Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 3

Syiahindonesia.com - Kita kembali ke silsilah Ath Thalibiyin, setelah wafatnya Ali Ar Ridha yang diangkat oleh Al Makmun menjadi waliyul ahdi, muncul puteranya Muhammad Al Jawwad dan meninggal pada tahun 220 H, kemudian muncul puteranya Muhammad Al Hadi yang meninggal pada tahun 254 H, kemudian terakhir muncul puteranya Al Hasan bin Ali yang bergelar Al Askari dan meninggal secara tiba-tiba pada tahun 260 H, dan hanya meninggalkan seorang putera bernama Muhammad yang masih berusia lima tahun.            
 Di tahun-tahun sebelumnya, ternyata gerakan ini terpisah-pisah, yaitu kelompok yang tergabung dari Ahlbait dan kelompok yang tergabung dari As Syu’ubiyun Persi, mereka menyerahkan kepemimpinannya kepada anak tertetua dari kelompok Ath Thalibiyun, dimulai dari Ali Ridha dan berakhir kepada Al Hasan Al Askari. Adapun tokoh sebelum Ali Ridha, seperti ayahnya yaitu Musa Al Kazhim, atau kakeknya Ja’far As Shadiq atau buyutnya yaitu Muhammad Al Baqir, mereka tidak pernah memimpin pemberontakan terhadap daulah Umawiyah maupun Abasiyah.

Akan tetapi setelah wafatnya Al Hasan Al Askari pada tahun 260 H, para pemberontak mengalami kebingungan, pasalnya siapakah yang akan menggantikan kepemimpinannya? Karena Al Hasan Al Askari hanya meninggalkan seorang anak kecil, bahkan mereka semakin bingung manakala anak kecil yang merupakan (imam) terakhir meninggal secara tiba-tiba, sehingga mereka terpecah menjadi beberapa kelompok, sebagian mereka saling berselisih dengan sebagian yang lain, baik dalam masalah prinsip, pemikiran atau bahkan dalam masalah syariat dan keyakinan.

Diantara Sekte Syiah yang paling masyhur adalah Syiah “Itsna Asyariyah” yaitu sekte yang sekarang ini ada di wilayah Iran, Iraq dan Lebanon dan merupakan sekte Syiah paling besar di zaman kita ini.

Maka para pemimpin sekte ini menambah-nambah ajaran yang sesuai dengan prinsip dan kepentingan mereka ke dalam ajaran Islam, serta menambah ajaran yang dapat menjamin keberlangsungan perjalanan sekte ini ditengah ketiadaan Imam.

Sekte ini telah menambah macam-macam bid’ah yang sangat membahayakan dalam agama Islam, seperti anggapan bahwa ajaran mereka termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari agama Islam, selanjutnya bid’ah ini menjadi bagian dari keyakinan mereka. Diantara bid’ah mereka ada yang khusus dalam masalah imamah, karena mereka hendak mencari solusi dari permasalahan ketiadaan imam saat ini. Mereka juga berkata; “Sesungguhnya para imam itu hanya dua belas.” Mereka juga menyatakan; “Sesungguhnya, urutan para imam tersebut adalah sebagai berikut;

1.      Ali bin Abi Thalib
2.      Hasan bin Ali
3.      Husain bin Ali
4.      Ali Zainal Abidin bin Husain
5.      Muhammad Al Baqir bin Zainal Abidin
6.      Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir
7.      Musa Al Kadzim
8.      Ali Ridha
9.      Muhammad Al Jawwad
10.  Ali Al Hadi
11.  Hasan bin Ali Al Asykari
12.  Muhammad bin Hasan Al Asykari

Dari sini, sekte ini kemudian dikenal dengan Syiah Itsna Asyariyah (dua belas imam), supaya mereka dapat menafsirkan berakhirnya imam sampai yang ke dua belas, mereka mengatakan; “Sesungguhnya anak kecil yaitu Muhammad bin Al Hasan Al Askari tidak meninggal, tetapi bersembunyi di salah satu Sirdab (goa) dan masih hidup sampai saat ini (hidup lebih dari seribu tahun, bahkan hingga sekarang). Dan ia akan kembali pada suatu hari nanti untuk memimpin dunia, dialah Al Mahdi Al Muntazhar. Mereka juga menganggap Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan dengan menyebut nama-nama kedua belas imam, namun para sahabat menyembunyikannya, dari itu mereka mengkafirkan mayoritas sahabat, namun sebagian mereka menfasikkan, tidak sampai mengkafirkan, karena para sahabat telah menyembunyikan perkara para imam.

Setelah itu, mereka memasukkan dari ajaran Persia ke dalam system dinasti yang tidak dapat dielakkan, mereka berkata; “Pemimpin itu harus dari anak yang paling tua, di mulai dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan berlanjut hingga semua imam setelahnya.” Sebagaimana yang diketahui, bahwa system ini bukan dari ajaran Islam sama sekali, sampai negara-negara islam sunni yang menggunakan system dinasti pun seperti khilafah bani Umayyah, Abasiyah, Saljuk, Ayyubiyah dan Utsmaniyah tidak pernah sama sekali menyatakan bahwa sistem dinasti merupakan bagian dari ajaran agama, atau harus dari keluarga tertentu.
Mereka juga memasukkan dari ajaran Persia tentang masalah taqdis (suci dari dosa) terhadap keturunan para imam, mereka menyatakan tentang kema’shuman para imam dan terjaganya dari dosa, kemudian pernyataan itu mereka tetapkan dari Al Qur’an dan Al Hadits, bahkan sebagian besar kaidah-kaidah fikih dan syariat sekarang ini mereka sandarkan dari perkataan para imam, sama saja apakah para imam mengatakannya atau menisbatkan kepada mereka secara dusta. Lebih dari itu, dalam kitab “Al Hukumah Al Islamiyah”, Al Khumaini, sang revolusioner Iran mengatakan; “Sesungguhnya diantara prinsip madzhab kita, bahwa imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus.”[1]!!

Dari sini, mereka sangat memusuhi semua para sahabat (kecuali hanya sedikit, tidak lebih dari 13 sahabat), termasuk permusuhan mereka terhadap sebagian ahli bait, seperti paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Abbas dan anaknya Ibnu Abbas, ulama umat ini. Bukan rahasia lagi, bahwa cercaan dan pengkafiran ditujukan kepada mereka berdua dan kepada khilafah bani Abasiyah selain imam yang kedua belas. 

