Ni’mata Laka wal Mulk, Laa Sayriika Lak.”

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanyalah kepunyaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”.

Kalimat tauhid ini dilantunkan sejak calon haji berihram sampai sebelum melontar Jumrah Aqabah hari ke -10 Dzulhijjah.

Kalimat talbiah adalah kalimat tauhid, mengesakan Allah, sebagai jawaban dari seruan Nabi Ibrahim ‘alahis salam’ yang diperintahkan Allah, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. al-Hajj :27)

Namun sayang sebagian orang yang mengaku Islam datang jauh-jauh  ke Tanah Haramain, hanya untuk merusak suasana haji nan syahdu. Yah, segerombolan jama’ah haji Syi’ah dari Irak, jauh-jauh datang ke Makkah hanya untuk meneriakkan “Labbaika Ya Husein, Labbaika Ya Husein..” Haidar, Haidar…Haidar, Haidar.. .”

Tentu sangat fatal dampaknya jika talbiah sebagai kalimat tauhid digantikan dengan pengagungan nama makhluk, siapa pun orangnya.

Kalimat yang mereka ucapkan itu jauh lebih buruk daripada yang diucapkan oleh kaum musyrikin Quraisy dalam talbiyah mereka :

لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك، إلّا شريكا هو لك تملكه و ما ملك

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, kecuali syarikat milik-Mu yang Engkau memilikinya dan dia tidak memiliki apa-apa”.

Musyrikin Quraisy mengetahui bahwa haji termasuk perintah Allah yang telah disampaikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, karena itu mereka mengatakan “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah“. Adapun kesyirikan mereka adalah mereka menetapkan adanya sekutu bagi Allah yang semua sekutu itu berada dibawah kekuasaan Allah, padahal Allah tidak pernah menetapkan akan adanya sekutu bagi Diri-Nya.

Adapun kaum Syi’ah menyeru Al-Husain dalam talbiyah mereka dan menjadikan ibadah mereka untuk Al-Husain. Sekarang mereka mengklaim memenuhi panggilan Al-Husain padahal dahulu mereka ramai-ramai meninggalkannya, membiarkannya berperang sendirian, mengkhianati janji mereka kepada Al-Husain yang mengakibatkan Al-Husain terbunuh di tanah karbala. Semoga Allah memburukkan akhir kehidupan orang-orang Syi’ah Rafidhah sebab keburukan yang mereka lakukan terhadap ahlul bait dan kaum muslimin. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Berikut videonya:



Alasan Orang Syiah Diizinkan Berhaji Di Mekkah

Syiahindonesia.com - Sudah jadi hal yang maklum bahwa Syiah adalah sesat. Banyak fatwa ulama klasik maupun konteporer yang menyatakan demikian, baik secara individualis maupun melauli lajnah atau perkumpulan para ulama.

Namun yang masih menjadi pertanyaan, jika Syiah termasuk dalam aliran sesat, bahkan berbahaya, lantas mengapa sampai sekarang mereka masih bisa bebas berangkat haji ke Mekkah? Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?

Pertanyaan ini mungkin menjadi tanda tanya besar sebagian orang. Terutama yang pernah membaca berita tentang syiah. Jika memang syiah kafir, mengapa masih diizinkan untuk berhaji? Mengapa masih diizinkan untuk masuk masjidil haram? dst.

Dan mungkin karena alasan inilah, sebagian orang meragukan kekufuran syiah. Benarkah syiah itu kafir? Sebagian mengatakan kafir, sebagian belum tega menyatakan kafir. Namun, dengan munculnya perbedaan ini, setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan, sejatinya kaum muslimin telah sepakat bahwa syiah adalah sesat. Hanya saja mereka berbeda pendapat, apakah kesesatan syiah sudah sampai pada tingkat layak dikafirkan ataukah belum. Ini bagian penting yang perlu kita catat.

Jika syiah kafir, mengapa syiah masih diizinkan untuk berhaji dan mendatangi tanah suci?

