Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Aliansi nasional anti Syiah desak MUI Pusat keluarkan fatwa sesat Syiah

JAKARTA – Puluhan Ulama dari seluruh Nusantara yang tergabung dalam Aliansi nasional anti Syiah (ANNAS) mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jalan Proklmasi Jakarta Pusat, untuk mendesak MUI mengeluarkan fatwa sesatnya Syiah, Selasa (26/8/2014) pagi.

Ketua Harian ANNAS KH. Athian Ali M Da’i Lc. MA. mengatakan bahwa gerakan sesat Syiah memiliki strategi ambivalen, di satu sisi menampilkan diri kepada masyarakat umum seolah-olah menjadi bagian dari mazhab Islam yang harus ditoleransi perbedaannya dengan menyembunyikan sikap dendam dan kebencian (baca: taqiyah), namun di sisi lain kepada kader-kader dan obyek dakwah penyesatannya di tanamkan doktrin militan pemujaan Ali Radhiyallahu anhu dan penghinaan kepada para sahabat serta para isteri nabi.

Selanjutnya kata Kiai Athian, usai musyawarah deklarasi ANNAS 20 April 2014 lalu, mendesak kepada MUI Pusat dan pemerintah, pertama, mengeluarkan fatwa sesatnya ajaran Syiah dan bahwasannya Syiah bukan mazhab dalam Islam. Kedua, mendesak pemerintah agar segera melarang penyebaran faham dan ajaran Syiah, serta mencabut izin dari seluruh organisasi, yayasan dan lembaga terkait dengan ajaran Syiah di seluruh Indonesia.

Kiai Athian menegaskan kedatangan ANNAS ke MUI Pusat bukan untuk memberi tahu atau menyatakan Syiah itu sesat. “MUI sudah sangat tahu sesatnya Syiah. Bukan untuk menyatakan, tetapi desakan moril kepada MUI untuk memfatwakan Syiah sesat,” tegasnya.

Selain KH Athian, para Ulama yang tampak hadir pada pertemuan tersebut, antara lain Ustadz Farid Achmad Okbah, KH. Lailurrahman (Sampang Madura), Habib Zein Al Kaff (MUI Jatim), Ustadz Anung Al Hammat, Ustadz Said Abdushamad (Makassar), KH. Muhammad Alkaththath, KH. Abdurrasyid Abdullah Syafi’i, Ustadz Ismail Yusanto. Sementara dari pihak MUI Puasat tampak KH. Ma’ruf Amin, Prof Baharun, dan Dr. Anwar Abbas.

Sumber: arrahmah.com

15 Rekomendasi Rakernas MUI di Jakarta: Dari Soal ISIS, Syiah Rafidhah, JIL Hingga Israel

Jakarta - Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi ditutup. Rapat yang diikuti seluruh pengurus MUI Pusat dan pimpinan MUI tingkat provinsi seluruh daerah di Indonesia itu telah berakhir pada Kamis, 14 Agustus 2014. Ketua MUI KH Umar Syihab diberi mandat oleh Ketua Umum MUI Prof Din Syamsuddin untuk mengetuk palu penutupan.

Berikut lima belas rekomendasi yang dihasilkan dari Rakernas yang telah berjalan selama dua hari di Hotel Sultan, Jakarta itu. Rekomendasi ini dibacakan oleh Wakil Sekjen MUI Zainuttauhid Saadi. Rekomendasi meliputi berbagai macam persolan. Dari soal ISIS, aliran menyimpang, kebiadaban Israel, haji, ekonomi umat, hingga perbaikan akhlak bangsa.

Berikut kutipan selengkapnya:

Rekomendasi Rapat Kerja Nasional MUI 2014
Jakarta, 12-14 Agustus 2014

1. Penguatan Forum Ukhuwah Islamiyah dalam rangka menyamakan pandangan (taswiyatul manhaj) dan kesatuan gerak langkah (tansiqul harakah) dilakukan bersama ormas, lembaga dan tokoh Islam Indonesia agar dapat dibentuk di daerah-daerah.