Di antara bid’ah mereka adalah menyatakan bahwa sebagian besar negeri-negeri Islam merupakan daar al kufri, mengkafirkan penduduk Makkah, Madinah dan Syam serta penduduk Mesir, bahkan dalam menyatakan hal itu mereka menisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menganggap bagian dari ajaran agama. Pernyataan-pernyataan ini terdapat dalam kitab-kitab induk yang mereka jadikan rujukan, seperti kitab Al Kaafi, Bihar Al Anwar, Tafsir Al Qumi, Tafsir Al ‘Iyasyi, Al Burhan dan kitab-kitab lainnya.

Selanjutnya mereka tidak akan menerima semua ulama dari kalangan Ahlisunnah dan menolak semua kitab-kitab shahih maupun sunan, baik Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’I, Abu Hanifah, Malik, As Syafi’I, Ibnu Hanbal, begitu juga mereka tidak akan menerima Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Umar bin Abdul Aziz, Musa bin Nushair, Nuruddin Mahmud, Shalahuddin, Qutuz, tidak juga Muhammad Al Fatih, dan seterusnya.

Hasilnya, mereka mengesampingkan para sahabat, tabi’in, kitab-kitab hadits dan tafsir, karena mereka mengadopsi perkataan-perkataan yang dinisbatkan kepada para imam, meskipun dari segi riwayat sangat lemah. Karena itu, muncul berbagai macam bid’ah mungkarah, baik dalam masalah akidah, ibadah, mu’amalat serta dalam masalah lainnya. Disini, kami tidak bertujuan membahas bid’ah-bid’ah tersebut, karena pembahasan ini membutuhkan banyak kitab, tetapi kami akan mengarahkan kepada pokok permasalahan, sehingga kita paham karakternya, jika tidak maka pembahasan kita akan melebar, seperti pembahasan seputar bid’ah taqiyah, raj’ah, pernyataan terhadap pendistorsian Al Qur’an, keyakinan yang rusak terhadap Allah dan bid’ah-bid’ah rusak lainnya yang mereka lakukan, bid’ah tentang peringatan hari terbunuhnya Imam Husain, serta ribuan bid’ah-bid’ah yang menjadi prinsip ajaran sekte Syiah Itsna Asyariyah.

Semua yang telah kami sebutkan adalah bagian dari ajaran Syiah Itsna Asyariyah, selain sekte ini disana juga masih banyak sekte yang masih eksis dalam periode sejarah, khususnya di periode yang dikenal dalam sejarah dengan peeriode “Khirah As Syi’ah” (masa kebingungan Syi’ah), yang dimulai pada pertengahan abad ketiga Hijriyah, setelah wafatnya Al Hasan Al Askari (imam ke sebelas mereka).

Di awal periode ini, mulai bermunculan tulisan-tulisan dan kitab-kitab yang menetapkan keyakinan dan pemikiran-pemikiran mereka. Ajaran ini tersebar luas di negeri Persia (Iran) khususnya, dan di negeri-negeri Islam lainnya, tetapi tanpa mmiliki daulah demi membangun pemikiran mereka secara resmi. Di akhir abad ketiga dan permulaan abad ke empat Hijriyah, terjadi perkembangan yang sangat membahayakan, karena di sebagian wilayah, Syiah sudah merambah ke dalam pemerintahan, inilah yang menimbulkan dampak buruk terhadap umat Islam.

Kita kembali kepada kaidah Ushul bahwa menilai sesuatu adalah bagian dari tashawwur (cara pandang) kita terhadapnya, karena di dalam menetapkan suatu perkara atau permasalahan harus diawali dengan pengetahuan, setelah pengetahuan yang benar di dapat, baru kita dapat menyatakan ini boleh dan ini tidak, atau yang lebih utama ini dan ini, sebab pernyataan yang hanya berdasarkan perasaan akan menimbulkan kerusakan. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga:
1. Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 1
2. Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 2



[1]. Al Khumaini “Al Hukumah Al Islamiyah, halaman; 52.

Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 2

Syiahindonesoa.com - Di akhir masa kekhilafahan bani Umayyah, gerakan bani Abasiyah berupaya sekuat tenaga membangun kekuatan guna mengkudeta kekhalifahan bani Umayah, gerakan ini bekerjasama dengan sekelompok orang yang menyempal dari Zaid bin Ali. Akhirnya kekuasaan bani Umayah tumbang pada tahun 132 H, dan berdirilah kekhilafahan bani Abasiyah dengan kepemimpinan Abu Al Abbas As Safah, kemudian Abu Ja’far Al Manshur. Sementara kelompok Syiah yang membantu dalam kudeta merasa kecewa, karena mereka berharap yang menjadi pemimpin adalah salah satu dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Tidak lama kemudian, mereka berusaha mengkudeta kekhalifahan bani Abasiyah, kelompok ini dikenal dengan At Thalibiyyin (dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib) yang menentang Abasiyin yang dinisbatkan kepada Abbas bin Abdul Mutthalib. 

Sampai saat itu, masih belum ada perbedaan mendasar dalam masalah akidah dan fikih kecuali dalam menghukumi Abu Bakar dan Umar, sebab sekelompok orang yang menyempal dari Zaid bin Ali menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, bahkan mereka melaknat keduanya secara terang-terangan.

Pada tahun 138 H, Ja’far Ash Shadiq wafat dengan meninggalkan seorang putera bernama Musa Al Kadzim, beliau juga seorang yang alim, tetapi tidak sealim ayahnya, beliau wafat pada tahun itu juga, dengan meninggalkan beberapa anak, diantaranya adalah Ali bin Musa Ar Ridha.

Khalifah Abasiyah Al Makmun berkeinginan untuk menyudahi fitnah yang terjadi di kalangan Ath Thalibiyiin yang menuntut supaya salah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai pemimpin, bukan dari keturunan Al Abbas, akhirnya Ali bin Musa Ar Ridha dinobatkan untuk menjabat wilayatul ahdi, hal inilah yang memicu perdebatan dikalangan Abasiyin, namun pada tahun 203 H Ali bin Ridha wafat secara tiba-tiba, sehingga Ath Thalibiyun menuduh Al Makmun yang membunuhnya, mereka pun melakukan revolusi terhadap daulah Abasiyah sebagaimana yang pernah mereka lakukan terhadap daulah Amawiyah. 

