Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Rezim Nushairiyah Suriah Terbukti Menyiksa & Membunuh Ribuan Tahanan Secara Sistematis

Foto kekejaman penjara Suriah
Syiahindonesia.com - Sebuah kelompok hak asasi manusia telah merilis “bukti memberatkan” yang menyatakan bahwa pemerintah Suriah telah secara sistematis membiarkan ribuan tahanan kelaparan, menyiksa dan mengeksekusi mereka selama perang sipil.

Human Rights Watch (HRW) mengatakan analisis, identifikasi dan verifikasi terhadap 27 korban di antara koleksi massa foto yang bocor tahun lalu memberikan bukti kejahatan “otentik” terhadap kemanusiaan yang dilakukan rezim Nushairiyah Suriah.

Analisis, yang dirilis pada Rabu (16/12/2015), itu berdasarkan pada gambar lebih dari 50.000 foto yang diselundupkan keluar dari Suriah oleh seorang pembelot militer dengan nama sandi “Caesar”.

Caesar adalah seorang fotografer forensik untuk polisi militer Suriah, yang memfoto mayat tahanan yang tewas dan membantu mengarsipkan ribuan lainnya sebelum ia membelot pada bulan Agustus tahun 2013.

Gambar-gambar itu menunjukkan jasad sekitar 6.000 tahanan – kebanyakan memiliki luka tanda penyiksaan atau kelaparan – yang diduga meninggal di penjara atau setelah dipindahkan ke rumah sakit militer.

Nadim Houry, wakil direktur HRW Timur Tengah, mengatakan bahwa laporan baru mereka mengonfirmasi kebenaran mereka.

“Kami telah memverifikasi puluhan cerita dengan cermat dan kami yakin foto-foto Caesar menunjukkan bukti kejahatan otentik – dan memberatkan – terhadap kemanusiaan di Suriah,” katanya.

“Foto-foto ini menunjukkan kepada anak-anak mereka, suami mereka, anggota keluarga tercinta mereka, dan teman-teman mereka yang menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk melakukan pencarian,” kata Houry.

“Kami tidak ragu bahwa orang-orang yang ditampilkan dalam foto-foto Caesar itu kelaparan, dipukuli, dan disiksa dengan cara yang sistematis, dan dalam skala besar.”

Caesar telah mengakui bahwa dia tidak tahu alasan di balik pemotretan mayat-mayat para tahanan, tetapi menyimpulkan bahwa “rezim mendokumentasikan segala sesuatu sehingga mereka tidak akan melupakan apa-apa. Oleh karena itu, mereka juga mendokumentasikan kematian para tahanan ini. Jika suatu hari hakim harus membuka kembali kasus itu, mereka akan membutuhkan foto-foto tersebut.” (arrahmah.com)

Milisi Syiah Bantai Warga Miqdadiyah

Illustrasi; milisi Syiah bantai warga Suriah
Syiahindonesia.com - Organisasi HAM internasional, Human Rights Watch (HRW), kembali menurunkan laporan kejahatan milisi Syiah di Iraq terhadap warga Sunni. HRW menegaskan terjadi penculikan, pembunuhan dan pengusiran di kota Miqdadiyah, Provinsi Diyala.

Dalam laporannya yang dirilis baru-baru ini dan dinukil Al-Jazeera, Ahad (31/01), organisasi yang bermarkas di AS itu menegaskan bahwa milisi Syiah yang didanai dan diakui pemerintah itu menculik dan membunuhi puluhan warga Sunni di Miqdadiyah. Menurut HRW, pembantaian ini dilakukan sebagai pembalasan atas serangan ISIS di kota tersebut beberapa waktu sebelumnya.

Milisi-milisi Syiah itu berasal dari faksi Faliq Badar dan Ashaib Ahlu Al-Haq. Selain membunuh dan menangkap, mereka menghancurkan rumah-rumah warga Sunni.

HRW menegaskan, pembantaian yang terjadi di Miqdadiyah hampir sama dengan pembantaian yang pernah terjadi di kota Tuz Khurmatu. Terjadi pembantaian dan pembersihan etnis Sunni dari kota tersebut.

Di saat bersamaan, anggota koalisi nasional HAM Iraq Husain Zubaidi mengutarakan bahwa laporan HRW ini seharusnya menjadi panggilan bagi internasional untuk segera menghentikan pembantaian sektarian di Iraq. Orang-orang yang terlibat diharapkan bisa dihadapkan ke pengadilan.