2. MUI ikut aktif mengampanyekan penguatan ekonomi syariah ke seluruh lapisan masyarakat dan mendesak Pemerintah menunjukkan keberpihakannya, baik melalui dukungan regulasi maupun langkah konkret dengan mengonversi salah satu bank BUMN Syariah

3. Majelis Ulama Indonesia bertekad untuk melakukan perbaikan akhlak bangsa dengan mengefektifkan Pusat Dakwah Islamiyah dan meminta Pemerintah untuk melakukan upaya dengan mencegah pornografi dan pornoaksi serta problem akhlak bangsa lainnya sebagai antisipasi efek negatif dari pasar bebas.

4. Umat Islam wajib mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai wujud pelaksanaan semangat hubbul wathan (patriotisme/cinta tanah air)

5. MUI telah memperoleh kepercayaan masyarakat dan diberikan kewenangan oleh negara menjalankan sertifikasi produk halal selama seperempat abad lebih. Untuk itu, peranan MUI perlu diperkuat dalam melaksanakan sertifikasi halal yang meliputi penetapan standard, pemeriksaan/audit produk, penetapan fatwa, dan penerbitan sertifikat halal sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang merupakan otoritas keluamaan dalam RUU JPH (Jaminan Produk Halal).

6. Maraknya penyebaran ajaran Islam yang menyimpang di masyarakat banyak menimbulkan konflik, mislanya Syiah Rafidhah, Ahmadiyah, Millah Abraham, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan aliran radikal lainnya. MUI mendesak semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyimpangan tersebut.

7. MUI mendesak agar DPR segera menyelesaikan pembahasan RUU tentang Pengelolaan Keuangan Haji dan RUU tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, agar pemanfaatan dana haji betul-betul dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji.

8. Ormas Islam dan segenap potensi umat Islam lainnya, dipandang perlu untuk segera menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke IV pada 2015. KUII 2015 diharapkan dapat merusmuskan konsep strategis terhadap kepentingan umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.

9. MUI mendesak Pemerintah sebagai founding fathers ASEAN agar mendorong penyelesaian secara adil terhadap etnik Rohongya di Myanmar, Melayu di Thailand, bangsa Moro di Filipina Selatan dan etnik-etnik Muslim di China dengan memberikan mereka hak-hak sebagai warga negara dan penduduk.

10. MUI mengutuk keras tindakan Israel yang telah melakukan agresi secara membabi buta dan aksi genosida (pemusnahan) terhadap rakyat Palestina sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan.

MUI menuntut dunia internasional agar Israel diberikan sanksi berat untuk mempertanggungjawabkan kebiadaban dan kejahatan perang dan kemanusiaan di Mahkamah Internasional.

MUI mendesak Pemerintah RI memperjuangkan solusi abadi dan adil dengan mewujudkan dua negara yang merdeka dan berdaulat (two state policy) serta saling mengakui.

11. MUI menyerukan umat Islam Indonesia untuk mewaspadai ideologi dan gerakan ISIS/ISIL yang menggunakan cara-cara destruktif, ekstrem, radikal dan bertentangan dengan syariat Islam, serta mengancam sendi-sendi keutuhan negara dan bangsa Indonesia.

12. MUI menyerukan agar kehidupan kerukunan beragama senantiasa dipertahankan dan ditingkatkan. Oleh karena itu MUI menyerukan kepada Pemerintah dan DPR agar segera menyusun dan membahas RUU Kerukunan Umat Beragama.

13. Ditunjuknya Indonesia sebagai tempat kedudukan World Halal Food Council (WHFC) hendaknya menjadi spirit transformasi menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan lainnya, khususnya sebagai pusat ekonomi syariah.

14. MUI mengimbau umat Islam memberikan perhatian terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk melakukan inovasi dan content yang Islami di media massa serta mendorong pelaku bisnis media, baik cetak, online maupun elektronik sehingga umat Islam dapat mengambil peranan signifikan dalam membangun informasi yang bermartabat.