Seiring berjalannya tahun, tidak ada lagi konflik yang terjadi. Hingga periode ini, belum ada madzhab agama yang independen sebagaimana madzhab Syiah, yang ada hanyalah gerakan politik untuk mencapai kekuasaan dan menentang pemerintahan karena berbagai macam sebab, bukan karena sebab-sebab prinsip sebagaimana yang terdapat dalam manhaj Syiah sekarang ini.

Perlu diperhatikan, bahwa seruan untuk membelot dari pemerintahan Abasiyah sangat menggema diwilayah Persia (Iran sekarang), ditambah lagi mayoritas penduduk Persia merasa menyesal sepanjang tahun karena lenyapnya kerajaan Persia yang agung dan harus masuk ke dalam kesatuan daulah Islamiyah. Mereka juga menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih mulia keturunannya dan lebih mendalam sejarahnya dibandingkan kaum Muslimin lainnya, karena itu mereka terkenal dengan sebutan “As Su’ubiyah” yang fanatik terhadap suku tertentu, bukan kepada Islam, bahkan sebagian dari mereka menampakkan kecintaan yang mendalam terhadap simbol-simbol Persia, sampai kepada api yang mereka sembah.

Ketika mereka tidak memiliki kekuatan seorang diri untuk memberontak daulah Islamiyah, karena masih tergolong orang-orang Islam yang memiliki ikatan selama beberapa decade, dan tatkala mrreka mendapati revolusi yang dilakukan oleh kelompok Ath Thalibiyin sebagai solusi alternatif, maka mereka tergabung dengan kelompok ini demi menumbangkan khilafah Islamiyah yang dulunya telah menumbangkan daulah Persia. Di waktu yang sama, mereka tidak meninggalkan Islam yang telah mereka peluk selama beberapa tahun, akan tetapi mereka berusaha merubah ajaran Islam dengan warisan-warisan Persia. Mereka akan terus mencoba demi teralisasinya kebelangsungan pergolakan yang ada tubuh umat Islam, meski mereka tidak akan sampai di puncak pyramid, akan tetapi mereka akan menemui Ath Thalibiyin yang bernisbat kepada Ali bin Abi Thalib, termasuk ahli baitnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan memiliki kedudukan di hati manusia, dengan demikian seruan ini akan terus berlangsung.


Demikianlah upaya persatuan yang dilakukan As Syu’ubiyun Persia dengan kelompok Ath Thalibiyun dari ahli bait untuk membentuk satu kesatuan baru dan melebur menjadi kelompok independen yang tidak hanya sekedar dari sisi politik tetapi juga dari sisi agama. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga:

Sejarah Perkembangan Syiah (Lengkap) Bag. 1

Syiahindonesia.com - Sesungguhnya masalah ini bukanlah masalah orang-orang yang hidup di suatu negeri yang memiliki berbagai persoalan dengan negeri tetangga, akan tetapi ini adalah masalah pokok yang berkaitan dengan akidah, fikih dan sejarah yang seharusnya permasalahan itu kembali kepadanya.

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syiah, pendapat yang populer dimasyarakat umum bahwa Syiah adalah orang-orang yang mendukung Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ketika berselisih dengan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, karena itu pendukung Mu’awiyah disebut kaum ahlisunnah, sedangkan pendukung Ali disebut kaum Syiah, tapi sebenarnya pendapat ini tidak benar.

Kaum Ahlisunnah (ketika itu) meyakini bahwa kebenaran -dalam perselisihan yang terjadi diantara dua sahabat mulia- ada pada pihak Ali radhiallahu ‘anhu, sedangkan Mu’awiyah telah berijtihad, tetapi ijtihadnya belum mencapai derajat kebenaran, maka pendapat Ahlisunnah yang berpihak kepada Ali radhiallahu ‘anhu cukup jelas. Sedangkan prinsip, ajaran dan keyakinan yang dipegang oleh Syiah sekarang ini bukan termasuk prinsip dan ajaran Ali bin Abi Thalib, maka tidak benar jika ada pendapat yang mengatakan bahwa Syiah muncul ketika zaman Ali bin Abi Thalib.

Diantara ahli sejarah ada yang berpendapat bahwa Syiah bermula setelah terbunuhnya Al Husain radhiallahu ‘anhu, yaitu setelah Al Husain membelot dari kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, kemudian ia menuju Iraq untuk memenuhi panggilan penduduk Iraq yang berjanji akan menolongnya, tetapi mereka meninggalkan Al Husain yang menyebabkan beliau terbunuh di Karbala. Penduduk Iraq yang meminta beliau pun menyesal dan memutuskan untuk menebus kesalahan-kesalahan mereka dengan keluar dari daulah Umawiyah, hal inilah yang memicu pemberontakan dan menyebabkan terbunuhnya sebagian dari mereka, dari situ mereka dikenal dengan kaum Syiah. Peristiwa ini semakin menjelaskan kita, ternyata ikatan mereka dengan Al Husain bin Ali jauh lebih erat daripada ikatan mereka dengan Ali bin Abi Thalib sendiri, -sebagaimana kita saksikan- mereka mengadakan peringatan atas syahidnya Al Husain, namun tidak mengadakan peringatan atas syahidnya Ali bin Abi Thalib.

Perkembangan Syiah (pada masa ini) hanya sebatas perkembangan kelompok politik yang menentang pemerintahan bani Umayah dan mendukung setiap pemikiran yang keluar dari pemerintahannya, belum ada prinsip-prinsip akidah dan madzhab fikih yang menyelisihi Ahlisunnah, bahkan kita melihat para tokoh dan para imam yang dianggap imam Syiah generasi pertama, mereka tidak lain dari kalangan Ahlisunnnah yang bericara dengan akidah dan prinsip-prinsip Ahlisunnah.

Selama beberapa bulan sepeninggal Imam Husein, kondisi ini masih stabil. Kemudian muncul Ali Zainal Abidin bin Husein, beliau termasuk manusia terbaik dan dari tokoh ulama yang zuhud, dimana keyakinan dan pemikiran beliau tidak ada yang bertentangan dengan keyakinan dan pemikiran para sahabat dan tabi’in.