Zubaidi menunjukkan, kejahatan yang dilakukan milisi Syiah sama seperti kejahatan yang dilakukan ISIS. Banyak pihak yang melihat bahaya yang ditimbulkan milisi yang diakui pemerintah itu.

Sebagaimana diberitakan, warga Sunni di Miqdadiyah dalam kondisi memprihatinkan dalam beberapa bulan terakhir. Mereka hanya memilik dua piliha: mati atau mengungsi. Milisi Syiah yang tergabung dalam Al-Hasd Al-Syakbi mengepung dan memblokade kampung mereka. (kiblat.net)

Diblokade, Puluhan Ribu Warga Suriah Kembali Terancam Mati Kelaparan

Illustrasi, penduduk Suriah kelaparan
Syiahindonesia.com - PBB melaporkan blokade yang dilakukan rezim terhadap kota Muadamiyat Al-Sham di pedesaan Damaskus telah mengancam 45 ribu warga Suriah. Mereka terhalangi mendapat bantuan kemanusian dan medis.

Laporan yang dirilis pada Ahad (31/01) lalu ini bersamaan dengan tuntutan terhadap rezim Bashar Assad untuk mengizinkan masuknya bantuan kemanusian seluruh wilayah terkepung. Ini merupakan salah satu tuntutan yang diajukan delegasi oposisi dalam perundingan damai di Jenewa.

Sebelumnya, rezim Suriah telah menerima kritikan masyarakat internasional terkait blokade penduduk di kota Madaya. Puluhan orang mati kelaparan akibat blokade yang menghalangi masuknya bantuan kemanusian ke kota tersebut.

Pasukan oposisi bersenjata berhasil menguasai wilayah Muadamiyat Al-Sham yang terletak Provinsi Damaskus pada pertengahan 2012. Pada tahun 2013 pasukan rezim berhasil merebut akses-akses utama ke Muadamiyat Al-Sham, namun masih membolehkan masuknya bantuan di bawah perjanjian pada pertengahan 2014.

Tetapi laporan PBB terakhir, menunjukan pasukan rezim telah menutup pintu masuk ke Muadamiyat Al-Sham pada 26 desember 2015. Setelah berhasil mengeluarkan sekitar 50- 100 orang pegawai negara untuk meninggalkan kota tanpa memberitahu warga sipil.

PBB juga menjelaskan bahwa kehidupan penduduk di kota sangat buruk. Keadaan makin diperparah setelah ditutupnya pintu masuk oleh Rezim Assad yang menyebabkan minimnya pasokan makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya ke dalam kota.

Laporan itu juga melampirkan delapan orang tewas kelaparan sejak awal Januari lalu karena kelaparan serta kurangnya perawatan medis di lokasi.

Listrik padam sejak November 2012. Pada 24 Desember PBB mendistribusikan bantuan kemanusia ke beberapa kota di Suriah. Sejak itu, PBB telah dua kali meminta rezim untuk memungkinkan masuknya konvoi bantuan menuju Muadamiyat. (kiblat.net)

Lagi; Assad & Hizbullah Luncurkan Roket Bunuh Anak-Anak Suriah

Sekolah yang hancur di Suriah. Foto : hrw.org
Syiahindonesia.com - Meskipun pembicaraan Jenewa berlangsung, milisi Syiah Hizbullah dan rezim masih  menyerang kota Madaya yang tengah terkepung. Sasaran kali ini adalah gedung sekolah.

Anggota komite koordinasi oposisi di Madaya mengatakan pada Senin (1/2), disamping melancarkan blokade di Madaya, pasukan rezim Assad dan Hizbullah juga menembakkan roket dan mortir guna menghancurkan wilayah Madaya.

“Pasukan Rezim dan Hizbullah telah menembakkan roket telah dan mortir di Madaya setiap hari,” ucap Hossam Yetim kepada Anadolu Agency.

Dalam serangannya yang terbaru, Hossam membeberkan bahwa pasukan rezim dan Hizbullah telah menyerang sebuah sekolah di Madaya dan melukai 15 anak, dan lima diantara mereka mengalami luka yang cukup parah.

“Hari ini, roket rezim Assad tersebut menghantam sebuah sekolah, melukai 15 anak, lima dari mereka mengalami luka serius,” jelasnya.

Selain itu, komite oposisi di Madaya ini juga membeberkan perihal kondisi Madaya, di sana situasi kemanusiaan semakin kritsi dan memburuk dari hari ke hari.