15. MUI menyerukan semua instansi Pemerintah maupun swasta agar tidak menghalang-halangi ketaatan dalam melaksanakan ajaran agama, seperti pemakaian seragam dinas jilbab Polwan, seragam siswi dan sebagainya sebagai bentuk perlindungan dan pelaksanaan hak asasi yang dijamin dalam konsitusi.

Rekomendasi MUI ini dirumuskan oleh Komisi C yang diketuai Ketua MUI KH Slamet Effendi Yusuf dan Sekretaris KH Muhyidin Junaedi. Anggota tim perumus rekomendasi di antaranya Zainuttauhid Saadi, Sumunar Jati, Utang Ranuwijaya, Cholil Nafis, Abdurrahman Saleh dan Brigjen Pol Anton Tabah.

Sumber: Suara-islam.com

Aliansi Nasional Anti Syiah Audiensi ke MUI Pusat

Jakarta – Puluhan ulama dan tokoh Islam hari ini (Selasa, 26/08) mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia pusat di Gedung MUI Jl. Proklamasi No. 51, Menteng, Jakarta Pusat. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANAS) pada 22 April lalu di Bandung.

Kunjungan ini disambut baik oleh MUI. KH. Ma’ruf Amin selaku wakil ketua umum MUI pusat menyambut hangat puluhan ulama dan tokoh Islam tersebut. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa MUI telah mengeluarkan keputusan terkait faham Syiah.

“Sebagaimana telah diputuskan MUI tahun 1984, maka kita harus waspada karena ada perbedaan prinsip antara Syiah dan Aswaja,” kata Ma’ruf. Adapun keputusan MUI tahun 1984 yang dimaksud itu berbunyi, “Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia”

Ia mengakui belum ada fatwa terkait aliran Syiah di tingkat nasional.  Akan tetapi, lanjutnya, di tingkat daerah MUI sudah mengeluarkan fatwa akan kesesatan aliran Syiah.

“Kami masih memerlukan kajian dan data-data yang kongkrit tentang berdebatan apakah Syiah di Indonesia bukan Syiah yang sesat,” pangkasnya.

Oleh karena itu, audiensi ini dinilai sangat penting karena memberikan informasi-informasi dan masukan kepada MUI Pusat terkait dengan aliran Syiah.

“Ini penting karena majelis ulama akan memperoleh informasi tentang syiah” tegas Ma’ruf.

Ma’ruf juga kembali menegaskan bahwa MUI Pusat telah memiliki keputusan terkait ajaran Syiah yang tertuang pada keputusan MUI pada tahun 1984, sebagaimana yang disebutkan di atas.

Berdasarkan pemantauan reporter Kiblat.net di gedung MUI Pusat, sejumlah ulama tingkat nasional turut hadir dalam audiensi ANAS ini. Di antaranya  KH. Athian Ali, KH. Abdullah Syafei, Hartono ahmad jaiz, Farid Okbah, Ahmad Rofii, Al-Khattath, pengamat militer Herman Ibrahim, Habib Zein Al-Kaff, KH. Ali Karrar, KH. Said Abd. Shamad, Anung Al-Hamat dan perwakilan ormas-ormas islam dan MUI-MUI daerah.

Sumber: Kiblat.net

Aqidah syiah tentang Allah SWT

Syiahindonesia.com - Syiah berkata: kami tidak sepakat dengan mereka (Ahlus Sunnah) tentang Illah (Tuhan), Nabi, dan imam. Karena mereka berkata: bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang mengutus Muhammad saw sebagai Nabi-Nya dan mengangkat Abu Bakar ra sebagai khalifah sesudahnya. Kami tidak mengakui Tuhan dan Nabi yang begini, tapi menurut kami; sesungguhnya Tuhan yang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahNabi-Nya bukan Tuhan kami, dan Nabi-Nya pun bukan Nabi kami.
Lihat: kitab al-Anwar an-Nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazari (2/278).