Beliau memiliki anak yang terkenal dengan derajat wara' serta taqwa, mereka adalah Muhammad Al Baqir dan Zaid. Keduanya memiliki prinsip yang sesuai dengan prinsip para ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, namun Zaid bin Ali sedikit berbeda, karena beliau mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak dengan khilafah daripada Abu Bakar. Meskipun beliau menyelisihi kesepakatan para ulama, dan menyelisihi hadits-hadits yang secara langsung mengangkat kedudukan Abu Bakar, Umar dan Utsman di atas Ali, namun perbedaan ini bukanlah berbedaan prinsip, sebab beliau masih mengakui keutamaan ketiga khalifah tersebut, hanyasanya kedudukan Ali lebih utama daripada mereka. Sebagaimana beliau juga berpendapat bolehnya kepemimpinan orang yang tidak diprioritaskan, meskipun demikian beliau tidak mengingkari kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu ‘anhum. Selain point ini, maka akidah, prinsip dan fikih mereka banyak yang sesuai dengan akidah, prinsip dan fikih Ahlisunnah. 

Pada masa itu, Zaid bin Ali keluar (membelot) dari kekhalifahan bani Umayyah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kakeknya Al Husain bin Ali, yaitu pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik dan berakhir dengan terbunuhnya Zaid bin Ali pada tahun 122 H. Kemudian, para pengikutnya berupaya mendirikan madzhab baru diatas pemikiran Zaid bin Ali, oleh sejarah madzhab ini dikenal dengan Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Zaid bin Ali. Meskipun demikian, madzhab ini memiliki banyak kesesuaian dengan Ahlisunnah, namun mereka lebih mengutamakan Ali daripada ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman). Penganut madzhab ini tersebar di Yaman, mereka adalah sekte Syiah yang lebih dekat dengan Ahlisunnah, bahkan disebagian besar perkara, hampir tidak ada perbedaan dengan Ahlisunnah.

Perlu diingat bahwa dari pengikut Zaid, ada sekelompok orang yang bertanya mengenai pendapat beliau tentang Abu Bakar dan Umar, maka beliau menyanjung mereka berdua, namun sekelompok orang ini justru menolak sanjungan Zaid atas mereka berdua, kemudian mereka menyempal dari Zaid bin Ali, oleh sejarah mereka dikenal dengan Syiah Rafidhah, karena di satu sisi mereka menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, dan di sisi lain mereka menolak pendapat Zaid bin Ali. Dan kelompok inilah yang nantinya mendirikan mazhab Syiah "Itsna Asyariyah”, yang termasuk madzhab terbesar Syiah.

Muhammad Al Baqir meninggal dunia delapan tahun sebelum saudaranya Zaid bin Ali, (tepatnya pada tahun 114 H), dan meninggalkan seorang putra yang sangat alim, dialah Ja’far Ash Shadiq, seorang ulama yang diberkahi, fakih lagi cerdas, beliau juga berkata sesuai dengan akidahnya para sahabat, tabi’in dan ulama kaum Muslimin.(Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga:

Fakta, Syiah Qaramithah Bantai Jama’ah Haji & Curi Hajar Aswad

Ilustrasi
Syiahindonesia.com - Berikut akan kami paparkan fakta kelam Syiah yang kami kutip dari Tanyasyiah.com. Dimana tinta sejarah mengungkap bahwa sejatinya mereka adalah musuh Islam, bahkan musuh yang sangat berbahaya. Mereka berpakaian layaknya seorang muslim, mengaku muslim, dan bersahabat dengan muslim, namun sebenarnya mereka hendak menusuk kaum muslimin dari belakang sebagaimana perjalanan kelam mereka beberapa tahun silam.

Syiah al-Qaramithah salah satunya, Ia merupakan salah satu sekte sempalan dari sebuah agama Syiah yang berusaha untuk menjadi Abrahah di umat ini dengan membantai kaum Muslimin yang hendak menunaikan ibadah Haji di Mekkah, dan mereka (Syiah al-Qaramithah) juga memecah serta mencongkel Hajar Aswad dari Ka’bah Mekkah dan membawanya ke daerah kekuasaannya pada tahun 317 Hijriyah.
Mereka melakukan kekejian tersebut dikarenakan terdapat sebuah perintah dari agamanya yakni Syiah, untuk memasangkan/meletakkan Hajar Aswad di Masjid Kufah agar menjadi Kiblat kaum Syiah dalam menghadapkan wajahnya dalam shalat.



Nouri al-Maliki Perdana Menteri Syiah Rafidhah Irak

Dengan izin dari Allah, kami akan meningkatkan (pelayanan) Karbala. Karena Karbala seharusnya menjadi kiblat bagi dunia Islam, dikarenakan al-Husain berada di dalamnya. Dan Insya Allah keinginan saya adalah pejabat daerah yang terkait segera mempercepat dalam meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada para penziarah Imam al-Husain dalam setiap acara. Dan pelayanan terhadap penziarah Imam al-Husain tidak hanya diberikan untuk acara 10 Muharram atau Arba’in saja. Namun juga (pelayanan diberikan) pada setiap hari Jumat dan bahkan (seharusnya) setiap hari, karena ia (Karbala) merupakan Kiblat dan Kiblat dalam menghadap kepadanya lima kali sehari dan juga al-Husain adalah putra Kiblat ini yang Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan untuk menghadap kepadanya.

Pada suatu hari kami berada di sekitar Amirul Mukminin (‘alaihi Salam) di Masjid Kufah, ia berkata, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mencintai kalian dengan sesuatu yang Ia tidak pernah mencintai seorang pun (sebelum kalian), yakni keutamaan dalam tempat shalat (Masjid Kufah) kalian.
Dan tidaklah berlalu hari-hari hingga dipasangkan/diletakkan Hajar Aswad di dalam (Masjid Kufah) ini, dan sungguh akan datang atasnya (Masjid Kufah) pada suatu zaman di mana (Masjid Kufah) ini akan menjadi tempat shalat al-Mahdi yang berasal dari keturunanku, serta tempat shalat bagi setiap Mukmin. Tidak tersisa di atas bumi seorang Mukmin pun, kecuali ia menjadikan (Masjid Kufah tempat shalat) atau hatinya sangat mengharapkannya (shalat di Masjid Kufah).[Al-Amaliy 298, Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah]

Hal ini telah mereka (Syiah al-Qaramithah) akui ketika Hajar Aswad dikembalikan ke tempatnya semula yakni Ka’bah di Mekkah pada tahun 339 Hijriyyah.

Mereka (Syiah al-Qaramithah) berkata, “Kami mengambilnya dengan sebuah perintah dan kami tidak akan mengembalikannya kecuali dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya.”