“Penduduk setempat tengah berjuang dengan kelaparan dan cuaca dingin. Apalagi sekarang mereka menjadi target arliteri Syiah Hizbullah,” pungkasnya.

Sebelumnya, organisasi HAM Internasional menyatakan dalam sebuah laporan bahwa Milisi Syiah telah melakukan pembantaian warga Miqdadiyah di Suriah. (kiblat.net)

Sejarah Membuktikan, Persatuan Sunni-Syiah Adalah Mustahil

Sunni vs Syiah
Syiahindonesia.com - Sejarah telah membuktikan bahwa penyatuan Sunni dan Syiah mustahil adanya. Jalinan kerjasama keduanya pun penuh resiko dan berbahaya. Sebab Syiah tidak dapat dipercaya.

Demikian ditegaskan cendekiawan dan penulis buku-buku terkenal asal Mesir Dr Raghib As-Sirjani saat berkunjung ke Indonesia baru-baru ini. Sejarah, kata Raghib, mencatat bahwa Syiah telah melakukan pengelabuan terhadap umat Islam.

Di depan para wartawan, Raghib mengungkap sejarah pengelabuan itu. Dia membeberkan ketidakbenaran penisbatan nama Fathimiyyah kepada Daulah Syiah di Mesir.

Sebab, menurutnya, Syiah ingin mengelabui umat Islam dengan mencatut nama Fathimah, puteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Padahal sebenarnya, nama Daulah Syiah tersebut adalah Daulah Ubaidiyyah, dinisbatkan kepada pendirinya, Ubaidillah Mahdi, seorang Yahudi.

“Jadi tidak ada yang namanya Daulah Fathimiyyah, yang ada Daulah Ubaidiyyah,”tegas Raghib usai mengisi acara 13th Islamic Book Fair di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu, (01/03/2014).

Raghib mengatakan, daulah tersebut kemudian mengklaim sebagai kekhalifahan. Pengelabuan-pengelabuan itu disebutnya sebagai pemanis agar mereka dihormati.

“Sebenarnya itu adalah negara (daulah. Red) yang sangat keji, sangat kotor,” tegas Raghib seperti dikatakan penerjemahnya.

Penulis buku ‘Kaifa Nabnil Ummah?’ ini mencontohkan kekejian Syiah yang terpampang di Suriah saat ini. Menurutnya, Suriah kini dijajah oleh Syiah Nushairiyyah -yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Nusyair- dengan kedok Syiah Alawiyyah.
Adapun penggunaan nama Alawiyyah, jelasnya, adalah penisbatan palsu. Pengelabuan ini sama dengan kasus penisbatan Fathimiyyah di atas.

“Tapi sebenarnya (Syiah di Suriah) itu adalah Nushairiyyah dan itu adalah sekte Syiah yang paling keji, paling kotor, paling kriminal. Dan mereka sampai-sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Jadi bukan hanya sekedar mensucikan (Ali),”ungkapnya.

Negosiasi Sunni-Syiah

Raghib mengatakan, hujjah Ahlus Sunnah sesungguhnya sangat kuat. Tidak bisa dibandingkan dengan hujjah lemah kaum Syiah. Sehingga, Syiah menempuh cara lain untuk menarik minat umat Islam.
“Jadi mereka menempuh cara lewat duit, lewat bantuan. Itu ditempuh di Mesir, di Sudan, dan di Indonesia juga, dan juga di negara-negara lainnya,” jelasnya.

Raghib meyakini, di Mesir saat ini tidak ada ulama Syiah, ataupun ulama Sunni yang mendukung Syiah. Yang ada ulama yang menyerukan pendekatan Sunni-Syiah.

“Para ulama ini dituduh seolah-olah dia condong pada Syiah,” imbuhnya.
Raghib berpandangan tersendiri terkait mustahilnya pendekatan Sunni dan Syiah. Menurutnya, yang mungkin dilakukan adalah dialog.

“Ataupun bernegosiasi di mana mereka kita berharap agar orang Syiah itu menghentikan kekejian mereka, kekerasan mereka terhadap Muslim,” tandasnya.

Kehadiran Raghib di Jakarta memenuhi undangan penerbit Pustaka Al-Kautsar sebagai pembicara dalam acara “Dialog Peradaban Islam”. Raghib mengupas buku karyanya yang diterjemahkan berjudul “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”. (beritaislam.net)