Syiah berkata: Allah tidak bida dilihat pada hari kiamat, dan Allah tidak bisa disifati dengan tempat dan waktu tidak pula bisa ditunjuk dengan arah. Barangsiapa yang berkata bahwa allah turun kelangit dunia, atau Dia menampakan wujud-Nya kepada penduduk surga yang terangnya seperti rembulan ditengah mala, atau semacam itu, maka statusnya adalah kafir.
Lihat: kitab Aqaid al-Imamiyah, oleh Muhammad Ridha Muzhaffar hal. 58.

Syiah berkata: sesungguhnya Allah akan menggandeng orang Mukmin pada Hari Kiamat, dan orang Mukmin juga menggandeng Rabb-Nya sembari menyebutkan dosa-dosanya.
Lalu ditanyakan bagaimana cara dia menggandeng-Nya? Syiah berkata: (dia menunjukkan) dengan cara meletakkan tangannya di pusarku. Lalu berkata: dengan cara begini, seperti seorang yang sedang berbisik kepada temannya tentang suatu rahasia.
Lihat: kitab al-Ushul as-Sittah Asyar, tahqiq Dhiya’uddin al-Mahmudi hal. 203.

Syiah berkata: sesungguhnya Allah turun kebumi pada Hari Arafah disaat peratama matahari tergelincir di atas unta yang membuang kotorannya kemudian orang-orang yang berada di Arafah saling berebut dan menyherbu kedua pahanya dari arah kanan dan kiri.
Lihat: kitab al-Ushul as-Sittah Asyar, tahqiq Dhiya’uddin al-Mahmudi hal. 204.

Syiah berkata: sesungguhnya menghadap kuburan adalah perkara yang lazim dilakukan, meski arahnya tidak sesuai dengan arah kiblat, begitu pula peziarah kubur yang menghadap kuburan berada dalam posisi sama dengan kiblat, arah dimana allah berada dan orang-orang diperintahkan untuk menghadap pada saat ziarah.
Lihat: Kitab Bihar al-Anwar, oleh al-Majlisi (101/369)

Syiah berkata: sesunggunnya “Aah” termasuk nama-nama Allah yang baik. Karena itu, siapa yang berkata “Aah” maka secara otomatis dia telah berisighatsah kepada Allah.
Lihat: kitab Mustadrak al-Wasail, oleh Nuri at-Thabarsi (2/148)

Syiah berkata: sesungguhnya Allah mengunjungi al-Husain bin Ali ra dan berjabat tangan dengannya lalu duduk bersama diatas ranjang.
Lihat: kitab Shahifal al-Abrar, oleh Mirza Muhammad Taqi (2/140)

Doktrin Anarkis Dalam Ajaran Syi’ah

Oleh: Mas’ud Izzul Mujahid

Banyak ulama yang mengabadikan kejahatan Syi’ah terhadap Islam dan umat Islam. Di antara mereka adalah DR. Muhammad Abdah, dalam bukunya, ‘Aya’idu at-Tarikhu Nafsahu’, diterjemahkan ke Indonesia dengan judul ‘Akankah Sejarah Terulang’. Sedangkan Syaikh DR. Imad Ali Abdu As-Sami, membukukan dalam dua jilid buku. yaitu, “Khiyanats asy-Syi’ah wa Atsaruha fi Haza’im alUmmah al Islamiyah,”.
Ibnu Katsier dalam buku sejarahnya, ‘al-Bidayah wan Nihayah’, mencatat kekejaman Syi’ah Qaramithah;
“Pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang para jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah menunaikan kewajiban haji. Mereka merampok dan membunuh mereka. Korban pun berjatuhan dengan jumlah yang sangat banyak –hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka juga menawan para wanita dan anak-anak mereka sekehendaknya dan merampas harta mereka yang mereka inginkan.
Pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah Qaramithah mencuri hajar aswad dari Baitullah. Qubbah Zamzam dihancurkan, pintu Ka’bah dicopot dan kiswahnya dilepaskan kemudian dirobek-robek. Mereka pun mengambil hajar aswad dan membawanya pergi ke negara mereka. Selama dua puluh dua tahun.” (Al Bidayah wa Al Nihayah, 11/149).”
Inilah sekelumit kejahatan Syi’ah terhadap umat Islam. Jika masih ada orang yang meragukan sejarah kejahatan Syi’ah, maka apa yang terjadi di Suriah, Bahrain, Iran, Irak dan Yaman, menjadi bukti terkini atas kejahatan Syi’ah. Kejadian kontemporer ini tidak bisa dielakkan. Bukti nyata kejahatan Syi’ah.