Ada beberapa pendekatan untuk menjawab pertanyaan ini,

Pertama, kaum muslimin sepakat bahwa syiah adalah sesat. Kami tidak perlu menyebutkan bukti akan hal ini, karena sudah terlalu banyak. Dan kesesatan syiah bertingkat-tingkat. Karena sekte syiah terpecah berkeping-keping menjadi sekian banyak sekte. Ada yang dianggap mendekati ahlus sunah, ada yang pertengahan, bahkan ada yang memiliki ajaran berbeda dengan berbagai prinsip ajaran islam.

Mereka yang datang ke tanah suci, tidak diketahui dengan pasti aqidahnya. Mereka datang dengan passport resmi negara. Mereka tidak mencantumkan identitas agama mereka dengan nama Syiah, melainkan Islam. Dan akan sangat tidak memungkinkan untuk ngecek satu-satu aqidah setiap orang yang datang ke tanah suci. Bisa dipastikan, semacam ini tidak mungkin dilakukan.

Sebagai gambaran yang lebih mendekati, dukun termasuk sosok orang kafir yang gentayangan di manapun. Karena mereka mempraktekkan sihir. Dan di indonesia, dukun yang merangkap kiyai sangat banyak. Bahkan sebagian mereka menjadi pembimbing haji, karena punya banyak pengikut. Secara aturan, mereka terlarang masuk masjidil haram. Tapi bagaimana mereka bisa difilter??

Kedua, mengapa pemerintah Saudi tidak membuat pengumuman besar, syiah dilarang berhaji. Sehingga menjadi peringatan bagi mereka untuk tidak masuk masjidil haram.

Barangkali pertanyaan inilah yang lebih mendekati. Mengapa pemerintah Saudi tidak melarang dengan tegas orang syiah untuk tidak berhaji? Padahal mereka sempat bikin onar di makam Baqi’, dengan mencoba membongkar kuburan A’isyah. Anda bisa saksikan tayangan ini:



Anak-anak syiah meneriakkan Labbaika ya Husain… (ganti dari labbaik Allahumma labbaik). Mereka mengambili tanah satu kuburan, yang disangka kuburan A’isyah. Mereka ingin membongkarnya, tapi diusir oleh Askar.

Mengapa mereka dibiarkan?

Pembaca yang budiman, anda bisa menilai kebijakan ini.

Pemerintah Saudi memahami bahwa Mekah dan Madinah, bukan semata urusan negara. Tapi urusan kaum muslimin  sedunia. Mereka yang berhaji, yang datang ke tanah suci, tidak hanya muslim ahli tauhid, tapi pembela syirik yang mengaku muslim juga sangat banyak. Karena itulah, banyak situs haji yang disalah gunakan oleh pembela kesyirikan, tetap dibiarkan di Saudi. Pemerintah Saudi menggunakan prinsip toleran. Membongkar situs semacam ini, bisa jadi akan membuat banyak kaum muslimin marah, dan menimbulkan kekacauan. Sungguh aneh, ketika ada orang yang menuduh, pemerintah Saudi ingin menghancurkan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian, sejatinya pemerintah Saudi menerapkan politik yang pernah diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekte syiah adalah sekte sesat. Terutama sekte Syiah Iran, yang mengkafirkan seluruh sahabat dan kaum muslimin. Mereka mayakini Al-Quran tidak otentik dan telah diubah. Bahkan salah satu tokohnya: At-Thibrisy, menulis satu buku untuk membuktikan bahwa Al-Quran yang dipegang kaum muslimin tidak otentik. Buku itu berjudul: فصل الخطاب في تحريف كتاب رب الأرباب [Kalimat pemutus tentang adanya penyimpangan dalam kitab Tuhan]. Dia menyebutkan berbagai sumber syiah untuk meyakinkan umat bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin telah dipalsukan sahabat. (Maha Suci Allah dari tuduhan keji mereka). Sementara itu, mereka memiliki prinsip taqiyah, berbohong untuk mencari aman. Sehingga tidak mungkin bisa ditangkap dengan bukti yang terang.