Namun pada tahun ini (339 Hijriyah), mereka membawanya ke Kufah dan menggantungkannya di atas tiang yang ketujuh dari Jami’ (Masjid)-nya agar manusia dapat melihatnya. Kemudian saudara-saudara Abu Thahir menuliskan sebuah tulisan padanya, “Sesungguhnya kami mengambil batu ini dengan sebuah perintah dan kami telah mengembalikannya dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya, agar menyempurnakan Haji manusia dan manasik kalian.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/252, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Sejarah kelam Syiah al-Qaramithah

Tahun 278 Hijriyah
 (Ibnu al-Jauziy) berkata, “Pada tahun ini (278 Hijriyah) al-Qaramithah (Syiah) melakukan pergerakkan, mereka (Syiah al-Qaramithah) berasal dari kaum Zanadiqah (Zindiq-Munafiq) yang atheis, pengikut filsafat Persia yang meyakini kenabian Zaradista (Zoroaster) dan Mazdak, yang di mana keduanya menghalalkan apa-apa yang diharamkan.
Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) selain itu juga menjadi pengikut setiap penyeru kepada kebatilan. Kebanyakan mereka (Syiah al-Qaramithah) adalah orang-orang rusak yang berasal dari Rafidhah (Syiah) dan mereka (Syiah al-Qaramithah) masuk ke dalam kebatilan dari arah mereka (Syiah Rafidhah), dikarenakan mereka adalah manusia yang paling kecil otaknya. Mereka juga dinamai dengan al-Isma’iliyyah (Syiah), bukan nisbat ke Isma’il al-A’raj bin Ja’far ash-Shadiq.
Mereka dinamakan juga dengan al-Qaramithah (Syiah), yakni nisbat kepada Qirmith bin al-Asy’ats al-Baqqar. Dikatakan bahwasanya pimpinan mereka pada awal dakwahnya memerintahkan para pengikutnya untuk mengerjakan shalat 50 (raka’at) dalam sehari semalam untuk menyibukkan mereka dengannya agar dapat merencanakan tipu muslihatnya.
Kemudian ia memilih 12 (dua belas) panglima dan memberikan asas (peraturan) bagi para pengikutnya baik dalam seruan serta tingkah laku sehingga mereka mengikutinya (asas tersebut), serta ia (juga) menyeru kepada Imam Ahlul Bait.
Mereka juga disebut sebagai al-Bathiniyyah (Syiah), karena secara lahiriyah menolak dan menyembunyikan kekafiran yang murni. (Selain itu) mereka disebut sebagai al-Khurramiyyah dan al-Babakiyyah, nisbat kepada Babak al-Khurramiy yang melakukan pemberontakan pada masa pemerintahan al-Mu’tashim.
Mereka juga disebut sebagai at-Ta’limiyyah, dikarenakan mengambil ilmu dari Imam al-Ma’shum, serta meninggalkan pendapat dan tuntunan akal.
Mereka juga disebut sebagai as-Sab’iyyah berdasarkan perkataan mereka yakni terdapat 7 (tujuh) bintang berbeda yang beredar yang mengendalikan alam ini dan mereka menyerukan (keyakinan ini), semoga laknat Alllah bagi mereka.
Telah disebutkan oleh Ibnul Jauziy secara rinci mengenai perkataan (keyakinan) mereka dan membongkarnya. Sebelumnya Abu Bakar al-Baqilaniy yang terkenal di dalam kitabnya “Hatku al-Astar wa Kasyfu al-Asrar” telah membantah al-Bathiniyyah (Syiah). Dan (juga) membantah atas kitab mereka yang dikarang oleh seorang qadhi mereka di negeri Mesir pada masa pemerintahan al-Fathimiyyun yang dinamakan “al-Balagh al-A’zhim wa an-Namus al-Akbar”. Kitab tersebut memiliki 16 (enam belas) tingkatan. Tingkatan pertama, ia menyeru orang yang membacanya jika ia berasal dari kalangan Ahlus Sunnah untuk mengutamakan Aliy di atas ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian ia akan mengajaknya jika telah sepakat, untuk mengutamakan ‘Aliy atas 2 (orang) Syaikh, yakni Abu Bakar dan ‘Umar. Kemudian meningkat kepada mencaci-maki mereka, dikarenakan mereka berdua telah mendzalimi ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Kemudian meningkat lagi bahwasanya umat ini bodoh dan keliru karena mayoritasnya menyepakati (Abu Bakar dan Umar). Kemudian mulailah mencemari agama Islam dari sumbernya (Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).
Selanjutnya, mereka memiliki masing-masing tingkatan dalam hal kekafiran, kezindiqan (munafiq), kemustahilan yang seharusnya (tidak didengar) oleh orang yang lemah akal dan agama atau lemah persepsinya. Melalui mereka inilah iblis membuka berbagai pintu kekafiran dan kebodohan.
Maksudnya adalah kelompok ini (Syiah al-Qaramithah) melakukan pergerakkan pada tahun ini, kemudian perkara mereka menjadi gawat dan menimbulkan situasi yang genting, sebagaimana yang akan dijelaskan nantinya. Sedemikian gentingnya hingga mereka (Syiah al-Qaramithah) memasuki Masjidil Haram untuk menumpahkan darah jama’ah Haji di tengah Masjid yakni sekitar Ka’bah, mereka (Syiah al-Qaramithah) memecah Hajar Aswad dan mencongkelnya dari tempatnya. Mereka membawanya ke negeri mereka pada tahun 317 Hijriyah, kemudian tetap berada di sisi mereka (Syiah al-Qaramithah) hingga tahun 339 Hijriyah. Sehingga (Hajar Aswad) pernah hilang dari tempatnya yakni Baitul (Ka’bah) selama 22 tahun –Inna lillahi wa inna lillahi raji’un-.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/71-72, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 286 Hijriyah
Pemberontakan Abu Sa’id al-Janabiy, pemimpin al-Qaramithah (Syiah). Mereka lebih keji daripada Zanji dan paling rusak. Pemberontakannya muncul pada bulan Jumadil Akhir di tahun ini di tepi kota Bashrah. Datangnya dukungan dari kalangan Arab Badui dan selainnya dengan jumlah yang banyak, pasukannya sangat kuat. Ia membantai di daerah sekitarnya dari penduduknya, kemudian pergi ke Qathif dekat Bashrah, berhasrat untuk memasukinya. Maka Khalifah al-Mu’tadhid menulis surat kepada wakilnya dan memerintahkannya untuk membentengi dindingnya. Maka merekapun merenovasi bangunan (menara)-nya dengan biaya sekitar 4.000 (empat ribu) dinar, sehingga selamatlah dari al-Qaramithah (Syiah) disebabkan (renovasi benteng).