Dendam Sejarah Persia

Akidah Syi’ah berbahan dasar doktrin Yahudi yang dengki dan iri kepada umat Islam, terutama pasca terusirnya Yahudi dari Madinah. Kemudian ditambah dengan kebencian dendam Persia Majusi terhadap umat Islam, khususnya muslimin Arab yang telah memporak-porandakan imperium termegah Majusi, yaitu imperium Syi’ah.
Aroma dendam ini sangat terasa sekali. Misalnya, klaim mereka bahwa Kisra (mantan raja Persia) yang merobek-robek surat Rasulullah SAW dan mati dalam keadaan kafir, adalah penduduk surga. Syi’ah meyakini, neraka diharamkan bagi Kisra[1].
Demikian juga, kebencian mereka kepada Umar bin Khattab yang menitahkan kepada mujahidin untuk menaklukkan imperium Persia Raya. Juga pengkultusan Syi’ah terhadap Abu Lu’luah, seorang pemeluk majusi yang membunuh Umar bin Khattab RA. Bahkan menganggap Abu Lu’Luah sebagai baba syuja’ diin, bapak agama sejati.
Seorang ulama hadits yang bernama Abu Rabi’ mengisahkan, bahwa beliau memiliki seorang tetangga Rafidhah, namun tiba-tiba ia berubah. Abu Rabi’ tertarik menanyakan sebabnya. “Dulu anda mengklaim diri sebagai orang Rafidhah. Kenapa Anda berubah?. Tetangganya menjawab, “Sesugguhnya seluruh kaum zindiq telah melakukan perenungan yang mendalam tentang bagaimana menghancurkan Islam dan memerangi pemeluknya. Dan kami berkesimpulan, satu-satunya jalan ke sana hanya dengan masuk Syi’ah. Karena mereka adalah orang-orang bodoh.”

Ideologi Takfir Ekstrim

Ternyata salah satu sebab kekejian dan kekejaman oleh Syi’ah adalah ideology takfir yang ada dalam ajaran Syi’ah. Yang dimaksud dengan ideology takfir di sini, mereka mengkafirkan umat Islam selain orang Syi’ah. Bahkan dalam dogma Syi’ah, umat Islam selain Syi’ah adalah anak-anak lacur yang kekal di neraka[2].
Mirza Muhammad Taqi, ulama Syi’ah, berkata, Selain orang Syi’ah akan masuk neraka selama-lamanya. Meskipun semua malaikat, semua nabi, semua syuhada dan semua shiddiq menolongnya, tetap tidak bisa keluar dari neraka[3].
Al-Kulaini menambahkan, “Bermaksiat kepada Ali adalah kufur, dan mempercayai orang lebih utama dan berhak dari beliau dalam imamah –kepemimpinan- adalah Syirik.[4]”
Muhaddits Syi’ah, Al-Majlisi, menukil ijma’ Syi’ah atas kekafiran umat Islam, “Kelompok Imamiyah bersepakat bahwa sungguh orang yang mengingkari imamah salah satu dari imam kami dan menolak kewajiban dari Allah untuk mentaatinya adalah kafir, pasti kekal dalam neraka.[5]”
Khumaini, berkata, “Dasar kenajisan mereka –umat Islam- adalah banyak diantaranya; riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan kekafiran mereka.[6]”
Dari dogma takfiriy ekstrim ini, Syi’ah menghalalkan darah dan harta umat Islam. Yusuf al-Bahrani, pakar hadits Syi’ah kontemporer mengakui hal ini. Ia berkata, “Dan pendapat inilah yang benar, yang betul-betul sesuai dengan riwayat-riwayat yang banyak tentang kekafiran mukhalif –orang yang berbeda dengan Syi’ah-, kekurang ajaran, dan kesyirikan mereka, serta kehalalan darah maupun harta mereka. Sebagaimana yang telah kami paparkan dalam beberapa riwayat sebelumnya.”[7]