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keadaan yang paling mirip dengan mereka adalah orang munafik. Ketika berkumpul bareng kaum muslimin, mereka sok muslim, ikut shalat jamaah, ikut jihad, menampakkan dirinya sebagaimana layaknya muslim. Begitu mereka kumpul dengan sesama munafik, baru mereka menampakkan kotoran hatinya, dan upayanya untuk menghancurkan islam. Allah berfirman tentang mereka,

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

Mereka orang-orang munafik mengatakan: “(Kewajiban Kami hanyalah) taat”. tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. cukuplah Allah menjadi Pelindung. (QS. An-Nisa: 81)

Kita tidak boleh berpikiran, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu siapa saja orang munafik. Kita tidak boleh berpikir demikian. Karena berarti kita suudzan kepada Allah. Bagian dari penjagaan Allah kepada Nabi-Nya adalah dengan memberikan informasi siapa saja musuh beliau, termasuk musuh dalam selimut, yaitu orang munafik. Allah menurunkan beberapa wahyu dan ayat yang menjelaskan siapa mereka. Ayat semacam ini diisitilah dengan ayat atau surat Fadhihah. (simak Tafsir At-Thabari 14/332, Ibn Katsir 4/171, dan Tafsir Al-Baghawi 4/7)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu siapa saja mereka, dan bahkan ada sahabat yang tahu siapa saja munafik di Madinah. Diantaranya adalah Hudzaifah ibnul Yaman. Beliau diberitahu oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa nama orang munafik di Madinah. Dan karena inilah, Hudzaifah digelari dengan Shohibu sirrin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pemilik rahasia nabi).

Pertanyaan yang mendasar, mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak mengusir orang munafik itu dari Madinah? Mengapa beliau tidak memerangi atau bahkan membiarkan mereka tetap berkeliaran di Madinah?

Umar berkali-kali menawarkan diri untuk membunuh gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melarang beliau dan mengatakan,

دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ

“Biarkan dia, jangan sampai manusia berkomentar bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR. Bukhari 4905, Muslim 2584, Turmudzi 3315, dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh mereka, tidak mengusir mereka, dalam rangka menghindari dampak buruk yang lebih parah. Membiarkan mereka di keliaran di Madinah, dampaknya lebih ringan dari pada membantai mereka. Anda tidak boleh mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan mereka keluar masuk masjid nabawi, itu bukti bahwa orang munafik BUKAN orang kafir. Kalau mereka bukan orang muslim, kan seharusnya mereka tidak boleh masuk tanah suci Madinah?

Jelas ini adalah kesimpulan 100% salah.

Kebijakan itulah yang ditempuh pemerintah Saudi. Apa yang akan dikatakan muslim seluruh dunia ketika pemerintah Saudi melarang seluruh orang syiah Iran berangkat haji??

Dengan demikian, tidak ada hubungannya antara kehadiran syiah ke tanah suci dan keikut-sertaan mereka dalam ibadah haji, dengan status aqidah mereka yang dinilai kafir oleh para ulama.

Maka secara ringkas, alasan mengapa kaum Syiah sampai sekarang masih bebas pulang pergi ke tanah haram untuk berhaji atau urusan lainnya adalah sebagai berikut:

    Pertama, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

    Kedua, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

    Ketiga, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

    Keempat, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

    Kelima, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

    Keenam, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

    Ketujuh, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

    Kedelapan, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

    Kesembilan, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?” Wallahu a'lam (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Syiah Houthi Langgar Kesepakatan untuk Kuasai Kota Amran, Yaman

Syiahindonesia.com – Pemerintah Yaman pada Rabu (09/07) menyatakan bahwa pemberontak Syiah Houthi telah melakukan kekejaman di Amran, utara ibukota Sanaa. Mereka berhasil menguasai kota tersebut setelah terjadi pertempuran sengit selama tiga hari.

Pemberontak Syiah Houthi yang menamakan dirinya Ansharullah, “menyerbu markas Brigade lapis baja 310, menjarah senjata dan peralatan di sana. Dan membunuh sejumlah prajurit dan perwira,” kata Komite Keamanan Tertinggi Yaman dikutip kantor berita Saba.