Abu Sa’id al-Jannabiy beserta pasukannya dari al-Qaramithah (Syiah) dapat menguasai kota Hajar dan sekitar negerinya, serta banyak melakukan kerusakan di atas muka bumi.
Asal-usul Abu Sa’id al-Jannabiy adalah seorang makelar makanan yaitu menjualnya dan menghitung harganya kepada masyarakat. Hingga datang seorang laki-laki kepadanya, ia adalah Yahya bin al-Mahdi pada tahun 281 Hijriyah. Lalu ia mengajak penduduk Qathif untuk membaiat al-Mahdi, maka seorang laki-laki menerimanya, ia adalah ‘Aliy bin al-‘Ala bin Hamdan az-Ziyadiy. Ia membantunya dalam menyeru kepada al-Mahdi, ia mengumpulkan Syiah yang berada di Qathif, sehingga mereka (Syiah) pun menerimanya. Di antara yang menerimanya adalah Abu Sa’id al-Jannabiy –semoga Allah memburukannya-. Kemudian ia (Abu Sa’id al-Jannabiy) menguasai urusan mereka dan kemudian muncullah di antara mereka kaum al-Qaramithah (Syiah), lalu mereka (Syiah al-Qaramithah) menerimanya dan mendukungnya. Lalu ia memimpin mereka dan menjadi penasihat dalam urusan mereka.
Asalnya dari negeri kecil yang disebut Jannabah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/92-93, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 287 Hijriyah
Pada bulan Rabi’ul Awal di tahun ini, semakin merajalela perkara al-Qaramithah (Syiah) pengikut Abu Sa’id al-Jannabiy. Mereka (Syiah al-Qaramithah) membantai, menawan dan membuat kerusakan di negeri Hajar.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/95, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 288 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) mendekati kota Bashrah, sehingga penduduknya sangat ketakutan terhadap mereka (Syiah al-Qaramithah). Mereka (penduduk Bashrah) berniat mengungsi darinya, namun gubernurnya melarang mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/97, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 289 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) datang untuk mengelamkan Kufah.
Pada tahun ini al-Qaramithah (Syiah) menuju ke Damaskus dengan pasukan yang besar. Situasinya semakin genting, peristiwa ini didalangi oleh Yahya bin Zakrawaih bin Bahrawaih yang mengakui di hadapan al-Qaramithah (Syiah) sebagai Muhammad bin Abdullah bin Isma’il bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy bin al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thalib, Dalam hal ini (pengakuan nasab)-nya adalah kedustaan. Ia juga mengklaim bahwasanya perintahnya diikuti oleh 100.000 (seratus ribu) orang, dan untanya mendapatkan perintah (wahyu) yaitu kemana saja ia mengarah maka akan diberikan kemenangan atas penduduk yang ditujunya.
Klaimnya tersebut tersebar luas di kalangan mereka (Syiah al-Qaramithah), sehingga mereka (Syiah al-Qaramithah) menggelarinya sebagai Syaikh. Ia juga diikuti oleh kelompok yang berasal dari bani al-Ashbagh yang dinamakan al-Fathimiyyun (Syiah).
Al-Khalifah mengirimkan kepada mereka (Syiah al-Qaramithah) sebuah pasukan besar, Namun mereka (Syiah al-Qaramithah) berhasil mengalahkannya. Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) melewati Rushafah dan membakar Jami’ (Masjid)-nya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/98, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 290 Hijriyah
Pada tahun ini Yahya bin Zakrawaih bin Mahrawaih Abu Qasim al-Qirmithiy yang dikenal sebagai Syaikh datang dengan pasukannya. Ia mendatangi pinggiran kota Raqqah dengan membuat kerusakan.
Pada tahun ini terbunuhnya Yahya bin Zakrawaih di gerbang Damaskus oleh seseorang yang berasal dari Magribiyyah dengan lemparan Mizraq yang berapi, sehingga membunuhnya.
Pimpinan al-Qaramithah (Syiah) setelahnya diambil-alih oleh saudaranya yakni al-Husain, ia menamai (diri)-nya dengan Ahmad alias Abu al-‘Abbas yang bergelar Amirul Mukminin. Al-Qaramithah (Syiah) mentaatinya, lalu ia mengepung Damaskus, kemudian penduduknya berdamai kepadanya dengan membayarkan upeti. Setelah itu ia bergerak menuju Homs dan menaklukkannya, lantas (namanya) disebut di atas mimbar-mimbarnya.
Kemudian ia bergerak menuju Hamah dan Ma’arah an-Nu’man, lalu ia dapat mengalahkan penduduknya, merampas harta dan menculik wanita-wanita mereka, dan mereka juga membantai ternak dan anak-anak. Ia mengizinkan pasukannya untuk memperkosa para wanitanya, ada kalanya seorang wanita diperkosa oleh sejumlah laki-laki yang banyak. Apabila wanita tersebut melahirkan seorang anak, maka masing-masing dari mereka mengucapkan selamat kepada temannya yang lain.
Orang Qirmith tersebut menulis surat kepada sahabat-sahabatnya dengan berisi :
“Dari Abdullah al-Mahdi Ahmad bin Abdullah yang diberi petunjuk, ditolong, membela agama Allah, menjalankan perintah Allah, menghukumi dengan hukum Allah, yang menyeru kepada Kitabullah, membela kehormatan Allah, yang terpilih dari keturunan Rasulullah.”
Pengakuannya bahwasanya ia adalah seorang keturunan ‘Aliy bin Abi Thalib dari (jalur) Fathimah. Padahal ia adalah seorang pendusta dan pembohong –semoga Allah memburukannya-. Sesungguhnya ia adalah seorang yang paling benci terhadap Quraisy, kemudian Bani Hasyim.
Selanjutnya, ia memasuiki Sulamyah dan tidak menyisakan seorang pun dari Bani Hasyim, hingga membantai mereka dan membunuh anak-anak mereka serta menculik wanita-wanita mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/108-109, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 291 Hijriyah