Hasungan Para Imam Untuk Membunuh Umat Islam

Ada sebab lain yang tidak kalah berpengaruhnya bagi kejiwaan orang Syi’ah. Yaitu anjuran para imam untuk membunuh ahlu Sunnah, yaitu umat Islam selain Syi’ah.
Abu Abdillah, salah seorang imam Syi’ah, pernah mengatakan, “Ambillah harta para nashib –ahlu sunnah- dimanapun kalian mendapatinya, dan bayarkan kepada kami seperlima-nya.” (Jami’ul Ahadits Syi’ah, 8/532)
Sangat mungkin jika kesulitan mendapatkan harta umat Islam dengan jalan mencuri, tidak segan-segannya mereka merampok atau membunuh muslimin tadi. Toh, dalam keyakinan mereka, darah umat Islam halal.
Hal ini juga dianjurkan dalam hadits Syi’ah yang diriwayatkan oleh Husain al-Bahrani, dalam kitabnya, alMahasin an-Nafsaniyah (hal. 166). Ia meriwayatkan dari salah seorang imam Syi’ah, bahwa imam itu berkata, “Sebenarnya kami para imam hendak memerintahkan kalian untuk membunuh mereka –umat Islam.  Namun kami mengkhawatirkan kalian, kami khawatir salah seorang dari kalian terbunuh disebabkan membunuh mereka. Karena satu nyawa kalian, sungguh lebih berharga daripada seribu nyawa mereka.”
Jadi yang menghalangi mereka untuk tidak membunuh umat Islam adalah kekhawatiran perlawanan dari umat Islam, sehingga ada korban dari pihak Syi’ah. Maknanya, jika tidak mengkhawatirkan hal itu, maka Syi’ah akan membunuh umat Islam kapanpun dan dimana pun, apalagi dengan iming-imingan pahala dan rampasan harta yang halal.
Selain tiga alasan di atas, pertentangan akidah dan fikih juga menjadi sebab utama kebencian Syi’ah terhadap umat Islam. Umat Islam-lah yang menjadi penghalang utama praktek syirik, bid’ah dan perzinahan yang dihasung Syi’ah. Sebagaimana dipahami dalam buku-buku mereka, kesyirikan, kebid’ahan dan perzinahan merupakan komoditi utama ajaran Syi’ah.
Oleh karena itu, sebagian pemuda Syi’ah yang ikut berjihad di Suriah, didoktrin membunuh dan memerangi ahlu sunnah di Suriah, dan dimana pun tentunya, adalah suatu jihad yang berpahala. Matinya pun mati syahid. Sebab, mereka adalah musuh para imam Syi’ah, penghalang utama tegaknya Syi’ar para imam Syi’ah.
Hal ini diakui oleh para algojo Syi’ah yang menyiksa tawanan muslim di Suriah. Kisah ini, banyak penulis dengar selama bertugas di Suriah. Terutama dari mantan tahanan yang berhasil lolos dari penjara-penjara kejam rezim Syi’ah Nushairiyah. Syubhat dan syahwat telah berpadu dalam jiwa penganut Syi’ah.* (Akrom Syahid)

[1] Biharul Anwar, 4/41
[2] Ar-Raudhoh minal Al-kaafi, 8/227
[3] Shahifatul Abrar, 342
[4]  Al-Kaafi, 1/232
[5]  Biharul Anwar, 8/366
[6]  Kitab ath-Thaharah, 3/326
[7] Al-Hada’iq An-Nadziroh, 5/175

Sumber: An-najah.net