Mereka juga mengatakan bahwa pemberontak tersebut telah mengambil alih kantor pusat pemerintahan di kota tersebut.

Sebuah komite presiden yang ditugaskan untuk merundingkan gencatan senjata dengan pemberontak Ansharullah mengatakan, para pemberontak tersebut telah melanggar kesepakatan untuk menarik diri dari kota tersebut.

Berdasarkan kesepakatan itu, polisi militer akan menggantikan pasukan brigade lapis baja 310 setelah pemberontak mundur dari kantor pusat pemerintahan yang mereka kuasai.

Komite tersebut mengatakan, pemberontak “tidak sesuai dengan perjanjian dan menyerang markas brigade dan melakukan kekejaman yang mengerikan.”

Amran adalah sebuah kota yang berada 50 kilometer di utara ibukota Sanaa. Kota ini menjadi tempat pertempuran antara pasukan keamanan pemerintah Yaman dengan pemberontak Syiah Houthi, yang bergabung dengan suku-suku disekitarnya dan mengarahkan serangannya ke ibukota.

Dengan merebut Amran, para pemberontak telah membuat kemajuan besar menuju ke ibukota. hal ini menjadi ancaman serius bagi pemerintahan presiden Abdrabuh Mansur Hadi. (Kiblat.net/Syiahindonesia.com)

Syiah Kembali Meneror Negeri Yaman

Syiahindonesia.com - Pemberontak Syiah Houthi terus memperluas pengaruhnya di ibukota Sanaa. Kelompok bersenjata tersebut menduduki rumah petinggi militer Yaman Mayjen Ali Mohsen Al-Ahmar pada Senin (22/09) lapor Kiblat.net. Mayjen Ahmar adalah seorang pemimpin Devisi Pertama Lapis Baja Angkatan Darat.

Para pemberontak tersebut mengatakan bahwa mereka mempersiapkan untuk meledakkan kediaman petinggi militer Yaman itu.

Sebagaimana dilansir oleh Gemaislam.com Pemberontak Syiah Hutsiyin Ahad lalu berhasil menguasai ibukota Yaman dan menekan pemerintah untuk mengadakan kesepakatan. Jatuhnya ibukota dan memanasnya konflik antara pemerintah dan kelompok pemberontak bahkan membuat PM Yaman Mohammed Basindwa mengundurkan diri.

Pada akhirnya pemerintah Yaman terpaksa memenuhi keinginan pemberontak Hutsiyin karena mereka semakin menjadi-jadi melakukan perlawanan terhadap pemerintah.

Sepekan lalu saja misalnya,  pemberontakan kelompok Hutsiyin ini berhasil menewaskan sedikitnya 150 orang, sebagian besar merupakan pasukan pemerintah serta warga sipil.

Terlihat Presiden Abdrabuh Mansur Hadi, utusan PBB, Jamal Benomar, serta perwakilan-perwakilan dari kekuatan politik Yaman dalam penandatanganan kesepakatan.

Ironisnya setelah penandatanganan berlangsung, pemberontak Hutsiyin masih terus melakukan tekanan terhadap pemerintah.  Diantaranya dengan mengambil persenjataan baik ringan dan berat dari gedung persenjataan milik pemerintah dan memindahkannya ke kamp-kamp mereka, demikian seperti dikutip dari alarabiya, Senin (22/9/2014).

Selain itu,pemberontak Hutsiyin juga semakin massif dalam melakukan penyebaran di ibukota Sanaa. Padahal salah satu butir kesepakatan gencatan senjata adalah penarikan mundur semua anggota milisi Syiah Hutsiyin dan pembongkaran tenda-tenda mereka dari jalan-jalan raya ibukota.

Bahkan yang lebih provokatif lagi adalah perayaan yang dilakukan oleh kelompok pemberontak. Terlihat para pemberontak merayakan kesepakatan dengan membakar petasan dan kembang api serta menganggap kesepakatan ini sebagai sebuah kemenangan. (Lppimakassar.com/Syiahindonesia.com)