Pada tahun ini terjadi perang besar antara al-Qaramithah (Syiah) dengan pasukan Khalifah. Mereka berhasil mengalahkan al-Qaramithah (Syiah) dan menawan pimpinannya yakni al-Husain bin Zakrawaih Dzu Syamah. Tatkala ditawan, ia dibawa kepada Khalifah bersama sejumlah besar panglima pasukannya, lalu dibawa masuk ke Baghdad dengan dinaikkan ke gajah yang telah terkenal. Kemudian Khalifah memerintahkan untuk mendirikan panggung yang tinggi, lantas ia diduduki di atasnya dan pasukannya digiring serta dipenggal leher mereka di hadapannya dan ia pun melihatnya, dan mulutnya disumpal dengan kayu panjang yang diikat pada tengkuknya. Kemudian ia diturunkan untuk didera sebanyak 200 cambukan, setelah itu dipotong tangan dan kakinya, disetrika, setelah itu dibakar dan kepalanya diletakkan di atas kayu seraya diarak keliling Baghdad. Kejadian tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Awal di tahun ini.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/110, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 293 Hijriyah
Pada tahun ini, saudaranya al-Husain al-Qirmithiy yang dikenal dengan Dzu Syamah yang terbunuh sebelumnya mendapatkan banyak dukungan dari al-Qaramithah (Syiah) yang berada di jalanan al-Furat. Mereka membalas dendam dengan membuat kerusakan di atas muka bumi.
Kemudian berangkat menuju Thabariyah, (penduduknya) menghalanginya. Sehingga ia memasuki (Thabariyah) dengan paksa, maka terbunuhlah penduduknya dengan sangat banyak dari kalangan laki-laki. Dan merampas hartanya dengan sangat banyak, kemudian istirahat pergi kembali ke padang pasir.
Kelompok lainnya yang berasal dari mereka memasuki kota Hit, lalu mereka membantai penduduknya kecuali sedikit (yang dibiarkan hidup). Mereka merampas harta yang banyak, sehingga mereka membawanya dengan 3.000 (tiga ribu) unta.
Telah muncul seorang laki-laki yang berasal dari al-Qaramithah (Syiah) yang disebut sebagai ad-Daiyah di Yaman. Lalu ia mengepung Shan’a dan memasukinya dengan paksa, serta membantai dengan sangat banyak penduduknya. Kemudian berangkat menuju kota-kota Yaman lainnya yang tersisa, lantas membuat kerusakan yang amat banyak serta membantai banyak penduduknya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/113, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 294 Hijriyah
Pada bulan Muharram di tahun ini, Zakrawaih dan pasukannya merampok jama’ah Haji yang berasal dari penduduk Khurasan yang sedang melakukan perjalanan dari Makkah. Mereka membantai mereka semua serta merampas hartanya dan menawan wanita-wanitanya. Nilai harta yang mereka ambil adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, sedangkan jumlah yang dibantai sebanyak 20.000 (dua puluh ribu) jiwa. Para wanita al-Qaramithah berjalan di antara orang-orang yang terbunuh dari kalangan jama’ah Haji sambil memegang tempat minuman air dalam rangka berpura-pura memberikan air minum bagi orang yang terluka dalam kehausan. Namun jika ada yang berbicara kepada mereka dari orang yang terluka, maka mereka akan membunuhnya dan mengakhiri hidupnya –semoga laknat Allah atas wanita (Syiah al-Qaramithah) dan laknat atas suami-suaminya.
Kisah terbunuhnya Zakrawaih –semoga Allah melaknatnya-
Tatkala telah sampai beritanya kepada Khalifah mengenai jama’ah Haji yang dibantai oleh orang yang keji. Maka (Khalifah) menyiapkan sebuah pasukan yang besar untuk menghadapi mereka (Syiah al-Qaramithah), sehingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Lalu terbunuhlah al-Qaramithah (Syiah) dengan sangat banyak tanpa tersisa darinya kecuali sedikit. Peristiwa tersebut terjadi pada awal bulan Rabi’ul Awal di tahun ini.
Seorang laki-laki menebas Zakrawaih dengan pedang di kepalanya hingga mencapai otaknya. Setelah itu ia ditawan dan mati 5 (lima) hari kemudian.
(Khalifah) juga membebaskan orang-orang yang ditangkap oleh al-Qaramithah (Syiah) dari kalangan wanita dan anak-anak yang ditawan oleh mereka (Syiah al-Qaramithah).
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/114-115, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 302 Hijriyah
Arab badui dan kelompok dari al-Qaramithah (Syiah), mereka merampok para jama’ah Haji yang baru pulang dari Haji. Mereka merampas darinya harta yang sangat banyak dan membantai mereka dengan sangat banyak juga, serta menawan lebih dari 200 wanita merdeka. [Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/139, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 307 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) memasuki Bashrah dan melakukan kerusakan.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/149, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 311 Hijriyah
Pada tahun ini, Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy pemimpin al-Qaramithah (Syiah) bersama 1.700 (seribu tujuh ratus) pasukan berkuda memasuki Bashrah pada malam hari. Mereka (Syiah al-Qaramithah) memasang tangga yang terbuat dari rambut/bulu pada dinding-dinding Bashrah, lalu memasukinya secara paksa dan membuka pintu-pintunya. Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) membantai orang-orang yang ditemui dari penduduknya. Kebanyakan penduduknya melarikan diri dan menceburkan dirinya ke dalam sungai, sehingga banyak yang tenggelam dari mereka. Dia menetap di sana selama 17 (tujuh belas) hari, membunuh dan menawan kaum wanita maupun anak-anaknya, serta merampas dari harta yang dipilihnya.
Kemudian kembali ke negerinya yakni Hajar. Ketika sang Khalifah mengirim kepadanya sebuah pasukan dari pihaknya (Khalifah), maka ia pun melarikan diri kabur dan meninggalkan negeri (Bashrah) dalam keadaan kosong. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/168, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 312 Hijriyah
Pada bulan Muharram di tahun ini, al-Qirmithiy (Syiah) yakni Abu Thahir al-Husain bin Abu Sa’id al-Jannabiy –semoga Allah melaknatnya & melaknat ayahnya- merampok jama’ah Haji yang baru kembali dari Baitullah al-Haram setelah melaksanakan kewajiban Allah atas mereka. Ia (Abu Thahir) memblokade rute perjalanan mereka, maka mereka (jama’ah Haji) melawannya dalam rangka membela harta, diri dan wanita mereka. Ia (Abu Thahir) membantai mereka dengan sangat banyak yang (jumlah) tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Dia (Abu Thahir) menawan kaum wanita dan anak-anak mereka yang dipilihnya, serta memilih harta mereka yang dikehendakinya. jumlah yang dirampasnya dari harta (jama’ah Haji) adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, serta barang-barang dan dagangan yang (jumlahnya) sebesar sekitar itu juga. Lalu ia (Abu Thahir) meninggalkan orang-orang yang tersisa setelah merampas unta, bekal, harta dan para wanita serta anak-anaknya di negeri padang pasir yang liar tanpa adanya air dan bekal serta sekedup.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/170, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 313 Hijriyah
Pada bulan Shafar di tahun ini, berlepas dirinya dari Khalifah oleh sekelompok orang dari Rafidhah (Syiah). Mereka berkumpul di masjid Baratsa, mereka (Syiah Rafidhah) melecehkan para Shahabat dan tidak melaksanakan shalat Jum’at. Mereka (Syiah Rafidhah) mengirimkan surat kepada al-Qaramithah (Syiah) dan mengajak mereka kepada (kepemimpinan) Muhammad bin Isma’il yang muncul di antara Kufah dan Baghdad, seraya mengklaim bahwasanya ia adalah al-Mahdi.
Orang-orang berangkat pergi Haji pada bulan Dzulqa’dah, maka Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy al-Qirmithiy merampok mereka, sehingga banyak orang-orang yang kembali ke negerinya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/173, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 316 Hijriyah
Pada tahun ini Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy membalas dendam dengan membuat kerusakan di atas permukaan bumi. Ia mengepung Rahbah dan memasukinya dengan paksa serta membantai penduduknya dengan sangat banyak.
Ia juga membalas dendam di tepian Moshul dengan membuat kerusakan dan di Sinjar serta di wilayah-wilayah sekitarnya. Ia menghancurkan negerinya dan membantai, merampok serta merampas.
Dan ia juga mengajak al-Mahdi (Syiah al-Fathimiyyah) yang berada di negeri Maghrib di kota al-Mahdiyah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/179, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 317 Hijriyah
Kisah perampasan al-Qaramithah (Syiah) terhadap Hajar Aswad ke negerinya (Syiah al-Qaramithah).
Pada tahun ini rombongan ‘Iraq keluar dan pimpinan (rombongan) mereka adalah Manshur ad-Dailamiy, hingga mereka tiba di Makkah dengan selamat. Lalu rombongan-rombongan lain pun tiba dari segala penjuru. Mereka tidak mengetahui kecuali al-Qirmithiy (Syiah) telah keluar menuju mereka bersama kelompoknya pada hari Tarwiyah, kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) merampas harta mereka dan membolehkan atas pembunuhan mereka. Maka dibantailah di dataran tinggi Makkah dan celah-celah bukitnya, bahkan di dalam Masjidil Haran serta di dalam Ka’bah dari jama’ah Haji yang sangat banyak. Pimpinan mereka (Syiah al-Qaramithah) Abu Thahir –semoga Allah melaknatnya- duduk di atas pintu ka’bah, sedangkan orang-orang (mati) bergelimpangan di sekitarnya. Pedang-pedang menebas orang-orang di Masjidil Haram pada bulan Haram di hari Tarwiyah.
Orang-orang pun melarikan diri dari mereka (Syiah al-Qaramithah) sambil memegang tirai Ka’bah, namun tidak berguna bagi mereka, bahkan mereka (Syiah al-Qaramithah) membunuh mereka (jama’ah Haji) dalam keadaan demikian. Mereka (Syiah al-Qaramithah) pun melakukan thawaf sambil membunuh mereka (jama’ah Haji) yang sedang melakukan thawaf.
Kemudian al-Qirmithiy (Syiah) –semoga Allah melaknatnya- memerintahkan untuk melakukan perlakuan terhadap jama’ah Haji dengan perlakuan yang buruk, yakni memerintahkan agar menguburkan (jama’ah Haji) yang terbunuh di sumur zamzam dan banyak dari mereka yang dikuburkan di tempat (terbunuhnya) di dalam (Masjidil) Haram.
Ia juga menghancurkan kubah zamzam dan memerintahkan untuk menanggalkan pintu Ka’bah serta mencopot kiswahnya darinya, lalu ia membagi-bagikannya kepada sahabat-sahabatnya. Kemudian ia memerintahkan seseorang agar naik ke talang Ka’bah untuk mencopotnya, lalu ia terjatuh dengan kepala terlebih dahulu, sehingga tewas menuju Neraka.
Kemudian ia memerintahkan untuk mencopot Hajar Aswad, maka datanglah seorang laki-laki yang memukulnya (Hajar Aswad) dengan benda berat yang ditangannya seraya berkata, “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari tanah yang terbakar?” Kemudian ia melepas Hajar Aswad dan membawanya ketika mereka mulai kembali ke negerinya. (Hajar Aswad) tetap berada di (negeri) mereka selama 22 (dua puluh dua) tahun hingga mereka mengembalikannya sebagaimana yang akan disebutkan (kisahnya) pada tahun 339 Hijriyah. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/182, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 339 Hijriyah
Pada tahun yang diberkahi ini yakni bulan Dzulqa’dah di tahun ini, Hajar Aswad al-Makkiy dikembalikan ke tempatnya di Baitul (Haram), di mana al-Qaramithah (Syiah) mengambilnya pada tahun 317 Hijriyah sebagaimana yang telah (dikisahkan) sebelumnya. Pemimpin mereka (Syiah al-Qaramithah) saat itu adalah Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Husain al-Jannabiy.
Namun pada tahun ini, mereka membawanya ke Kufah dan menggantungkannya di atas tiang yang ketujuh dari Jami’ (Masjid)-nya agar manusia dapat melihatnya. Kemudian saudara-saudara Abu Thahir menuliskan sebuah tulisan padanya, “Sesungguhnya kami mengambil batu ini dengan sebuah perintah dan kami telah mengembalikannya dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya, agar menyempurnakan Haji manusia dan manasik kalian.”
Kemudian mengirimkannya ke Makkah tanpa ikatan apapun, lalu tiba pada bulan Dzulqa’dah di tahun ini.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/252, al-Hafizh Ibnu Katsir]